Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 67


__ADS_3

Bara masih bermanja-manja denganku, senyumnya terukir indah dibibirnya. Dia menyandarkan kepalanya dipundak ku, sambil menoleh kearah ku.


"Aku ingin selamanya seperti ini bersamamu. Apa permintaan itu bisa kau kabulkan?" ucap Bara.


"Tentu saja. Kau harus terus bersamaku! Kita jaga anak kita bersama-sama, hingga mereka dewasa kelak!" tawaku.


"Apa makanan yang diberikan Ibumu saat kau lahir?"


"Memangnya kenapa?"


"Karena kau manis, tidak ada yang buruk dari dirimu. Kau sempurna, kau cantik, baik, dan kau milikku!" bisik Bara tepat di pipiku.


"Kau juga tampan, baik, sabar hanya..."


"Hanya apa?"


"Sedikit nakal!" bisikku yang membuat Bara tertawa girang.


"Seperti apa nakalnya seorang Bara? Coba kau berikan contoh!" ucap Bara, tangan Bara memainkan ujung rambutku.


"Tidak. Aku tahu ini jebakan! Kau selalu begitu, Mas!"


Bara kembali tertawa, wajah tampan yang membuat wanita tertarik menatapnya. Bahkan aku saja yang hampir setiap hari bertemu, selalu saja merindukannya.


"Kita pulang!" ucap Bara.


"Kau mau kembali kekantor?"


"Tidak. Aku hanya ingin lebih leluasa menggerayangi tubuhmu," tawa Bara.


"Huh..." ucapku kesal sambil memanyunkan bibirku.


"Apa arti bibirmu yang manyun seperti itu? Apa kau ingin aku melakukan hal itu disini? Ayo, aku siap!" tawa Bara.


"Hah... Ternyata kau benar-benar sudah hilang akal. Kau mau melakukan apa disini?"


"Menggigitmu! Memangnya mau apa? Atau mau yang lebih dari gigitan cinta?" tawa Bara.


Bara mendekatkan bibirnya kearah wajahku, sontak aku mendorongnya lembut. Aku menarik tangan Bara, berjalan keluar dari tempat itu menuju parkiran mobilnya.


"Mau kemana?" tanya Bara.


"Pulang!"


"Apa istriku ini sudah tidak kuat menahan keinginannya untuk bercinta denganku."


Aku menatap wajah Bara, tawa tampannya masih terpancar jelas diwajahnya.


"Kenapa? Kau menatapku seperti ingin memakan ku saja!"


"Aku memang ingin sekali memakan mu!"


"Jangan disini! Disini banyak orang yang akan melihat kita!" ucap Bara sambil memeluk tubuhku.

__ADS_1


"Huh... Mas, sepertinya kau sudah tidak waras! Siapa yang mengajarkan mu jadi seperti ini?"


"Cintaku padamu! Dia yang mengajariku segila ini mencintaimu," tawa Bara.


"Manisnya, suamiku ini!" ucapku sambil mencubit pipi Bara.


"Sekarang, kita pulang!" ucapku lagi.


Tiba-tiba Bara masuk kedalam mobilnya, lalu mengambil bunga dan coklat. Dia tersenyum menatapku, lalu memberikan hadiah itu padaku.


"Hadiah untuk istriku tercinta. Terimakasih, karena kau masih setia bersamaku sampai saat ini," ucap Bara sambil mencium keningku.


Ada senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajahku dan wajah Bara. Bara mengusap lembut wajahku, menatapku dengan tatapan takjubnya.


Hati wanita mana yang tidak meleleh mendapatkan jutaan perhatian dari seorang suami seperti Bara.


"Terimakasih, untuk semua rasa cintamu untukku," ucapku sambil tersenyum menatap kearah Bara.


Bara mengangguk lalu kembali memelukku erat. Mata kami saling beradu, memancarkan kilau cinta dan gelora cinta yang kami rasakan.


"Ayo pulang!" ucap Bara sambil membukakan pintu mobil untukku.


Sepanjang perjalanan aku masih merasa bahagia dengan cinta Bara padaku. Sosok sempurna yang kini mendampingiku, dan menjadi bagian di hidupku.


Bara masih pokus mengemudi, walau terkadang menoleh kearah ku dengan senyum manisnya. Ingin rasanya aku menggigit bibir manis suamiku itu! Huh... Bibir itu selalu membuatku ingin menciumnya.


Tak lama, mobil Bara berhenti didepan rumah kami. Bara terkejut menatap Naina ada didalam rumah. Ternyata wanita itu masih menunggu, mau apa dia?


Bara langsung masuk kedalam kamar, berusaha untuk menghindari Naina. Namun wanita itu tidak menyerah, dia mengejar Bara, lalu menggenggam tangan Bara. Wanita menyebalkan!


"Apalagi yang harus ku jelaskan padamu? Aku ini sudah menikah, istriku sedang mengandung anakku. Dan aku minta padamu, berhenti menggangguku!" ucap Bara.


"Tidak. Aku akan terus mengganggumu! Aku akan terus mengejar mu! Aku cinta padamu, Bara!" teriak Naina masih menangis.


Bara diam, menahan amarah yang bergejolak dihatinya. Wanita macam apa Naina ini? Sudah diusir masih tetap saja bertahan. Masalahnya adalah, dia mempertahankan cinta yang salah. Bara itu suamiku, aku tidak ingin ada wanita itu diantara kami.


"Sebentar lagi aku akan mati! Aku mohon, beri aku kesempatan untuk bisa bersamamu, memelukmu, setelah itu aku akan pergi dengan tenang!" ucap Naina menangis keras.


Bara menatap tajam kearah Naina, rasa kesal tak mampu lagi dia bendung.


"Kau mau apa lagi dariku? Kemarin kau minta aku menemanimu dirumah sakit, aku sudah lakukan. Apa kau tidak tahu, kalau kehadiranmu selama ini, begitu menyesakkan untukku. Kau telah membuatku mengabaikan istri dan calon anakku. Aku mohon mengertilah! Pergi dari hidupku," ucap Bara kesal.


Naina kembali menangis, seperti wanita yang kehilangan harga diri, dia terus memohon dan meminta pada Bara, agar Bara mau memeluknya untuk yang terakhir kalinya.


Aku menatap wajah Bara yang terlihat iba pada wanita itu. Aku memberikan isyarat pada Bara, untuk melakukan keinginan terakhir Naina. Awas saja, jika setelah memeluk Bara, dia belum juga mati!


Naina menatap kearah jendela, air matanya masih terus mengalir. Bara mendekat kearah Naina. Lalu memeluk Naina dari belakang untuk mengabulkan permintaan terakhir wanita itu.



"Aku mohon setelah ini, jangan pernah lagi mengganggu hidupku dan keluargaku. Aku ini sudah menikah dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah. Aku tidak ingin menyakitimu. Tapi rasa cintamu salah, kau mengharapkan aku yang sama sekali tidak mencintaimu." Bara lalu melepaskan pelukannya, berjalan mendekat kearah ku.


Naina menangis, lalu tiba-tiba saja pingsan dihadapan aku dan Bara. Aku meminta bantuan warga untuk membawa Naina ke dalam mobil milik Bara. Aku dan Bara membawa Naina ke rumah sakit.

__ADS_1


Sampai dirumah sakit, aku dan Bara diminta menunggu diruang tunggu. Aku menatap wajah Bara yang tersenyum menatap kearah ku.


"Tenangkan dirimu!" ucap Bara sambil mendekap ku.


"Apa dia akan baik-baik saja?" tanyaku khawatir.


"Apapun yang terjadi, itu sudah menjadi takdir Naina!"


"Tapi aku takut!"


"Apa yang kau takutkan? Ada aku yang akan selalu ada disamping mu!" ucap Bara sambil mengusap kepalaku, lalu mencium keningku.


Dokter dan beberapa perawat masuk kedalam ruangan Naina. Suasana mencekam, malam yang dingin berubah menjadi begitu menakutkan. Aku memeluk tubuh Bara, menghilangkan rasa dingin yang menusuk tubuhku.


Bara tersenyum, lalu membuka jas kantornya untuk diberikan padaku. Bara memakaikan jas kantornya untuk menutupi tubuhku yang kedinginan.


"Apa masih dingin?" tanya Bara.


"Heeh."


"Apa aku harus mencium mu agar tubuh kita menjadi hangat," bisik Bara sambil tertawa.


"Huh... Itu mau mu!"


"Sini biar ku peluk!" ucap Bara sambil mendekatkan tubuhku kedalam pelukannya. Bara memelukku dari belakang, lalu mencium lekuk leherku, menciumi wangi harum tubuhku.


Bara menaruh dagunya dipundak ku, ada rasa hangat yang tiba-tiba saja muncul diantara kami. Hembusan nafas Bara begitu terasa, membuatku terpejam sesaat.


"Aku mencintaimu! Tetaplah bersamaku selamanya. Jangan pernah pergi dariku, karena aku tidak bisa hidup tanpamu!" bisik Bara.


"Aku juga mencintaimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan mengkhianati cinta kita!" ucapku begitu bahagia.


Waktu terus berjalan, sudah dua hari Naina koma dirumah sakit. Aku dan Bara bergantian menjaga Naina, walaupun sebenarnya aku sangat membenci wanita itu. Sayangnya, hatiku tetap merasa iba dengan keadaannya saat ini.


Hidup Naina hanya bergantung pada alat bantu yang terpasang ditubuhnya. Dia masih bernafas, namun dokter bilang sudah tidak ada harapan. Naina tidak dapat disembuhkan.


Hingga Dokter keluar dari ruangan Naina, wajahnya pucat menatap kearah ku.


"Maaf Nona! Pasien sudah meninggal!" ucap sang Dokter, lalu berjalan meninggalkan aku.


Bara yang baru datang panik, menatapku yang sedang menangis.


"Kenapa? Ada apa sayang?" tanya Bara sambil memelukku.


"Naina sudah meninggal!" ucapku sedih.


"Sudahlah, ini sudah menjadi takdir Naina! Ayo kita pulang! Biar pemakaman Naina diurus oleh pihak rumah sakit!" ucap Bara sambil menuntunku keluar dari rumah sakit.


Terkadang cinta membutakan mata, hati dan pikiran kita.


Namun, jangan pernah memaksa sesuatu yang memang bukan milik kita.


Sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik.

__ADS_1


Belajarlah untuk mengikhlaskan orang yang kita cintai bersama cintanya...


Vote dong Kakak reader dan Author-Author kece, beri dukungan untuk Chika dan Bara, please! Aku sengaja double Up hari ini, untuk para pembaca setia " Terpaksa Menikahi Pacar Kakakku". Love you para pembaca budiman. Terimakasih.💕💕


__ADS_2