Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 10


__ADS_3

Pagi harinya aku sudah bangun, mendapati kehadiran Bara yang berada disampingku. Aku menatap wajah tampan itu, jariku menelusuri bibirnya yang selalu membuatku tergoda melihatnya. Dasar nakal kau Chika!


Mencintai Bara itu membuatku hilang akal, terkadang aku benar-benar ingin melakukan hal aneh padanya. Tapi, aku berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikannya. Mengendalikan setiap keinginan aneh yang menyerang dihatiku.


Bara membuka matanya, melihatku yang sedang memainkan bibir manisnya. Seketika aku melepaskan jariku, menyadari bahwa laki-laki itu sudah bangun. Aku benar-benar kaget, untung saja aku tidak pernah punya riwayat penyakit jantung. Kalau punya, bisa langsung pingsan saat itu!


Aku buru-buru bangun, berdiri menjauh dari Bara yang masih berbaring. Melihat tak ada reaksi dari Bara, akupun menoleh kearahnya.


Dia menatapku sambil tersenyum. Aduh.. Ini masih pagi Bara, jangan kau goda aku dengan senyummu itu!


"Kenapa? Apa yang tadi kau lakukan?" tanya Bara diiringi senyum.


"Apa? Memangnya aku melakukan apa?" tanyaku pura-pura tidak tahu.


"Dasar nakal!" tawa Bara masih menatapku dari tempat tidur.


Aku tertawa keras dalam hati, namun wajahku menyembunyikan tawa itu. Aku berjalan keluar kamar, lagi-lagi Bara memanggilku.


"Mau pergi kemana?" tanyanya sambil duduk ditepi tempat tidur.


"Keluar," ucapku singkat.


"Jawab dulu pertanyaanku, apa yang tadi kau lakukan saat aku tidur?" Bara menarik tanganku masuk kembali kedalam kamar.


"Aku tidak melakukan apa-apa," kataku dengan wajah meyakinkan.


"Sungguh?" Bara mulai memeluk tubuhku.


"Jangan, ini sudah siang!" kataku saat Bara menciumi leherku.


Bara tertawa keras, aku cukup kaget mendengar tawanya itu. Dia mendekatkan bibirnya di wajahku, jelas dia sengaja melakukannya karena tahu obsesi ku yang besar pada bibir merah miliknya itu.


"Kalau kau mau, kau boleh menciumnya!"


Deg!


Aku sepertinya benar-benar kena serangan jantung saat ini, kok bisa-bisanya dia mengatakan hal itu padaku. Aku benar-benar malu karena tertangkap basah melakukan hal nakal pada Bara. Aku mau cari tempat, untuk menyembunyikan rasa malu ku!


"Kenapa diam! Ayo, lakukan lagi hal yang tadi kau lakukan saat aku tidur," ucapnya sambil menarik tanganku untuk menyentuh bibirnya.


"Jangan begini, aku tidak bisa mengendalikan hatiku nanti." gumam ku yang terdengar ditelinga Bara.


"Dengarkan aku, kau itu istriku! Jadi kaulah pemilik semua yang ada di diriku, termasuk bibirku yang sangat menawan ini," tawanya.


Bara benar-benar menyodorkan bibirnya kehadapan ku, bibir merah yang selalu bikin aku takut melihatnya. Haha.. Takutnya pakai kutip ya!


"Kau mau apa?" bisikku.

__ADS_1


"Kau yang mau melakukan apa dengan bibirku tadi?"


Jelas, pertanyaan Bara benar-benar membuatku bingung menjawabnya. Apa laki-laki ini tidak tahu, deru jantungku tak terkendali saat ini karena ulahnya.


Bara mencium bibirku, memainkan lidahnya lembut dimulut ku. Aku terhanyut, rasanya aku benar-benar hilang kendali, membalas semua permainan Bara dibibir ku.


"Tok.. Tok.. Tok.."


Suara ketukan pintu menghentikan aksi kami, aku melepaskan ciuman itu. Seketika aku dan Bara saling menatap diiringi senyum, kenapa dengan kami? Seperti anak SMA yang baru mulai pacaran saja!


Aku membuka pintu itu, kutatap Cindy adik Bara yang mengetuk pintu. Dia tersenyum menatap kearah ku, lalu matanya mencari keberadaan Kakaknya didalam kamar.


"Kakak ipar, ini sudah siang! Apa Kakakku tidak berangkat ke kantor hari ini?" tanya Cindy sambil tersenyum.


"Ada didalam, masuk saja!"


Cindy masuk kedalam kamar, lalu memeluk tubuh Bara yang sedang memainkan ponselnya.


"Kak Bara, ayo berangkat!" rengek Cindy.


"Berangkat kemana?" tanya Bara masih memainkan ponselnya.


"Ke sekolahku, memang mau kemana lagi?" ucap Cindy.


"Kau bisa minta antar supir!"


"Minta antar dengan Kak Ardi," teriak Bara masih sibuk dengan ponselnya.


"Kak Ardi? Kau bercanda? Sejak kau menikahi Kakak ipar, dia sudah jarang pulang ke rumah ini. Entah dimana dia tinggal sekarang!" ucap Cindy.


"Tapi aku sering melihatnya berkeliaran di rumah ini, bahkan memasuki kamarku." ucap Bara.


"Yang benar Kak? Aku tidak pernah melihatnya! Mungkin dia ingin menemui Kakak Ipar, biar bagaimanapun istrimu itu mantan pacarnya Kak Ardi kan!" tawa Cindy.


Bara mengalihkan pandangannya dari ponsel, menatap tajam kearah adiknya itu. Cindy yang melihat reaksi wajah Kakaknya, langsung berjalan keluar kamar.


"Aku tidak usah diantar, aku mau naik taksi saja!" ucap Cindy sambil berlari meninggalkan kami.


Aku berjalan pelan, mengambil handuk yang tergantung lalu kuberikan pada Bara.


"Mandi Mas, ini sudah siang! Kau tidak ke kantor?" tanyaku.


Bara tersenyum sambil mengambil handuk di tanganku, lalu berjalan menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Bara memakai pakaian kantor yang sudah ku siapkan.


Mataku tak henti menatap kearahnya, rasanya berat sekali hati ini membiarkan Bara pergi ke kantor. Mulai deh, hatiku ini!

__ADS_1


Bara mendekat kearah ku, sorot matanya membuatku semakin berat merelakan dia pergi. Padahal cuma ke kantor, tapi hatiku berat ditinggalkan Bara walau cuma sebentar.


"Kau mau langsung mandi, atau mau menemaniku sarapan?" tanyanya.


"Aku mau langsung mandi, tidak apa kan?" ucapku.


"Iya sayang. Nanti siang kau ke kantorku ya, aku ingin dibuatkan masakan rumah olehmu. Cindy bilang kau jago masak, aku mau coba masakan mu!" pintanya sambil mencubit pipiku.


"Ke kantormu? Tidak mau!" tolak ku.


Aku mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu saat Raina memakiku dengan sebutan wanita murahan. Rasa kesal dan marah itu masih tersimpan dihatiku sampai saat ini.


"Kenapa? Kau tidak merindukan ku?" ucap Bara terlihat kecewa.


"Bukan begitu. Aku malu jika harus bolak-balik ke kantormu terus. Apa kata karyawan mu nanti melihat itu?" jawabku.


"Kenapa perduli dengan ucapan para karyawan? Kau istriku sayang, jadi kau bebas melakukan apapun padaku." ucap Bara.


"Aku mohon!!" pintanya lagi.


Aku mengangguk pelan, lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi. Selesai mandi dan ganti pakaian, aku duduk ditepi tempat tidur sambil mengeringkan rambutku dengan hairdryer. Aku menatap kearah meja disamping tempat tidur, ada beberapa tangkai bunga mawar. Aku mengambil bunga itu, aku membaca sepucuk surat disana.


"Untuk istri kesayangan ku, Chika!"


Jelas, bunga ini Bara yang memberikannya untukku. Bagaimana bisa dia seromantis ini? Belajar dari mana dia? Hatiku berbunga menerima semua sikap romantisnya, terimakasih suamiku!


Aku keluar dari kamar berjalan menuju meja makan. Perutku sudah lapar, rasanya baru ingat makan saat Bara berangkat ke kantor. Aku mengambil roti tawar dan selai kacang, aku mengolesi roti itu lalu memakannya.


Setelah selesai dengan urusan perutku, aku beralih menatap ruang tamu. Aku melihat Alesha sedang bermain dengan Ibu Bara karena Marcell pasti sudah berangkat sekolah. Aku menatap Ibu Bara, sosok wanita baik yang begitu perduli dengan adikku. Aku mendekat kearah mereka, lalu duduk disamping Alesha.


"Sha, kamu sedang apa?" tanyaku.


"Kak Chika dari mana saja?" ucapnya.


"Ada dikamar. Kak Chika tadi membantu Kak Bara dulu, karena Kak Bara harus berangkat ke kantor."


"Memang apa yang Kakak lakukan jika suamimu berangkat kerja?" tanya Alesha yang terlihat begitu polos dengan pertanyaannya.


"Menyiapkan air hangat untuk Kak Bara mandi, menyiapkan bajunya, sepatu dan banyak hal lain." ucapku sambil tersenyum.


"Manja sekali Kak Bara, aku saja bisa melakukan hal seperti itu sendiri," ucapnya.


Aku dan Ibu Bara tertawa mendengar ucapan Alesha yang terlihat cemburu karena aku lebih perhatian pada Bara.


Andai kau tahu Alesha, Bara itu laki-laki paling baik yang pernah kutemui. Laki-laki pemaaf, dan memberiku seluruh cintanya hanya untukku. Aku sangat beruntung dipilih menjadi istrinya, sangat beruntung.


Jejak Komen, Like atau Jempol, Vote sebanyak-banyaknya untuk dukung author.

__ADS_1


Tetap tunggu kelanjutan cerita Chika dan Bara ya! Terimakasih ❤️


__ADS_2