Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 17. Hari yang Sial


__ADS_3

Dengan raut wajah yang sangat geram dia beranjak sambil memukul meja dengan tangannya lalu mengambil pulpennya dan kembali menulis hukumannya. Dia memanfaatkan menit-menit yang tersisa dari jam istirahat itu dengan sangat fokus meski perutnya lapar dan kerongkongannya kering.


Dia mempercepat laju tangannya menulis hingga tampak seperti jet tempur, dan tak sadar bibirnya juga turut monyong diikuti dengan matanya melotot fokus seraya dia menulis dengan cepat.


Hanya dia yang tinggal ruangan itu selama jam istirahat demi menyelesaikan hukumannya. Sedangkan teman-temannya yang lain yang juga mendapatkan hukuman, tidak menghiraukannya sama sekali dan bersenang-senang di kantin.


************


Akhirnya satu menit sebelum jam istirahat berakhir, dia bisa menuntaskan sampai lima lembar hukumannya. Sebelum dia memberikannya pada guru matematika itu, dia istirahat selama beberapa detik sambil memandang sedih jari-jarinya yang bengkak dan kram.


Setelah itu dia berlari ke ruang guru untuk menyerahkannya. Sesampainya di sana, dilihatnya sang guru sedang fokus membaca sebuah artikel sambil mengupil karena tidak ada guru lain di sana.


"Ish... menjijikkan sekali." Ujar Betty dalam hati sebelum mengetuk pintu.


Waktu itu pintu ruangan itu terbuka karena guru-guru yang lain baru saja pergi.


Tapi karena waktu istirahat itu hampir habis, maka Betty cepat-cepat mengetuk pintu itu dengan keras sambil berkata,


"Pak!"


Seketika sang guru pun kaget bukan main hingga jarinya yang sedang mengorek upilnya tiba-tiba terdorong semakin dalam dan nyaris melukai lubang hidungnya.


"AOU..." Jeritnya spontan sambil mengeluarkan jarinya dari lubang hidungnya. Namun di kukunya menempel upilnya yang besar. Dia melihatnya sebentar, lalu tanpa merasa jijik dia membersihkan jarinya pada tepi mejanya hingga upil itu menempel di situ. Lalu dia bicara membentak Betty.


"Ada apa Betty? Kenapa kau kemari? Kembali ke kelas sana! Kau hampir saja membuat bapak terluka. Kalau lubang hidung bapak ini sampai terluka, bagaimana? Bapak akan kesulitan bernafas. Nanti oksigen hanya akan masuk lewat satu lubang hidung. Begitu juga dengan karbondioksida. Nanti satu lubang hidung ini akan bekerja lebih keras gara-gara kamu dan hilang keseimbangan. Dan kalau bapak sampai kekurangan oksigen gara-gara kamu bagaimana? Mau kamu membeli tabung oksigen juga selangnya untuk bapak? Hah?"


Seraya guru matematika itu berbicara, Betty mengomel dalam hati,


"Begitu aja udah dibuat parah. Mana ada bernafas dari satu lubang hidung kecuali hidungnya tersumbat karena ingus. Bilang aja ingusnya banyak makanya upilnya bisa sebesar itu. Ish...menjijikkan sekali."


Lalu dia berkata membalas sang guru,


"Pak, saya ke sini mau mengantar lembaran hukuman yang bapak suruh. Ini pak sudah saya tulis sampai lima lembar."


"Jadi gara-gara itu kau hampir membuat bapak celaka? Hah?" Bentaknya lagi.


"Idih! Yang mengupil siapa? Yang kaget siapa? Makanya jantungnya dipelihara biar nggak lemah dan gampang kaget. Kalau mau ngupil juga jangan di sekolah, di rumah dong." Gerutunya dalam hati.


Kemudian sang guru berkata lagi,


"Ya sudah! Mana sini! Makanya rajin belajar, supaya kau pintar dan tidak dapat hukuman seperti ini. Ya sudah sana kembali ke kelasmu!" Bentak sang guru.


"Permisi pak." Balasnya tertunduk.

__ADS_1


Lalu dia segera kembali ke kelas sebelum didahului oleh guru lain yang tak kalah killer, yang akan masuk ke kelasnya. Guru itu sedang berjalan di lorong yang sama dengannya. Maka dia berlari kencang melewati sang guru lalu duduk dengan nafas yang masih terengah-engah.


"Kenapa itu si Betty? Habis lari marathon di mana dia?" Tanya linda pada teman sebangkunya seraya menatapnya aneh.


"Entahlah. Biarin aja. Suka-suka dia ajalah!"


Lalu tak lama sang guru pun masuk dan menyapa murid-muridnya. Setelah itu dia menegur Betty sambil melotot padanya.


"Dari mana kamu tadi Betty? Apa kau ikut lomba lari marathon perwakilan sekolah ini?"


"Maaf pak, tidak. Jawabnya tertunduk takut.


"Kalau bukan, kenapa kau berlarian di lorong sekolah? Lain kali jangan begitu. Kau sudah remaja. Malu dilihatin anak laki-laki."


Dia tidak menjawabnya namun hanya tertunduk malu. Kemudian sang guru mulai menjelaskan materi pelajarannya dan bertanya jawab pada siswanya. Namun Betty tak sepenuhnya fokus selama jam pelajaran berlangsung hingga selesai karena pikirannya masih terbebani oleh rasa malu dan kesal.


**********


Lalu di perjalanan pulang, Betty sengaja berjalan cepat untuk menghindari Linda dan Tuti yang berjalan di belakangnya. Dia juga terus mengoceh sembari berjalan.


"Awas aja dua orang itu! Tunggu dan lihat aja tanggal mainnya! Kalian berdua pasti akan kubuat klepek-klepek nanti."


Sesampainya di rumah, dia segera melempar tasnya ke kasur dan merebahkan dirinya tanpa mengganti seragamnya lebih dulu.


Satu hari ini aku sial banget. Liat aja nanti yah Linda, Tuti. Pasti akan kubalas kalian." Gerutunya.


Tak lama kemudian neneknya datang dan mengetuk pintu kamarnya.


"Bett....


Betty...


Buka pintunya nak, nenek mau bilang sesuatu.


Bett..."


"Aduh...


Apa lagi sih nek...


Besok aja ceritanya. Betty lagi pusing, sakit, dan hampir pingsan nih nek."


"Ga bisa. Ini penting untuk masa depanmu. Ayo cepat buka pintunya."

__ADS_1


"Iya nek, besok aja ceritanya. Betty lagi nggak bersemangat."


"Betty, kalau nenek bilang buka pintunya, kamu harus buka. Kalau tidak nenek marah nih."


"Ya udah. Marah aja nek. Betty siap!"


"Betty, nenek minta sekali lagi, cepat buka pintunya. Kalau tidak, kamu tahu kan akibatnya?" Ujar neneknya mulai marah seraya menekan nada suaranya.


Maka Betty pun bicara mengeluh seraya beranjak dari kasurnya.


"Hadeh...


Nggak di sekolah, nggak di rumah, semuanya nyebelin. Nih nenek gaul lagi maksa banget. Heran deh. Hal penting apa sih yang mau diutarakan?" Ujarnya kesal.


"Betty...!" Teriak neneknya lagi memanggil.


"Iya nek. Tunggu."


"Ada apa sih nek?" Tanyanya setelah membuka pintu.


Neneknya segera masuk dan duduk di ranjang lalu menarik tangan Betty agar duduk didekatnya lalu berkata,


"Betty cucu nenek tersayang, tadi siang anaknya pak sadur pulang dari perantauan. Kau masih ingatkan si Trisna?"


"Masih nek. Emang dia kenapa?"


"Nak, si Trisna itu sudah jadi pramugari sukses. Sudah berkeliling ke mana-mana, bahkan mamanya mau dia ajak jalan-jalan ke Turki. Aduh... nenek jadi iri. Kira-kira nanti nenek bisa nggak jalan-jalan ke sana?"


"Maksud nenek itu gimana sih? Intinya itu apa? Aku jadi tambah pusing nih nek. Lagi pula kenapa harus iri? Kan mereka punya banyak uang makanya bisa jalan-jalan ke luar negeri."


"Betty cucu nenek yang cantik, nenek iri bukan berarti benci sama mereka. Tapi nenek ingin suatu saat kamu jadi orang sukses supaya bisa bawa nenek jalan-jalan."


"Aduh nenekku sayang. Perjalanan Betty masih panjang. Supaya bisa jadi pramugari Betty harus kuliah dulu. Masih beberapa tahun lagi nek."


"Iya nenek tahu. Tapi nggak salah juga kan kalau nenek berharap? Menurutmu apa nenek masih sanggup menunggumu sukses? Kamu tahu kan umur manusia semakin singkat?"


"Duh... kenapa nenek ngomongnya begitu? Nenek nggak yakin? Nenek masih sehat dan kuat lho."


"Hei, jangan salah nak. Seseorang bisa mati secara tiba-tiba. Entah dia sehat atau tidak, maut bisa datang kapan saja."


"Aduh... kenapa ngomongnya jadi tentang maut sih nek.


Ah, sudahlah! Betty lapar. Mau makan."

__ADS_1


Dia segera meninggalkan neneknya dan pergi ke dapur.


__ADS_2