
Sepulang sekolah, beberapa siswa pergi menjenguk sang guru ke puskesmas. Mereka membawa beberapa buah untuk diberikan kepada sang guru.
Dalam perjalanan, Betty berkata dalam hati pada dirinya sendiri,
"Ah... lega rasanya tidak jadi ujian. Semoga saja kecelakaan itu lumayan parah sehingga aku bisa terbebas dari ujian matematika. Maafin aku yah pak. Bukan maksudku bersenang-senang di atas penderitaan bapak. Tapi bapak sering sekali membuatku stress dengan ujian dadakan. Dan aku rasa, bukan cuma aku yang merasa senang. Tapi beberapa siswa lain pasti merasa begitu. Tapi tidak dengan si Linda. Hahahahhah.... kasihan banget sih, harapannya kandas. Syukurin! Kamu pikir bisa merebut Micky dari ku? Oh, jangan harap!" Ujar Betty sambil menahan tawa.
Sedangkan Linda, tampak murung dan kesal sambil berkata dalam hatinya,
"Ah...! Sial!
Rencanaku untuk mengerjai si Betty gagal. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai si bule itu. Tapi aku ingin memberikan pelajaran penting sama si Betty yang songong ini. Yang sok cantik, sok manja, sok imut, sok dicintai, dan sok segalanya deh.
Aku pengen ngasi dia pelajaran!
Mudah-mudahan pak Toto hanya luka-luka ringan dan bisa cepat sembuh."
Mereka berjalan kaki beramai-ramai dan saling berkelompok.
Tak lama kemudian mereka sampai di puskesmas. Maka ketua kelas, didampingi dua murid lainnya, masuk ke ruangan dimana sang guru dirawat. Mereka meletakkan buah-buahan yang mereka bawa di atas meja dan menyampaikan sedikit kata-kata penghiburan.
Mereka berada cukup lama di sana, sehingga membuat yang lain merasa khawatir terutama Linda dan Betty yang sejak tadi sibuk berspekulasi. Mereka saling bertanya tentang keadaan sang guru.
Maka karena begitu penasaran, Betty pergi ke belakang puskesmas dan mengintip dari jendela. Jendela itu cukup tinggi. Sehingga dia mencari akal dengan memanjat pohon untuk tahu yang sebenarnya.
Ketika dia sudah berhasil dan bisa melihat ke dalam ruangan, sayangnya punggung teman-temannya menghalangi pandangannya sehingga usahanya menjadi sia-sia. Maka dia berkata dengan kesal,
"Ah! Sial! Punggungnya si Lisbet, si Lilis, si Selka, dan si Tember ini menghalangi mataku. Bisa nggak sih mereka bergeser sedikit? Aku tidak bisa lihat keadaan pak Toto.
Aduh....
Udah susah-susah manjat, tapi nggak dapat hasil."
Dia terus berupaya bertahan di posisinya meski dahan yang dia injak cukup ringkih. Sehingga dia harus bergelantung agar tidak jatuh. Dan dia tidak menyadari seorang petugas kebersihan lewat karena ingin membuang sampah. Ketika melihatnya, petugas itu mengira Betty adalah seorang pencuri. Maka dengan cepat, dia langsung melemparkan sampah di tangannya ke arah Betty dan memergokinya. Maka Betty yang sekejap panik, dan tak bisa mengendalikan beban pijakannya lagi sehingga dahan itu patah dan dia bergelantungan sambil meminta tolong.
Suaranya yang keras memancing perhatian teman-teman sekelasnya juga beberapa orang di sana. Mereka langsung pergi berbondong-bondong dan melihat Betty.
Beberapa dari mereka berseru,
"Hei Betty! Kenapa kau bergelantungan seperti monyet? Ha?
Hahahaha....
Mau makan jambu yah?
__ADS_1
Ambilkan aku satu sekalian!"
Sedangkan yang lainnya tertawa mengejek.
Betty minta tolong sambil menangis,
"Lin, tolong aku.
Bantu aku turun dari sini."
"Lompat ajalah!
Kau bisa naik, masa nggak bisa turun?
Uda lompat aja!
Kakimu nggak akan patah.
Lagipula ada perawat yang akan langsung merawatmu jika kalimu luka. Iya kan?"
"Ah.... Tolong...!" Serunya sambil menangis.
Maka beberapa pria dewasa di sana pun segera berupaya membantunya turun.
Dia begitu malu sampai-sampai tak bisa melihat muka temannya. Dia hanya tertunduk sampai acara menjenguk itu selesai, dan mereka pamit pulang. Bahkan dalam perjalanan pun, dia tidak sanggup mengangkat lehernya untuk melihat teman-temannya. Dia hanya pasrah membiarkan teman-temannya mengejeknya.
Bahkan sampai esok harinya, dia masih trauma untuk masuk ke sekolah. Perasaannya masih sangat kacau karena khawatir teman-temannya akan mengejeknya lagi di kelas. Maka pagi itu, dia tidak bersiap-siap, namun mengerjakan sesuatu yang lain dan hari sudah hampir terang.
Pagi itu Betty mencari alasan untuk tidak masuk sekolah. Dia memutar otak agar alasannya masuk akal namun bukanlah alasan yang sebenarnya. Karena neneknya tidak senang melihat cucunya bolos sekolah. Bahkan meski sakit namun tidak parah, atau masih bisa berjalan, neneknya akan memaksanya untuk sekolah.
Maka pagi itu, Betty mengambil kain kasa, plester luka, dan obat merah. Lalu dia membungkus kakinya dengan perban itu dan meneteskan banyak obat merah di atasnya. Lalu setelah semuanya dirasa pas, dia berbaring di tempat tidurnya. Tak lupa dia menaruh irisan bawang merah di kantung matanya sebentar, agar matanya merah karena menangis, dan sandiwaranya terlihat sempurna. Dia juga memoles bibirnya dengan concelear agar terlihat pucat dan meyakinkan bahwa dia sedang sakit parah.
Namun dia tidak tahu sampai kapan dia harus melakukan rencananya. Karena tidak mungkin dia akan terus bersandiwara dan membohongi neneknya. Maka dia berkata,
"Yang penting, satu hari ini aku bisa bolos sekolah. Aku masih belum siap mendengar teman-temanku membullyku. Apalagi si Linda dan si Tuti. Mau taruh di mana mukaku yang rupawan ini?
Ah... tidak! Tidak!"
Lalu karena Betty tak kunjung keluar dari kamarnya, neneknya yang tengah sibuk bekerja di dapur pun terpaksa pergi ke kamar Betty untuk mencari tahu.
Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Betty terbaring seperti orang yang sekarat. Neneknya berkata,
"Betty, kau kenapa nak? Kakimu kenapa?"
__ADS_1
"Betty sakit nek."
"Iya, kenapa?"
"Tadi saat aku menarik seragam sekolahku dari rak pakaian, rak itu tiba-tiba jatuh dan menimpa kakiku nek, sehingga luka seperti ini."
"Aduh..., kok bisa?"
"Aku terburu-buru karena bangun kesiangan."
"Tapi nenek tidak mendengar apa-apa tadi."
"Itu karena suara penggorengan nenek jauh lebih kencang daripada suara lemari yang jatuh nek.
Aduh nek....
Jangan bicara lagi. Betty sangat sakit. Bahkan bicara pun sakit. Mulutku yang bicara, tapi kakiku yang kontraksi. Sebaiknya nenek ke dapur saja, aku mau tidur."
Kemudian neneknya bangkit dan melihat rak pakaiannya telah patah kakinya. Betty sengaja merusaknya demi memantapkan sandiwaranya. Dia juga mengacak-acak pakaiannya.
Maka neneknya berkata,
"Ckckckck... cucu nenek, kasihan sekali. Untung rak ini tidak menimpa kepalamu. Kalau ya, nenek akan jawab apa sama bapakmu nanti? Cucu nenek yang malang.
Yah sudah, kamu istirahat, nenek akan bawakan sarapan untukmu."
"Tunggu dulu nek!"
"Apa lagi?"
"Tolong permisikan aku nek sama guru. Katakan kalau aku tidak bisa masuk sekolah selama seminggu karena sakit."
"Apa? Tidak! Tidak!
Besok kamu sudah bisa sekolah.
Jangan jadikan penyakitmu sebagai alasan tidak masuk sekolah.
Ingat! Bapakmu dan ibumu sudah banting tulang di negeri orang agar bisa menyekolahkanmu.
Pakai tongkat! Supaya kamu bisa jalan!"
"Tapi nek!"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapi! Jangan banyak alasan!"
Lalu neneknya segera pergi ke dapur dan mengambilkan sarapan untuk Betty.