Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 18


__ADS_3

Siang harinya setelah selesai mandi, Bara memberikan sebuah gaun cantik berwarna cokelat. Dia menatap kearah ku dengan senyum yang menggoda.


"Sayang, pakai baju ini! Aku mau mengajakmu jalan-jalan," ucapnya sambil menyerahkan baju ditangannya kepadaku.


"Mau kemana Mas?" tanyaku penasaran.


"Rahasia. Ikut denganku, dan kau akan tahu," bisik Bara.


Aku tak bertanya lagi, aku masuk kamar mandi dan mengganti bajuku dengan baju yang diberikan Bara. Aku keluar kamar, menatap diriku dari sebuah cermin. Menatap kagum pada diriku sendiri. Betapa cantiknya aku memakai baju ini.


Aku mulai merias wajahku, dan menata rambutku agak bergelombang. Aku memakai lipstik baru yang dibeli Bara untukku. Haha.. Iya lipstik! Bahkan Bara membelikan aku lipstik yang sesuai dengan warna bibirku. Terlihat natural dan tidak menor, membuat aku tampil cantik alami.


Saat sedang asyik menatap diriku di cermin, tiba-tiba Bara masuk dengan senyum menggoda.


"Sudah cantik sayang. Mau sampai kapan kau berdandan?" tawanya sambil memeluk tubuhku dari belakang.


Tiba-tiba saja hatiku bergetar, degup jantungku tak terkendali, aku merasa tidak kuasa menahan keinginan hatiku. Bara mencium pipiku, mengusap wajahku dengan jari-jarinya. Hembusan nafasnya, bahkan detak jantungnya, begitu terasa.


"Kenapa kau cantik seperti ini sayang? Aku tidak rela kalau kau keluar rumah dengan penampilan secantik ini. Aku tidak suka jika laki-laki lain menatap wajahmu. Kau itu istriku, dan hanya aku yang boleh menatap wajah cantikmu," ucap Bara diiringi senyum.


"Raina pernah bilang kalau penampilanku kampungan. Makanya aku takut membuatmu malu!" ucap ku.


"Siapa yang bilang? Raina? Apa kau harus mendengarkan ocehannya? Dia itu memang seperti itu, suka berbicara yang tidak-tidak. Jadi tidak usah kau hiraukan ya! Kalau bukan karena permintaan Kakekku, dari dulu dia sudah aku pecat."


" Kenapa memangnya dengan dia?"


"Dia suka menggangguku, sudahlah aku malas membicarakannya!" Seketika wajah Bara berubah kesal.


"Mungkin dia menyukaimu Mas."


"Kau bercanda?" Bara menarik tanganku mengarah ke wajahnya.


"Tidak. Aku lihat sepertinya begitu!"


"Aku hanya mencintaimu, hanya akan mencintaimu." Bara kesal.


"Kenapa kau harus marah? Aku hanya bercanda!" tawaku


"Jangan main-main dengan perasaanku, kau tidak akan tahu seperti apa aku jika sedang marah. Kalau itu sampai terjadi, mungkin kau akan terkejut", ucap Bara.


"Aku jadi mau tahu, seperti apa kau marah", ucapku sambil menatap wajah Bara.


"Seperti ini." Tiba-tiba Bara menjatuhkan tubuhku ke atas tempat tidur.


Bara menciumi leherku tak terkendali, dan terjadi lagi. Sentuhan demi sentuhan lembut jari jemari Bara menyelusuri seluruh tubuhku. Aku tidak kuasa melawan, aku hanya bisa mencoba menikmati serangan demi serangan yang dilakukan Bara padaku.


"Sakit.." bisikku.


Tiba-tiba Bara menghentikan aksinya, mengusap air mata yang jatuh dipeluk mataku.


"Maaf." ucap Bara sambil menghentikan permainannya.

__ADS_1


"Lanjutkan saja. Aku tidak mau membuatmu kecewa", ucapku pada Bara.


Mendengar ucapan dari bibir ku, Bara tersenyum dan kembali mendekatiku. Kini permainan lebih lembut dari sebelumnya, aku lebih merasakan kenyamanan itu kali ini. Sampai desahan terakhir dari bibir Bara mengakhiri semua permainannya.


Bara kembali berbaring untuk kedua kalinya, aku merasa begitu lelah membayangkan dua kali melakukan itu dengan Bara.


"Sudah. Aku sakit!" ucapku pelan.


Bara mengangguk sambil mencium keningku, sampai tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


"Tok.. Tok..Tok.."


"Kak Bara, katanya kita mau jalan-jalan. Ayo Kak, aku dan Marcell sudah siap!" teriak Alesha dari balik pintu.


Aku dan Bara kaget, menatap keadaan kami yang sedang tidak pakai busana. Aku dan Bara saling menatap, bingung mau bicara apa! Bagaimana jika nanti Alesha memaksa masuk? Apa yang akan dilihatnya?


Aku dan Bara berlari masuk kedalam kamar mandi, sengaja tidak menjawab teriakan Alesha.


"Mas, biar aku yang mandi duluan."


"Kita mandi sama-sama saja!"


"Tidak. Mas keluar sebentar!"


"Tidak mau! Kita sudah sama-sama tidak pakai baju, kenapa harus malu? Sudahlah, ayo kita mandi!" Bara menarik tanganku dibawah shower.


Aku dan Bara mandi bersama, dia mengarahkan wajahku kearah wajahnya. Dibawah derasnya air shower kami saling menatap, entah apa yang sedang kami pikirkan saat itu. Rasa yang begitu tenang, merasakan kenyamanan, dan kami bahagia.


Bibir itu kembali aku sentuh, karena selalu saja memaksaku untuk melakukannya. Aku benar-benar terobsesi dengan bibir Bara, yang begitu menggairahkan. Aku mencium bibir itu, bibir Bara yang selalu membuatku hilang kendali. Aku sudah lupa dengan yang namanya malu, jika sudah menyentuh bibir eksotis itu.


"Kak, jadi tidak? Aku pegal menunggu dari tadi", teriak Alesha.


Aku buru-buru mengambil handuk, tapi Bara menarik tanganku. Aku menatap kearah wajah Bara, terlihat wajahnya enggan menyudahi semuanya.


"Aku masih mau kau mencium ku sayang!"


"Tapi Alesha ada diluar!"


"Biarkan. Aku mau sebentar lagi saja, cium aku!"


Bara terlihat memejamkan matanya, dia menunggu aku mencium bibirnya duluan. Aku yang sangat menggilai bibir suamiku tentu sangat senang dengan tugasku kali ini. Aduh Chika, kamu itu loh!


Aku terus menyusuri rongga mulut Bara, mengigit lembut bibir itu berkali-kali. Aku benar-benar gemas dengan bibir suamiku, rasanya aku ingin melum*t habis bibir pria dihadapanku ini.


"Sudah ya!" Aku melepaskan bibirku dari bibir Bara.


"Iya sayang!" ucap Bara sambil tersenyum.


Aku memakai baju baru dari lemari, lalu berjalan kearah pintu kamar. Aku menatap Alesha dengan wajah kesal menatap balik kearah ku.


"Kak Chika dan Kak Bara sedang apa didalam? Kenapa lama sekali buka pintunya?" teriak Alesha kesal.

__ADS_1


"Maaf ya!" ucapku sambil mengusap wajah Adikku.


"Ayo berangkat sekarang Kak, nanti keburu hujan!" rengek Alesha.


"Sebentar sayang. Tunggu Kak Bara dulu ya!" ucapku sambil tersenyum.


Tak lama Bara keluar dari kamar, dia langsung menggendong Alesha. Terlihat adikku begitu kesal menatap wajahnya.


"Kenapa wajahmu jadi jelek", canda Bara.


"Aku kesal menunggumu dan Kak Chika!"


"Maaf sayang! Kak Bara janji, nanti kita beli ice cream disana, sepuasnya!" senyum Bara.


"Sepuasnya?"


"Heeh.."


"Sungguh?"


"Apapun agar kau tak marah lagi!" tawa Bara.


"Ayo berangkat sekarang!"


Bara berjalan pelan masih menggendong Alesha, satu tangannya menggenggam erat tanganku. Berkali-kali mata Bara menoleh kearah ku, sudahlah suamiku jangan mulai lagi!


Aku, Bara, Marcell dan Alesha masuk kedalam mobil Bara. Kami tidak tahu kemana Bara akan mengajak kami jalan-jalan. Perjalanan cukup panjang, kira-kira sekitar satu jam. Mobil Bara berhenti disebuah arena bermain anak, terlihat Marcell dan Alesha begitu senang.


"Aku mau main sekarang Kak!" teriak Alesha.


"Siap. Kalian boleh naik semua permainan disini sampai kalian puas!" ucap Bara.


"Yey.." teriak mereka berdua serempak.


"Aku mau mulai main Kak", pinta Alesha.


"Mau main apa?" tanyaku.


"Aku mau naik komedi putar Kak, temani aku!" rengek Alesha.


Ini adalah kali pertama Alesha diajak ke arena bermain anak, dari kecil Ibu tiriku tidak pernah mengizinkan Alesha keluar dari rumah. Aku hanya bisa tersenyum sambil menuntun Alesha dan Marcell. Aku ikut naik karena mereka memaksa dan merengek padaku. Sementara Bara, dia asyik mengambil foto-foto kami seperti seorang fotografer.


Semua permainan dicoba satu persatu oleh Alesha dan Marcell sampai aku menyerah dan duduk disamping Bara.


"Gantian! Aku sudah tidak sanggup naik wahana-wahana itu", ucapku.


Bara tertawa sambil memberikan air mineral padaku. Marcell dan Alesha terus berteriak minta ditemani. Sekarang gantian, aku yang jadi fotografer untuk mereka. Aku mengambil beberapa foto, sambil melambaikan tangan kearah mereka.


Hari ini kami bersenang-senang disini, membiarkan Marcell dan Alesha puas bermain.


Tetap beri dukungan Kak,

__ADS_1


Like dan Votenya masih aku tunggu selalu.


Terimakasih.


__ADS_2