
Aku menatap layar ponselku, seorang wanita menangis dari dari seberang telepon. Marsya terlihat begitu prustasi, rasanya aku tidak tega menatap kesedihan diwajahnya.
"Chika... Hiks... Hiks..." Marsya menangis keras.
"Ada apa? Kenapa denganmu?"
"Aku sudah tidak sanggup menjadi istri Ardi, aku mau pisah saja!" ucapnya penuh haru.
"Ceritakan padaku, ada apa? Apa yang terjadi?"
"Aku pikir, awalnya Ardi menikahi ku karena dia mau belajar mencintaiku, tapi nyatanya tidak! Dia tidak pernah menyentuhku, dia tidak pernah menganggap ku ada, lalu untuk apa statusku sebagai istrinya? Aku tidak mau terus begini, Chika!" ucap Marsya, sambil mengusap air matanya.
"Aku mau pisah saja, aku mau pulang!" tangis Marsya.
"Maafkan aku! Andai saja, aku tidak pernah meminta kalian menikah, mungkin semua tidak akan terjadi seperti ini!"
"Bukan salahmu! Ini semua kesalahan Ardi! Awalnya aku merasa dia begitu mencintaiku, saat Ardi mengajakku untuk menemui mu, dan mencium bibirku dihadapanmu. Aku pikir dia sudah mulai melupakanmu, dan belajar untuk menerimaku. Tapi kau tahu, ternyata semua itu hanya sandiwara yang dibuat Ardi!" ucap Marsya. Air matanya kini mengalir begitu deras, aku ikut sedih melihat kondisinya sekarang, seperti orang prustasi.
"Dia cemburu pada hubunganmu dengan Bara, dia melihat tanda merah yang memenuhi lehermu waktu itu. Dia hanya ingin membuat kau cemburu, dengan mencium bibirku dihadapanmu. Bukankah dia itu sudah gila? Gila dan terobsesi dengan cintamu! Hiks... Hiks..." Marsya masih menangis, sepertinya dia trauma dengan sikap Ardi padanya.
Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus meminta Bara menjemput Marsya? Aku tidak tega melihat kondisi Marsya yang sangat memprihatikan. Aku bisa merasakan sakitnya menjadi istri yang diabaikan.
"Tenangkan dirimu! Bersabarlah dalam menghadapi sikap Ardi. Aku yakin, kau akan mendapatkan cintanya," ucapku.
"Aku sudah berusaha keras untuk mendapatkan cinta Ardi, tapi dia tidak pernah mengizinkan aku bersamanya. Dia masih terus saja hidup dalam bayangan masalalunya bersama mu, Chika!" ucap Marsya.
"Dia tidur dikamar terpisah dariku, dia bahkan tidak pernah menyentuh masakan yang ku buat untuknya dengan susah payah. Dia tidak pernah menghargai aku sedikitpun, dia terus memperlakukanku seperti ini. Yang lebih menyakitkan, ketika dia memukulku hanya karena aku tidak sengaja menjatuhkan fotomu di kamarnya. Rasanya aku sudah tidak sanggup menjadi istri Ardi, aku sudah tidak sanggup!" teriak Marsya diiringi air mata.
Saat aku dan Marsya tengah berbicara, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang di seberang telepon.
"Apa yang kau lakukan? Siapa yang kau telepon? Aku sudah memperingatkan mu, jangan pernah berani mengadu pada siapapun. Apa kau tak dengar! Wanita menjijikan, harusnya aku tidak pernah menikahi mu!" teriak seorang laki-laki yang terdengar begitu marah.
Prakkk....
Aku melihat laki-laki itu melempar ponsel Marsya, lalu sambungan telepon itu terputus. Aku hafal betul suara siapa itu! Aku yakin itu suara Ardi, tapi kenapa dia begitu kasar memperlakukan Marsya. Kenapa Ardi jadi seperti ini, bukankah dulu dia bukan laki-laki kasar? Tapi kenapa sekarang dia berubah menjadi laki-laki dengan dua kepribadian. Apa aku bisa tenang, membiarkan Marsya bersama Ardi. Apa lagi yang akan Ardi lakukan pada Marsya?
Ya Tuhan...
Lindungilah Marsya! Berikanlah sedikit rasa cinta dihati Ardi untuk Marsya. Aku ingin melihat mereka bahagia.
Aku berjalan keluar dari kamarku, namun aku masih terus memikirkan nasib Marsya disana. Aku begitu bahagia hidup bersama Bara, tapi aku mengorbankan kebahagiaan Marsya. Aku terlepas dari Ardi, tapi bagaimana dengan Marsya?
Aku duduk di sofa ruang tamu, aku masih melamun memikirkan nasib Marsya. Aku pikir setelah Ardi menikah dengan Marsya, dia bisa melupakan aku. Tapi kenapa, malah menjadi seperti ini?
Aku memijat keningku yang terasa sakit, mencoba untuk menenangkan hatiku. Sampai tiba-tiba, Susi datang dengan senyum manisnya.
"Mbak Chika, kenapa melamun? Daripada melamun, mending coba makanan yang aku bawa untuk orang ngidam!" ucap Susi sambil memberikan rujak mangga padaku.
"Ini bukan makanan, ini rujak!" tawaku.
"Iya, aku tahu Mbak! Ayo dimakan, aku spesial buatkan untuk Mbak Chika!" tawa Susi
Aku mengambil irisan mangga muda, lalu mencolek sambal yang dibuat Susi. Aku memakannya beberapa kali, sampai tak sadar aku menghabiskan setengah porsi mangga yang dibawa Susi.
__ADS_1
"Maaf Susi, aku benar-benar suka dengan rujak buatan mu! Aku sudah menghabiskan setengah rujak ini, memangnya kau tidak mau coba?" tanyaku.
"Ih... Tidak. Aku tidak ngidam! Mana sanggup aku makan mangga muda masam itu," ucap Susi.
"Ya sudah. Ini untukku ya!" tawaku sambil memakan kembali rujak itu.
Tapi Bara yang baru masuk kedalam rumah, buru-buru menarik piring berisi mangga muda itu. Aku menatap tajam pada Bara, mau apa dia? Apa dia mau melarang ku makan mangga?
"Orang ngidam memang suka makan mangga muda! Tapi tidak boleh terlalu banyak," ucap Bara.
"Kenapa memangnya?" tanyaku kesal.
"Aku tidak ingin anakku sakit perut karena Ibunya makan banyak sambal dan mangga masam," ucap Bara.
"Huh... Padahal kan aku suka!" ucapku ngambek.
"Susi, terimakasih untuk mangga nya ya! Tapi lain kali, beri sedikit saja untuk Chika," ucap Bara.
"Iya. Hahaha..." Susi tertawa menatap Bara, ada apa?
"Kenapa kau tertawa?" tanya Bara.
"Tidak, aku hanya ingin tahu, makhluk apa yang sudah menggigit lehermu Pak Bara?" tawa Susi.
Aku mengusap wajahku, prustasi dengan pertanyaan yang diajukan Susi pada Bara. Apa Bara akan memberi tahu semuanya pada Susi?
"Kau lihat juga ya! Bagaimana menurutmu, hasil mahakarya buatan istriku?" Bara bicara seolah telah kehilangan rasa malunya. Ingin rasanya, aku membungkam mulutnya agar tidak bicara macam-macam pada Susi.
"Hah... Kalian berdua sudah tidak waras!" teriakku kesal.
"Harus jadi gosip penomenal untuk para warga ya! Katakan pada mereka, istriku ini bisa membuat corak cinta dileher suaminya," tawa Bara.
"Tentu, aku yakin gosip ini bukan bisa langsung tersebar di seluruh desa!" tawa Susi.
"Kau tahu sayang? Tadi waktu aku meeting, klien ku juga mempertanyakan tentang hasil karya buatanmu ini!" ucap Bara.
"Lalu?"
"Dia ingin mengenal istriku yang pandai membuat corak cinta ini! Aku memamerkannya dengan rasa bangga," tawa Bara.
"Harusnya Pak Bara ajak Mbak Chika pergi ke tempat mu meeting, pasti jadi tranding topik," tawa Susi.
"Hah... Aku bisa gila dengan semua ucapan kalian! Susi, lebih baik kau pulang dulu," teriakku kesal.
Bara dan Susi malah tertawa keras, mereka benar-benar puas menatap kekesalan di wajahku.
"Ya sudah, aku pamit Mbak! Buat lagi tanda merah yang lebih banyak dileher Pak Bara," tawa Susi sambil berjalan keluar dari rumah kami.
"Apa kau puas, suami tampanku?" ucapku kesal.
"Sangat..." tawa Bara.
"Ini pesanan mu! Kelapa muda, habiskan ya! Aku ingin mandi lagi, kau mau temani aku berendam?" tanya Bara sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mau! Aku mau minum kelapa muda yang kau bawa," ucapku sambil berjalan ke dapur untuk menuangkan air kelapa muda itu kedalam gelas.
Setelah selesai menghabiskan kelapa muda yang dibawa Bara, aku menatap Ibu ada di kamarnya. Dia menatap sebuah foto, itu foto Ayah Arman. Ada apa dengan mereka? Apa mereka bertengkar?
Aku menatap air mata terjatuh di pipi Ibu Bara, lalu terlihat dia menyekat air mata itu. Ada kesedihan yang terpancar diwajahnya. Aku yakin, ini pasti berkaitan dengan masalah Ardi. Tapi apa?
"Aku ini hanya ingin yang terbaik untuk anak-anakku! Tapi kenapa, aku selalu salah di matamu!" ucap Ibu masih menangis.
"Aku tidak pernah membedakan kasih sayang antara anakku Bara, dengan anak kita Ardi. Tapi sepertinya, kau yang mulai berubah! Kau membuatku harus meninggalkan mu, kau meminta suatu permintaan yang tidak mungkin ku lakukan!" tangisnya.
Aku belum memahami apa yang dimaksud Ibu, tapi aku yakin Ibu pasti sedang bertengkar dengan Ayah Arman. Aku berjalan masuk kedalam kamar, menatap Bara yang baru selesai mandi.
Bara memakai bajunya lalu menghampiriku yang sedang asyik menatapnya.
"Pakaikan aku baju!" ucap Bara.
"Tidak. Pakai sendiri!"
"Jangan melawanku, aku ini suamimu, sayang!" ucap Bara sambil tersenyum.
"Tidak," tawaku geli, mendengar permintaan Bara yang membuatku malu setengah mati.
"Kenapa? Apa kau tidak mencintai aku! Jangan tertawa, aku bisa menggigit bibirmu," tawa Bara sambil melingkarkan tangannya keleher.
"Kau benar-benar membuatku hilang kendali, Chika! Jangan salahkan aku, jika aku melakukan itu lagi padamu!" tawa Bara.
Aku menepis tangan Bara, lalu mundur beberapa langkah kebelakang. Aku menatap tajam pada laki-laki tampan dihadapanku itu. Yang masih bertelanjang dada, dengan selilit handuk di pinggangnya.
"Kenapa istriku tercinta?" tawa Bara.
"Sudah... Aku tidak mau!" bisikku pelan.
"Tapi aku mau..." tawa Bara.
"Apa kau akan terus meminta hal itu padaku? Kasihanilah istrimu ini," ucapku sambil menahan tawa.
"Baiklah, kau menang sayang! Sekarang ganti bajumu, ikut denganku! Aku ingin membawamu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Aku tidak akan memberi tahukan padamu! Bersiaplah untuk kencan bersama denganku!" tawa Bara.
Aku tidak tahu, apa yang direncanakan suamiku saat ini? Apa dia akan memberikan kejutan lagi untukku? Atau ada hal lain? Aku benar-benar penasaran dibuatnya.
Aku mengganti bajuku, bersiap untuk pergi bersama Bara. Aku berjalan keluar kamar, lalu mendekat kearah mobil Bara yang sudah siap berangkat.
Sepanjang perjalanan Bara hanya diam, namun senyum diwajahnya memancarkan kebahagiaan. Sesekali mata nakal itu menatap kearah ku. Huh... Benar-benar tampan sekali dia!
Kemana Bara ajak Chika pergi? Tetap tunggu lanjutan cerita Chika dan Bara ya Kak.
Terimakasih untuk dukungannya.💕💕
__ADS_1