
Bara dan aku pulang ke rumah, saat menjelang malam. Ibu tiba-tiba menangis histeris didepan pintu rumah, saat aku dan Bara baru turun dari mobil.
"Alghi... Lihat Alghi!" teriak Ibu panik.
"Alghi kenapa, Bu?" tanya Bara ikut panik.
Aku dan Bara mengikuti langkah kaki Ibu menuju kamar Alghi. Aku menatap wajah Alghi lesu dan panas tubuhnya tinggi. Aku menggendong tubuh Alghi kedalam pelukanku. Alghi hanya diam, dengan mata sayup.
"Kita bawa Alghi kerumah sakit ya!" ucap Bara sambil berjalan keluar rumah.
"Ibu dirumah saja, jaga Alesha dan Marcell. Ibu pasti lelah, beristirahatlah!" ucapku sambil menyusul Bara keluar rumah menuju mobil Bara.
Aku dan Bara menuju rumah sakit, aku benar-benar khawatir, karena panas tubuhnya semakin tinggi. Alghi tidak bicara, hanya sesekali mengerang menahan sakitnya.
"Sabar ya sayang! Kau akan baik-baik saja," ucapku sambil mencium pipi Alghi.
Bara menoleh kearah ku, matanya menatap kepanikan yang ada di mataku.
"Tenanglah sayang! Alghi anakku, dia itu kuat!" ucap Bara sambil menambahkan kecepatan kemudinya.
Sampai dirumah sakit, aku dan Bara segera masuk kedalam ruangan khusus. Namun dokter meminta aku dan Bara untuk menunggu diluar ruangan.
Aku dan Bara sama-sama panik, menatap si kecil Alghi dibalik jendela dengan beberapa infus yang dipasang ditangannya. Air mataku mengalir deras, menatap bayi kecilku berbaring tak berdaya didalam ruangan itu.
"Alghi..."
"Sayang, Alghi akan baik-baik saja!" ucap Bara sambil memeluk tubuhku.
Pintu ruangan terbuka, dokter dan perawat keluar dari ruangan itu. Aku menatap Alghi yang kini terlelap didalam ruangan itu.
"Ada apa dengan anakku, Dok?" tanya Bara.
"Dia hanya demam, sebentar lagi juga akan kembali sehat," ucap dokter.
"Kalau hanya demam biasa, kenapa harus memasang selang infus ditangannya?" ucap Bara.
"Sepertinya bayi anda kekurangan cairan, itu sebab saya memasang infus untuk menambahkan cairan didalam tubuhnya," ucap dokter.
"Kalau begitu saya permisi!" ucap dokter laki-laki itu sambil berlalu meninggalkan kami.
Aku dan Bara masuk kedalam ruang rawat Alghi. Aku menatap Alghi masih tertidur disana. Beberapa kali, aku mengusap air mataku, menatap kondisi Alghi saat ini.
__ADS_1
"Sayang, beristirahatlah! Ini sudah malam, biar aku yang jaga Alghi," ucap Bara.
Aku hanya mengangguk sambil duduk di sofa yang ada diruang rawat itu. Aku memejamkan mataku, sampai aku terlelap dalam tidur.
****
Pagi harinya aku terbangun, aku menatap Bara yang sedang berbicara dengan Alghi. Kini Alghi bisa tertawa dan mengoceh seperti biasanya. Selang infus yang semalam dipasang pun, sudah dilepas oleh dokter.
Kini Alghi sudah diizinkan pulang, karena suhu badannya sudah normal kembali. Dokter memberikan beberapa resep obat, berjaga-jaga jika suhu badan Alghi kembali tinggi.
Aku menggendong Alghi keluar dari rumah sakit, sementara Bara mengurus administrasi pembayaran rumah sakit. Aku berdiri didepan mobil Bara sampai tiba-tiba aku terkejut, menatap Ayah Arman ada dibelakang ku.
"Sedang apa disini, Chika?" tanya Ayah Ardi.
"Alghi sakit, Ayah!" ucapku.
"Cucu Ayah sakit? Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?"
"Dia sudah baik-baik saja!" ucapku sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu!" ucap Ayah Arman tersenyum.
"Tentu, Ayah!"
"Apa kau sudah melupakan perasaan cintamu untuk Ardi?" tanyanya.
"Ardi dan aku sudah sama-sama menikah. Jadi Chika sudah membuang perasaan Chika untuk Ardi!" ucapku.
"Tapi Ardi? Bagaimana dengan nasib anak Ayah itu? Apa kau tega, hidup bahagia di atas penderitaannya?" ucap Ayah menatapku dengan sinis.
"Tapi Ayah... Kau tahu, jika aku sudah menikah dengan Mas Bara, Kakaknya Ardi. Chika juga sebentar lagi akan melahirkan anak Mas Bara. Chika tidak mungkin kembali pada Ardi!"
"Ayah tidak bisa terima itu! Ayah sudah cukup diam, selama ini. Membiarkan Ibu dan Bara berkuasa atas dirimu. Kau itu pacar Ardi, tidak seharusnya kau menikah dengan Bara. Ayah tidak rela jika seumur hidup Ardi, dihabiskan untuk menyiksa dirinya sendiri!" ucap Ayah Ardi sambil mengusap air matanya yang mengalir.
"Ayah, kau ada disini!" ucap Bara yang berjalan mendekat kearah kami.
"Ayah pamit!" ucapnya seraya pergi meninggalkan aku dan Bara.
"Kenapa Ayah? Apa yang dia bicarakan denganmu? Kenapa saat aku datang, dia malah pergi?" tanya Bara bingung.
"Sudahlah. Mungkin, Ayah buru-buru!" ucapku sambil tersenyum.
__ADS_1
Padahal sudah jelas sekali, apa yang dibicarakan Ayah Arman padaku. Dia tidak mau berpihak lagi pada kisah cinta aku dan Bara. Dia menginginkan aku berpisah dengan Bara dan kembali pada Ardi.
Aku tahu, pasti Ayah Arman sangat terpukul dengan sikap Ardi yang berubah drastis. Pasti seorang Ayah akan mengkhawatirkan keadaan anak kandungnya, ketimbang Bara yang hanya anak tiri. Tidak ada seorang Ayah pun yang rela, merelakan kebahagiaan anak kandungnya demi seorang anak tiri.
Ayah Arman pasti sangat terluka karena saat ini, Ardi menghancurkan hidupnya dengan mabuk-mabukan. Sudah tidak ada lagi, kebahagiaan yang terpancar di wajah putra kandungnya itu. Aku cukup paham, namun posisiku saat ini begitu sulit. Aku mencintai suamiku, aku akan menjadi seorang Ibu dari anak-anakku. Aku tidak mungkin kembali ke masa lalu. Aku hanya akan berjalan bersama Bara, membesarkan anak-anak kami bersama. Tidak ada lagi kesempatan untuk bersama, tidak ada!
Bara menghentikan mobilnya didepan halaman rumah, lalu membukakan pintu mobil untukku. Tapi aku masih melamun, mengingat ucapan dan kata-kata dari mulut Ayah Arman.
Apa ini masalah yang membuat Ibu Bara menginap lama dirumah ini. Ternyata mereka benar-benar sedang bertengkar. Pasti begitu sulit untuk Ibu Hana, memilih antara Bara dan suaminya. Hiks... Hiks...
"Ada apa? Sejak tadi kau terlihat gelisah? Apa yang kau pikirkan?" tanya Bara.
"Tidak ada. Aku hanya sedikit lelah!" ucapku sambil berjalan masuk kedalam rumah.
Aku menatap Alesha dan Marcell sedang bermain, sementara Ibu terlihat melamun diruang tamu. Ada raut wajah kesedihan yang terpancar diwajahnya. Tentu saja ini bukan hal mudah untuk Ibu Hana menghadapi ujian kehidupannya. Aku saja bisa membayangkan bagaimana kesedihan yang dirasakan oleh Ibu. Tidaklah mudah, memilih diantara dua pilihan yang sulit.
"Ibu..." ucapku memanggilnya pelan.
"Ada apa? Bagaimana keadaan Alghi? Apa dia baik-baik saja?" tanya Ibu khawatir.
"Alghi baik-baik saja! Sepertinya justru kau yang sedang tidak baik. Aku tadi bertemu dengan Ayah Arman. Dia menceritakan semuanya padaku. Tentang masalah kalian, pertengkaran kalian. Aku tahu, Ibu yang sedang tidak baik-baik saja," ucapku sambil memeluk tubuh Ibu Bara. Aku menatap Ibu menangis, meluapkan kesedihannya.
Sementara Bara dia langsung ke kamar membawa Alghi beristirahat. Bara tidak tahu, tentang perbincangan aku dan Ibunya.
"Apa yang harus Ibu lakukan? Ayah Arman mengancam akan menceraikan Ibu, jika Ibu kekeh mempertahankan pernikahan kalian. Ibu tidak mungkin memisahkan kau dan Bara, karena Ibu yang menyatukan kalian. Itu sebabnya Ibu memilih berpisah saja dengan Ayah Arman jika dia tetap pada pendiriannya!" ucap Ibu masih menangis keras.
"Ayah Arman tidak mungkin setega itu pada Ibu, dia sangat mencintai Ibu. Ayah Arman tidak mungkin menceraikan Ibu. Aku yakin!" ucapku mencoba meyakinkan hati Ibu Bara.
"Tidak. Ayah Arman bersungguh-sungguh, dia akan memberi waktu sampai anakmu lahir. Jika aku tidak bisa membuat kau berpisah dengan Bara, maka Ibu yang akan berpisah dengan Ayah Arman," ucap Ibu semakin menangis keras.
"Maafkan Chika, Ibu! Semua ini kesalahan Chika! Andai saja, Chika tidak pernah hadir di hidup kalian, mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi! Chika benar-benar minta maaf!" ucapku ikut menangis.
"Sudahlah, Ibu tidak apa-apa! Jika perpisahan adalah jalan yang terbaik untuk Ibu dan Ayah, maka Ibu akan melakukan semua untuk kebahagiaan kalian!" ucap Ibu sambil mengusap air matanya yang tak henti mengalir.
"Kau istirahat, Nak! Jaga kandunganmu baik-baik! Kau tidak usah memikirkan hal lain, selain kesehatan mu!" ucap Ibu sambil mengusap rambutku.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu berjalan masuk kedalam kamar. Aku benar-benar merasa bersalah pada keluarga ini. Kenapa kehadiranku menjadi kehancuran untuk keluarga Bara. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin membiarkan Ibu dan Ayah berpisah. Tapi, apa yang bisa aku lakukan?
Maafkan Author yang kelewat sedih, sampai baru bisa Up. Mungkin ceritanya memang tidak bagus, tapi mohon jangan buat aku kecewa dengan komen kalian. Aku seharian nangis dipojokan loh, sama sekali gak kepikiran buat cerita ini, gara-gara komen yang bilang ceritaku membosankan. Emang benarkah?😭😭
Terimakasih untuk yang masih nungguin cerita ini, aku sebagai penulis terharu luar biasa untuk para pembaca yang baik dan sopan.🙏😘
__ADS_1