
Maka sepulang sekolah, mereka segera pergi bersama-sama ke rumah Betty. Mereka berjalan cepat karena sangat lapar. Karena sejak jam istrihat, mereka tidak makan apapun. Mereka berjalan cepat-cepat sambil menarik tangan Betty karena jalannya lambat.
Akhirnya, mereka sampai di rumah Betty. Mereka menyangka kalau mereka akan segera makan begitu sampai di sana. Tapi yang mereka lihat, neneknya masih memotong ayamnya dan membersihkannya. Itu pasti proses yang masih panjang, gumam Betty dan Linda. Mendadak mereka menjadi lemas karenanya. Meski begitu, neneknya Betty tetap menyuruh mereka berdua membantunya. Mereka pun terlihat sangat tidak bersemangat. Melihat itu, wanita tua itu mengomel kepada mereka berdua,
"Sana! Pergilah makan! Kalian ini memang anak-anak payah yang susah disuruh. Nenek sudah siapkan makanan di sana." Ujarnya sambil menunjuk ke arah lemari kecil tempat penyimpanan makanan.
"Nah gitu dong nek. Baru nenek kesayangan kami. Kami pergi dulu yah nek."
"Ckckckck...." Gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak habis pikir.
Sedangkan Betty, ada di kamarnya dan sangat malas untuk keluar menemani kedua temannya. Namun neneknya membiarkannya dan tidak memanggilnya untuk membantunya. Dia mengerjakan semua masakan itu sendiri sampai ayam yang terakhir itu selesai menjadi hidangan yang lezat dan disimpannya, lalu naik menuju kamar Betty.
Kedua anak itu makan begitu lahap sampai kenyang. Mengisi lambung mereka yang kosong seharian sampai kapasitas maksimal.
Ketika mereka telah dalam kondisi full, tiba-tiba orangtua mereka menelepon mereka berdua dan menanyakan keberadaannya. Tapi ketika mereka menjawab sedang makan enak di rumah Betty, orangtuanya pun tanpa rasa ragu langsung datang kesana untuk ikut menikmati makanan itu.
Rumah mereka tidak begitu jauh. Hanya terpisahkan oleh lima rumah.
Lalu ketika mereka sudah sampai di sana, mereka langsung mengambil piring masing-masing dan makan. Kedua anak itu berkata,
"Ini bu. Makanlah. Ini disiapkan untuk kita."
"Serius? Wah.... ini enak sekali. Aduh aku jadi lapar lagi. Padahal baru satu jam yang lalu aku bertekad untuk diet." Ujar ibunya Tuti.
"Idih... gayamu. Nggak usah diet-diet segala. Mau gendut atau langsing, penampilan kamu tetap standart. Nggak ada bedanya." Balas ibunya Linda.
"Terserah akulah. Badan, badanku. Kok jadi kau yang keberatan? Jelek-jelek begini, suamiku tetap cinta."
"Apa? Cinta? Hahahaha...
Bukan cinta! Tapi terpaksa!
Buktinya, suamimu aja malas mengangkatmu kalau kau ketiduran di sofa pas lagi nonton. Dia ngebiarin kamu tidur di situ sendirian dan digigitin nyamuk, sampai kamu akhirnya bangun sendiri. Yah kan? Hahahaha..." Balas ibunya Linda sambil tertawa meledek.
"Bukan. Itu karena bobot tubuhku saja yang berat. Makanya dia nggak sanggup menggendongku." Balasnya polos.
"Hei, kau tahu kenapa suamimu badannya cungkring?
Itu karena dia tertekan batin.
Hahahaha.....
Makanya, jadi istri jangan bawel."
Mereka berdua, ibunya Linda dan Tuti, terus saja saling meledek dan berbantah. Bukannya makan. Kedua anaknya pun tak melerai malah menonton mereka berdua. Hingga akhirnya neneknya Betty yang sejak tadi ada di kamarnya Betty menghibur cucunya, terpaksa turun karena kebisingan itu.
Dia pun langsung naik darah dan berteriak melengking melebihi suara mereka berdua. Sampai-sampai mereka akhirnya diam, kaget, dan takut. Mereka berempat bengong di sana sampai neneknya Betty sampai kepada mereka dan mengomel,
__ADS_1
"Kenapa kalian ribut-ribut di rumahku?
Siapa yang menyuruh kalian datang kemari?
Dan kau! Ujarnya pada ibunya Tuti.
Kenapa kau memegang piring? Untuk apa itu?
Mau makan?
Memangnya aku mengundangmu makan di sini?
Ckckckck.... Kalian ini yah. Kalian orangtua tidak ada sopan-sopannya sama sekali bertamu di rumah orang.
Mana penghargaan kalian kepada yang punya rumah?
Begini cara kalian mendidik anak?
Sudah tidak diundang, membuat keributan lagi."
"Maafin kami Bude. Kami khilaf. Kami tidak akan ulangi lagi."
"Ya sudah! Karena kalian sudah di sini, dan nggak mungkin aku mengusir kalian berdua, ayo kita makan!
Ayo! Ayo! Ambil piring, sendok, juga gelasnya.
Dan kau! Ujarnya pada ibunya Linda.
"Yah bude."
Kemudian nenek itu berkata lagi pada Tuti,
"Kau! Panggil Betty turun. Kita makan sama-sama. Nanti setelah makan, nenek mau bicara sama kalian berdua. Dan bagus orangtua kalian juga ada di sini. Biar mereka juga tahu.
Cepat sana! Jika sampai Betty tidak turun, AWAS!"
"Iya nek." Balasnya terpaksa dan cemberut.
**********
"Bett...
Betty...
Ayo turun... nenekmu memanggilmu lho.
Bett...
__ADS_1
Maribet...
Eh! Bukan! Kok maribet sih. Itu kan, nama bapaknya si cowok kapal. Siapa itu namanya?
Duh... Karena dia pulang sepuluh tahun sekali, jadi lupa siapa namanya.
Ah...
Bett... ayo keluarlah. Nenekmu menunggumu. Kalau kau tidak keluar, aku bisa terancam nih.
Betty... ayo cepat keluarlah. Jangan sampai nenekmu menunggu lama. Kau tahu kan nenekmu tidak sabaran? Nanti dia bisa berasap karena kelamaan nunggu." Ujar Tuti.
Namun rupanya suaranya bisa terdengar sampai ke meja makan, dimana neneknya Betty, Linda, juga orangtua mereka duduk bersama. Ibu mereka pun menjadi salah tingkah dan takut ketika melihat reaksi dan wajah nenek Betty saat mendengar kata-kata tidak menyenangkan tentang dirinya. Itu semakin membuat wajahnya mengerut karena geram dan kesal. Namun dia tetap diam.
Maka Tuti mencoba sekali lagi bujuk rayunya agar Betty keluar dari kamarnya. Dia berkata,
"Bett...
Ayo Turunlah. Tolong jangan membuatku tertekan dan terancam. Mmmm.... aku akan.....
Aduh.... apa yah....? Aku akan apa?
Hah.... si Betty, mentel banget kayak anak TK mau konser.
Betty! Kau dengar atau pura-pura tuli?
Nanti kau beneran tuli seperti kakek rondang lho. Mau kamu?"
Sementara itu, setelah semua makanan terbagi di piring masing-masing, neneknya Betty pun langsung berteriak memanggil Tuti yang tak kunjung turun.
"Tutt.......!!!!!
Tuti! Mana kalian berdua? Cepat turun!"
"Tuh kan Betty. Nenekmu sudah memanggil. Ayo turun.
Hah...
Baiklah. Aku akan melakukan apapun nanti asalkan kau turun." Keluhnya.
Sementara neneknya terus memanggil, akhirnya Betty pun keluar dari kamarnya dengan wajah yang sumbringah. Kata-kata yang dia tunggu-tunggu sejak tadi akhirnya keluar dari mulut temannya. Dan itu sudah direkamnya dengan ponselnya, untuk dijadikan alat balas dendam. Maka dia berkata,
"Ckckckckck...
Aduh... temanku Tuti yang cantik, pintar, dan sombong ini. Aku sudah di sini. Sekarang ayo kita turun. Aku sudah lapar."
"Gitu dong. Keluar kamar aja, susah banget. Ngapain aja sih di dalam?"
__ADS_1
"Bertapa! Demi mendapatkan ide yang cemerlang."
Kemudian mereka pun sampai di ruang makan, dan menikmati jamuan makan itu. Jamuan makan untuk yang kedua kalianya bagi Linda dan Tuti. Meski perutnya sudah kenyang, namun mereka tetap makan, karena tergoda oleh aroma sedap ayam panggang masakan neneknya Betty.