
Malam harinya, ketiga siswa yang akan mengikuti lomba besok, mulai belajar mati-matian agar bisa menjadi pemenang. Joko dengan gaya yang serius, dimana bibir mulai manyun dan komat-kamit. Sedangkan Tuti dengan gaya tegang dan tekad yang kuat, tak mau kalah dari Joko.
"Jangan sampai anak lebay dan sok puitis itu menang dariku." Ucapnya dengan tekad dan keyakinan yang teguh bagaikan karang.
Sedangkan Lia belajar dengan gaya yang santai dan cenderung menikmati.
Mereka bertiga berupaya keras melahap setiap soal-soal latihan yang ada dari berbagai buku.
Malam itu Tuti mencari beberapa soal yang mirip dengan soal yang sang guru berikan saat di kelas dan mencoba mengerjakannya. Tapi berbagai cara telah dia coba, soal itu begitu sulit untuk dipecahkan.
Jawaban yang dia peroleh, tak pernah ada yang cocok dengan pilihan jawaban yang tersedia.
Semakin dia mencoba cara lain, jawabannya semakin jauh dari pilihan jawaban, hingga membuatnya stress dan marah.
"Ah! Sial! Kok bisa sih ada soal kaya gini?"
Dia berhenti sejenak memutar otak mencari solusi lain. Sampai akhirnya muncul sebuah ide untuk menghubungi Lia meski ada rasa tidak enak hati.
"Hallo Lia, belum tidur kan? Maaf yah aku ganggu malam-malam. Apa malam ini kamu sibuk?" Tanyanya ragu-ragu.
"Iya. Ada apa yah?"
"Kita boleh video call sebentar nggak? Aku mau tanya sesuatu nih sama kamu. Please.... sepuluh menit aja."
"Tapi aku lagi nggak punya kuota internet nih. Gimana dong?" Jawab Lia.
"Ah....
Hahahahaha...." Tiba-tiba Tuti tertawa sebentar lalu bicara lagi,
"Itu sih gampang. Aku isi pulsa mau nggak? Tapi kamu harus janji ajarin aku satu hal. Gimana? Mau?" Tuti mencoba membuat penawaran agar tujuannya tercapai.
"Apa?" Tanya Lia singkat.
"Itu lho Lia, soal tadi siang. Aku nggak ngerti caranya. Aku udah coba berbagai cara, tapi tetap nggak bisa."
"Duh... gimana yah? Tapi aku sibuk banget Tut. Aku nggak bisa." Lia mencoba mengelak agar tak mengajari Tuti yang kini adalah saingannya.
"Aduh, Lia. Aku mohon. Aku akan isi pulsamu seratus ribu. Hah? Mau yah? Sama teman sendiri jangan pelit dong. Please..." Tuti mencoba memelas.
"Kamu nggak lagi usaha nyogok aku kan Tut?"
__ADS_1
"Nggak kok, benar. Tapi karena tadi kamu bilang nggak punya pulsa jadi aku tawarin. Yah... anggap aja kita simbiosis mutualisme. Kamu butuh pulsa, sedangkan aku butuh ilmu." Tuti mencoba mengajaknya bernalar.
"Memangnya jam segini, warung masih buka? Ini udah jam 10 malam lho."
"Masihlah. Di sini warung buka sampai jam 12 malam."
"Mmmm....
Ya udah deh kalau kamu maksa. Pulsa 100 ribu yah, jangan lupa. Pulsa biasa aja. Ntar aku yang daftar sendiri kuotanya." Ujar Lia.
Tuti pun segera pergi diam-diam ke warung setelah menutup teleponnya. Mau tak mau dia terpaksa memakai uang sakunya selama seminggu demi tujuannya.
"Pak....
Pak Soleh....
Pak...." Dia berteriak memanggilnya seraya melirik ke dalam rumahnya.
"Pak...
Pak Soleh...
Tak lama pria itu tiba-tiba berdiri di depannya seperti hantu saat lirikan mata Tuti masih mengarah ke dalam rumah. Rupanya sejak tadi pria itu tertidur di dekat etalase sehingga tak terlihat.
"Ada apa sih Tuti......? Kamu tuh berisik banget. Nganguin bapak tidur. Ada apa? Hah?" Tanyanya dengan wajah datar disertai mata yang melotot.
"Aku mau beli pulsa pak. Hehehehe..." Jawabnya sedikit takut.
"Pulsa berapa?"
"100 ribu pak."
Lalu pria itu mencari-cari ponselnya yang entah kemana dia taruh sebelum tertidur di depan TV.
"Lho, mana ponsel saya? Perasaan bapak taruh di sini deh." Dia mencari-cari dan memindahkan beberapa toples permen, berpikir itu jatuh dan terselip di sana. Tapi ponselnya tetap tidak ketemu.
Maka dia pergi ke dalam rumah dan mencarinya di sana, di kamarnya, di dapur, dan di ruang tamu, juga tidak ada.
Lalu dia kembali ke warungnya dan bertanya pada Tuti, "Kamu nggak lihat ponsel bapak Tut waktu kamu datang kemari?"
"Nggak pak. Nggak lihat." Jawabnya polos.
__ADS_1
"Aduh... kemana ponsel saya?"
Perlahan mukanya mulai menunjukkan ekspresi pasrah kehilangan ponselnya seraya menghela nafas panjang.
Tuti pun bingung harus kemana lagi karena itu adalah satu-satunya warung yang buka sampai jam 12 malam.
Ketika keduanya sama-sama putus asa, tiba-tiba suatu getaran muncul. Pria itu kaget setengah mati merasakan getaran di pahanya, bagaikan disetrum.
Sarung yang melilit di pinggangnya pun dibuka segera, lalu ponsel yang tersembunyi di saku ****** ******** pun diambil segera. Dilihatnya sebuah panggilan tak dikenal muncul.
Segera dia mematikannya dan menarik nafas lega, "Aduh... saya cari-cari dari tadi, ternyata sembunyi di sini." Ucap pria itu pada ponselnya.
"Lagian aneh banget. Nyimpan HP kok di saku ****** *****. Emang dari tadi jalan nggak ngerasa?" Tanya Tuti dalam hati.
Kemudian pria itu bertanya lagi, "Pulsa seratus kan dek?"
"Iya. Ke nomor ini yah pak." Dia menyodorkan secarik kecil kertas bertuliskan nomor ponsel Lia.
Maka pria itu segera menekan- nekan tombol di layar ponselnya, dan pulsa 100 ribu pun meluncur ke ponsel Lia.
Adapun Lia yang sejak tadi menanti pulsa, mulai merasa bosan dan tak memercayai omongan Tuti.
Namun ketika sebuah notifikasi berdering di ponselnya, rasa tak percaya itu sirna sekejap.
"Wah... dah masuk nih pulsanya. Ternyata si Tuti nggak main-main dengan omongannya."
Kemudian dia mengirim pesan singkat ke Tuti, 'Pulsanya udah masuk yah. Thanks'
Sementara Tuti yang sudah sampai di rumah, segera melakukan video call ke Lia.
"Ada apa sih Tuti, kamu maksa banget buat video call sama aku. Ini tuh udah jam 11 malam lho. Besok kita kan ikut lomba." Tanya Lia.
"Soal yang tadi siang, ajarin aku dong Lia. Aku nggak tahu caranya. Please....
Aku udah coba berbagai cara tapi tetap nggak bisa." Sahut Tuti.
"Oh itu."
Lalu dia membuka bukunya dan mulai menjelaskan caranya. Dia mengajarinya sampai tiga soal terselesaikan dan bertanya apakah Tuti sudah mengerti atau belum.
"Aku udah ngerti kok. Makasih yah. Nanti aku coba-coba lagi di rumah. Makasih yah." Jawab Tuti meski sebenarnya dia tidak mengerti sepenuhnya. Tapi karena waktu sudah menunjukkan jam 12 malam, dia tidak enak hati lagi memintanya. Selain itu, mereka juga harus tidur yang cukup agar esok otak mereka bisa segar dan siap.
__ADS_1