
Betty pun makan sambil terus memikirkan sampai kapan dia akan berpura-pura sakit. Dia makan di atas tempat tidurnya. Neneknya tidak beranjak dari sana dan hanya duduk di depan cucunya sambil melihatnya makan. Itu adalah makanan kesukaan cucunya, yang sengaja neneknya buat untuknya.
Tapi, karena makanan itu cukup enak, Betty tanpa sadar mengangkat dan melipat kakinya sambil menyantap makanannya dengan lahap. Gayanya seperti bapak-bapak yang sedang makan di warung. Kaki yang diangkatnya dan ditekuknya pun, adalah kaki yang dia perban. Maka neneknya menjadi heran seraya dia terus memperhatikannya. Lalu dia berkata,
"Kan, kakimu sedang sakit!
Tapi kenapa kau bisa menikuknya dengan santai sambil makan?"
Sontak Betty pun diam karena terciduk. Sambil menelan paksa makanan di dalam mulutnya, dia diam membisu. Perlahan-lahan dia menurunkan kembali kakinya namun tidak berkata apa-apa dan terus menyantap makanannya sambil berupaya mengabaikan pertanyaan neneknya.
Lalu tiba-tiba, neneknya mencoba menyentuh kaki Betty yang terbungkus kain perban itu. Tapi dengan cepat Betty berteriak seolah-olah kesakitan agar neneknya tidak semakin mencurigainya.
Lalu Betty menjauhkan kakinya dari neneknya dan menutupinya dengan selimut sambil berkata dan merintih,
"Aduh nek, kakiku sakit sekali. Kakiku hampir patah karena
Lemari itu. Aku jadi nggak bisa jalan. Kayaknya satu minggu ini Betty tidak bisa sekolah nek."
"Sudah diamlah. Kau ini seperti anak SD. Manja sekali kalau lagi sakit. Sudah! Nenek mau pergi dulu. Banyak kerjaan di dapur. Nyuci piring, nyapu, ngepel, dan nyuci pakaian kotormu. Sekarang semua pekerjaan rumah, terpaksa nenek yang lakukan sendiri. Lama-lama nenek bisa cepat mati karena kelelahan."
"Jangan bilang begitu nek. Betty kan juga nggak mau sakit seperti ini. Siapa sih orang yang mau sakit? Orang gila aja nggak mau."
"Iya. Iyalah." Balas neneknya singkat lalu pergi meninggalkannya.
Namun setelah neneknya keluar dari kamar dan mengunci pintu, Betty pun mulai berekspresi seperti orang sehat. Keluhan dan rintihannya berhenti. Dia tidak tahu kalau neneknya tetap berdiri di balik pintu untuk mendengarkan perkataannya. Karena kecurigaan neneknya begitu besar. Betty yang tidak menyadari hal itu, langsung berkomentar sambil tidur-tiduran. Dia berkata,
"Aduh.... aduh...
Nenekku yang malang. Bisa saja aku tipu.
Siapa juga yang sakit?
Aku baik-baik saja.
__ADS_1
Tapi karena si Linda, aku terpaksa berbohong.
Aduh... sampai kapan aku bolos?
Aku akan ketinggalan banyak pelajaran nanti."
Neneknya yang mendengarkan perkataan itu, langsung menarik kesimpulan dalam hatinya bahwa cucunya telah berbohong. Maka tanpa banyak bicara, neneknya segera membuka pintu itu dan berjalan ke arah Betty dan menarik selimutnya. Dia juga menekan kuat kaki Betty yang terbungkus perban itu.
"Ah...! Sakit nek!" Teriaknya.
"Diam kau!
Kau pikir nenek tidak tahu kalau kau hanya pura-pura?
Nenek dengar apa yang baru saja kau ucapkan." Bentaknya.
"Tidak nek."
Ayo!"
"Tapi nek. Kaki Betty sakit."
"Buka atau tidak?
Atau nenek yang akan buka?"
"Jangan nek!
Hah... baiklah." Keluhnya.
Lalu dia berkata dalam hati sambil membuka perban itu perlahan-lahan.
"Sial! Aku ketahuan.
__ADS_1
Tamatlah aku karena sudah membohongi nenek gaul ini."
Lalu setelah semua perban itu terlepas, neneknya pun bisa melihat kalau kaki cucunya baik-baik saja.
Neneknya sangat geram karena sudah dibohongi. Tapi dia tidak berbicara apapun selain hanya menatap cucunya dengan geram lalu pergi ke dapur.
Maka Betty menyusul neneknya dan minta maaf. Namun neneknya selalu mengabaikannya.
Betty terus membujuk neneknya tanpa lelah dan meminta maaf. Hingga akhirnya neneknya berhenti dari kesibukannya dan mengajak Betty duduk di meja makan. Raut wajahnya sangat serius seakan-akan hendak menyampaikan suatu cerita yang sangat penting.
Lalu di saat yang hening dan menegangkan itu, neneknya mengulurkan tangannya dan menggenggam erat tangan cucunya sambil menatapnya tajam lalu sedih. Betty pun menjadi salah tingkah karena perubahan yang mendadak itu. Lalu neneknya memulai perkataannya. Dia berkata,
"Nak, nenek minta maaf karena terlalu keras padamu. Kau cucu nenek satu-satunya. Dan nenek ingin cucu nenek menjadi orang yang berhasil kelak. Orang yang bisa menjawab semua tuduhan orang, dan yang membuat nenek bangga."
"Maksudnya apa nek?" Ujar Betty ragu.
"Nenek ingin kamu menjadi anak yang jujur."
"Maafkan Betty yah nek. Tapi Betty tidak bermaksud membohongi nenek. Betty hanya takut menyampaikan masalah pada orangtua. Karena Betty pikir, mereka pasti akan langsung menghukum tanpa mendengarkan penjelasan lebih dulu."
"Memangnya apa masalahmu?"
"Jadi, aku takut teman-temanku membully ku nek. Dan aku tidak siap mendengarnya. Betty sudah membuat kesalahan."
"Kau tahu? Waktu nenek masih seumur kamu, nenek tidak pernah peduli apa kata orang. Bahkan sampai sekarang pun tidak. Meski hati ini sakit, tapi nenek berupaya keras mengabaikannya. Hanya waktu yang akan menjawab semua itu, dan perbuatan baik kita. Tunjukkan bahwa kamu anak yang baik. Sehingga apa yang mereka katakan itu, tidak benar. Kalau kau menyerah, kau yang akan rugi. Kau lihat kan hari ini? Karena kau berfokus pada ketakutanmu, kau jadi bolos sekolah seperti ini. Coba kau pikir. Saat ini bapak dan ibumu menjadi budak di negeri orang. Demi siapa kalau bukan demi kamu? Jadi cobalah ingat itu supaya kau bisa mengesampingkan egomu sendiri."
"Tapi itu sulit nek."
"Nak, kau lebih beruntung dari nenekmu ini. Dulu nenek sangat ingin sekolah. Tapi orangtua nenek tidak mampu. Nenek hanya lulus sekolah dasar. Lalu saat remaja, nenek pergi merantau dan menjadi buruh di pabrik kecil. Gaji nenek pun hanya lepas makan satu hari. Mereka tidak mau mempekerjakan orang yang masih remaja seperti nenek. Jadi nenek yang memaksa dan rela dibayar berapa pun. Pekerjaan apapun yang mereka suruh, nenek lakukan. Sangat sakit rasanya mencari uang. Lalu saat nenek beranjak dewasa, nenek jatuh cinta pada seorang pria yang juga karyawan di pabrik itu. Laki-laki itu baik kepada nenek. Tapi nenek tidak menyangka kalau dia hanya pura-pura. Padahal nenek sudah memberikan uang tabungan nenek selama bertahun-tahun kepadanya. Laki-laki itu bilang, kalau uang itu akan dijadikan modal usaha untuk kami berdua nantinya. Nenek tidak punya pengalaman. Nenek begitu polos. Nenek percaya pada ssmua kata-katanya. Tapi dua hari setelah dia menerima uang itu, dia sudah tidak terlihat lagi. Nenek bertanya pada temannya. Dan dia bilang, dia sudah mengundurkan diri dan menikah dengan perempuan lain. Hati nenek hancur. Harapan nenek kandas. Uang hasil jerih lelah selama bertahun-tahun sirna. Nenek tidak habis pikir kenapa dia begitu tega menipu nenek. Padahal nenek begitu tulus mencintainya.
Rasanya nenek ingin pergi mencarinya dan menghabisinya. Tapi kemana? Lalu nenek berpikir, itu hanya buang-buang waktu dan tenaga. Nenek sangat depresi waktu itu. Karena itulah, nenek tidak mau kamu mengalami hal yang sama seperti itu. Nenek ingin kamu pintar dan bijaksana. Tapi kalau kamu malas belajar dan sekolah, bagaimana kamu bisa pintar? Manfaatkan dengan baik pendidikan yang kamu terima sekarang."
"Maafkan Betty nek. Betty tidak akan mengulanginya lagi."
__ADS_1