Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 41


__ADS_3

Maka malam harinya, Joko belajar sampai larut malam, menghafal berbagai rumus sehingga semua rumus-rumus itu seolah berterbangan di atas kepalanya membentuk suatu lingkaran. Tak hanya itu, dia pun gigih mengerjakan setiap soal-soal latihan.


Setiap kali matanya terasa panas dan berat, dia pergi ke dapur, mengambil es dan mengompres matanya lalu kembali belajar.


Saat perutnya berbunyi karena mulai lapar saat tengah malam, dia merebus beberapa telur dan memakannya. Dia berpikir, kalau dia makan nasi saat tengah malam, bobot tubuhnya akan bertambah sehingga mengurangi keindahan ototnya yang sering kali dia bangga-banggakan.


Dia makan sepuluh butir telur rebus malam itu juga dengan begitu lahap lalu kembali belajar. Berbagai jenis buku tertumpuk terbuka di atas mejanya. Terkadang tanpa sadar mulutnya komat-kamit seraya fokus berhitung. Tekadnya begitu kuat ingin menang dari Tuti dan menghadiahkan kemenangannya pada Tuti.


Di saat yang sama, Tuti, Linda, Betty, dan Siti, juga belajar serius dengan gayanya masing-masing sampai tengah malam.


********


Ke esokan paginya, Joko pergi lebih pagi dari biasanya ke sekolah karena ingin melanjutkan pelajaran pribadinya. Tak lupa dia juga telah mempersiapkan bekalnya, yaitu sepuluh butir telur rebus, semangkuk kecil nasi, dan semangkuk sayuran hijau yang dimasaknya pada jam 5 pagi. Saat itu bapak dan ibunya belum bangun. Maka ketika hari sudah terang ketika ibunya hendak mempersiapkan sarapan, ibunya kaget melihat persediaan telur di kulkasnya habis.


"HAH! Kemana semua telur-telur di sini? Apa menetas atau gimana?"


"PAK....! JOKO...! Kemana semua telur di kulkas ini? Itu persediaan kita yang tersisa.


Hei... ! Orang-Orang!"


Namun suaminya sulit bangun sebab sisa-sisa nuansa kenikmatan cinta masih bersemayam di dalam tubuhnya. Baru tadi malam dia mendapatkan kenikmatan itu dari sang istri.


Maka karena tak kunjung datang, sang istri menghampirinya ke kamar dan marah-marah.


"PA! KEMANA SEMUA TELUR DI KULKAS?


Apa jangan-jangan papa makan semuanya supaya kuat marathon sampai subuh? Iya?"


Laki-laki itu menguap, mengucek matanya dan bilang, "Ada apa sih ma. Pelan-pelan aja ngomongnya. Nanti kalau Joko dengar gimana? Kan malu."


"Sejak kapan papa tahu malu? Hah? Sekarang jawab deh pa, kemana semua telur di kulkas?"


"Mana papa tahu. Papa kan nggak pernah urusin dapur. Yang masak tiap hari kan mama. Lauk lain, apa nggak ada? Masak aja lauk yang lainnya ma."


"Eh...eh... mulutnya mulai berkecambah deh." Seraya mengerutkan keningnya dia mengomel lagi, "Papa bilang lauk yang lain? Papa nggak dengar tadi mama bilang itu lauk terakhir? Mama belum belanja pa. Dan uang juga udah menipis. Papa tahukan mama harus bayar arisan, bayar cicilan rumah, dan cicilan mobil. Semua uang yang papa kasih harus mama hemat biar semuanya cukup."


"Aduh... ma... ma...


Cerewet amat. Udah beli aja lagi."


Laki-laki itu menarik selimutnya, menutup bagian bawah tubuhnya dan bangkit mengambil tasnya lalu menyodorkan sejumlah uang padanya dalam sebuah amplop berwarna coklat.

__ADS_1


"Apa ini pa?" Kening istrinya semakin mengerut lantaran kecurigaannya semakin bertambah.


"Itu uang. Itu komisi papa karena papa telah menang tender. Di dalamnya ada juga cincin buat mama, yah... itung-itung sebagai ucapan terima kasih papa karena mama udah bahagiain papa tadi malam."


Pipinya istrinya pun seketika merona setelah melihat sejumlah uang itu dan memakai cincinnya.


"Makasih yah pa. Aku jadi makin cinta deh sama papa. Ya udah, mama ke pasar dulu yah belanja. Papa segera geh mandi."


*********


Di pasar, dia membeli kepiting, cumi-cumi, ayam, dan beberapa jenis ikan segar lainnya.


Lalu dia mengolah kepiting dan cumi-cumi itu menjadi makanan yang sangat harum dan lezat. Setelah itu dia memanggil suami dan anaknya makan. Namun yang datang hanya suaminya saja.


"Lha! Joko mana pa?" Tanya sang istri.


"Mungkin masih di kamarnya. Kita tunggu sebentar lagi yah."


Tapi sampai sepuluh menit berlalu Joko tak kunjung datang.


"Aduh... tuh anak kemana sih?


Joko...


Joko...


"Tenang ma biar papa yang panggilin."


Laki-laki itu beranjak pergi ke kamar Joko. Namun ketika pintu kamarnya dibuka, Joko tidak ada.


"Kemana perginya tuh anak?" Gumamnya.


Segera dia kembali pada sang istri dan melapor.


"Ma, Joko nggak ada di kamarnya. Mungkin tadi dia sudah pergi setelah mama ke pasar."


"Aduh... aduh... anak itu benar-benar nakal. Selalu saja melewatkan sarapannya. Awas aja kalau sampai dia sakit, mama cubit plintir perutnya sampai biru biar dia kapok."


"Udah, udah ma. Jangan emosi terus. Nanti mama cepat tua lho. Mending kita sarapan sekarang."


Ketika tudung saji dibuka, tampak makanan-makanan berat tersaji sempurna di atas meja, sup kepiting dan cumi goreng tepung saus madu. Seketika itu juga laki-laki itu sedih dan manyun dan menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Pa. Papa kok nggak semangat gitu sih? Apa makanannya kurang menarik?"


"Ma, mama kan tahu papa punya kolesterol. Kalau papa makan ini semua, bisa-bisa kolestrol papa naik dan akhirnya struk. Mama mau?"


"Astaga... mama lupa pa. Sangkin senangnya, mama sampai lupa. Mama cuma pengen makan enak karena selama ini udah nahan selera gara-gara cicilan.


Jadi gimana dong pa."


"Ya udahlah, papa makan pakai sambal saja." Jawabnya kesal.


Laki-laki itu akhirnya menyantap makanannya dengan raut wajah yang kesal, tapi tidak dengan istrinya yang begitu riang.


"Mmm... ya ampun... enak-enak banget. Gara-gara mikirin cicilan, mama sering makan apa adanya. Baru kali ini lidah mama menari-nari.


Ya udah, jatah papa buat mama aja. Ok?"


Dia menyantapnya dengan lahap dan menambah porsinya berkali-kali.


*********


Tak lama keluarlah suara sendawa yang cukup keras dari mulut istrinya "EGHHHHHh...." Begitu kenyang dan puas.


Seraya mengelus-elus perutnya yang buncit, dia berkata pada suaminya,


"Pa, papa pergi sendiri aja yah. Mama nggak sanggup nganterin papa ke depan pintu. Perut mama berat, susah jalan nih."


"Iya, iya. Bahkan kalau ngantuk, tidur aja di sini. Gerutunya kesal.


Namun tanpa memedulikan kekesalan suaminya, dia menjawab dengan santai,"Kayanya iya deh pa. Karena kenyang mama jadi ngantuk. Ya udah, kalau pergi jangan lupa tutup pintu yah pa. Mama mau tidur."


"Iya. Iya." Jawab pria itu kesal lalu pergi meninggalkannya setelah sang istri mulai tidur.


***********


Adapun di sekolah, tempat untuk lomba sudah mulai ditata dan dipersiapan sedemikian rupa. Anak-anak yang ikut lomba mulai tampak tegang dan saling berharap bisa menang.


Di kelas, Joko menahan dirinya untuk tidak menggoda Tuti yang tengah sibuk belajar, seperti janjinya.


Sambil melirik ke arah Tuti dari kursinya, Joko membulatkan tekadnya lagi, "Semoga kamu berhasil bidadariku. Tapi aku ingin lebih berhasil darimu agar aku bisa membuktikan ketulusanku."


Kemudian dia membuka bukunya dan mulai membacanya dalam hati.

__ADS_1


Tapi tanpa dia sadari, Tuti terkadang curi-curi pandang padanya. Sesekali dia memperhatikannya cukup lama, entah apa yang dia pikirkan tentangnya.


__ADS_2