
Kemudian neneknya berpura-pura mencari lagi di antara lipatan baju lainnya. Betty pun memanfaatkan situasi itu untuk lari. Diam-diam dia melangkah mengendap-endap keluar dari sana. Namun sayang, bayangnya terpantul di cermin, dan neneknya melihatnya. Segera neneknya berujar cukup tegas, "TUNGGU!"
Betty pun kaget dan segera mengentikan langkahnya lalu berbalik dengan gemetar.
Kemudian neneknya berkata lagi,
"Ayo bantu nenek mencarinya! Jika uang itu tidak ketemu, maka malam ini, kau tidak boleh makan sampai besok pagi. Tapi siang hari kau baru boleh makan."
"Kenapa begitu nek?" Balasnya sambil menghampiri neneknya.
"Makanya, cari uang itu sampai ketemu!"
Maka dia pun diam dan terus berpura-pura mencari. Karena sampai dunia berakhir pun, uang itu tidak akan ada di sana karena sudah berpindah ke saku celananya. Tapi neneknya terus membuatnya sibuk mencari sampai lelah. Sampai semua lipatan baju di lemari itu selesai mereka periksa satu persatu.
Lalu ketika melihat cucunya sudah sangat kelelahan, neneknya mendekatinya dan berbicara dengan tenang. Dia berkata,
"Kamu tahu kenapa uang itu tidak ada di sini?"
"Nggak nek." Jawabnya dengan berat hati dan takut.
"Uang itu sudah berpindah tempat."
Betty pun semakin panik mendengarnya. Dan jantungnya pun semakin berdetak kencang. Kemudian neneknya melanjutkan,
"Aku melihat ada tangan jahil yang memindahkan uang itu dari tempatnya. Tadinya nenek mau memukul tangan itu dengan kuat, dengan tongkat ini. Tapi nenek kasihan. Jika tangan itu terluka, tangan itu akan sulit bekerja.
Betty, menurutmu, apa hukuman yang pantas untuk pencuri?"
Betty semakin takut dan tertunduk. Dia sama sekali tidak berani menjawab pertanyaan neneknya. Maka neneknya berkata lagi,
"Dulu, waktu ayahmu mencuri uang nenek, nenek mengikatnya di kandang kambing semalaman. Dan dia tidur semalaman dengan kambing. Tapi sekarang, nenek rasa hukuman itu sudah tidak cocok. Nanti orang-orang mengira kalau nenek kejam dan suka menyiksa."
Kemudian tanpa berteka-teki lagi, neneknya langsung berbicara ke intinya karena sudah habis kesabaran. Dia berkata dengan penuh tekanan nada,
"Apa hukuman yang cocok untukmu Betty?
__ADS_1
Kau sudah mengambil uang nenek!
Untuk apa itu?
Sejak kapan kau mencuri?
Siapa yang mengajarimu mencuri?
Mau nenek hajar kamu yah?"
"Tidak nek. Itu tidak benar."
"Masih berani kamu berbohong? Kau pikir nenek tidak melihat dan mendengar semuanya? Kuping nenek sangat sensitif dan peka terhadap setiap suara yang ada di kamar ini Betty. Apalagi suara jejak kaki seorang pencuri."
"Aku tidak mengambilnya nek." Balasnya sambil terus berupaya mengelak.
"Lalu apa yang ada di sakumu? Kau sendiri yang akan mengeluarkannya? Atau nenek yang akan mengeluarkannya dengan paksa? Tapi, kalau nenek yang mengambilnya, nenek akan patahkan tanganmu."
"Ampun nek. Jangan! Baiklah. Betty akan kembalikan." Balasnya sambil menangis. Karena neneknya mencubit perutnya dengan kuat.
"Betty, cucu nenek tersayang. Sebenarnya nenek tidak suka memarahimu. Kau cucu nenek satu-satunya. Tapi nenek membenci pencuri. Tolong jujurlah sama nenek. Untuk apa kau mengambil uang itu. Nenek tidak akan marah kalau kamu jujur."
Namun Betty masih berat hati menjawab dan mengakui segalanya. Maka neneknya mendesaknya sekali lagi.
"Ayo, bicaralah. Nenek tidak akan marah. Nenek janji."
"Sungguh?"
"Ya. Bicaralah."
Maka Betty pun menceritakan semua perinciannya. Yang membuat neneknya semakin merasa iba dan tak memarahinya sesuai janjinya. Lalu belakangan, setelah suasana sudah membaik, neneknya menyuruh Betty belanja ke pasar. Karena neneknya berjanji akan memasak makanan enak untuk cucunya atas kejujurannya.
Maka malam itu, mereka pun berpesta dan menikmati makanan yang mereka masak sambil saling bercanda.
**********
__ADS_1
Ke esokan paginya sebelum Betty pergi ke sekolah, neneknya berpesan agar dia jangan takut kepada ancaman kedua temannya, Tuti dan Linda. Neneknya bahkan berniat untuk mengundang kedua temannya itu makan bersama di rumah. Ketika Betty mendengarnya, dia sangat keberatan karena dia masih kesal. Namun neneknya mengajaknya bernalar. Dia berkata,
"Nak, nenek tahu. Meski kamu masih kesal, tidak apa-apa. Undang saja mereka. Siapa tahu, dengan kebaikan yang kamu tunjukkan, mereka bisa berubah. Toh mereka berdua kan temanmu dari kecil. Hal itu biasa dalam pertemanan. Namanya juga kalian masih remaja. Rasa kesal, itu sudah pasti ada. Tapi, anggap saja itu bumbu-bumbu pertemanan kalian."
"Baiklah nek. Betty berangkat yah."
"Yah. Jangan lupa pesan nenek."
**********
Lalu siang itu di sekolah, ketika jam istirahat tiba, Linda dan Tuti langsung mengajak Betty ke kantin sesaat setelah guru keluar dari ruangan mereka. Maka Betty yang masih kesal, terpaksa menyampaikan perkataan neneknya. Karena sejak pagi, Betty tidak menyapa Linda dan Tuti sama sekali. Karena, gara-gara mereka, dia terpaksa mencuri, dan ketahuan oleh neneknya, dan nyaris mendapat hukuman. Maka dia berbicara dengan tenang pada mereka berdua,
"Lin, Ti, hari ini kita nggak usah makan di kantin yah?"
"Kenapa?" Tanya keduanya.
"Nenekku mengundang kalian makan di rumah ku nanti sore. Dia akan memasak makanan enak hari ini. Dan kalian bisa makan sampai puas, sampai perut kalian buncit dan susah berjalan."
"Tumben. Dalam rangka apa itu?"
"Tidak ada. Nenekku hanya senang pada kalian berdua. Karena kalian teman baikku sejak kecil."
"Tapi kan? Yang jadi temanmu sejak kecil, bukan hanya kami berdua. Tapi kenapa hanya kami yang diundang?" Ujar Tuti.
"Itu karena kalian yang paling dekat dengan ku. Percayalah. Kalian bisa makan sepuasnya nanti. Siang ini, kalau kalian mau jajan di kantin, makan satu atau dua gorengan saja. Jangan terlalu kenyang. Nanti perut kalian tidak muat menampung masakan nenekku yang enak-enak. Kalian sudah tahu kan? Kalau nenekku jago masak?"
"Benar itu Lin! Mending kita nggak usah jajan. Ayam panggang masakan neneknya si Betty enak banget. Sambelnya menggelegar dan sulit dilupakan." Ujar Tuti yang sambil membayangkan makanannya. Kemudian dia berkata lagi,
"Wah, ntar aku boleh ambil pahanya kan Bett?"
"Iya boleh. Terserah kau saja. Entah kepala, sayap, paha, atau buntutnya sekalipun, makan saja sampai kau puas."
"Asyik.....
Kau benar-benar temanku yang paling baik dan bisa memahami Bett." Ujar Tuti.
__ADS_1
"Iya. Tapi kalian berdua, tidak! Kalian bisanya hanya memanfaatkan ku." Balasnya dalam hati.