Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 33


__ADS_3

Ke esokan paginya di sekolah, siswa laki-laki itu menarik tangan Tuti, mencegatnya masuk ke dalam kelas karena sudah tak tahan lagi terus-menerus dihindari selama berhari-hari. Sejak menyusun laporan penelitian katak itu, Tuti tidak pernah menemuinya di halaman belakang sekolah, meski sejumlah pesan telah diberikan padanya berkali-kali oleh temannya, sehingga siswa laki-laki itu selalu pulang dengan semangat yang hancur dan perasaan kesal.


Tuti selalu menghindarinya setiap kali ada kesempatan dan tak pernah menepati janjinya karena takut.


Namun karena siswa laki-laki itu mengancam akan memberi tahu sang guru bahwa dialah yang telah membuat laporan penelitian itu untuknya, Tuti pun pasrah dan mengikutinya kemana dia membawanya.


Di halaman belakang sekolah, siswa laki-laki itu memaksanya untuk menjadi pacarnya sebagai imbalan. Mendengar itu, Tuti pun terbelalak, mangap, lemas, hingga nyaris pingsan. Tapi siswa laki-laki itu dengan cepat memegang bahunya agar tidak jatuh.


Mata mereka berdua saling beradu tatap cukup lama ketika bersentuhan, membuat jantung keduanya berdegub kencang.


Setelah peraduan tatapan itu berakhir, bibir Tuti bergetar saat hendak mengutarakan perasaannya. Dirinya diliputi rasa gugup yang hebat.


Namun rasa gugup Tuti justru membuat siswa laki-laki itu semakin jatuh hati. Dia menyaksikan setiap gerakan bibir Tuti dengan seksama selama berbicara.


"Aku tidak bisa berpacaran. Maaf." Tutur Tuti kaku.


"Kenapa? Kamu sudah punya pacar?"


Tuti merasa bibirnya begitu berat dan sulit untuk mengatakan apa alasannya, karena dia berpikir siswa laki-laki itu tidak mungkin bisa paham alasannya.


Meski demikian, siswa laki-laki itu terus memaksa agar rasa ingin tahunya bisa terobati. Namun, baru sepenggal kata yang bibirnya ucapkan, bel tanda pelajaran berbunyi. Dengan cepat Tuti langsung berlari meninggalkannya sebelum teman-temannya melihatnya.


Siswa laki-laki itu berkata sambil melambaikan tangannya pada Tuti seraya melihatnya lari, "Kau akan jadi milikku Tuti, selamanya. Bidadariku."


*********


Ketika berada di dalam kelas, siswa laki-laki itu selalu curi pandang pada Tuti hingga tanpa sengaja pandangan itu tertangkap mata Betty.


Tapi siswa laki-laki itu dengan cepat mengalihkan pandangannya dan langsung membuka bukunya dan pura-pura belajar.


Betty yang curiga berkata dalam hati, "Mmm... pasti ada sesuatu di antara mereka berdua. Kayaknya seru nih diselidiki diam-diam."


Tak lama guru Fisika masuk dan menyapa semua siswanya. Lalu dia menjelaskan materi pelajarannya dan sedikit menyinggung tentang kalor. Seketika imajinasi siswa laki-laki itu berkelana membayangkan adanya perpindahan kalor antara dirinya dengan Tuti ketika berpegangan tangan. Dia berpuisi dalam benaknya, 'Saat aku menyentuh tangan halusmu,

__ADS_1


Jari-jemarimu mengirimkan sinyal padaku yang membuat hatiku meronta.


Kenapa begini?


Kenapa begitu sakit?


Panas yang kau salurkan telah membakar hatiku.


Panas!


Kau menjadikan cintaku hangus dan debunya terbang tertiup angin.


Hatiku terbakar saat kau diamkan perasaanku begitu lama.


Kenapa?


Kenapa Ratuku?


Tolong terima cintaku, kasih.'


Mimik wajahnya memelas dengan sungguh agar cintanya berbalas. Lalu dia melirik Tuti lagi sebelum akhirnya tertangkap mata sang guru.


Tatapan matanya yang memelas disertai sudut bibir yang terangkat, membuat sang guru tanda tanya dan langsung menegurnya, "Hei, kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Kenapa kamu menatap si Tuti sejak tadi?"


Pertanyaan itu langsung menghebohkan seluruh siswa. Mereka bersorak meledek mereka berdua, membuat Tuti dirundung malu namun siswa laki-laki itu justru senang. Dengan begitu dia tak perlu diam-diam lagi bertemu dengan Tuti.


Sang guru cepat-cepat menenangkan suasana kelas agar tidak mengganggu kelas yang lain.


Kemudian begitu suasananya tenang, dia melanjutkan kembali materi pelajarannya dan menyuruh beberapa siswa menjawab beberapa soal latihan di depan kelas, di papan tulis.


**********


Ketika jam istirahat berlangsung, tiga serangkai yaitu Betty, Linda, dan Siti langsung menghampiri Tuti di depan toilet sekolah. Tuti bergegas ke sana begitu bel berbunyi karena tak sanggup lagi menahan kencingnya yang sejak tadi ingin tumpah.

__ADS_1


Di depan toilet itu, mereka menanyakan keadaannya setelah tadi merasa dipermalukan. Namun tak hanya menjawab bahwa dirinya tak apa-apa, dia juga mengatakan bahwa dia harus menerima Joko sebagai pacarnya.


Mendengar itu, mereka kaget setengah mati dan bereaksi berlebihan sembari berpikir, 'Mana mungkin Joko begitu?' Karena yang mereka tahu Joko menginginkan cewek yang berpenampilan menarik sekaligus pintar. Sedangkan Tuti, dia jauh dari kriterianya.


Namun tak sekedar habis pikir, mereka juga curiga kalau Joko mempunyai maksud terselubung yang ingin memanfaatkannya saja.


Siti yang dianggap sebagai siswi preman di kelasnya angkat bicara dengan gagah, "Jangan cemas Tut! Soal si Joko, aku yang akan menghadapinya.


Mau sok jago rupanya si kawan itu yah. Udah mulai berani dia mengancam-ancam perempuan yah. Awas!"


Dia mengepal kedua tangannya sampai jari-jemarinya berbunyi lalu meninju dinding toilet. Tapi seketika itu dia berteriak kesakitan karena tanpa sadar dia meninju dengan sekuat tenaga.


Namun saat yang lain sibuk mengurus Siti yang kesakitan, Linda bicara agar Tuti mengikuti dulu kemauan Joko sampai akhirnya tiba waktunya nanti dia dibuat jera.


Tak mudah baginya untuk yakin dan menurut. Tapi demi ingin lepas, Tuti menyetujui saran itu dan pergi menemui Joko.


Di jalan, dia berpapasan dengan teman sebangku Joko. Lalu tanpa ragu dia berkata, "Tolong sampaikan pada Joko kalau aku ingin menemuinya di halaman belakang sekolah."


Siswa laki-laki itu pun segera menyampaikan pesan itu pada Joko.


Joko yang saat itu sedang berhalusinasi, mendadak girang setelah mendapatkan kabar itu. Dia segera beranjak dari kursinya dan berlari menemui Tuti.


Sesampainya di sana, dia melihat Tuti berdiri menunggunya. Muka Joko pun merona dan bibirnya tersenyum lebar lalu melontarkan, "Bidadariku. Akhirnya yang kunanti terjawab juga."


Ketika mereka berdua sudah saling berhadapan, Joko berkata, "Ada apa memanggilku kemari? Apa aku akan mendengar jawaban manis dari bibirmu yang menawan itu? Atau hanya perasaan yang hancur yang akan kubawa pulang dari sini?"


Tuti merasa jijik mendengar bahasanya yang puitis dan berkata dalam hati, "Berlebihan sekali. Aku datang bawa racun yang mematikan. PUAS!"


Reaksi Tuti itu memunculkan pertanyaan lain di otaknya. "Apa kali ini dia akan membuatku mati berdiri? Ah, tidak! Aku tidak siap mendengar penolakannya."


Namun sungguh tak diduga, Tuti menerima perasaannya yang membuat Joko nyaris jatuh karena lututnya mendadak lemah. Tapi Tuti menangkap tangannya hingga lagi-lagi tanpa sengaja mereka saling beradu tatap, membuat jantung Joko ingin meledak karena degubannya yang kencang.


Usai menyampaikan itu, Tuti segera kabur meninggalkan Joko sekalipun dia masih lemas dan gemetar karena dia takut siswa lain akan mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2