
Setelah guru matematika itu pergi, tak lama kemudian guru bahasa inggris langsung datang dan masuk ke kelas. Guru itu hanya menyapa singkat murid-muridnya kemudian memerintahkan semua siswa duduk berdasarkan kelompoknya masing-masing.
"Ibu yakin kalian pasti sudah mempersiapkan materi kalian dengan baik. Baiklah, ibu akan memanggil nama masing-masing kelompok, dan kalian presentasikan hasil riset kalian."
Siswa di kelas itu berjumlah 30 orang. Dan ibu Lyra membaginya menjadi 6 kelompok yang masing-masing terdiri dari lima orang. Betty mendapat urutan nomor 2. Jadi dia berpikir masih ada waktu untuk mengerjakan materi itu selagi nomor urut pertama mempresentasikan karya ilmiahnya. Dia berbisik pada teman kelompoknya,
"Bagaimana ini? Aku lupa mengerjakannya. Aku tidak mempersiapkan apapun. Tapi kalian sudah persiapan kan?" Ujarnya cemas.
"Aduh.... bagaimana ini? Kami juga tidak mempersiapkan apapun. Kan yang pintar bahasa inggris, kamu. Aku hanya tahu materinya dalam bahasa indonesia. Grammatical ku kacau."
"Aduh... Gimana ini. Nggak bisa gitu dong. Ini kan tugas kelompok.
Dan kau Susi, gimana?" Tanyanya semakin khawatir.
"Sama." Jawabnya singkat tanpa merasa bersalah.
"Astaga.... habislah aku. Makin menjadi-jadi nanti si Linda dan si Tuti mengejekku." Keluhnya mulai putus asa.
Guru itu menyuruh mereka membuat semacam karya ilmiah. Dia memberi mereka beberapa topik lalu menyuruhnya memilih. Di antaranya, 'Dampak teknologi bagi anak-anak muda, Pengaruh pergaulan terhadap anak-anak muda, Pentingkah berpacaran di usia muda?, Dan caranya memilih teman bergaul dengan bijaksana.' Mereka harus bisa menjelaskan apa saja dampak positif dan negatif dari materi itu dan memberikan bukti-bukti yang mendukung teorinya.
Lalu setelah semua siswa sudah terbagi ke dalam kelompoknya masing-masing, sang guru pun langsung memanggil kelompok yang pertama maju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil risetnya. Lalu beberapa murid diminta untuk menyampaikan sanggahan atau pendapat tidak setuju dengan teori yang mereka jelaskan.
Ketika beberapa siswa sibuk saling bertanya jawab ketika kelompok pertama selesai mengutarakan hasil risetnya, Betty sibuk dengan materi kelompoknya. Dia berusaha keras mempersiapkan materi yang dia bisa tulis. Tidak ada satupun siswa dari kelompoknya yang mengangkat tangan untuk memberikan satu pertanyaan, ataupun sanggahan. Mereka menjadi satu-satunya kelompok yang vakum dari antara yang lain.
Lalu tiba-tiba perhatian guru teralihkan pada kelompoknya dan bertanya,
__ADS_1
"Betty, Susi, Norma, Nita, Ira. Kenapa kalian diam saja? Kalian ngapain saja di situ dari tadi. Dari tadi ibu perhatikan kalian sibuk berbisik-bisik. Kalian bergosip? Apa yang kalian bahas? Kalau ada pertanyaan, silahkan angkat tangan! Mana hasil riset kalian?"
Betty dan teman-temannya pun terdiam dan tertunduk. Ketika guru itu memarahi mereka, semua mata siswa langsung tertuju pada mereka dengan segudang arti. Linda dan Tuti yang satu kelompok berbisik,
"Pasti si Betty nggak ngerjai tugasnya. Hahahaha...biar mampus dia. Kemarin sok belagak songong. Sok ngadu-ngadu sama neneknya." Bisik Linda.
"Kau benar! Dari ekpresinya juga begitu. Pasti dia sibuk pacaran sama tuh orang bule. Siapa namanya? Ah... si Micky."
"Iya. Dia kan selalu sok cantik dan sok imut. Males banget ngelihatnya."
Kemudian guru itu berkata lagi,
"Sudah! Sudah! Kita lanjutkan lagi debatnya. Gara-gara kalian debat ini terhenti. Kalian siap-siap! Sebentar lagi giliran kalian!"
Lalu debat itu pun kembali dilanjutkan dan mendapat respon yang baik dari kelompok lain juga sang guru yang sangat senang dengan hasil riset mereka.
"Mmm....
Selamat pagi teman-teman.
Materi yang akan kami presentasikan hari ini yaitu tentang, 'Pentingkah berpacaran di usia muda?'" Ujar Betty gugup setengah mati.
Lalu Linda berbisik kepada Tuti, "Pasti banget dia memilih topik itu. Dia kan pacaran."
"Iya, nanti kita tanya aja apa pengalamannya selama berpacaran. Hahahaha..." Balas Tuti dengan mimik wajah yang seperti merencanakan sesuatu.
__ADS_1
"Iya. Kau benar. Duh aku jadi tidak sabar."
"Iya. Yah sudah, kita diam aja dan lihat presentasinya."
Maka mereka mulai memperhatikan setiap teori yang Betty ujarkan secara terbata-bata dan sangat grogi. Dia berkata,
"Mmm.... pacaran di usia muda itu....
Tidak terlalu penting. Karena itu bisa menyimpangkan anak-anak muda, khususnya yang masih bersekolah dari tujuan utamanya. Banyak anak-anak muda menjadi lepas kontrol karena emosi mereka yang masih labil. Anak-anak muda sangat mudah terpengaruh. Tujuan mereka atau tekad mereka belum berakar kuat di hati mereka. Dan kita juga bisa melihat banyak anak-anak muda akhirnya berhenti sekolah karena hamil di luar nikah. Perasaan cinta mereka jauh lebih besar daripada logika. Apalagi di saat-saat masa puber. Jadi alangkah lebih baik untuk tidak berpacaran di usia muda. Apalagi di usia yang masih sangat muda." Ujarnya singkat.
Lalu setelah dia duduk, beberapa siswa dari masing-masing kelompok mulai mengajukan keberatannya. Ada yang bertanya,
"Menurutmu, mulai dari usia berapa seseorang cocok atau bisa berpacaran? Karena aku pikir, umur 20 tahun juga masih sangat muda dan labil. Tapi beberapa tayangan di televisi membuat batasan usia untuk setiap tayangan tertentu. Misalnya ada tulisan, '18 tahun ke atas.' Itu artinya usia 18 tahun sudah bisa dikategorikan dewasa. Bagaimana menurutmu?"
Lalu dari kelompok lain bertanya,
"Tapi aku melihat banyak anak-anak muda menjadi termotivasi setelah mereka berpacaran atau mulai mengenal seseorang secara lebih pribadi. Misalnya saja, mungkin sebelum mereka berpacaran, mereka malas mandi atau gosok gigi. Bahkan sepatu atau kakinya saja bisa sangat bau karena malas dibersihkan. Tapi setelah berpacaran, mereka mulai rapi dan bersih. Itu artinya berpacaran di usia muda tidak salah. Bagaimana dengan itu?"
Kemudian ada lagi yang menyampaikan keberatannya,
"Kalau pacaran di usia muda itu salah, atau bisa menyimpangkan, berarti ada aturan tertentu agar pacaran di usia muda tidak menyimpangkan. Karena tidak mungkin atau sulit untuk melarang diri agar tidak berpacaran. Apalagi kalau seseorang sudah sangat tertarik dengan lawan jenis dan secara tidak langsung, dialah yang memberikan semangat untuk terus masuk sekolah. Mereka bahkan berkata, 'Aduh... kenapa harus ada hari libur? Rasanya, melewatkan satu hari libur seperti melewatkan satu bulan.' Dan aku rasa banyak yang setuju dengan itu. Maka agar berpacaran di usia muda bisa tetap positif, tolong berikan beberapa tipsnya."
Lalu setelah beberapa kelompok mengutarakan pendapatnya, Tibalah dari kelompoknya Linda untuk mengutarakan pendapatnya. Pendapat yang telah dipersiapkan sedemikian rupa untuk semakin menekan temannya Betty. Dia berdiri dan berkata,
"Saya sedikit setuju dengan teorinya yang berkata, bahwa berpacaran di usia muda, bisa menyimpangkan seseorang dari prioritasnya. Bahkan karena memilih berpacaran di usia yang masih labil, mereka sering betengkar karena lebih mementingkan ego dan bisa menganggap diri lebih penting. Juga tak jarang mereka sering membandingkan diri dengan yang lain yang tidak berpacaran. Atau bisa saja mungkin dampaknya bisa mempengaruhi pertemanan seseorang jika yang berpacaran itu lebih mengutamakan pacarnya. Tapi seperti pendapat yang lain, berpacaran itu juga ada manfaatnya. Tolong sebutkan secara rinci apa saja manfaatnya, dan apa dampaknya, juga bagaimana caranya mencari teman dekat yang tepat."
__ADS_1
Semua pertanyaan dan keberatan yang disampaikan teman-temannya pun semakin membuatnya gugup dan panik. Dia tidak tahu harus menjawab sanggahan itu seperti apa atau mendukung teorinya.
Sedangkan sang guru, sangat antusias menyaksikan debat itu dan berharap semua siswanya mendapat pelajaran penting dari semua teori yang disampaikan.