Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 30


__ADS_3

Ke esokan paginya di sekolah, beberapa siswa di lapangan takjub melihat perubahan gaya Siti. Dia yang dikenal tomboy dan tak peduli dengan kebersihan badannya, berubah dalam waktu singkat. Saat dia berjalan, wangi parfumnya bahkan masih tercium dengan jarak 100 meter. Beberapa siswa berkata satu sama lain, "Ada apa dengannya? Apa dia sedang jatuh cinta?"


"Iya! Kenapa dia bisa tiba-tiba cantik? Untuk siapa dia berubah? Bukankah selama ini dia jorok dan bau?"


"Entahlah. Tapi ini bakalan menarik untuk ditelusuri. Aku yakin dia pasti sedang jatuh  cinta."


Ketika dia masuk ke kelas dan duduk, teman-temannya juga bereaksi yang sama. Namun di saat yang sama, Linda juga hendak mendekatinya, tapi ketika dia melihatnya, dia masih menunjukkan muka tidak senang pada Linda, seolah semua kesialannya disebabkan oleh Linda seorang.


Menyadari hal itu, Linda pun mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke tempat duduknya yang hanya berjarak dua meja di depannya.


Di saat yang sama ada beberapa siswa lain yang menghampirinya dan menanyakan perubahannya. Mereka bertanya sambil memegangi lembut rambutnya, "Wah... luar biasa. Aku tak menyangka rambut keritingmu bisa selurus ini. Dia pasti orang yang hebat yang dianugerahi jari-jari yang luar biasa. Ketangkasan otaknya memilih obat pelurus rambut patut diacungi jempol."


"Apaan sih. Nggak usah berlebihan deh. Di toko kosmetik kan banyak obat pelurus rambut. Nggak perlu otak tangkas untuk membeli dan menggunakannya di kepala orang." Balasnya kesal.


Lalu siswa yang lain bertanya padanya, "Di salon mana kamu mendapatkan service ini? Aku mau tahu."


"Memangnya kenapa? Kamu mau ngelurusin rambutmu juga?"


"Nggak dong Sit. Kamu nggak lihat rambutku sudah lurus sejak lahir?"


"Mmm..." Jawabnya bete sambil melipat tangan.


"Pasti kamu menghabiskan uang banyak yah untuk hasil sebagus ini?" Tanya temannya lagi.


"Yah. Uang sakuku selama dua minggu habis dalam sekejap."


"Trus nanti kamu mau makan apa di kantin?"


"Yah... terpaksa aku nggak jajan deh. Biarin aja mulut ini bau karena nggak mengunyah makanan seharian. Yang penting, rambutku sudah bersih sempurna dan bebas dari bekas kaki katak sialan itu."


"Yah... nggak komplit dong. Masa penampilan dah bagus, mulut bau. Kamu nggak minta sama bapakmu?'

__ADS_1


"Apa? Minta lagi? Bisa-bisa aku nggak disekolahin ntar."


"Ckckck... kasihan banget. Sia-sia dong penampilan cakep tapi kere. Iya nggak teman-teman. Hahahaha..." Dia meledeknya lalu tertawa keras bersama yang lain.


Hal itu membuat dirinya kesal sehingga dia memukul meja dengan kuat dengan telapak tangannya dan menyuruh mereka kembali ke tempat duduknya.


"Dasar teman-teman sialan!" Keluhnya lalu membuang nafas panjang kekesalan.


Tak lama bel tanda pelajaran mulai berbunyi. Semua siswa pun langsung duduk rapi karena yang akan masuk adalah guru yang pernah menghukumnya berdiri di luar dan menyindirnya dengan tajam.


Ketika guru itu menyapa murid-muridnya, tiba-tiba matanya tertuju pada Siti dan dia heran. Dia menyangka ada siswa baru kembaran Siti.


Seketika itu sang guru bertanya,


"Kau murid baru yah? Si Siti apa sudah pindah gara-gara bapak ceramahin kemarin?"


Maka dia menjawab gurunya dengan muka bete, "Saya Siti pak."


"Apa? Siti?


Lalu setelah semua puas tertawa, sang guru kemudian berkata, "Sudah! Sudah!


Bapak hanya mau bilang, hari ini bapak tidak bisa mengajari kalian. Hari ini bapak harus menemani kepala sekolah kita. Sekolah kita mendapat hak istimewa sebagai tempat perlombaan cerdas tangkas antar sekolah. Jadi bapak bersama kepala sekolah akan cukup sibuk mengurus berbagai hal. Jadi untuk saat ini kalian belajar sendiri dulu. Tapi ingat! Akan ada juga siswa-siswa yang akan dipilih untuk ikut lomba. Jadi persiapkan diri kalian. Jika kalian merasa hebat, segera daftarkan diri kalian. Baiklah, bapak tidak akan banyak bicara. Kalian kerjakan saja soal-soal latihan yang ada di lembar kerja kalian. Bapak kasih kalian waktu satu minggu untuk mengerjakannya." Lalu dia berkata lagi menunjuk seseorang yaitu ketua kelas, "Ahmad, kau yang mengumpulkan semua lembar kerjanya jika sudah selesai dan antar ke ruangan bapak minggu depan."


"Iya pak."


Lalu dia segera meninggalkan ruang kelas dan pergi ke ruang kepala sekolah.


Tak lama setelah sang guru pergi, semua siswa langsung riuh membahas tentang perlombaan itu. Ada yang membicarakan mata pelajaran apa yang akan diperlombakan, ada juga yang membahas tentang hadiahnya. Linda, Tuti, dan Betty segera menyatu untuk membicarakannya. Mendengar pembicaraan ketiganya tentang keinginan untuk ikut lomba dan mengukir sejarah dalam pertemanan mereka, Siti berpikir dalam hati, "Kayaknya bergabung dengan mereka seru. Selama ini aku hanya berteman dengan orang-orang berandalan yang tak punya tujuan hidup ini." Gumamnya sambil melirik pada siswa-siswa laki-laki yang selama ini jadi temannya. Bagaimana tidak? Dia adalah geng di sekolah itu.


Lalu dia juga berpikir, "Selama ini aku tidak pernah berpikir untuk mengukir prestasi akademi yang bisa membuat bapakku bangga sudah menyekolahkanku."

__ADS_1


Setelah itu dia melirik ke arah Linda, Betty, dan Tuti yang masih berbicara dan berkata dalam hati, "Kira-kira mereka mau nggak yah menerimaku di kelompoknya? Apalagi si Linda."


Selain dikenal geng di sekolah, Siti juga pintar dalam mata pelajaran IPA khususnya Fisika.


Maka setelah menghapus keraguan dalam hatinya, dia menghampiri mereka bertiga dan bilang,


"Aku bisa jadi teman kalian nggak?"


Namun Linda, Tuti, dan Betty bingung mendengar pertanyaannya. Betty menjawab, "Maksudmu apa Sit? Kita kan berteman."


"Iya benar. Tapi tidak begitu akrab. Aku ingin kita berteman akrab. Kalian mau tidak?"


"Yah... mau-mau aja sih." Jawab mereka kompak.


"Serius?


Kamu Lin, serius mau terima aku sebagai temanmu setelah kemarin aku marah-marah sama kamu?" Tanyanya pada Linda seolah belum yakin dia diterima dengan mudah begitu saja.


"Yah..


Kami berteman pada siapa saja asalkan orang itu punya niat baik dan niat ingin maju."


"Oh, itu aku. Aku akan sepuluh langkah lebih maju dari kalian. Tenang saja! Jangan khawatir! Ucapnya dengan penuh percaya diri."


Lalu Betty berbicara menjawabnya, "Kami bertiga akan mengikuti lomba itu sesuai dengan mata pelajaran yang kami kuasai masing-masing. Belakangan ini kami giat belajar kelompok setiap hari. Kami bertiga berjanji akan mengukir sejarah yang indah selama masa-masa sekolah. Sejarah yang berisi prestasi yang membanggakan, sejarah yang akan menuntun pada masa depan yang gemilang. Dan juara berapa pun yang kami bertiga dapatkan nanti, akan kami kenang dalam keabadian cinta persahabatan kami. Foto kemenangan itu akan kami simpan pada sebuah bingkai yang terbuat dari kayu akasia dan diukir oleh tangan seorang seniman handal dan terpercaya." Tuturnya layaknya seorang pujangga yang sedang membacakan puisi, sedangkan mereka yang mendengar terpana akan kata-katanya yang panjang.


Tapi kemudian Linda dan Tuti mengajukan pertanyaan yang seketika membebani otak mereka "Memangnya kamu akan beli di mana bingkai itu?" Tanya Linda.


"Iya benar tuh." Sambung Tuti.


"Itu gampang. Di on line shop kan banyak. Kalau tidak ada, kita yang akan buat sendiri. Lalu pada sisi setiap bingkai, kita ukir nama kita masing-masing."

__ADS_1


Spontan Siti langsung menyerukan, "Setuju!" Lalu dia menambahkan, "Bingkai itu kan memiliki empat sisi, jadi pas kalau aku ada di sana menggenapinya. Tenang aja, aku akan memberikan sejarah yang tidak mengecewakan."


Mendengar itu, ketiganya pun setuju menerimanya bergabung dalam sejarah pertemanan mereka.


__ADS_2