
Saat dia sedang larut dalam pikirannya, Betty yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, menghampirinya dan membuyarkan lamunannya. Dia mengamati sikap Tuti yang aneh sejak tadi kepada Joko.
"Hei! Ada yang diam-diam mengamati seseorang nih." Tutur Betty mencoba meledeknya.
"Ih, apa'an sih? Jangan ngada-ngada yah?"
"Idih! Aku nggak ngada-ngada Tuti. Tapi reaksi itu, aku paham betul karena aku udah lebih dulu pacaran daripada kamu."
"Udah deh. Jangan ngaco. Mending kamu duduk di bangkumu dan belajar. Ingat kan kita berempat harus menang?"
"Iya. Iya, paham. Gitu aja marah." Betty pergi ke kursinya lalu membuka buku. Namun rupanya Joko menyimak pembicaraan mereka dan berbunga-bunga, seolah merasa bahwa Tuti juga menaruh perasaan padanya.
Belakangan Linda dan Siti juga datang, tapi mereka segera duduk di bangku masing-masing.
Lalu tak lama setelah bel berbunyi, sang guru killer masuk ke kelas mereka.
Setelah dia duduk, dia memanggil seorang murid bernama Ahmad.
"Ahmad, kumpulkan semua lembar kerja siswa yang bapak suruh untuk kalian kerjakan minggu lalu, dan antar ke ruangan bapak."
"Baik pak." Dia segera bangkit dari kursinya dan mengumpulkan semua lembar kerja seluruh siswa lalu membawanya ke ruangan sang guru.
Kemudian sang guru berkata, "Besok lomba akan dimulai. Dan seperti yang kalian tahu, besok akan diawali dengan perlombaan matematika. Jadi bagi siswa yang ikut serta, persiapkan diri kalian dengan baik. Sedangkan hari berikutnya, perlombaan bahasa inggris, dan terakhir sains. Jadi bagi siswa yang ikut berpartisipasi, belajar keras, dan persiapkan diri kalian dengan baik. Jaga kesehatan, dan harumkan nama sekolah kita. Paham!"
"Paham pak." Sahut semua siswa.
"Baiklah, di antara kalian siapa yang ikut lomba matematika?"
Mereka yang ikut pun angkat tangan, yaitu Joko, Tuti, dan Lia. Kemudian sang guru memberi mereka soal-soal latihan mulai dari yang paling mudah sampai yang sulit yang harus mereka jawab di papan tulis.
__ADS_1
Pada soal latihan yang pertama, ketiganya berhasil menjawabnya dengan benar dan cepat sesuai dengan waktu yang diberikan.
Bagian kedua, ketiga, dan keempat, juga berjalan baik meski terkadang melewati batasan waktu.
Namun pada soal latihan yang kelima, hanya Lia dan Joko yang berhasil memecahkannya.
"Lho! Kenapa ini? Kenapa kau tidak bisa jawab Tuti? Apa kapasitas otakmu mulai turun? Apa mendadak otakmu terbebani? Hah?"
Sang guru bukannya menyemangati malah membuat Tuti merasa malu. Melihat reaksinya, Joko maju menjadi pahlawan bagi Tuti.
"Pak, bukannya dia nggak bisa jawab. Dia sudah belajar keras. Dia hanya gugup karena besok ikut lomba."
"Ya sudah. Kalian sudah menjawab semua soal latihan dengan baik. Bapak yakin kalian pasti bisa mengharumkan nama sekolah kita. Sekarang kalian boleh kembali ke tempat duduk kalian."
Ketika ke tiga siswa itu kembali ke tempat duduknya, bel tanda istirahat berbunyi, saat itu juga semua siswa bersorak karena jam pelajaran si guru killer berakhir. Bagaimana tidak? Selama jam pelajaran itu berlangsung, suasana kelas begitu tegang dan hening, sampai-sampai jika ada jarum yang jatuh, bunyinya bisa terdengar jelas.
Lalu setelah sang guru killer pergi, Joko juga segera keluar kelas dan pergi ke kantin. Perasaan tidak enak mendadak muncul di hatinya sewaktu dia membela Tuti.
Ke tiga temannya yang telah menghampirinya sejak tadi menyemangatinya agar bisa menang.
"Tetap semangat yah Tut. Aku yakin kamu pasti juara. Usahamu pasti nggak akan sia-sia." Ujar Siti.
"Hah... aku nggak yakin." Balasnya lemas lalu tidur di mejanya.
"Jangan lemas gitu dong. Semangat! Semangat! Jangan pikirin soal yang tadi. Aku yakin kalau kamu belajar lebih keras lagi, kamu pasti bisa menjawabnya." Sambung Linda
Lalu mendadak Betty mengusulkan ide yang cukup gila bagi Tuti,"Ah! Aku ada ide! Gimana kalau kamu belajar bareng sama Joko? Tanya dia gimana caranya."
Mendengar itu, Tuti bangun dengan mata yang terbelalak menatapnya, "Apa? Kamu gila yah?"
__ADS_1
"Duh, jangan marah gitu dong." Balas Betty.
"Gimana nggak marah. Kamu kan tahu aku nggak suka ngeliat tuh anak. Aku jadian aja tuh gara-gara terpaksa. Kalau aku nggak ngancem dia, dia pasti gangguin aku terus.
Kamu lihat nggak sih tampangnya setiap hari ngeselin? Sok-sok puitis lah, sok romantislah, lebay! Tahu nggak?" Tutur Tuti.
Namun ketika dia marah-marah, mereka tidak melihat Joko yang tiba-tiba masuk ke kelas dan mendengar ocehannya. Dia tertegun dan wajahnya seperti menyiratkan kekecewaan yang dalam. "Sampai kapan aku akan terus dihina seperti ini? Harga diriku sebagai siswa termashyur pudar karena omongan pedasnya." Pikirnya.
Kemudian dia berjalan ke kursinya dengan langkah yang lemas. Membuat Tuti dan yang lainnya kaget setengah mati.
"Hah! Kapan dia masuk? Kenapa mataku nggak lihat?" Ujar Siti sambil melongo.
Sedangkan Tuti dirundung rasa bersalah dan menyesal sampai-sampai tidak sanggup melihat Joko.
Mereka berempat pun dirundung rasa tidak enak hati pada Joko.
*********
Sampai seluruh pelajaran di sekolah selesai, Tuti dan ketiga temannya tak berani melihat Joko.
Di jalan pulang, meski dengan langkah yang sangat ragu bercampur khawatir, Tuti sengaja berjalan di belakang Joko sedikit jauh. Dia mengimbangi langkahnya agar tak kehilangan jejak Joko.
Tuti terus berjalan di belakangnya sampai Joko tiba di depan rumahnya. Sewaktu membuka pintu, Joko tak sengaja melihat bayangan Tuti di cermin sepeda motor yang terparkir di dekatnya.
Maka dia sengaja berlama-lama membuka pintu rumahnya untuk bisa melihat reaksi Tuti lebih jauh.
"Ngapain tuh anak ngikutin aku sampai kemari? Apa kurang puas dia merendahkanku di depan anak-anak?" Tanya Joko dalam hati seraya matanya terus melirik ke arahnya.
Ada keraguan besar melanda hati kedua remaja itu. Di satu sisi Joko ingin berbalik dan bertanya kenapa dia menguntitnya. Sedangkan disi lain, Tuti ragu menghampiri Joko karena takut dia malah membentaknya.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya keduanya menyerah pada keraguannya. Joko segera masuk ke rumahnya tanpa berbalik badan sedikit pun. Begitu juga dengan Tuti, pulang tanpa apa-apa.
*********