Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 37


__ADS_3

Mereka semua berdiri menghadangnya sambil melipat tangan.


"Ada apa ini rame-rame di depan rumah saya?" Dia langsung turun dari sepeda motornya dan menghampiri mereka.


"Tuti di mana om?" Tanya Joko.


"Ada di dalam. Memangnya ada apa? Ada perlu apa kalian sama Tuti?"


"Hanya mau tahu keadaannya saja om." Jawab Joko.


"Dia baik-baik saja. Tak ada masalah kan di sekolah?" Tanya laki-laki setengah baya itu.


"Tidak ada om. Semua aman kok. Iya kan? Heheheheh..." Ujar mereka semua lalu pura-pura tertawa.


"Oh, baiklah, kalau gitu om masuk dulu. Kalian mau langsung pulangkan?"


Karena merasa tak ada undangan untuk masuk, mereka semua pun jadi segan berbicara mengutarakan tujuan mereka yang sebenarnya.


"Hehehehe... iya om, kami mau langsung pulang. Soalnya ini udah malam, nanti emak nyariin." Tutur Joko.


"Baiklah, om masuk yah. Kalian hati-hati di jalan."


Tapi begitu dia masuk dan belum jauh dari pintu, keempat bocah itu mulai saling berdebat,


"Hei, kenapa kamu bilang kita mau langsung pulang? Hah?" Bentak Siti sambil mendorong bahu Joko. Betty dan Linda juga tak tinggal diam dan turut mengepungnya,


"Harusnya kamu saja yang pulang. Karena kamu nggak penting. Jangan libatkan kami. Kami masih punya urusan penting sama Tuti. Tapi gara-gara kamu, semuanya jadi kacau."


Tapi Joko diam dan tak membalas meski telah didorong sampai jatuh.


"Aku heran deh sama kamu. Mau kamu itu apa sih sebenarnya?" Siti semakin geram karena Joko bertingkah sok saleh. Karena biasanya dia akan memaki orang yang semena-mena padanya sekalipun itu perempuan.


Lalu dia membentaknya lagi, "Joko! Kamu mau pergi atau kuhajar? Hah?"


Siti mencengkram bajunya dan bersiap melayangkan tinjunya. Tapi sayang, aksinya gagal karena di saat yang bersamaan, begitu pintu terbuka, Ayahnya Tuti bergerak cepat menghentikan tinju itu. "Ada apa ini? Kenapa kalian malah berkelahi? Kalian kan teman."


Mereka semua jadi salah tingkah khususnya Siti yang kini tampak seperti preman.


Tapi agar situasi tak semakin memburuk, dia berbicara dengan lembut pada mereka,


"Sebenarnya kalian datang kemari mau apa sih? Ini sudah malam. Kalau pun ada yang perlu dibahas, di sekolah kan bisa."


"Mmm...iya. Hehehehe... iya om. Kalau gitu, kami pamit pulang yah om."

__ADS_1


"Ya sudah. Langsung pulang. Jangan berantem lagi. Awas kalau sampai ribut-ribut lagi di depan rumah om. Om suru kalian semua mengecat rumah om sampai tuntas. Paham!"


"Iya om. Kami langsung pulang. Permisi om." Jawab mereka semua.


Mereka pun langsung berbalik badan dan berjalan pelan berharap masih bisa berbalik menemui Tuti. Tapi mereka tidak tahu kalau ayah Tuti masih berdiri memastikan mereka benar-benar pergi. Maka saat mereka menoleh ke belakang, mereka kaget lalu tertawa karena tak menyangka mereka diawasi. Sambil garuk-garuk kepala, mereka bilang lagi,


"Iya, kami pulang om. Hehehehe...."


**********


Ketika pria itu masuk ke rumahnya, dia memanggil-manggil istri dan anaknya tapi tak ada jawaban. Dia mengecek ke seluruh ruangan dan menemukan mereka masih tidur nyenyak.


"Ckckck... astaga... bisa-bisanya tidur di kamar mandi."


Waktu itu terbersit di otaknya untuk merekamnya dan menaruhnya di vlog sosial medianya. Maka dia cepat-cepat mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mulai ngevlog sebelum mereka bangun.


"Hallo teman-teman semua...


Hari ini aku mau menunjukkan sesuatu yang mencengangkan. Bisa-bisanya istri dan anakku tidur di kamar mandi. Lihatlah, mereka tidur sangat nyenyak seperti tidur di kasur yang empuk."


Lalu dia mengarahkan kameranya ke muka istrinya dan menyorot mulutnya yang menganga lebar. "Guys, lihatlah, dari mulutnya kita bisa simpulkan kalau dia mendapatkan tidur yang berkualitas. Mungkin suhu dingin di kamar mandi ini mengalahkan suhu AC di kamar, sehingga membuat tidurnya lebih berkualitas. Mungkin ini bisa dijadikan salah satu rekomendasi buat kalian penderita insomnia."


Namun ketika dia masih berbicara di vlognya, tiba-tiba istrinya bangun dan langsung melihat siaran langsungnya. Segera istrinya bangkit dan langsung menghantamnya sampai ponselnya terlempar dan mati, kemudian dia bergulat dengan suaminya.


Tuti yang juga sudah bangun, cepat-cepat keluar dari bak mandi untuk menghentikan ayah dan ibunya.


Ayah dan ibu kenapa sih?"


"Lihat kelakuan ayahmu yang tidak tahu malu ini! Berani-beraninya dia siaran langsung menyorot ibu yang lagi mangap."


"Ayah itu benar-benar keterlaluan yah? Harusnya ayah juga malu kalau ibu jelek. Kalau mau nyorot, sorotlah hal-hal baik. Ah, udahlah! Tuti mau ganti baju dulu."


Dia meninggalkan ayah dan ibunya dan pergi ke kamarnya, mengganti bajunya yang basah lalu melihat ponselnya.


"Astaga, panggilan tak terjawab sampai dua puluh. Ada perlu apa mereka sampai meneleponku sebanyak ini?


Baiklah, mending aku telepon balik aja."


Dia mengulir layar ponselnya mencari nama Betty dan menghubunginya sampai berkali-kali, namun ponselnya tak kunjung diangkat karena dia sedang karaokean bersama Linda dan Siti.


Setelah mereka meninggalkan rumah Tuti, ketiganya sepakat bolos belajar dan memutuskan bersenang-senang di rumah Siti, karena mereka telah berjanji tak akan belajar kelompok jika anggota kelompoknya tidak lengkap.


Tuti pun menelpon Linda, namun tetap tak diangkat juga begitupun dengan Siti.

__ADS_1


"Duh... nih anak-anak pada kemana sih? Di teleponin nggak diangkat-angkat.


Ah... udahlah! Mending aku tidur aja."


Dia pun berbaring tapi tak bisa tidur sebab matanya masih segar setelah tidur berjam-jam di kamar mandi. Maka dia bangun dan duduk di meja belajarnya membaca buku. Tiba-tiba teringat olehnya perlombaan yang sebentar lagi akan diadakan di sekolahnya.


"Oh yah, bentar lagi kan ada lomba. Siti, Betty dan Linda udah daftar belum yah. Aku lupa nanya sama mereka. Coba aku telepon mereka lagi."


Satu-persatu dia hubungi berkali-kali sampai hatinya panas, namun panggilannya juga tak kunjung dijawab. Ketiga temannya tak ada satu pun yang memegang ponselnya dan asyik berkaraoke hingga jam sepuluh malam.


Setelah mereka puas barulah mereka pulang ke rumahnya masing-masing.


*********


Kemudian ketika Linda membuka pintu rumahnya hendak masuk, dia kaget melihat ayahnya duduk di ruang tamu menunggunya pulang.


"Ayah, tumben ayah ada di rumah jam segini."


"Linda, kemarilah. Ayo duduk di sini."


Linda yang masih bingung, ragu-ragu mendekati ayahnya kemudian duduk di dekatnya.


"Ada apa yah?"


Tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu memberikannya ke tangan Linda.


"Apa ini yah?"


"Itu uang. Uang untuk pendidikanmu. Simpanlah."


Linda kemudian membuka amplop coklat itu dan melihat sejumlah lembaran uang berwarna merah.


"Tapi... dari siapa uang ini yah? Ini cukup banyak."


"Hah...." Dia membuang nafasnya seraya mencari alasan sejenak.


"Ayah mendapatkannya dari teman ayah. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, yang penting kamu fokus belajar." Dia lalu beranjak pergi ke kamarnya.


"Tapi...!" Cegatnya seraya berdiri.


"Udah! Masuk kamar sana! Ini sudah malam. Langsung tidur supaya tidak telat bangun besok. Ok!"


"Ha, iya."

__ADS_1


Maka dia segera pergi ke kamarnya dengan segudang pertanyaan,


"Ada angin apa ini? Angin bahorok atau angin laut? Atau angin darat? Kok tumben ayah ngasih aku uang. Sepanjang catatan sejarah, sejak adam dan hawa diciptakan di bumi bahkan sejak dinosaurus musnah, ayah tidak pernah kasih aku uang. Apa dia sudah bertobat? Atau cuma cari perhatian saja? Dari mana dia dapat uang sebanyak ini? Apa dia mencuri? Atau menang lotre? Atau menipu? Hah... aku jadi penasaran. Pengen nanya tapi takut. Ya sudahlah, mending uang ini aku simpan baik-baik. Siapa tahu nanti dia berubah pikiran dan minta balik duitnya. Ayah kan gitu. Kerjanya minta uang...... melulu."


__ADS_2