Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 29


__ADS_3

Saat malam, ayahnya Siti pulang dan dia kaget melihat ada orang asing di rumahnya. Dia hanya melihat bagian belakang mereka berdua saat keduanya tengah asyik menonton TV.


Dengan langkah yang ragu dia mendekati keduanya dan menegur, "Hei!"


Begitu keduanya berbalik, dia semakin bingung. Dalam pikirannya tersimpan banyak pertanyaan, "Seperti putriku. Tapi sepertinya tidak. Kenapa rambutnya lurus? Tapi mukanya, muka putriku Siti." Dia diam memandangi keduanya. Sampai anaknya yang bungsu memukul pelan tangannya dan membuyarkannya, "Pak, kenapa bapak bengong?"


"Dia siapa Kes?" Tanyanya pada putri bungsunya.


"Dia kak Siti pak. Sekarang dia menjadi cantik seperti dewi yah pak?"


Namun seolah masih tak percaya, dia menanyakan hal yang sama lagi, "Dia siapa Kes?"


Maka Siti langsung bergerak mendekati ayahnya dan memperkenalkan dirinya secara sungguh-sungguh. Dengan tatapan yang fokus, dan pelafalan yang jelas, dia menyebut nama lengkapnya lalu menunjukkan tanda lahirnya yaitu tompel di lengannya.


Namun seolah masih belum puas, dia menunjukkan rekaman video dirinya saat di salon. Melihat itu semua, bapaknya pun yakin dan memeluknya sambil mengatakan dengan haru dan lega, "Anak bapak yang cantik. Bapak pikir kamu diculik. Bapak sangat takut kehilangan kalian. Kalian adalah peninggalan ibu kalian, harta warisan bapak, titisan ibu kalian. Rupa kalian mirip dengan ibu kalian. Kalau bapak sampai kehilangan kalian, maka rupa ibu kalian akan berkurang di rumah ini. Bapak akan sedih dan bapak tidak akan bisa tidur."


Namun Siti tidak berkata apa-apa selain ikut menangis haru.


Lalu usai suasana keharuan itu, ayahnya mengajak keduanya makan di satu restoran. Ayahnya berjanji akan mengajak mereka makan sepuasnya.


Seketika kedua bocah itu melompat riang mendengarnya. Dan tanpa berlama-lama, mereka langsung berlari ke depan pintu sambil berseru, "Ayo, cepat pak!"


"Iya. Iya. Bapak matiin TV dulu. Dasar kalian. Kalau diajak makan di luar, langsung heboh kegirangan."


"Itu karena masakan bapak agak hambar." Ledek putri bungsunya.


Dia geleng-geleng kepala seraya berjalan menuju mereka dan menutup pintu.


Mereka bertiga berdiri di pinggir jalan menanti taksi yang mereka pesan.

__ADS_1


Selama menunggu, ayahnya bertanya lagi karena rasa ingin tahunya belum terpuaskan.


"Sit, ngomong-ngomong kenapa rambutmu bisa tiba-tiba lurus begini?"


"Ah...


Ceritanya panjang pak. Intinya itu terjadi gara-gara katak." Jawabnya kesal.


"Apa? Katak? Kok bisa?" Tanyanya yang masih bingung dan tak habis pikir.


"Udah deh pak, aku males jawabnya. Bisa-bisa nafsu makanku hilang gara-gara ngebahasnya."


"Iya, iya. Bapak nggak akan tanya lagi. Bapak takut anak bapak marah. Tuh lihat aja wajahnya, mulai merah dan sebentar lagi terbakar. Ih... bapak takut. Bapak takut gosong." Tuturnya meledek.


"Kan mulai lagi ngeledknya. Ntar aku nggak ikut makan lho, biar bapak rugi."


"Eits...


Iya, iya. Bapak akan diam." Padahal dalam hatinya dia merasa aneh dengan kalimat Siti.


Tak lama taksi yang mereka tunggu pun tiba, dan mereka segera masuk.


"Ayo pak. Antarkan kami ke tempat makan yang terbaik dan terenak di sini." Tuturnya dengan semangat.


"Siap!" Balas sang supir.


Sepanjang jalan ayahnya sesekali menatap putrinya sambil berpikir, "Apa hubungannya katak dengan rambutnya? Aku masih tak habis pikir. Tapi... ya sudahlah. Yang penting dia senang. Karena, kalau dia marah, bahaya." Dia mengenang masa lalu di mana putrinya itu marah besar saat sedang kesal. Pagar kayu di belakang rumahnya, dia karate sampai semuanya tumbang. Sehingga ayahnya harus bekerja keras memperbaikinya lagi.


Saat mengenang itu, dia merinding sehingga memancing perhatian kedua putrinya, "Bapak kenapa?" Tanya keduanya.

__ADS_1


"Ah... tidak ada. Bapak cuma kedinginan. Sepertinya mendadak bapak demam." Jawabnya salah tingkah.


"Masa? Coba aku sentuh keningnya." Ujar si bungsu.


Dia menyentuh kening bapaknya namun tak ada sedikit panas yang dia rasakan.


"Ga panas! Bapak bohong yah? Bapak cari alasan supaya nggak jadi makan enak yah? Supaya duit bapak nggak habis yah? Iya kan?" Anaknya yang bungsu mulai mengintimidasinya dan memberinya tatapan maut. Hingga bapaknya menjadi ciut dan semakin salah tingkah. "Tidak kok. Ya sudahlah. Bapak tidak akan bicara lagi. Bapak akan tidur aja supaya kalian tidak mencurigai bapak terus."


Lalu anaknya yang sulung berkata dengan tegas, "Jangan! Sebentar lagi kita sampai pak. Kalau mau tidur, di rumah aja."


Dia pun diam dan tak menyahut omongan anaknya lagi. Kedua putrinya sangat temperamen seperti mendiang ibunya.


***********


Akhirnya mereka sampai di restoran yang mereka tuju dan mereka cepat-cepat masuk dan mengambil tempat. Lalu salah satu pegawai datang memberi mereka daftar menu. Tak menunggu waktu lama, kedua putrinya langsung memesan beberapa makanan enak namun tak memandang harga.


Ketika dia melihat anaknya yang sulung menunjuk beberapa menu kepada pelayan itu, dengan cepat dia mencegatnya. Matanya syok melihat harganya. "Jangan yang itu Siti. Nanti uang bapak nggak cukup. Pilih yang ini saja yah. Ini juga tak kalah enak kok. Yah." Bujuknya dengan mata memelas.


Namun Siti menolaknya, "Bapak niat ga sih ngajak kami makan? Ini pertama kalinya bapak membawa kami makan di restoran selama sepuluh tahun belakangan ini lho. Masa bapak nggak punya persiapan sih. Tahu gitu mending makan di pinggir jalan aja sekalian."


Anaknya yang bungsu juga ikut mendukung kakaknya. "Bapak itu benar-benar pelit yah. Sama anaknya perhitungan. Setiap hari bapak bekerja siang dan malam. Masa untuk membayar makanan ini saja tidak bisa?"


Hal itu membuat sang ayah menjadi malu dan mukanya merona di hadapan pelayan itu. Tak ingin lebih malu lagi, dia memilih berdiam diri dan menyaksikan kedua putrinya memilih makanan sesuka hatinya tanpa kendali.


"Gawat! Gajiku selama dua bulan, habis dalam semalam gara-gara anak nakal ini." Gerutunya dalam hati.


Tapi muka tidak senangnya berhasil tertangkap mata pengawas anaknya yang bungsu. Lalu dia mengomel setelah pelayan itu pergi,


"Kenapa bapak tidak senang? Bapak merasa sayang dengan uangnya? Iya? Tadi siang waktu kakak belum pulang ke rumah, bapak panik setengah mati. Tapi setelah kakak pulang dan kami makan enak, bapak keberatan."

__ADS_1


"Tidak kok nak. Bapak nggak keberatan sama sekali. Kalian itu permata bapak. Makanlah sepuasnya. Bapak juga sudah buat kantong bapak tebal. Jadi jangan khawatir. Hah?" Balasnya sambil melempar senyum. Matanya juga ikut tersenyum karena belakangan ia menyesal.


Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka pun tiba dan mereka menyambut dengan riang. Mereka makan dan bahagia.


__ADS_2