Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 59


__ADS_3

Selesai menyuapiku, Ardi menatap wajahku dengan senyum manisnya.


"Tidurlah! Aku akan pulang," ucap Ardi sambil melangkah keluar dari rumah.


"Iya." Hanya itu jawaban yang ku ucapkan.


Saat Ardi keluar dari rumah, Bara masuk dan berpapasan dengan Ardi. Bara menatap kesal kehadiran Ardi, begitupun Ardi yang terlihat kesal menatap Bara.


"Jika kau sudah tidak sanggup membahagiakan Istrimu, kembalikan dia padaku!" ucap Ardi dengan nada sinis.


"Lancang!" ucap Bara sambil bersiap memukul adiknya.


"Kenapa kau marah? Apa ucapanku ini membuatmu kesal Kak? Heh... Hanya laki-laki bodoh yang akan meninggalkan istrinya demi kebahagiaan wanita lain."


"Cukup, jangan bicara lagi!"


"Cukup? Huh... Kau bersikap seolah-olah, kau laki-laki paling sempurna. Baik, bijak, tampan, tapi sayangnya, kau bodoh! Kasihan pada wanita lain, tapi kau tidak kasihan pada istrimu. Kau tahu, aku melepaskan Chika agar kau membahagiakannya, tapi kau... Kau malah memilih bersama wanita lain daripada bersama istrimu!"


"Diamlah!" teriak Bara.


"Diam? Tidak Kak, aku tidak akan diam! Aku akan terus bicara sampai kau paham, jika tadi Chika menangisi mu seharian. Sementara kau bersama wanita lain, coba kau pikir dengan otakmu, apa itu bukan suatu kesalahan?"


"Siapa wanita yang jadi istrimu? Kau korbankan kebahagiaan Chika demi kebahagiaan wanita lain. Bukankah itu bodoh? Chika sedang mengandung anakmu, tapi kau bahkan tidak perduli. Andai aku yang jadi suami Chika, aku tidak akan pernah membuatnya menangis. Aku akan menukar nyawaku untuk kebahagiaan Chika, asal Chika bahagia. Tapi kau, malah sebaliknya!" ucap Ardi terus mengeluarkan kekesalannya.


"Sudah cukup!" Bara berteriak semakin keras.


"Naina sakit leukimia, umurnya tidak akan bertahan lama!" ucap Bara.


"Lalu, hubungannya apa denganmu? Kau menyukainya? Kau ingin bersamanya, sebelum ajal menjemputnya? Setelah dia tiada, saat itu pula Chika menjadi milikku. Hanya menjadi milikku!" teriak Ardi.


"Kau..." Bara menahan amarahnya.


"Pilih salah satu. Jika kau memilih Naina, maka aku akan membawa Chika pergi darimu. Tapi jika kau meninggalkan Naina dan kembali bersama Chika. Aku akan menyerah, dan mengikhlaskan Chika untukmu!" ucap Ardi.


"Aku..."


"Tidak usah dijawab sekarang! Pikirkan masak-masak. Siapa yang paling penting dihidup mu? Chika atau Naina!" ucap Ardi lalu pergi meninggalkan rumah kami.


Aku masih menatap kearah Bara, aku benar-benar kecewa, ternyata dia masih bimbang dengan pilihannya. Aku membalikkan badan meninggalkan Bara sendiri. Aku berbaring ditempat tidur tanpa bicara apa-apa. Bara masuk kedalam kamar dan mendekat kearah ku.


"Maafkan aku, Chika!" ucap Bara.


Aku tidak menjawab, hanya air mata yang menetes untuk mengungkapkan semua rasa kekecewaan ku. Aku sangat mencintai Bara, tapi kenapa Bara masih bingung memilih antara aku dan Naina.


"Aku minta maaf. Aku bener-bener jahat padamu, maafkan aku!" ucap Bara sambil berbaring disampingku dan memelukku dari belakang.


"Apa kau mencintai Naina?"


"Tidak, Chika! Aku hanya perduli padanya, karena dia tidak memiliki sanak saudara. Aku kasihan!" ucap Bara.

__ADS_1


"Kasihan? Lalu, apa kau tidak kasihan padaku? Aku harus kehilangan waktu bersama mu, karena rasa kasihan mu itu? Kenapa kau tega padaku?" ucapku sambil menangis.


Bara menarik tubuhku agar berhadapan dengannya. Kami berbaring sambil saling tatap. Ada raut ketakutan di wajah Bara. Dia menangis sambil memeluk tubuhku.


"Maafkan aku, Chika! Tapi demi Tuhan, aku tidak melakukan apa-apa bersama Naina. Aku hanya merawatnya saja! Aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk mengecewakanmu!"


"Tapi kau, sudah sangat menyakitiku. Bahkan kau tidak bisa tegas dalam memilih antara aku dengan Naina. Kau lebih mementingkan Naina daripada aku. Bagaimana jika aku tidak sanggup lagi bersamamu? Bagaimana jika nantinya aku merelakan mu bersama Naina?"


"Chika. Aku mohon, jangan bicara begitu! Aku berjanji padamu, aku tidak akan pernah menemui Naina lagi. Percayalah padaku! Aku sangat mencintaimu, sayang!" ucap Bara sambil mencium keningku. Ada butiran air mata yang menetes di pipinya.


" Aku juga. Aku sangat mencintaimu, Mas! Aku harap kau bisa memegang kata-katamu."


"Iya, sayang! Aku berjanji, aku tidak akan pernah menemui Naina lagi," ucap Bara.


Aku kembali memeluk tubuh Bara, merasakan sentuhan hangat yang diberikan Bara padaku. Ciuman beberapa kali mendarat di keningku. Rasa sesak didadaku tiba-tiba saja menghilang. Aku harap semua hal buruk itu, segera berlalu.


Aku terlelap dalam pelukan hangat yang diberikan Bara padaku. Ternyata keinginan hatiku sesederhana ini. Aku hanya ingin Bara bersamaku dan selalu berada di sisiku. Aku harap, hari esok akan menjadi hari yang baik untukku dan untuk Bara.


****


Keesokan harinya, aku bangun dari tidur. Aku keluar dari kamar, lalu berjalan menuju dapur. Tiba-tiba...


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu, membuatku berbalik arah menuju pintu rumah untuk membukakan pintu.



"Apa Kakakku menyakitimu lagi?" tanya Ardi sambil mendekat kearah ku.


"Aku dan Bara sudah berbaikan. Kau tenang saja!" ucapku sambil tersenyum.


"Kalau Kak Bara menyakiti kau lagi, beri tahu aku! Aku akan memberikan perhitungan dan pelajaran yang pantas untuk didapatkan olehnya."


"Sudahlah. Aku percaya Bara tidak akan melakukan hal yang sama lagi padaku," ucapku.


"Baguslah. Karena jika dia menyakitimu, maka aku akan mengajakmu pergi dari Kak Bara. Aku akan langsung menikahi mu dan menjaga anakmu bersama-sama sampai waktu kelahirannya!"


"Ardi, kenapa kau masih perduli padaku? Lanjutkan hidupmu, aku tidak mau kau mengharapkan hal yang tidak mungkin terjadi. Kau orang baik, kau pantas bahagia," ucapku.


"Aku akan bahagia untukmu. Tapi setelah aku memastikan Kak Bara bisa membahagiakan mu!" ucapnya sambil mengusap kepalaku lembut.


"Terimakasih, karena kau begitu perduli padaku."


"Iya. Aku pamit ya!" ucap Ardi sambil berjalan menuju mobilnya.


Aku kembali masuk kedalam rumah, aku membuat sarapan dan membersihkan rumah. Tak lama, Ibu dan Alesha keluar dari kamar. Mereka menatap kearah ku dengan wajah cemas.


"Kau baik-baik saja, Nak?" tanya Ibu.

__ADS_1


"Iya, Bu!" ucapku.


Tak lama Bara keluar kamar, sudah rapi dengan jas kantornya. Bara mendekat kearah ku sambil tersenyum. Lalu memeluk tubuhku dan mencium keningku penuh cinta.


"Selamat pagi, sayang!" ucap Bara masih memeluk tubuhku.


"Selamat pagi Ibu, Alesha." ucap Bara lagi.


"Selamat pagi, Nak!" ucap Ibu.


Aku hanya diam dan tersenyum kearah Bara. Tapi Bara tiba-tiba menarik tanganku masuk kembali kedalam kamar. Mau apa dia?


Aku dan Bara sudah ada didalam kamar, kini Bara menatapku penuh ancaman.


"Mau apa?" tanyaku.


"Bercinta. Memangnya mau apalagi?" tawa Bara.


"Tidak. Aku tidak mau! Aku masih kesal padamu," ucapku.


"Jangan begini sayang! Ampuni aku!" ucap Bara sambil memelukku dan siap mencium bibirku. Tapi aku menghindar sambil mendorong tubuhnya lembut.


"Aku tidak suka diberikan kebahagiaan, lalu nantinya kau hancurkan lagi hatiku."


"Apa kau sebegitu bencinya padaku?"


"Aku tidak benci. Tapi sikapmu kemarin pada Naina berlebihan. Kau memperhatikan wanita itu, tapi tidak memperhatikan ku. Kenapa kau tidak mengajak Naina saja, bercinta denganmu!" ucapku sekenanya.


Bara semakin mempererat pelukannya, keningnya beradu dengan keningku. Ada air mata yang mengalir dari matanya. Ada kesedihan terpancar jelas diwajahnya.


"Maafkan aku."


Aku hanya diam tak menjawab, tapi aku merasakan hatiku mulai merasakan bahagia lagi sekarang. Tak lama, Bara mengecup bibirku.


"Aku mencintaimu, Chika!" ucap Bara.


"Aku tidak akan mengecewakan mu lagi!" ucapnya lagi.


"Berjanjilah. Karena aku akan pergi meninggalkan mu, jika kau melakukan hal yang sama lagi padaku!"


"Aku janji!" ucap Bara sambil mengecup keningku lama.


Aku merasakan penyesalan yang mendalam di wajah Bara. Aku harap, ini yang pertama dan terakhir, takdir menyakiti hatiku lewat Bara.



Beri dukungan Kak, tinggalkan jejak Komen, Like dan Vote untuk dukung Author ya.


Terimakasih.💕💕😘

__ADS_1


__ADS_2