Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 25


__ADS_3

Dia mencium aroma gulai kambing itu begitu semerbak mengundang selera. Itu disajikan dengan sangat baik di atas meja makan.


Dia melihatnya kagum lalu memuji ayahnya,


"Wah... semuanya tersaji sempurna. Ayahku memang koki andalan di rumah ini. Kayaknya ayah cocok deh jadi koki di kapal pesiar."


Saat dia mengatakan itu, ayahnya tertawa lebar dan berkata,


"Apa? Koki di kapal pesiar? Ayah itu hanya bisa menyajikan gulai kambing ini saja dan masakan tradisional lainnya. Mana bisa kerja di kapal pesiar. Koki di kapal pesiar harus tahu banyak masakan dari berbagai negara. Kamu ini bicara sembarangan aja."


"Itu kan bisa dipelajari yah."


"Ayah itu sudah tidak punya waktu lagi untuk mempelajarinya. Fokus ayah sekarang adalah cari uang untuk sekolahin kamu. Kamu mau ibumu ayah tinggalin demi belajar jadi koki profesional? Setelah itu ayah akan pergi berlayar ke berbagai negara, mengunjungi tempat-tempat yang indah, dan bertemu dengan segala macam orang, termasuk para wanita. Tapi tenang aja, ayah akan rutin mengirim uang untuk kalian. Kamu mau?"


Ketika mengatakan itu pada Tuti, dia tidak melihat istrinya diam-diam datang dari belakang dan langsung mencubit perutnya dengan kuat dan bertanya marah,


"Oh, jadi ayah mau mencari perempuan-perempuan bule? Iya? Trus bisa senang-senang di luar sana gonta-ganti pasangan? Begitu?"


"Apaan si bu? Nggak lah! Mana mungkin ayah begitu. Ibu adalah cinta pertama ayah dan terakhir. Tuti juga sudah dewasa. Sebentar lagi kita akan mengharapkan cucu darinya. Berpikir untuk mencari wanita lain adalah pemikiran bodoh. Ayah itu cinta banget sama ibu. Ibu tahu sendiri kan? Ayah begitu memanjakan ibu. Itu bukti cinta ayah."


"Yah... ibu tahu sih. Maaf kalau tadi ibu marah dan mencubit ayah dengan kuat. Bekasnya pasti berbiru. Coba sini ibu lihat!"


Dia mendekat dan mencoba menyibakkan baju suaminya. Tetapi suaminya mencegatnya karena malu dilihat putrinya. Tapi putrinya malah meledeknya, "Ehem... ehem... ga usah malu-malu yah, toh ibu kan cuma mau lihat berbiru atau nggak bekas cubitannya. Tapi aku rasa pasti berbiru, karena aku melihatnya dengan jelas, ibu memelintirnya sekuat tenaga."


"Ya sudah biarkan saja. Nanti juga sembuh sendiri. Ngomong-ngomong kita mau makan dulu atau nungguin teman kamu?"


"Yah kita makan dulu dong yah. Aku udah lapar banget. Lagipula mereka pasti sudah makan dulu di rumahnya masing-masing. Nanti jam 10 malam, baru kami makan lagi."


"Ya sudah, ambil piring sana!"

__ADS_1


Tuti pun segera menyiapkan peralatan makan dan mereka makan dengan lahap. Namun sebelumnya dia telah menyisihkan bagian mereka bertiga nanti.


*********


Lalu setelah acara makan itu, dia langsung mandi dan bersiap-siap. Dia juga menata kamarnya agar nyaman untuk belajar.


Usia itu dia duduk menunggu kedua temannya datang sambil melihat sosial media. Ketika dia sedang asyik ngescroll layar ponselnya, tiba-tiba muncul sebuah iklan dari salah satu produk tertentu. Produk itu dipromosikan oleh pria tampan dari negara barat. Model itu memperlihatkan lekuk perutnya yang kotak-kotak dan dadanya yang bidang terpampang begitu berkilau. Otot-otot lengannya tampak begitu kuat, seakan mampu menggendong tubuhnya dalam imajinasinya yang saat itu langsung menggembara. Model itu mengenakan jeans tapi merek pakaian dalamnya terlihat di pinggangnya.


Maka saat itu dia bermimpi ingin memiliki kekasih dari negara barat dan berkata,


"Biar ga cuma si Betty aja yang punya pacar bule. Aku juga mau."


Dia terus memandangi foto yang telah di screenshootnya dan dia zoom. Sambil terus mengutarakan hal-hal konyol yang menggelitik.


"Kalau bersandar di bahu yang sebidang ini, pasti rasanya nyaman banget. Trus bagaimana yah rasanya dipeluk sama lengan atletis seperti ini? Aku rasa tekanan dari otot yang kekar hasilnya sangat kuat, dan kalori yang dihasilkan pun pasti lebih besar daripada yang dihasilkan oleh lengan yang berlemak. Sehingga membuat peredaran darah yang membeku bisa langsung berjalan lancar saat dipeluk. Kalau nggak? Untuk apa orang capek-capek olahraga pembentukan otot? Selain untuk hidup sehat, masa cuma mau pamer! Kan ga mungkin. Pasti juga mau membuat pacarnya nyaman dan hangat."


Dia sampai-sampai tidak sadar kalau dua temannya mengintip di belakangnya, karena pintu kamarnya dibiarkan terbuka.


Tuti pun kaget setengah mati dan ponselnya terlempar. Tapi beruntung dia bisa menangkapnya sebelum itu menyentuh lantai.


Saat itu dia dirundung malu tapi dia berusaha mengabaikannya. Dengan cepat dia langsung mengalihkan pertanyaan sebelum kedua temannya meledeknya habis-habisan.


"Oh yah, malam ini kita belajar apa dulu nih? Matematika, Bahasa Inggris, atau apa nih?"


"Kita belajar bahasa inggris aja. Aku nggak mau mengawali pelajaran kelompok kita dengan mata pelajaran yang kurang aku minati." Respon Betty.


"Iyalah...


Mentang-mentang jago bahasa inggris." Balas Linda.

__ADS_1


"Yah harus dong!" Tuturnya sambil berlagak sombong.


"Jadi, kita belajar speaking? Listening? Writing? Atau apa nih? Tanya Linda.


"Kita belajar slang aja gimana? Soalnya aku hanya mengerti bahasa buku. Tapi saat aku nonton film, aku tidak memahaminya, atau saat dengerin lagu bahasa inggris, ada beberapa kosa kata yang tidak aku pahami. Gimana? Kalian setuju nggak?" Ujar Tuti.


"Yah...aku sih mau-mau aja. Kamu Lin gimana?" Tanya Bettty sombong.


"Aku nurut aja lah."


Maka mereka pun mulai mempelajari beberapa slang dan idiom dalam bahasa inggris. Mereka juga mempelajari satu lagu yang liriknya terdapat beberapa slang.


Setelah mereka memahami makna lagu itu, Tuti merasa tersentuh hatinya. Karena lagu itu menceritakan tentang kerinduan yang hebat dari seorang wanita yang menantikan seorang kekasih sepanjang hidupnya. Menantikan adanya cinta sejati yang akan membuatnya tersenyum lebar dan menghapus kesepiannya selama ini.


Melihat reaksinya yang sampai menitikan airmata, Linda berkomentar,


"Ckckck...sampai segitunya. Biasa aja kali."


Namun dia diam dan tak menanggapinya. Dalam hati dia hanya ingin agar nanti dia bisa mendapatkan cinta sejati seperti di dalam lagu itu.


Kemudian tiba-tiba Betty berdiri menengahi situasinya.


"Sudah! Sudah! Sekarang kita latihan cara pengucapannya."


Mereka pun mulai berlatih mengucapkan kata-kata itu dengan benar. Tapi Linda sering salah sehingga dia harus sering berlatih.


Tapi ketika dia berlatih untuk yang kesekian kalinya, dan begitu bersemangat, lidahnya sampai tergigit tak disengaja saat dia mengucapkan kata-kata yang sulit.


"AO...!" Teriaknya kesakitan.

__ADS_1


Tapi bukannya prihatin, kedua temannya malah tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2