
Ketiganya merapat menonton Linda yang masih terengah-engah kehabisan tenaga seperti mau mati, sampai akhirnya bapaknya Siti datang menghampiri mereka lengkap dengan clemet kotor yang masih melekat di tubuhnya. "Hei, kenapa tidak disuruh duduk itu temannya?" Ujarnya.
Lalu dia membawa Linda duduk di sofa sementara Tuti, Siti, dan Betty masih terpana melihat kondisi Linda yang berlebihan.
"Ayo, duduk di sini nak. Kamu pasti haus. Tunggu di sini, bapak akan ambilkan minum."
Dia segera pergi mengambil segelas air sedangkan ketiga remaja itu satu per satu menghampirinya dan duduk di dekatnya, namun mereka masih diam.
Kemudian bapaknya Siti datang dan memberi Linda minum. "Ini, minumlah nak. Kamu kenapa bisa sampai kelelahan begini? Kasihan..."
Setelah Linda minum, Linda menceritakan perasaannya pada bapaknya Siti dan ketiga temannya. Laki-laki itu merasa iba mendengar kisahnya dan memperlihatkan kasih yang tulus padanya, kasih seorang ayah, sehingga Linda merasa nyaman dan yakin untuk menceritakan masalahnya lebih dalam. Dia juga mengatakan bahwa dia merindukan kasih sayang seorang bapak dan itu baru dia dapatkan darinya. Dia mengatakan bahwa ibunya sudah pergi meninggalkannya dan menitipkannya pada bapak yang kurang bertanggung jawab. Mendengar itu mereka pun dirundung sedih. Tuti yang awalnya sempat marah karena dia terlambat, merasa menyesal.
Dalam hati dia bertekad agar menabung lebih banyak untuk Linda begitu juga dengan Betty sebab hidup Linda kini menjadi lebih sulit.
Namun sesekali pikiran buruk terlintas di benak Betty dan Tuti. Mereka membayangkan Linda yang kini tinggal berdua dengan ayahnya. Keduanya berpikir, 'Bagaimana kalau ayahnya Linda tiba-tiba kumat dan dia dipukuli? Atau bagaimana jika sewaktu-waktu ayahnya mencabulinya karena godaan setan? Ih... seram. Jangan sampai itu terjadi.' Pikiran itu muncul sebab mereka berdua sering mendengar kabar tentang banyaknya percabulan yang dilakukan oleh ayahnya sendiri saat istrinya tidak ada. Mereka berdua bergidik dan memancing perhatian Siti juga bapaknya. "Kalian berdua kenapa? Sesak pipis yah?" Tanya Siti.
"Nggak. Nggak papa." Jawab keduanya.
Kemudian setelah suasananya mulai tenang, mereka pun masuk ke kamar dan mulai belajar sementara laki-laki itu kembali memasak.
Malam itu mereka mendiskusikan materi yang tidak mereka pahami yang mereka catat ketika pelajaran berlangsung di sekolah.
Mereka juga saling bertanya jawab, menguji ketangkasan satu sama lain dengan berbagai soal-soal latihan.
Namun sementara mereka belajar, laki-laki itu masih sibuk di dapur memotong-motong ayam juga sayuran, sebab hidangan yang akan dibuatnya cukup banyak.
Dia juga sibuk menata meja makan dan menaruh setangkai bunga segar ditengahnya. Usai itu dia meracik minuman segar sebagai makanan penutup nantinya. Dia seperti menjamu tamu yang istimewa sebab itu pertama kalinya dalam sejarah, putrinya belajar bersama.
__ADS_1
**********
Lalu setelah semua hal yang melelahkan itu selesai, seluruh makanan pun tersaji indah di atas meja di dua menit terakhir sebelum jam pelajaran ke empat bocah itu berakhir.
Selama detik-detik terakhir itu, perut Betty, dan Tuti sudah meronta kelaparan dan tak sabar ingin segera makan, terlebih lagi Linda yang mana usus dan lambungnya sudah melilit-lilit karena terjangan badai tornado yang ada di dalam perutnya. Namun Siti yang disiplin waktu, mencegatnya sampai waktunya benar-benar tepat.
Dia menunjuk pada jam tanggannya sambil melotot pada mereka agar mereka juga membuka matanya lebar-lebar pada gerakan jarum jam yang belum tepat.
Sementara itu, laki-laki itu sudah duduk dengan baik di depan meja sambil melipat kedua tangannya ditemani anaknya yang bungsu. Namun dia juga sudah merapikan dirinya sebelumnya.
*********
Akhirnya setelah detik-detik yang berat itu berlalu, Linda, Tuti, Betty, dan Siti cepat-cepat menutup buku pelajarannya dan menghampiri bapaknya dengan langkah yang panjang-panjang agar lebih cepat sampai.
Mereka segera duduk rapi di depan meja sambil menebarkan senyuman manis.
"Enggak kok pak. Biasa aja." Balas Siti.
"Yah sudah, kalau begitu bantu bapak hidangkan makanannya di piring dan berikan pada teman-temanmu."
"Siap bos!" Balasnya sambil memberikan penghormatan pada bapaknya.
Siti pun dengan sigap menyajikan makanan itu di piring teman-temannya dan menyuruh mereka makan. "Ayo makan. Kalau mau nambah, jangan malu-malu. Bapakku sudah masak banyak untuk kita semua."
Linda yang menahan lapar sejak tadi langsung melahap makanannya dengan cepat. Dia juga tak malu-malu menambah porsi makanannya bahkan sebelum makanan di piringnya benar-benar habis.
Laki-laki itu heran melihat kelakuannya dan menegurnya dengan lembut, "Pelan-pelan makannya, nanti kamu tersendak."
__ADS_1
Sembari mengunyah makanan yang masih penuh di mulutnya, dia menjawab, "Ah, maafkan saya om. Karena gejolak laparku begitu hebat, aku jadi susah mengontrol sikapku. Maafin aku om. Sebagai tanda permintaan maafku, aku akan membersihkan semua piring kotor ini nanti. Aku belum makan apapun sejak tadi dari rumah."
"Ah... tidak perlu. Biar om dan Siti yang membersihkannya nanti."
Sedangkan Tuti dan Betty geleng-geleng kepala melihatnya tapi juga kasihan.
Kemudian laki-laki itu melanjutkan, "Yah sudah, makan yang banyak. Ayo tambah lagi, nanti kalau masih ada yang lebih, bawa pulang saja." Ujar laki-laki itu pada Linda.
"Iya om. Makasih banyak. Coba aku bisa masuk dalam daftar kartu keluarganya om sebagai anak angkat, pasti menyenangkan."
"Ah... jangan berlebihan. Tidak harus begitu. Kalau mau makan, datang saja kemari. Om tidak keberatan kok."
"Iya dengerin tuh. Lebay amat sih." Ejek Tuti dan Betty.
**********
Lalu ketika mereka selesai makan, mereka tidak enak hati pergi begitu saja sekalipun laki-laki itu telah memintanya agar tidak membantunya membersihkan meja dan piring kotor.
Tapi ketiga bocah itu terus memaksa agar laki-laki itu saja yang pergi dan membiarkan mereka bekerja sebagai tanda terima kasih mereka.
Akhirnya karena di desak terus-menerus, khususnya oleh Linda, laki-laki itu pun menyerah dan pergi. Namun seraya menyaksikan itu, Siti dan adiknya hanya bengong karena tak menyangka ketiganya begitu terampil membujuk dan memaksa seseorang.
Belakangan adiknya Siti juga meninggalkan mereka karena mereka begitu berisik. Tak hanya tangan yang bekerja, tapi mulut juga bekerja saling memerintah satu sama lain.
*********
Akhirnya setelah bekerja keras, ruangan itu pun bersih berkilau.
__ADS_1
Kemudian mereka pamit pulang dan mengucapkan terima kasih sekali lagi karena telah dijamu sampai puas.