
Setelah air mata kami selang beradu, Bara menatapku sambil menunjuk langit. Mungkin kode itu yang dia gunakan. Tiba-tiba terlihat pancaran kembang api di atas langit. Pancaran indah, begitu terang menerangi langit gelap.
Aku menatap takjub kearah langit, melihat pancaran kembang api yang saling menyambut. Bara benar-benar membuat suasana semakin romantis.
"Bagaimana? Kau suka?" tanya Bara sambil memeluk tubuhku.
"Iya. Tentu!" ucapku tanpa menoleh kearah Bara.
"Setelah anak kita lahir nanti, maka lengkaplah sudah kebahagiaan kita. Terimakasih, sudah membawa kebahagiaan untuk hidupku," ucap Bara sambil mencium keningku.
Aku hanya tersenyum, lalu memeluk lembut tubuh Bara. Aku merasa kenyamanan saat berada bersamanya. Aku sangat mencintaimu, suamiku!
Waktu terus berlalu, tak lama Bara mengajak aku pulang, karena hari mulai larut. Aku sangat mengantuk, hingga aku terlelap dalam tidur di mobil milik Bara.
****
Keesokan harinya aku bangun, aku sudah berada didalam kamar kami. Pasti Bara yang menggendongku masuk kedalam kamar.
Aku menatap wajah Bara yang masih terlelap dalam tidur, lalu aku beranjak dari tempat tidur. Aku mandi dan memakai pakaianku, lalu keluar dari kamar.
Aku berjalan menuju arah dapur, tapi aku menatap Ardi tidur disofa rumah tamu. Aku mendekat kearah Ardi, lalu mengambil sebuah buku yang dipeluk erat oleh Ardi.
Aku mengambil buku itu dengan sangat hati-hati, agar Ardi tidak terbangun dari tidurnya. Aku berhasil mengambil buku ditangan Ardi tapi tiba-tiba beberapa foto, terjatuh dari dalam buku itu.
Aku memunguti satu persatu foto yang berserakan dilantai, lalu menatap foto-foto itu. Ternyata foto-foto itu, foto-foto ku bersama Ardi. Kenapa dia masih menyimpan foto-foto kenangan itu?
Aku menyimpan foto-foto itu di atas meja, lalu mulai membuka buku yang ada di tanganku. Aku menatap sebuah tulisan, lalu mulai membacanya.
Bagaimana caranya, agar aku bisa mengikis kenangan tentang dia.
Hal tersulit yang tidak bisa kulakukan adalah melupakannya.
Aku selalu berusaha, dan aku terus mencoba.
Tapi aku tak berdaya, bayang-bayang masa lalu bersamanya, tidak pernah sirna.
Andai saja dia tahu, betapa pedihnya hati dan perasaaan ku.
Andai saja dia bisa merasakan, sedalam apa rasa cintaku padanya.
Mungkin dia akan tahu, seberapa besar luka yang membekas dihatiku.
Aku dan dia pernah sama-sama berjanji, untuk melalui semuanya bersama selamanya.
__ADS_1
Menikah, punya anak, tinggal bersama.
Tapi kenyataannya, begitu menyakitkan!
Aku kehilangan dia, aku kehilangan cintanya.
Dan aku tak bisa bangkit dari keterpurukan.
Mungkin hanya Tuhan, yang tahu betapa sakit hatiku merelakan dia untuk Kakakku.
Biarlah perih dan sakit mencintainya, akan aku bawa sampai aku mati.
Apa maksud kata-kata dibuku ini? Apa Ardi masih belum bisa melupakan aku? Ya Tuhan, kenapa aku sampai meneteskan air mata saat membaca buku ini? Aku benar-benar memberikan luka yang dalam untuk adik ipar ku.
Aku menyimpan buku itu di atas meja, lalu meletakkan foto-foto didalam buku itu. Aku mengusap air mataku, lalu melangkah kearah dapur.
Aku mulai membuat sarapan, namun entah kenapa, aku terus memikirkan tulisan yang dibuat Ardi. Kenapa aku tega, menari-nari bahagia di atas luka hatinya. Aku meneteskan air mata, sampai tanganku teriris pisau. Tanganku berdarah, tapi yang sakit justru hatiku. Luka ini tak sebanding dengan luka yang ku tinggalkan dihati Ardi.
Ardi mengambil air di dapur, lalu dia panik saat melihat darah yang menetes dari jari jemariku.
"Apa yang kau lakukan Kakak ipar? Kau mau melukai dirimu sendiri?" teriak Ardi panik.
Menatap kecemasan diwajahnya, sontak membuat air mataku mengalir deras. Laki-laki ini begitu perduli padaku. Tapi aku, aku bahkan tidak pernah perduli dengan luka yang kuberi dihatinya. Aku bahagia bersama Bara, tapi aku mengorbankan perasaan Ardi.
"Biar aku obati lukanya!" ucap Ardi sambil menghisap darah yang ada di luka itu.
"Apa lukanya sakit sekali, hingga membuat kau menangis sekeras itu?" tanya Ardi.
Aku menggeleng, aku masih menatap Ardi dengan air mata yang mengalir di pipiku. Melihat aku yang tidak berhenti menangis membuat Ardi semakin panik.
"Ada apa? Kenapa denganmu Kakak ipar? Apa Kak Bara menyakitimu?" tanya Ardi terlihat begitu cemas.
Aku menggeleng tanpa menjawab sepatah katapun. Air mataku tumpah ruah, mengingat betapa jahatnya aku pada laki-laki yang pernah memiliki hatiku dulu.
Ardi mengusap air mataku, matanya masih menatap penuh tanya padaku. Apa yang membuat aku menangis seperti itu!
Tiba-tiba Ardi memelukku begitu erat, aku merasakan kerinduan yang mendalam dari pelukan hangat yang diberikan Ardi.
"Apa yang membuat kau menangis?" tanyanya pelan, masih memeluk tubuhku erat.
"Kau..."
"Kenapa denganku? Apa salahku?"
__ADS_1
Tapi aku kembali diam, air mataku mengalir semakin deras. Ardi bingung, lalu melepaskan pelukannya, menatap wajahku lekat.
"Kau tahu. Melihat kau menangis, itu sama seperti menyayat hatiku. Aku tidak ingin, ada air mata yang keluar dari matamu. Aku ingin melihat kau bahagia. Berjanjilah, jangan pernah lagi menangis!" ucap Ardi.
"Berjanjilah padaku, kau akan melanjutkan hidupmu walau tanpa aku sebagai kekasih mu. Berjanjilah, kau juga harus bahagia! Aku ingin melihat kau bahagia juga," ucapku sambil menangis.
Ardi meneteskan air matanya, menatap kearah ku dengan penuh kesedihan.
"Aku akan bahagia untuk kebahagiaan mu! Aku akan melakukan apapun untuk melihat kau bahagia, meski itu harus melukai hatiku," ucapnya.
"Jangan bodoh! Kau sudah tidak punya tanggung jawab untuk hal itu. Kau hanya perlu membuka hati untuk cinta yang baru. Terimalah kehadiran Marsya di hidupmu!" ucapku.
"Kakak ipar, andai kau tahu kesalahan apa yang membuat aku membencinya. Aku bahkan belum bisa melupakan kejadian itu sampai saat ini!" ucap Ardi dengan wajah kesal.
"Marsya mencuri foto-foto mu, lalu menjualnya. Apa kau tidak bisa memaafkan kesalahannya?" tanyaku.
"Bukan itu. Ada hal lain, yang tidak bisa aku lupakan sampai detik ini," ucap Ardi.
"Apa? Katakan padaku? Aku mau tahu!" teriakku sambil memukul dada Ardi yang diam dan enggan menjawab.
Tiba-tiba Bara datang, lalu menatap kearah aku dan Ardi.
"Jangan memaksa Ardi, kenapa kau masih saja melakukan itu pada adikku! Ardi pasti punya alasan kuat, kenapa dia begitu membenci Marsya. Kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi Ardi sampai sejauh itu," ucap Bara sambil mengoles roti tawar dengan selai coklat.
"Dengar Kakak ipar! Kali ini aku tidak berpihak padamu. Aku setuju dengan ucapan Kakakku. Kau terlalu jauh ingin tahu masalah pribadiku," tawa Ardi.
Aku diam, menatap kearah mereka berdua. Kenapa mereka kompak dengan hal semacam ini? Huh... Aku jadi tidak tahu alasan Ardi membenci Marsya karena kehadiran Bara tadi.
Aku membawa hasil masakan ku kearah meja makan. Bara dan Ardi membantu membawa sisanya. Ardi dan Bara duduk di kursi meja makan, lalu saling menatap.
"Kak... Apa kau tidak kasihan dengan istrimu? Dia sedang hamil, tapi mengerjakan semuanya sendiri. Carikan dia Asisten Rumah Tangga, agar dia bisa istirahat di rumah. Jangan biarkan dia kelelahan dengan pekerjaan yang menggunung di rumah ini," ucap Ardi menatap Kakaknya sinis.
"Iya, aku tahu!"
"Lalu kapan kau cari pelayan itu?"
"Segera!"
"Kak, kalau kau tidak mau pusing mencarikan pelayan untuk Kakak ipar, biar aku yang carikan! Aku akan langsung ke Yayasan ketenagakerjaan, mencari pelayan yang cocok mengurus rumah ini, untuk menggantikan tugas Kakak ipar. Kau bisa ke kantor dengan tenang! Aku urus semuanya," ucap Ardi.
"Ya sudah. Tapi jangan carikan, pelayan genit seperti sebelumnya,"ucap Bara sambil tertawa.
__ADS_1
Kakak dan adik itu tertawa dengan percakapan mereka sendiri. Sementara aku masih memikirkan, apa sebenarnya alasan Ardi, hingga dia begitu membenci Marsya! Apa hal fatal yang dibuat Marsya sampai membuat Ardi membenci wanita itu?
Aku juga jadi ikut penasaran, apa kira-kira alasan Ardi memendam kebencian besar pada Marsya? Tinggalkan jejak Komen, Like, dan Vote untuk dukung penulis melanjutkan cerita. Terimakasih. 💕💕