Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 46


__ADS_3

Senyuman yang tulus yang keluar dari bibirnya, mampu mencairkan kesedihan Tuti sehingga dia tidak berfokus pada kekalahannya lagi. Dengan tegar dia membalas senyuman itu dengan tersenyum hangat lalu berkata,"Yah udah. Yuk kita pulang. Oh yah, kita ke rumahku yuk. Kita makan di rumahku aja. Ayahku mungkin masak enak hari ini. Yah... dia tahu kan kalau anak kesayangannya lagi ikut lomba, jadi nggak mungkin dia nggak menyambutku dengan makanan enak."


"Masa? Yang benar kamu Tut?"


"Iyalah. Ayahku kan koki terbaik di rumah kami."


"Aku mau dong. Makanan enak, aku nggak pernah nolak." Jawab Linda sumbringah.


Mereka pun melanjutkan perjalanan sampai akhirnya tiba di rumah Tuti.


Dan benar saja, sesampainya di depan rumah Tuti langsung disambut hangat oleh ayahnya bak tuan putri.


"Enak banget yah punya bapak yang pengasih seperti itu. Sementara bapakku, hah.... kerjanya bikin kesal melulu. Eh!Tapi belakangan ini ayahku sudah berubah." Tutur Linda dalam hati.


Setelah meletakkan tasnya di sofa, Tuti segera dituntun ke meja makan dan Linda mengikutinya dari belakang.


Matanya sengaja ditutupi kain sampai mereka tiba di meja makan dan kain itu pun dilepas perlahan-lahan.


"Siap yah. Satu, dua, tiga. Tara...." Ucap ayahnya.


Tersedia dan terpampang jelas berbagai hidangan sea food di atas meja dan aneka makanan manis pencuci mulut.


"Wah.... Ini beneran yah? Banyak sekali makanannya." Mukanya begitu bahagia dan tak sabar ingin segera menyantapnya.

__ADS_1


"Eits! Tunggu dulu dong. Buru-buru amat." Ujar ayahnya sembari menahan tangannya yang telah menyentuh ujung ekor udang goreng.


"Apa lagi sih yah. Lambungku sudah lapar bergejolak nih."


"Masih ada satu kejutan lagi untuk si Tuan putri."


"Kejutan? Kejutan apa lagi?"


"Bu, bawa sini kejutannya." Ucapnya sembari mengedipkan sebelah matanya memberikan suatu isyarat.


Wanita itu pun segera mengambilnya. Sebuah kotak cukup besar dibawa ke hadapannya dan di letakkan di atas meja.


"Ayo, dibuka kotaknya." Ucap ayahnya.


"Apa'an ini yah?"


Maka Tuti pun segera membukanya. Satu kue tart yang dihiasi dengan namanya sendiri, membuatnya semakin tak bisa berkata-kata meluapkan sukacitanya. Hanya mulut mangap yang bisa dia lakukan untuk mengekspresikan kebahagiaannya.


"Udah Tut mangapnya. Nanti nyamuk masuk lho ke mulutmu. Mau?" Ucap ibunya spontan.


"Ih! Ibu ini bikin malu aku aja." Jawabnya kesal.


"Di samping kue itu ada surat kecil. Tolong dibaca yah." Ucap ibunya.

__ADS_1


Tuti pun memeriksa samping kotak kue itu dan mengambil kertas kecil di sampingnya.


Segera dia membukanya dan membaca isinya. Tapi belakangan raut mukanya menjadi sedih dan tak terasa airmatanya jatuh. Perasaannya begitu terguncang saat membaca curahan hati dan harapan yang besar dari seorang ayah kepada anak satu-satunya.


'Nak, ayah sangat bangga memilikimu. Kamu anak yang pintar dan cerdas. Semoga kelak kamu bisa mewujudkan impian ayah menjadi orang sukses dan berguna bagi orang lain. Ayah bekerja keras setiap hari untukmu dan untuk keluarga kita. Ayah sangat mengasihimu.' Lalu dia melihat ke dalam amplop itu lagi dan mendapati sebuah kalung yang liontinnya bertuliskan namanya. Hatinya pun semakin haru dan matanya berkaca-kaca.


"Lho kok jadi sedih sih. Memang apa isi suratnya?" Tanya ibunya.


"Kalung itu untukmu. Hadiah untuk kemenanganmu." Sambung ayahnya.


"Tapi aku kan belum menang yah."


"Di mata ayah kamu sudah jadi pemenang. Tidak mudah ikut olimpiade. Dulu itulah yang dulu sangat ayah inginkan. Tapi karena satu hal, ayah tidak bisa mengikutinya."


Mereka bertiga pun tak sanggup lagi membendung perasaan yang campur aduk dan saling berpelukan. Membuat Linda semakin tampak bodoh dan tak tahu harus berbuat apa. Hanya menjadi saksi bisu sembari menunggu itu selesai.


Lalu setelah lima belas menit berlalu, Tuti pun sadar kalau Linda sudah merasa bosan.


"Udah. Udah. Sedih-sedihnya sudah selesai. Lihat si Linda udah bengong dari tadi. Kasihan."


Maka mereka segera mengatur ulang suasana hati dan mengubah reaksi wajah mereka menjadi senang lalu mengambil tempat duduk masing-masing.


"Ayo kita makan." Seru kepala keluarga itu dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Ayo Lin. Nggak usah malu-malu." Sambung Tuti.


Mereka pun bersantap ria dan sesekali tertawa. Tuti juga menambahkan bagian lebih banyak ke piring Linda sebagai bentuk perminta maafannya.


__ADS_2