
Setibanya di rumah, dia meletakkan bubur itu di atas meja makan dan pergi buru-buru ke kamarnya untuk berganti pakaian. Tak lama setelah itu, ayahnya pulang dan langsung menuju meja makan. Dia duduk menghela nafas lelah sejenak sampai akhirnya fokusnya teralihkan pada sebuah panci. Tak sabar dia langsung membuka tutupnya untuk tahu apakah panci itu berisi makanan atau tidak.
Begitu membukanya, dia kaget sekaligus bingung.
"Hah? Bubur kacang hijau? Banyak banget. Ada acara apa nih tiba-tiba masak sepanci bubur kacang hijau. Kok ibu nggak bilang-bilang. Malah buburnya masih hangat lagi. Pas banget perut lagi lapar. Ambil piring ah..."
Dia langsung beranjak mengambil piring dan menyendoknya ke piringnya sampai hampir penuh lalu memakannya dengan lahap.
Sementara itu Linda masih berdandan dan bersiap-siap, sehingga ayahnya mempunyai banyak waktu hingga dia bisa menghabiskan dua piring penuh. Tak lupa dia juga mengambil sepiring lagi dan menyimpannya di kulkas untuk dia makan tengah malam.
Lalu setelah makan sampai kenyang, dia pergi lagi entah kemana dan membiarkan piring dan sendoknya berantakan di atas meja. Sementara istrinya pergi ke rumah teman dekatnya untuk curhat seperti yang sering dia lakukan jika sedang pusing.
Setelah Linda selesai bersiap, dia segera turun menuju meja makan dan membuka penutup panci itu untuk memeriksanya. Tapi betapa kagetnya dia melihat bubur itu sudah tinggal setengah.
"Hah? Siapa yang makan buburnya sampai tinggal segini?" Tanyanya seraya mengaduk bubur itu sesekali. Lalu dia berkata lagi dan mulai jengkel.
"Nggak mungkin ibu yang makan sampai sebanyak ini. Bubur ini tadinya penuh. Kenapa bisa tinggal setengah sih? Nggak mungkin dimakan kucing kan? Apa jangan-jangan ayah yang memakannya? Dia kan makannya berantakan dan sangat rakus? Tapi, aku nggak dengar suara motornya pulang. Aduh... gimana nih. Ini sih nggak bakalan cukup untuk berempat."
Kemudian dia keluar untuk memastikan apakah ayahnya sempat pulang dan pergi lagi. Dia bertanya pada salah satu tetangganya, seorang pria tua yang sedang duduk santai di teras rumahnya.
"Pak, apa tadi bapak lihat ayah saya pulang?"
"Iya. Tapi dia pergi lagi. Saya lihat dia sedang buru-buru."
Mendengar itu, dia pun diam sejenak seraya memendam kekesalan yang besar dan mengomel dalam hati sebelum pergi.
"Tuh kan! Kebiasaan deh. Selalu aja bikin kesal! Selalu saja seenaknya! Bisa nggak sih sebelum makan nanya dulu?"
Dia pun kembali duduk di meja makan dan sangat kesal. Kemudian tiba-tiba saja ponselnya berdering. Lalu dia mengeluarkannya dari sakunya dan semakin stress karena yang menghubunginya adalah Tuti yang sejak tadi menunggunya.
"Yah" Jawabnya lemas.
"Lin, jadi nggak nih? Kamu kok lama banget sih. Aku dah bosan nih nungguin kamu sampai jamuran gini. Kamu di mana?"
"Aku di rumah."
"Apa? Di rumah? Kamu ngapain aja sih dari tadi? Intinya jadi nggak nih ke rumahnya si Betty? Kalau nggak jadi, biar aku nonton."
"Tut, bubur kacang hijaunya tinggal sedikit. Tadi sih banyak. Tapi ayahku tiba-tiba datang dan memakannya. Gimana dong."
"Ya udah. Kamu bawa aja sisanya. Nanti aku bawain juga makanan dari sini sebagai tambahannya. Tadi ayahku masak makanan spesial dan agak banyak. Aku udah sisihkan sebagian untuk kubawa ke sana."
"Wah... untung banget dong. Masak apa Tut?"
"Masak sup telur mata cicaklah yang dibumbui dengan ketumbar dan bubuk kunyit."
__ADS_1
"Aku serius Tuti. Aku lagi males bercanda. Masak apa?"
"Ntar kamu juga tahu. Sekarang, buruan ke sini deh. Biar kita pergi sama-sama."
**********
Sesampainya di sana dia kaget melihat Tuti yang sudah berdiri tegap di depan pintu sambil memancarkan aura ketegangan bercampur kesal karena telah menunggu lama.
"Kamu lama banget sih Lin! Aku bosan nih nungguin kamu sampai lalatan di sini." Ujarnya kesal.
"Yah, maaf. Tadi di jalan ada sedikit gangguan Tut. Biasalah anak laki-laki di lapangan godain aku terus pas aku lewat. Jadi aku tarik jurus dulu."
"Alah... banyak omong! Sudahlah! Ayo pergi!"
Mereka pun segera pergi ke rumah Betty dan masing-masing membawa makanan.
***********
"Betty...!
Bett...." Panggil keduanya seraya mengetuk pintu.
Tak lama neneknya datang lalu membukakan pintu.
"Kalian. Ada apa?"
"Di kamarnya. Ada apa? Apa yang kalian bawa itu?"
"Ah... ini hanya makanan kecil nek." Jawab Linda.
"Tumben. Ada acara apa? Ayo masuk-masuk!
Sebentar, nenek panggil si Betty dulu."
Neneknya segera naik ke kamar Betty dan menyuruhnya turun.
"Bett! Ayo turun! Teman-temanmu datang. Mereka juga bawain makanan lho. Ada acara apa? Kok nenek nggak tahu?"
"Apa? Makanan? Mau apa lagi sih dua orang itu?" Gerutunya.
"Memangnya kenapa? Apa kalian bertengkar lagi? Aduh... anak-anak remaja sekarang...
Sudah! Ayo turun! Nanti mereka kelamaan nunggu lho. Ayo bangun. Jangan tidur mulu. Anak gadis ga boleh malas-malasan."
"Ih...! Iya. Iya. Nenek turun duluan aja. Nanti Betty menyusul."
__ADS_1
Neneknya segera turun dan menegur hangat dua anak remaja itu. Mereka juga bersantap hidangan yang mereka bawa. Lalu tak lama Betty pun turun menemui mereka sambil menggerutu dalam hati,
"Mau apa lagi sih dua bocah ini kemari? Pasti mau ngejelek-jelekin aku lagi dan mengejekku lagi. Sok-sok dekat lagi sama si nenek gaul."
"Bett, yuk makan. Kami bawa makanan kesukaanmu nih." Tegur Tuti sambil melempar senyum.
"Iya Bett. Mereka juga bawain makanan kesukaan nenek. Memanglah cucu-cucu nenek ini sangat paham betul keinginan nenek." Sambung neneknya.
Namun Betty tidak menyentuh makanan itu sedikit pun tapi hanya menyaksikan mereka bersantap.
"Kenapa nggak makan Bett?" Tanya Tuti.
"Masih kenyang!" Dia berbicara sangat ketus sambil menyilangkan kedua tangannya dan memalingkan wajah. Kemudian dia mengomel dalam hati,
"Pintar banget dua bocah ini cari muka sama si nenek gaul."
Dia hanya menyaksikan mereka bersantap ria sampai selesai.
*********
Lalu setelah mereka bersantap, mereka menceritakan tujuan kedatangan mereka. Namun bukan yang sebenarnya karena takut akan diceramahin sang nenek lagi. Mereka hanya mengatakan kalau kedatangan mereka hanya sekedar ingin belajar kelompok. Mendengar itu neneknya pun senang dan langsung menyuruh mereka ke kamar untuk belajar.
Seraya mereka naik, betty masih berjalan tak bersemangat karena tak menginginkan kedatangan mereka. Di kamar itu, ketiganya hening selama beberapa menit. Tak ada yang berani bicara lebih dulu karena bingung harus bicara mulai dari mana. Selain itu Linda dan Tuti juga datang tanpa membawa satu buku pun.
Akhirnya, karena tak tahan terlihat bodoh, belakangan Betty pun angkat bicara dan bertanya dengan kesal.
"Sebenarnya kalian ini mau ngapain sih?"
Tuti pun langsung menanggapinya dengan polos,
"Bett, kami mau minta maaf. Jangan diam-diam lagi dong. Kita kan teman sejak kecil. Masa gitu aja langsung marah. Kita kan sudah sering membully satu sama lain."
"Bener tuh Bett." Sambung Linda.
Lalu Betty menghela nafas panjang dan berbicara.
"Sebenarnya aku juga tidak mau terus-terusan begini. Kita bukan anak kecil lagi kan? Sebentar lagi kita akan lulus dan melanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Artinya, kita sudah memasuki usia dewasa. Jadi, kita juga harus berpikiran dewasa. Ya kan? Tapi ya sudahlah! Kita lupain aja yang sudah lalu."
"Jadi ceritanya kita sudah baikan nih?" Tanya Linda.
Betty hanya mengganggukkan kepalanya dan tersenyum paksa lalu berkata lagi,
"Karena tadi kalian bilang mau belajar, jadi kalian harus menepatinya. Aku ingin malam ini kita belajar matematika. Kalian ajarin aku yah. Kalian berdua kan pintar."
"Mmm... Itu sih gampang. Benar nggak Lin?" Tanya Tuti.
__ADS_1
"Mmm!"
Maka Betty pun langsung mengeluarkan bukunya dan mereka mulai mengajarinya dan mengerjakan beberapa contoh soal mulai dari yang mudah sampai yang sulit. Agar mereka tidak tegang, sesekali mereka saling bersenda gurau dan saling mengejek sambil tertawa.