Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 49


__ADS_3

Aku menatap tajam kearah Ardi, lalu melepaskan genggaman tangannya. Terlihat kekecewaan terpancar diwajahnya.


"Aku tidak akan melakukan hal itu! Aku tidak mau mengkhianati Bara. Aku mencintai suamiku," ucapku sambil menatap kearah Ardi.


"Kau menjaga hati dan perasaan Kak Bara? Lalu bagaimana dengan hatiku? Siapa yang akan menjaga hati dan perasaanku?" teriak Ardi penuh kekecewaan.


"Aku mau pergi!" ucapku sambil berjalan menjauh dari Ardi.


Tiba-tiba Ardi berteriak keras, membawa sebuah pisau untuk melukai tangannya sendiri.


"Kau akan melihat aku mati, Chika!" teriak Ardi sambil mengarahkan pisau kearah tangannya. Ardi mulai melukai tangannya, dengan pisau yang dia pegang. Darah mengalir dari tangan Ardi, aku menutup mulutku menyaksikan kegilaan yang dilakukan Ardi didepan mataku.


Aku buru-buru berjalan mendekati Ardi, aku mengikat luka ditangan Ardi dengan sapu tangan. Tanganku bergetar, melihat darah yang terus membasahi sapu tangan itu.


"Biarkan aku mati. Kau bisa hidup bahagia dengan Kak Bara. Dan aku akan mati membawa kenangan cinta kita," ucap Ardi menatapku penuh kesedihan.


"Kenapa denganmu? Sejak kapan kau jadi tidak waras? Kau ingin mengakhiri hidupmu? Kau pikir semua akan baik-baik saja, setelah kau mati?" teriakku sambil menangis.


"Setidaknya itu lebih baik, daripada aku harus kehilangan cintamu. Aku mencintaimu Chika, bahkan mungkin jika aku tidak selamat nanti," ucap Ardi yang membuat hatiku semakin gemetar menahan takut.


"Kita ke rumah sakit, lukamu harus segera diobati," ucapku, sambil menuntun Ardi.


"Tidak. Jawab dulu pertanyaanku! Apa kau mau menjadikan aku selingkuhan mu?" ucap Ardi semakin membuatku bingung.


"Ardi..." Aku menarik tangan Ardi, menatap wajahnya yang mulai pucat karena mengeluarkan banyak darah.


"Biarkan aku mati saja!" ucap Ardi. Tiba-tiba Ardi jatuh pingsan.


Aku menjerit meminta pertolongan, aku takut, aku panik. Kenapa Ardi bisa melakukan hal seperti ini? Apa rasa cintanya padaku begitu dalam? Sehingga dia berani menyakiti dirinya sendiri. Tuhan, selamatkan Ardi...


Para warga membantuku membawa Ardi ke rumah sakit, darah ditangan Ardi membasahi bajuku hingga meninggalkan noda merah. Aku akan merasa bersalah, jika terjadi apa-apa pada Ardi. Aku yang bersalah disini, aku yang bertanggung jawab dengan keselamatan nyawa Ardi.


Aku benar-benar bingung, aku harus bagaimana? Aku ingin mengabari Bara, tapi apa yang harus aku katakan padanya? Bagaimana jika Bara menanyakan, kenapa Ardi sampai nekad bunuh diri? Lalu aku harus jawab apa?


Aku benar-benar berada diantara dua pilihan yang sulit. Antara keselamatan nyawa Ardi, atau keutuhan rumah tanggaku. Jika aku memilih keselamatan nyawa Ardi, maka aku harus siap kehilangan Bara. Biar bagaimanapun, perselingkuhan adalah hal yang tidak bisa dimaafkan dalam sebuah pernikahan.


Tapi jika aku memilih keutuhan rumah tanggaku, lalu bagaimana dengan nasib Ardi? Apa dia benar-benar akan mengakhiri hidupnya sendiri? Lalu, aku akan dihantui perasaan bersalah seumur hidupku. Entahlah, rasanya aku ingin menjerit keras pada takdir yang begitu sulit memberikan aku pilihan. Bahkan disaat aku tengah hamil seperti ini!


Beberapa jam kemudian, dokter mengizinkan aku masuk kedalam ruangan Ardi. Aku menatap Ardi yang belum sadarkan diri. Begitu lemah dan tak berdaya. Ada jutaan rasa bersalah berkecamuk dihatiku, ada rasa takut yang menyerang hidupku. Bagaimana jika Ardi sungguh-sungguh dengan ucapannya? Apa aku akan menyesali semuanya, jika Ardi benar-benar mati karena cintanya untukku.


Air mataku mengalir deras, hatiku tidak bisa berpikir, aku tidak mampu memilih, aku tidak ingin kehilangan cinta Bara maupun nyawa Ardi. Bara adalah hidupku, sementara Ardi adalah orang yang pernah singgah dihatiku. Biar bagaimanapun, aku tidak mau dia mati karena cintanya padaku. Aku tidak sanggup menerima kenyataan buruk itu.


Aku masih menatap kearah Ardi penuh kesedihan, sampai Ardi mulai sadar dari pingsannya. Dia menatap kearah ku, ada butiran air mata yang jatuh membasahi pipinya. Kenapa? Kenapa dia harus sedalam ini mencintaiku?

__ADS_1


Aku masih diam menatap Ardi, sampai Ardi memaksakan diri untuk bangun dan melepaskan infusan ditangannya. Padahal dokter bilang, Ardi kehilangan banyak darah dan kondisi masih sangat lemah.


"Jangan seperti ini! Dokter bilang, kondisimu masih lemah." Teriakku, menahan Ardi melepaskan infusnya.


"Kau tidak usah perduli padaku! Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," ucap Ardi sambil tersenyum.


"Tapi dokter bilang..."


"Aku akan mati karena kehabisan darah? Memang itu yang aku inginkan!" ucap Ardi menatap tajam kearah ku.


"Agar kau puas! Agar kau bisa melihat jasadku dikubur di hadapanmu. Setelah itu kau akan menyesal, kau akan dihantui rasa bersalah seumur hidupmu, karena kau telah menyia-nyiakan cintaku yang tulus padamu!" teriak Ardi.


Aku menangis, aku tidak bisa membendung kesedihanku. Aku benar-benar tidak ingin mengkhianati cinta Bara, tapi aku juga tidak mau melihat Ardi kehilangan nyawanya karena aku.


"Aku tidak mau kehilanganmu." Tiba-tiba saja bibirku mengucapkan kata-kata itu.


Ardi menatap kearah ku, lalu memeluk tubuhku. Aku tidak tahu, aku benar-benar bingung. Apa aku akan hancur setelah ini?


"Aku juga tidak ingin kehilanganmu! Aku sangat mencintaimu. Percayalah, aku akan mencintaimu lebih dari rasa cinta Kak Bara padamu," ucap Ardi masih memelukku.


Aku tidak bergerak, aku hanya terus berpikir, apa yang akan terjadi dengan hubunganku dengan Bara nantinya. Apa aku akan diceraikan jika Bara tahu, aku memberikan sebagian cintaku untuk adiknya. Ya Tuhan... Aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali pasrah dengan takdir.


"Aku takut. Bagaimana jika Bara tahu?" bisikku pelan.


Aku hanya bisa tersenyum getir, menatap kebahagiaan Ardi. Kenapa aku mengorbankan rumah tanggaku demi kebahagiaan mantan pacarku?


Sore harinya Ardi memaksa pada dokter agar bisa pulang ke rumah hari ini. Walaupun awalnya tidak diizinkan, namun karena Ardi memaksa, dokter akhirnya mengiyakan keinginannya.


Aku dan Ardi akhirnya pulang ke rumah naik taksi. Sepanjang perjalanan, Ardi menyandarkan kepalanya dipundak ku, memeluk erat tanganku seolah dia benar-benar takut kehilangan. Beberapa kali Ardi mengecup tanganku, lalu menoleh kearah ku.


"Aku mencintaimu Chika," ucapnya sambil tersenyum.


Aku hanya membalas senyuman itu, tanpa bicara sepatah katapun.


"Besok, kita jalan-jalan keluar ya?" ucap Ardi sambil mencium keningku.


"Tidak. Aku harus menjemput Alghi dan Alesha di rumah Ibumu!" ucapku.


"Ya sudah. Aku besok mengantarmu ya!"


"Tidak. Jangan! Ibu akan curiga, jika aku berangkat bersamamu," ucapku.


"Baiklah. Aku aku akan bersabar menunggumu di rumah saja," tawa Ardi.

__ADS_1


Ardi terlihat begitu bahagia, padahal aku sungguh takut dengan semua ini. Rasa sakit yang Ardi rasakan, sepertinya terobati dengan cintanya yang ku sambut, walau hanya sebagai selingkuhan ku.


Taksi berhenti didepan rumahku, aku dan Ardi turun dari mobil, disambut oleh Ibu mertuaku dan Bara didepan pintu rumah.


"Kalian dari mana? Kenapa baru pulang?" tanya Bara cemas.


Ibu menatap luka ditangan Ardi, lalu menghampiri anaknya, dengan penuh kecemasan.


"Kenapa dengan tanganmu? Apa yang terjadi?" tanya Ibu.


Aku diam, aku tidak pandai berbohong. Aku hanya mematung tanpa suara.


"Tadi ada orang yang mau menjambret tas Kakak ipar, lalu aku mengejarnya, tapi tanganku malah terkena pisau penjahat itu. Makanya luka!" ucap Ardi.


"Ya ampun. Kalau tas dan isinya hilang, Bara bisa membeli yang baru untuk Chika. Tapi jika nyawamu? Ardi, lain kali jangan melakukan hal yang membahayakan nyawamu ya, Nak!" ucap Ibu cemas.


"Iya Ibu, aku tidak apa-apa!" tawa Ardi lalu masuk kedalam rumah.


Sementara Bara menatap kearah ku penuh rasa curiga.


"Apa yang kau lakukan bersama Ardi? Kenapa kalian bisa pergi bersama?" tanya Bara.


"Aku... Minta maaf..." Aku menundukkan kepalaku.


"Ya sudah. Ayo masuk!" ucap Bara sambil tersenyum.


Aku menoleh kearah wajah Bara, ada rasa bersalah dihatiku saat menatap wajah laki-laki baik itu.


"Kenapa? Apa kau lapar?" tanya Bara.


Aku menggelengkan kepalaku, entah kenapa air mataku jatuh membasahi pipiku. Rasa bersalahku tidak mampu ku sembunyikan.


"Aku lelah, Mas! Aku mau istirahat dikamar!" ucapku.


Bara menuntunku masuk kedalam kamar, aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, lalu Bara menyelimuti tubuhku dengan selimut.


"Beristirahatlah. Aku keluar sebentar!" ucap Bara sambil mencium keningku.


Aku hanya bisa menangis saat Bara keluar dari kamar. Apa aku bisa mengkhianati laki-laki sebaik Bara? Kenapa aku merasa seperti orang jahat yang menyakiti hati suamiku sendiri? Kenapa?


Tinggalkan Like dan Vote ya..


Terimakasih.💕💕

__ADS_1


__ADS_2