
Akhirnya Tuti berteriak kencang menghentikan perdebatan ayah dan ibunya. Nafasnya terengah-engah dan dia sangat kelelahan usai berteriak, lalu dia mengeluh lagi, "Aduh pak, bu, perut Tuti sakit banget."
"Lagi pula kenapa kamu makan sampai tak terkontrol begini? Hah? Apa ada masalah di sekolah?" Tanya ibunya.
Tapi Tuti tidak menjawabnya, dia justru meminta agar direndam di dalam bak mandi. Rasa sakitnya yang hebat membuatnya tak malu lagi untuk melakukan apapun.
"Jadi kamu setuju direndam di bak mandi nak?" Tanya ayahnya.
"Iya ayah. Apa pun itu akan Tuti lakukan yang penting rasa kenyang ini berkurang. Kalau perutku dibelah, aku juga siap."
"Hah? Tidak nak. Jangan! Nanti kamu mati." Jawab ayahnya.
"Makanya cepat angkat Tuti dan rendam di bak mandi."
Maka ayah dan ibunya mengangkatnya kembali, yang satu memegang kedua tangannya dan yang satu lagi kedua kakinya. Mereka membawanya ke kamar mandi dan memasukkannya ke dalam bak. Tapi air di dalam bak itu hanya seperempat bak sehingga tidak bisa merendam seluruh tubuhnya.
"Bu, cepat hidupkan kerannya." Perintah suaminya.
Namun ketika beranjak menghidupkan keran air, listrik tiba-tiba padam. Sehingga sanyo pemompa airnya tidak bisa menyala. "Yah, gimana dong?" Tanya istrinya.
"Ya udah bu, nggak papa. Ini juga bisa membuatnya dingin. Ibu mending ke sini aja temani Tuti. Nggak mungkin ayah kan?"
"Iya. Iya"
Dia pun segera kesana menemani Tuti berendam sampai rasa kenyangnya mulai berkurang. Namun selama waktu yang berjam-jam itu, Ibunya belakangan mengantuk dan akhirnya tertidur di kamar mandi begitu pun dengan Tuti. Mereka berdua tidur nyenyak.
Sementara itu, ponsel Tuti terus berdering dari ketiga temannya secara bergantian. Entah sudah berapa puluh panggilan tak terjawab di ponselnya.
Linda, Betty, dan Siti pun berang di telepon. Mereka bertiga berdebat satu sama lain saling menyalahkan tanpa sebab.
"Tuh kan, gara-gara kamu Sit. Kalau saja kamu nggak minta si Tuti jadian sama si Joko, pasti jadinya nggak begini. Dia pasti ngambek tuh."
"Benar! Si Joko kan orangnya aneh. Dia pasti udah macam-macam sama si Tuti. Kalian lihat sendiri kan? Tadi dia marah dan membanting meja?" Tegas Betty.
"Hei, kenapa kalian malah nyalahin aku sih. Itu kan bukan usulanku aja, tapi kita semua. Begini aja, malam ini kita rame-rame ke sana." Ujar Siti.
__ADS_1
"Tapi bagaimana kalau dia nggak mau bicara sama kita?" Tanya Linda.
"Eh... tenang aja. Masalah itu sih gampang." Balas Siti.
"Baiklah. Mending kita siap-siap sekarang." Ujar Betty.
Lalu ketiganya pun serentak menutup telepon.
Tapi sore itu kedatangan mereka didahului oleh Joko. Saat itu Joko sudah menanti di depan pintu yang masih tertutup sebab tidak ada orang di sana selain Tuti dan ibunya yang masih tertidur di kamar mandi.
Joko tetap berdiri di sana sejak petang yang hampir malam. Hingga dia sempat disangka maling oleh orang-orang yang lewat juga para tetangga di situ.
"Hei, kamu mau maling yah di sini?" Tanya seorang wanita paruh baya.
"Enggak bu. Saya cuma mau ketemu sama teman saya."
"Ah! Bohong kamu! Dari tadi aku sudah memperhatikan gerak-gerikmu. Mencurigakan!"
"Enggak bu."
Belakangan ada ibu-ibu lain yang memperhatikan mereka. Kedua ibu-ibu itu pun ikut mengintimidasinya. "Kamu mau maling motor yah di sini? Ngaku kamu!"
"Tidak mungkin! Tampangmu tidak cocok tampang anak sekolahan. Tapi tampang begal yang berandalan, yang suka membacok orang. Iya kan?"
"Bukan bu. Saya datang ke sini mau belajar kelompok dengan Tuti."
"Ah! banyak alasan kamu! Jawab yang jujur atau kau kuseret paksa pergi dari sini. Aku geram melihat begal dan geng motor. Kalau bisa, sudah kubecek-becek mereka. Tapi aku juga takut sama hukum."
"Saya bukan begal bu. Saya Joko temannya Tuti." Lama-lama dia menjadi takut dan terintimidasi. Mukanya mulai pucat ketika satu-persatu orang-orang di sekitar itu mulai mendatanginya dengan muka yang geram. Beberapa dari mereka malah mengepal kedua tangannya sampai jari-jemarinya bunyi gemertak, seolah siap melayangkan tinjinya yang sekeras batu.
Joko sangat terpojok dan ketakutan dikelilingi oleh ibu-ibu perkasa.
Tapi beruntung dirinya bisa selamat ketika Betty, Siti, dan Linda sampai di sana. Mereka langsung menuju kerumunan itu dan bertanya, "Ada apa ini? Apa yang terjadi?"
Mata Siti yang setajam mata elang langsung menyorot ke arah Joko yang ketakutan dan terpojok, "Joko! Ngapain kamu di sini?" Tanyanya heran.
__ADS_1
Kerumunan itu pun heran dan bertanya, "Dia temanmu?"
"Iya bu. Dia teman sekelas kami."
"Oh, jadi dia bukan anggota geng motor atau begal?" Tanya salah satu kerumunan.
"Nggak bu. Memangnya dia salah apa sampai dikerumuni kayak gini" Tanya Siti.
"Kami pikir dia maling. Soalnya sudah berjam-jam dia berdiri di sini dan mengamati ke dalam rumah. Kami pikir dia mau mencuri di sini." Balas salah satu dari kerumunan itu.
Mendengar itu, Betty, Linda, dan Siti pun kaget bukan main. Karena sepanjang sejarah, belum pernah Joko menginjakkan kaki di sana. Bahkan dia pernah berkata, 'Tak sudi menginjakkan kaki di lingkungan kumuh seperti itu. Tidak. Itu tidak akan pernah terjadi.'
Namun kini Joko seperti menelan kembali ludahnya yang telah jatuh ke tanah.
Kemudian Betty bicara pada kerumunan itu agar mereka segera bubar. "Jadi, karena sekarang masalahnya sudah jelas, ibu-ibu semua bisa bubar. Dia Joko teman kami."
"Yah sudah. Untung kalian cepat datang, kalau tidak, dia mungkin sudah dihajar." Balas salah satu ibu.
Joko akhirnya merasa lega setelah kerumunan ibu-ibu itu bubar, dan dia merasa berhutang budi pada mereka. Namun mereka masih bingung apa motif Joko datang ke rumah Tuti.
Sementara itu, Tuti dan ibunya belum juga bangun. Sehingga Linda, Betty, Siti dan Joko menunggu di luar sampai pintu istana dibuka.
Selama itu mereka berkali-kali bertanya apa motif Joko datang kesana. Namun meski penjelasan diberikan berkali-kali, tetap saja mereka sulit untuk percaya.
"Jadi apa motifmu datang kemari? Tanya Siti.
"Iya apa? Cepat kasih tahu! Desak Linda.
Tapi bibirya berat untuk menjawabnya. Kalaupun dijawab, mereka tidak percaya.
"Aku datang kemari, karena ingin berteman lebih dekat dengannya. Itu aja." Ujar Joko.
"Bohong! Kamu pasti punya maksud terselubung yang jahat." Jawab Betty.
"Tidak ada. Aku serius hanya ingin berteman."
__ADS_1
"Ah! Kami tidak percaya!" Sambung Siti.
Dan mereka terus berdebat sampai akhirnya ayahnya Tuti pulang. Dia kaget melihat mereka berdiri di luar seperti security.