
Sejak saat itu mereka belajar lebih sungguh-sungguh lagi dan mengerjakan setiap soal dengan serius di lembar kerja mereka. Jika ada siswa yang iseng mengganggu, Siti akan berdiri di baris depan untuk menghadangnya. Mereka duduk membentuk kelompok sehingga bisa saling berdiskusi.
Pada setiap mata pelajaran, mereka perhatikan dan simak dengan teliti dan catat jika ada yang tidak mereka mengerti.
Lalu ketika jam istirahat siang tiba, Betty, Linda, dan Tuti menghampiri Siti untuk membicarakan kegiatan belajar kelompok itu. Betty duduk di sampingnya dan bilang, " Sit, biasanya setiap malam kami akan berkumpul untuk belajar kelompok. Dan karena kamu anggota baru, gimana kalau malam ini kita belajar di rumahmu? Kamu nggak keberatan kan?"
Serentak Linda dan Tuti turut menegaskan usulnya "Yah, itu benar Sit!"
"Aku justru sangat senang kalau kita belajar di rumahku. Kalau bapakku melihatnya, bapakku pasti bangga dan mungkin akan menambah uang sakuku supaya lebih semangat belajarnya." Tutur Siti dengan penuh semangat.
Mendengar itu Linda mengeluh dalam hati, "Kayaknya anak yang paling malang hanya aku saja. Aku nggak pernah dikasih uang jajan sama ayahku. Jangankan ngasih uang jajan, duit emak pun digerogoti. Coba aku bisa masuk ke daftar kartu keluarganya Siti, pasti menyenangkan."
Tapi dalam lamunannya itu, Siti memperhatikannya lalu menepuk bahunya sehingga dia sadar. "Hei, kenapa bengong? Mikirin apa sih?" Tanyanya.
"Hah? Apa? Tidak ada." Jawabnya terbata-bata.
Lalu Siti bertanya lagi, "Biasanya kalian belajar jam berapa?"
"Jam delapan malam. Tapi jam sepuluh malam, biasanya kami akan makan. Yah! Makan! Karena selama berpikir dua jam, seluruh isi perut kami sudah terkuras habis menjadi tenaga yang disalurkan ke otak. Jadi untuk mengisi kekosongan itu lagi, kami biasanya akan makan di rumah yang bersangkutan." Jawab Tuti.
"Ckckck... ternyata perut kalian, perut gentong. Untung otak kalian nggak tong kosong nyaring bunyinya." Tutur Siti sambil geleng-geleng kepala karena heran mendengar kebiasaan mereka.
"Apa? Sialan!" Balas Tuti.
Lalu Betty menyambung, "Jadi gimana? Kamu siap nggak Sit?"
"Eits...
__ADS_1
Soal makanan sih kecil. Bapakku akan masak untuk kita semua. Bentar yah aku telepon bapak saya dulu.
Eh, tapi nanti malam kalian mau makan apa?"
"Apa aja yang penting lezat dan halal." Ucap mereka semua.
Maka dia langsung menelepon bapaknya dan mengatakan beberapa makanan yang harus dia masak. Namun bapaknya kaget luar biasa saat mendengarnya hingga ponselnya hampir jatuh dari tangannya yang gemetar, sebab makanan yang harus dimasaknya cukup banyak. Rekan-rekan kerjanya sampai menatapnya heran dan bilang, "Kau kenapa?"
"Ah... tidak ada." Lalu dia tertawa dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Dia salah satu pengrajin kursi kayu di salah satu perusahaan furniture.
Lalu usai menghubungi bapaknya, Siti berkata dengan sombong pada mereka, "Kalian lihat sendiri kan? Soal makanan sih kecil. Kalian bisa makan sampai puas di rumahku."
Semuanya tersenyum meresponnya.
********
*********
Namun ketika sampai di rumah, Linda dibuat terkejut oleh sebuah pesan yang dilihatnya di atas meja makan. Entah apa yang terjadi setelah dia pergi ke sekolah. Dia membaca bahwa ibunya memutuskan pergi ke tempat yang jauh yang tidak disebutkan tempatnya. Dia pergi karena sudah bosan dan muak dengan kelakuan suaminya yang selalu seenaknya. Ibunya menitipkannya pada asuhan ayahnya dan berjanji akan membayar biaya pendidikannya sampai ke perguruan tinggi.
'Belajar yang rajin yah nak. Ibu tahu cita-citamu meski kamu sulit mengungkapkannya. Ibu terpaksa pergi agar uang yang ibu dapatkan tidak diminta paksa oleh ayahmu. Tapi uang itu bisa menyekolahkanmu sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Tinggallah dengan baik bersama ayahmu. Kau sudah terbiasa kan makan apa adanya? Itu biasa. Untuk sesuatu yang besar kita harus berjuang. Tapi nanti setelah kamu sukses, baru kamu bisa menikmati apa yang tidak bisa kamu nikmati dulu.' Tutur ibunya dalam surat singkatnya.
Dia pun menangis getir usai membacanya dan tak habis pikir. Di otaknya hanya terlintas pertanyaan, "Apa mereka bertengkar lagi?"
Selera makannya hilang dan dia hanya murung sepanjang hari dan tidur.
***********
__ADS_1
Ketika waktu sudah menunjukkan hampir jam 8 malam, Linda terbangun karena getaran dan nada ponselnya yang bunyi berkali-kali. Saat mengangkatnya, Tuti langsung membentaknya, "Hei! Dari mana aja sih? Telepon baru diangkat! Kamu dimana? Kenapa belum datang?"
Dengan cepat dia melihat layar ponselnya, dan hanya sekitar 10 menit lagi waktu akan menunjukkan jam delapan tepat. "Astaga!" Tuturnya sambil menepuk jidatnya.
Kemudian dia berkata lagi sebelum mematikan teleponnya "Yah. Sebentar lagi aku sampai. Tunggu aja."
Dia langsung berganti pakaian dan mengganti buku di dalam tasnya lalu pergi.
Dia berlari dengan cepat melintasi setiap gang, mengerahkan segenap tenaga yang tersisa walau keadaan perut kosong. Kecepatannya berlari membuat rambutnya terbang mengikuti arah angin sampai jidatnya yang lebar terlihat semakin lebar karena poni yang menutupinya terbawa ke belakang.
Sampai akhirnya, setelah berlari selama sekitar lima belas menit dengan kecepatan 50 km/jam, dia akhirnya tiba di rumah Siti dengan tenaga yang hampir habis.
Jantungnya berdetak kencang dan cepat disertai nafas yang terengah-engah hingga suaranya terdengar sampai ke dalam rumah.
Siti, Tuti, dan Betty yang mendengarnya heran.
"Itu pasti si Linda." Ujar Betty.
"Iya. Ayo kita lihat!" Ujar yang Siti.
Maka mereka segera keluar memeriksanya.
"Kamu kenapa Lin?" Tanya Tuti.
"Iya. Apa kau dikejar-kejar anjing? Atau ada orang jahat yang mengikutimu?" Sambung Betty.
Namun dia tidak bisa menjawab karena sangat lelah. Maka mereka langsung membawanya masuk dan menunggunya sampai dia tenang.
__ADS_1