Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 4. Upah


__ADS_3

Ketika Betty dan Linda tengah berolahraga pagi di tanah lapang, Betty melontarkan sedikit pujian untuk Linda. Namun itu hanya sekedar untuk menyenangkan hati Linda. Pujian itu tidak tulus.


"Lin, aku pengen deh punya body langsing sepertimu. Kasih tahu aku dong caranya."


"Yah, tinggal rajin olahraga aja."


"Sudah. Kita sudah rutin olahraga sekali seminggu, tapi tetap aja gendut."


"Kamu sih, makan terlalu banyak. Kebiasaanmu tidur setelah makan, harus dihilangkan. Kalau tidak, badanmu akan seperti sapi perah nanti. Hahahaha..."


Namun Betty tidak tersinggung sama sekali mendengar kata-kata itu. Dia malah memuji dirinya sendiri dalam hati,


"Meskipun aku gendut, tetap saja si Micky jatuh cinta padaku."


Tapi setelah itu dia mengubah reaksi wajahnya menjadi sedikit malang agar Linda semakin memperhatikannya dan membantunya untuk satu masalah yang tak bisa dia selesaikan.


"Lin, besok kan kita ujian matematika. Kau mau kan menolongku lagi? Please....


Kalau tidak, aku bisa tinggal kelas."


"Apa? Tinggal kelas? Gayamu kayak anak SD aja tinggal kelas.


Kamu tahu dari mana besok kita ujian?"


"Jadi pas kita kejar-kejaran tadi malam, aku bersembunyi di halaman rumah guru kita. Dan aku tak sengaja mendengar perkataannya. Dia bilang akan mengadakan ujian dadakan."


"Oh, jadi karena itu kau mendekatiku dan berdamai denganku?"


"Ah, tidak! Tidak! Kau adalah teman sebangku yang paling baik. Sudah lama kita menjadi teman sebangku. Sejak SD, SMP, bahkan sampai di SMA. Kau yang selalu membantuku sejak dulu. Kalau tidak, aku tidak akan bisa naik kelas sampai sekarang."


"Bisa nggak kata-kata naik kelas diganti dengan kata lulus? Seperti anak SD aja. Aku kan sudah sering mengajarimu, memberimu soal-soal latihan. Masa kamu nggak ngerti-ngerti juga sih?"


"Lin, kamu tahu kan kalau aku nggak pernah suka sama matematika. Sekeras apapun aku mencoba dan berpikir, aku tetap tidak bisa. Otakku membeku dan parah banget Lin.


Ah.... kapan aku akan selesai sekolah agar tak melihat pelajaran matematika lagi?"


"Satu tahun lagi. Tapi aku tidak bisa terus-menerus membantumu. Bagaimana jika ujian nasional nanti? Kan kamu sendiri yang harus berjuang."


"Aduh Lin, itu masih lama, satu tahun lagi. Siapa tahu, tahun depan otakku bisa encer. Tapi besok tolong bantu aku."


"Mmmm..... bagaimana yah?" Balasnya sambil berpikir.


"Nggak usah dipikirkan lagi Lin. Bilang aja, 'Yah'."


"Selama ini aku membantumu selalu gratis. Guru kita sekarang sangat galak dan teliti. Aku harus lebih licik untuk bisa mengalihkan perhatiannya saat memberikan jawaban untukmu. Jika aku sampai ketahuan, maka reputasiku sebagai siswa teladan akan hancur. Ini menyangkut masa depanku juga. Jangan sampai karena kau, karirku hancur."

__ADS_1


"Jadi maksudmu gimana?"


"Maksudku? Yah, kau harus memberiku upah."


"Upah? Tenang saja. Aku akan meneraktirmu makan di kantin selama seminggu. Apa aja bebas!"


"Bukan itu Betty temanku tercinta."


"Jadi apa?"


"Micky. Upahnya adalah Micky."


"Apa? Kau gila yah?"


"Yah, terserah kau aja. Micky, atau nilai merah?"


"Kok kamu tega sih Lin."


"Bukan tega, tapi aku juga mencintai Micky."


"Kan masih banyak laki-laki yang lain Lin. Kenapa harus si Micky?"


"Betty, aku kan cintanya sama Micky. Bukan pada laki-laki lain. Tapi terserah kau aja. Kalau tidak mau, yah udah."


Mendengar itu, semangat Betty pun sekejap melemah. Dia tidak menyangka wajah malang yang dibuatnya tidak berhasil mencairkan hati Linda untuk membantunya tanpa imbalan. Dia bergumam dalam hati,


Ah...! Tidak...!


Pujaan hatiku harus berpaling dariku demi selembar nilai matematika?


Tidak! Tidak!"


Namun karena Betty belakangan larut dalam lamunannya, sehingga dia mengabaikan Linda yang menunggu jawabannya sejak tadi, menepuk bahunya untuk menyadarkannya.


"Hei, kenapa diam? Jadi gimana? Mau nggak?"


"Mungkin aku mau. Tapi bagaimana dengan si Micky? Belum tentu kan dia mau?"


"Masalah itu tenang aja. Aku yang akan urus. Asalkan aku tidak mendapat gangguan selama masa PDKT, Micky akan jatuh cinta padaku. Dia akan klepek-klepek di pelukanku.


Hahahaha....


Untuk menaklukkan hati laki-laki bule sih, kecil!


Aku paham caranya. Tapi kalau kau masih tidak mau, aku tidak akan memaksa. Toh yang akan rugi kan kamu. Bukan aku."

__ADS_1


"Iya, iya! Baiklah! Terserah kau saja!" Balasnya dengan penuh  rasa kesal.


"Nah, gitu dong. Yah sudah, aku pulang dulu yah. Mau belajar."


Dia pergi meninggalkan Betty sendirian di lapangan.


"Awas aja kau yah Lin. Mentang-mentang kamu pintar, kau jadi semena-mena. Lihat aja nanti. Begitu ujian matematika itu selesai, aku akan rebut kembali si Micky. Lihat aja nanti!"


**********


Setelah itu, dia pulang dan mandi. Namun dia masih tidak habis pikir, kenapa si Linda bisa meminta Micky sebagai upahnya. Dia tidak berpikir bagaimana caranya supaya dia bisa pintar dan tidak terus bergantung pada temannya.


Malamnya Betty mencoba membuka buku matematikanya dan mempelajarinya dengan seksama. Dia melihat satu demi satu contoh soal dan mempelajarinya. Tapi dia tidak mengerti dan pusing dengan simbol-simbol x, y sin, cos, tan, dan banyak simbol matematika lainnya. Dia sudah mempelajari satu soal yang persis seperti contoh soal yang ada di buku, namun dia tetap tidak mengerti. Dia pun menjadi kesal dan hampir melempar bukunya. Namun dia menarik nafas dalam-dalam karena tak ingin tidur neneknya terganggu. Karena jika begitu, neneknya pasti akan memukulnya dengan sapu, dan mereka akan saling berkejaran-kejaran demi menghindari serangan itu. Maka dia mencari cara agar bisa lebih tenang. Dia pun pergi ke dapur dan mengambil sekantong es dan mengompres kepalanya yang panas. Dia juga meminum segelas air es itu.


Dia menenangkan diri selama beberapa saat sambil memejamkan mata. Dia tidak peduli es itu mencair dan menetes membasahi bajunya juga lantai di sekitarnya.


Tapi kemudian, neneknya terbangun karena ingin kencing. Neneknya terkejut melihat lantai dapur basah sementara cucunya hanya duduk diam sambil basah-basahan. Tanpa banyak bicara karena sudah diguncang emosi, neneknya mengambil kemoceng dan langsung memberikan sekali libasan di kaki Betty. Betty pun terkejut setengah mati dan mengusap-usap kakinya. Dia segera bangkit dan menghindari serangan neneknya berikutnya.


"Kenapa kamu basahi lantai dapurnya BETTY?" Teriak neneknya sambil berlari mengejarnya.


"Ampun nek. Nanti Betty akan keringkan. Betty demam nek, makanya Betty menaruh es di kepala Betty untuk mengompresnya."


"Apa? Kau demam? Astaga cucu nenek. Yang mana sakit? Mari, biar nenek obati." Balas neneknya yang spontan terkejut.


"Nggak usah nek. Nanti juga sembuh. Nenek tidur aja."


"Tidak! Tidak! Kalau kau sakit, dan bapakmu sampai tahu, nenek yang akan disalahkan. Telinga nenek panas dan pusing setiap kali mendengar ocehan bapakmu. Mulutnya seperti terompet rusak kalau lagi ceramahin nenek. Seolah-olah nenek tidak merawatmu dengan baik."


"Yah jangan dikasih tahu. Gampang kan?"


"Aduh.... aduh...


Sudahlah! Kamu ini susah sekali dibilangin.


Mulut nenek kadang-kadang suka kebablasan kalau lagi ngomong sama bapakmu. Pintar sekali dia mengorek-ngorek informasi dari nenek. Kau tahu kan, nenek sering tidak bisa mengendalikan diri kalau lagi bicara sama bapakmu? Mungkin karena bapakmu sering makan ceker ayam waktu masih kecil, makanya dia ahli mengorek-ngorek."


"Ah... sudahlah nek. Nenek tidur saja. Kepalaku makin panas dengerin nenek ngomong. Bentar lagi ini meledak.


BURRRRR!!!!"


"Eh.... eh... eh... copot jantung nenek.


Kau ini.


Ya sudah! Nenek pergi dulu.

__ADS_1


Jangan lupa lantainya dilap kering!"


"Iya nek."


__ADS_2