Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 19. Mimpi


__ADS_3

Malam itu dia tidur lelap dan bermimpi. Dalam mimpinya, kedua teman baiknya selalu mengejeknya di kelas bahkan di depan pacar bulenya.


Ketika dia sedang asyik berkencan di taman, kedua temannya, Linda dan Tuti sengaja datang dan membongkar aibnya di depan remaja bule itu tanpa rasa sungkan atau berat hati sambil terus tertawa mengejeknya. Mereka berkata bahwa Betty itu pemalas dan sangat jorok. Malas mandi juga tidak bisa masak. Mendengar itu semua, remaja bule itu langsung patah hati dan langsung meninggalkannya begitu saja tanpa memastikannya lebih dulu.


Betty pun langsung beranjak dan lari mengejar remaja bule itu, memohon agar tak ditinggalkan. Namun bahkan tanpa memandangnya, remaja bule itu melepaskan tangan Betty dengan kasar dan pergi.


Betty pun menangis keras karena cintanya kandas tiba-tiba. Lalu kedua temannya itu datang dan tertawa mengejeknya.


Betty yang semakin geram melihat reaksi kedua temannya itu bangkit dan menyerang. Dia juga berteriak kencang dan dengan penuh rasa geram.


Namun ketika dia berteriak, neneknya bangun dan langsung berlari ke kamarnya dan berusaha membangunkan Betty. Namun dia semakin tersiksa karena Betty melawannya selama dia masih belum sadar. Lalu ketika Betty hendak memukul, neneknya memukulnya lebih dulu sehingga Betty terdorong dan jatuh dari tempat tidur. Seketika itu Betty bangun dan merasa kesakitan. Namun dia belum sepenuhnya sadar.


"Aduh...sakit banget...." Keluhnya sambil memegangi kepalanya. Matanya juga masih belum fokus dan masih melihat ke sekitarnya sambil berkata lagi,


"Di mana aku? Mana dua orang itu? Akan aku hajar mereka. Gara-gara mereka aku jadi putus dengan pacarku.


Ah.....! Micky... jangan tinggalin aku....


Aku bukan orang yang seperti itu...


Micky...!" Teriaknya lalu belakangan menangis sambil terus memanggil-manggil nama Micky. Dia masih belum sadar neneknya sejak tadi memperhatikannya dan mulai kesal.


Maka karena sudah tidak sabar lagi, neneknya mendekatinya dan memukul kepalanya dengan tangannya sambil berkata,


"Hei! Bangun! Sadarlah!


Siapa itu si Micky? Hah?"


Sekejap Betty tersadar dan diam sejenak lalu tertunduk.


"Apa nenekku dari tadi sudah di sini? Apa dia dengar aku memanggil-manggil Micky? Ah... gawat. Tamatlah riwayatku kini." Gumamnya dalam hati.


"Hei! Kenapa kau diam saja? Hah? Jawab! Kau tidak lihat ini sudah jam berapa? Coba tengok! Ini sudah jam 12 malam. Kenapa kau teriak-teriak? Menangis pula. Kalau tetangga dengar, bagaimana? Mereka akan berpikir nenek memukulimu. Dan mereka akan mencap kalau nenek jahat. Reputasi nenek akan hancur dalam selamam karena ulahmu. Ayo bilang, kenapa kau teriak-teriak dan nangis tengah malam begini?"


"Maaf nek. Tadi Betty mimpi buruk." Jawabnya takut.


"Mimpi buruk? Mimpi buruk apa? Lalu siapa itu si Micky? Hah?"


"Itu cuma teman nek." Jawabnya ragu bercampur takut.


"Teman atau teman?Jawab yang benar!"

__ADS_1


Betty diam saja dan tak berani melihat neneknya. Lalu neneknya berkata lagi,


"Sudahlah! Ini sudah malam. Besok nenek akan menanyaimu lebih detail dan lebih teliti. Gara-gara kau tidur nenek jadi terganggu. Sudahlah! Nenek pergi dulu. Tidur yang benar supaya tidak mimpi buruk!" Ujarnya lalu pergi dan menutup pintu.


Tak lama Betty bangkit dan mengomel,


"Gara-gara dua orang itu, aku sampai mimpi buruk. Bahkan dalam mimpi pun mereka selalu menggangguku. Untung saja aku tidak beneran putus sama si Micky. Kalau itu sampai terjadi, aku bisa hancur. Micky itu cinta pertama dan terakhirku, belahan jiwaku. Aku tidak bisa jauh darinya.


Ah...Micky... aku sangat merindukanmu." Ujarnya sambil memeluk dirinya sendiri.


Sementara itu neneknya Betty mengomel di tempat tidurnya karena tidak bisa lagi melanjutkan tidurnya. Pikirannya selalu gelisah sejak dia tahu Betty sudah berpacaran.


************


Ke esokan paginya di sekolah, sebelum kelas dimulai, Linda dan Tuti menghampiri Betty yang sedang duduk menyendiri di kursinya.


"Bett, maafin kami yah. Kemarin itu kami tak sengaja mengejekmu. Kami hanya terbawa perasaan aja." Ujar Linda.


Tapi Betty tetap diam dan kesal melihat wajah mereka. Mereka berdua pun merasa bersalah dan terus mendesak Betty agar tidak diam saja.


"Ayolah Betty. Kemarin itu kita hanya bercanda. Kita kan teman sejak kecil. Kalau kita diam-diaman seperti ini, apa kata teman-teman sekelas nanti? Mereka tahu kalau kita ini selalu kompak kemana pun." Sambung Tuti.


Selama jam pelajaran berlangsung sampai itu berakhir, Betty tak berbicara sedikitpun pada mereka berdua bahkan sampai mereka pulang. Dia mengabaikan mereka berdua sekalipun mereka berjalan bersisian.


Maka Linda dan Tuti saling mengeluh dan mulai menyalahkan ketika Betty sudah berjalan agak jauh.


"Gimana nih Lin. Si betty beneran marah sama kita berdua. Apa kita terlalu berlebihan kemarin? Lagipula kan kita sudah sering saling membully. Kenapa sekarang dia jadi mudah tersinggung?" Tanya Tuti.


"Entahlah. Mungkin dia lagi ada masalah sama pacarnya, jadi dia agak sensitif."


"Mmm... tapi aku rasa nggak Lin. Gimana nih. Sampai berapa lama ini akan terjadi? Rugi kalau sampai kita putus hubungan dengan si Betty."


"Rugi? Kenapa?"


"Linda sayang, kalau kita tidak berteman lagi dengan si Betty, kita akan jarang makan enak. Kau tahu kan neneknya sering masak makanan enak? Setiap kali kita main ke rumahnya, kita pasti pulang dengan perut yang sudah kenyang."


"Astaga...


ckckckck...


Yang kau pikirkan hanya makanan saja."

__ADS_1


"Hei, nggak usah sok polos deh. Kau juga gitu kan? Setiap kali makan di rumahnya, kau selalu nambah bahkan sampai tiga piring. Dasar rakus!"


"Hei! Jangan sembarangan bicara! Kau yang lebih rakus. Kau bisa makan sampai empat piring sekaligus."


"Kau lima piring!"


"Kau enam piring!"


"Kau tujuh piring!"


Belakangan mereka pun ribut karena saling mengejek. Hingga Betty berbalik dan menghampiri mereka, melerai mereka. Lalu dia bicara dengan nada marah,


"Kalian ini selalu saja ribut! Tidak di kelas, di lapangan, bahkan di jalan pun kalian ribut. Apa kalian tidak malu? Hah?"


Namun dia langsung pergi meninggalkan mereka berdua usai berbicara.


"Tuh kan. Gara-gara kau dia ngamuk lagi." Ujar Tuti kesal.


"Gara-gara aku katamu? Kamu yang mulai duluan!"


"Ah...! Sudah! Sudah! Iya, aku yang salah. Puas kamu? Sekarang lebih baik kita pikirkan saja bagaimana caranya memulihkan pertemanan kita."


"Mmm... bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke rumahnya? Kita bawa aja bubur kacang hijau, kita bilang itu dari ibumu." Ujar Linda.


"Apa? Nggak salah? Mana pernah ibuku masak bubur kacang hijau. Ibuku hanya tahu masak air dan sayur rebus aja. Makanya aku nggak pernah puas makan di rumah. Ikan asin aja direbus. Ibuku takut menggorengnya karena takut kecipratan minyak."


"Hah? Serius? Hahahaha... aneh banget.


Terus ayahmu nggak marah kalau masakan ibumu nggak enak?"


"Nggak. Ayahku nggak pernah marah. Karena sejak pacaran, ayahku sudah tahu dan bisa menerimanya."


"Masa? Wah...ayahmu baik dan pengertian sekali kalau gitu. Kalau ayahku, hah! Jangan harap! Sendok sayur akan melayang dan mendarat lagi di rak piring kalau masakan ibuku kurang mantap. Bahkan kaca lemari piring pun sudah hancur akibat sendok makan yang dilayangkannya kemarin karena ibuku nggak masak."


"Masa sih sampai separah itu. Atau jangan-jangan kamu yang terlalu melebih-lebihkan faktanya." Ujar Tuti tak percaya.


"Aku serius. Kalau nggak percaya, ayo kita ke rumahku sekarang dan lihat sama-sama!"


"Ayo! Aku nggak percaya sebelum melihatnya sendiri." Balas Tuti.


************

__ADS_1


__ADS_2