Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 41


__ADS_3

Bara masih memeluk tubuhku erat, aku melihat ada air mata yang jatuh di pipinya. Pasti dia sedih, karena rintangan terus datang menghampiri cinta kami. Sebenarnya, aku juga lelah dengan semua ini. Tapi cinta Bara menjadi kekuatan tersendiri untukku.


"Maaf ya. Gara-gara aku, kamu harus bertengkar dengan Ibumu," bisikku ditelinga Bara.


"Bukan salahmu. Mungkin, memang harus seperti ini," kata Bara sambil tersenyum.


"Andai saja aku tidak mengandung anak ini, mungkin..."


"Jangan menyalahkan anak kita. Keadaanlah yang membuat semuanya rumit."


"Nanti siang, aku izin mau pergi ke rumah sakit," ucapku.


"Mau apa?"


"Mengambil hasil pemeriksaan medis milikmu!" ucapku.


"Pemeriksaan medis?" Bara bingung.


"Aku melakukan pemeriksaan ulang karena aku yakin, kalau kau bisa punya keturunan. Hasil diagnosa yang diberikan Ibu pada kita, mungkin keliru," ucapku.


"Biar nanti siang, aku jemput ya! Kita sama-sama ke rumah sakit. Apapun hasilnya nanti, aku akan tetap menerima anak itu seperti anakku sendiri," ucap Bara.


Apa maksud kata-kata Bara? Ada ketidak yakinan dari ucapannya. Apa dia juga meragukan ku? Apa sebenarnya dia tidak yakin, kalau anak yang ku kandung ini adalah anaknya. Kenapa aku merasa sedih mendengar ucapan Bara.


Aku diam, menatap kearah wajah Bara. Ada air mata yang menetes di pipiku.


"Kenapa menangis? Apa yang membuatmu sedih?" tanya Bara kembali memelukku.


"Kata-katamu. Aku sedih, mendengar ucapan dari bibirmu. Apa kau masih tidak percaya padaku? Aku ini mengandung anakmu, Mas!" ucapku, melepas pelukannya.


"Maaf. Jika ucapanku membuat kau sedih. Aku berangkat ke kantor ya, jaga dirimu baik-baik. Aku jemput, nanti siang!" ucap Bara sambil tersenyum.


Kecupan di keningku diberikan Bara sebelum meninggalkan kamar kami. Aku segera bangkit dan masuk kedalam kamar mandi.


Aku membersihkan diri dibawah derasnya air shower. Aku menggosok tubuhku dengan sabun. Setelah selesai, aku segera memakai pakaianku. Aku mendekat kearah keranjang bayi baby Alghi. Aku menatap baby Alghi yang sudah bangun, tapi tidak menangis.


"Anak Ibu sudah bangun! Apa Alghi haus? Ibu buat susu sebentar ya," ucapku.


Aku pun segera membuat susu formula untuk Alghi, lalu menggendongnya dalam pelukanku. Aku mengusap lembut kepala bayi kecilku. Dia benar-benar nyaman berada dalam gendonganku.


Aku mau keluar kamar untuk mengajak Alghi jalan-jalan, tapi tiba-tiba Ardi datang. Namun kali ini wajahnya terlihat begitu pucat. Terlihat keringat dingin bercucuran diwajahnya. Kenapa dia?

__ADS_1


"Tolong aku, Chika!" ucap Ardi, lalu pingsan tepat dihadapanku.


Aku terkejut, lalu jongkok untuk memeriksa kondisinya.


"Badan Ardi panas sekali. Dia benar-benar demam," gumam ku, sambil menyentuh kening Ardi.


Aku menggigit jari telunjukku, bingung harus melakukan apa! Kalau dibiarkan, aku takut terjadi apa-apa padanya. Tapi jika aku tolong, bagaimana jika nanti dia malah menyerang ku?


Aku keluar rumah, meminta bantuan pada para tetangga untuk memindahkan Ardi kedalam kamarku. Semoga saja aku tidak salah, dengan tindakanku ini.


Aku menatap wajah Ardi yang belum sadarkan diri. Dia masih menggigil dalam tidurnya, suhu badannya benar-benar tinggi. Jika melihatnya dengan kondisi seperti ini, rasanya aku tidak tega.



Aku duduk ditepi tempat tidur, masih menggendong Alghi dalam pelukanku. Aku meminta Alesha untuk memberikan kompres di kening Ardi, agar suhu badannya turun.


"Kak, Memang kenapa dengan Kak Ardi?" tanya Alesha.


"Tidak tahu. Tiba-tiba saja pingsan didepan pintu kamar Kakak!" ucapku.


"Apa Kak Ardi sakit? Badannya panas sekali!" ucap Alesha sambil memegang kening Ardi.


"Nanti juga sembuh! Alesha tunggu disini, Kak Chika mau keluar sebentar," ucapku.


"Kak Chika mau ke rumah sakit bersama Kak Bara. Pasti sebentar lagi Kak Bara datang untuk menjemput Kakak! Alesha tidak apa kan, disini bersama Kak Ardi?" tanyaku.


"Iya. Aku akan jaga Kak Ardi!" ucap Alesha sambil tersenyum.


Sebelum aku keluar dari kamar itu, tiba-tiba Ardi membuka matanya. Wajahnya benar-benar pucat, menatap kearah ku tanpa bicara.


"Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?" tanyaku.


Ardi hanya mengangguk sambil tersenyum, tiba-tiba...


"Uhuk... Uhuk..." Ardi terbatuk-batuk.


Aku menghampirinya, aku melihat ada darah yang keluar dari mulutnya. Aku terkejut, aku segera mengambil ponselku untuk menelpon Bara, tapi Ardi mencegahku.


"Mau apa?" ucapnya.


"Aku mau memberitahukan pada Bara, kalau kau sakit!"

__ADS_1


"Untuk apa? Aku tidak apa-apa Chika!"


"Tapi, batuk mu mengeluarkan darah. Kau harus segera ditangani dokter!" ucapku.


"Tidak usah. Aku memang sangat ingin mengakhiri hidupku. Aku sudah tidak punya tujuan hidup lagi. Sudahlah, kau tidak usah perduli kan aku!" ucapnya.


"Ardi..." Aku menangis mendengar kata-kata yang diucapkan Ardi.


"Kenapa? Untuk apa kau menangis? Kau tahu sekali kan, sepenting apa kau, dalam hidupku? Kau itu nyawaku. Kau itu kebahagiaanku. Tapi aku tidak sanggup, melihat kau bersama orang lain. Aku tidak sanggup Chika. Bunuh aku saja. Bunuh aku!" ucapnya.


"Ardi, kau tahu kan! Aku begitu perduli padamu, aku tidak pernah ingin kau terluka. Aku bisa merasakan rasa sakit di hatimu. Tapi pada kenyataannya, takdir kita memang tidak berjodoh," ucapku.


"Kau itu laki-laki baik, aku sangat mengenalmu. Kita pernah berpacaran lebih dari tiga tahun. Kau selalu menjagaku, menyayangiku, melindungi ku. Aku merasa bahagia bisa mengenalmu," kataku.


"Berhentilah mencintaiku. Hanya itu saja! Aku ingin kau bisa bahagia bersama wanita yang kau cintai! Aku tahu ini berat. Aku tahu ini tidak mudah. Tapi waktu takkan mungkin kembali, dia akan terus berjalan sesuai keinginan takdir. Lakukan yang terbaik untuk hidupmu. Aku akan sangat bahagia, jika kau bisa mendapatkan cintamu," ucapku.


Air mataku mengalir deras, begitupun dengan Ardi. Aku tahu betul, semua pasti tidak mudah, untuk Ardi melewati. Tapi pada kenyataannya, aku telah menjadi istri Bara, Kakak dari Ardi. Aku sudah terikat dengan janji suci pernikahan.


"Aku akan melupakanmu! Tapi tolong, carikan aku wanita untuk penggantikan dirimu dihatiku," ucapnya.


"Tentu. Aku juga akan meminta bantuan Bara, agar kau bisa segera mendapatkan wanita yang kau inginkan," ucapku, sambil mengusap air mata dengan kedua tanganku.


Tiba-tiba Bara berteriak, "Sayang, kita jadi ke rumah sakit? Ayo berangkat."


Bara menatap kearah Ardi yang berbaring ditempat tidur. Ardi menatap kearah Bara penuh haru.


"Maafkan aku Kak," ucap Ardi lirih.


Ada butiran air mata yang jatuh di pipinya. Bara mendekat, lalu memeluk tubuh adiknya. Tidak ada kebencian di wajah Bara, bahkan setelah semua yang dilakukan Ardi, dia tetap memaafkan adiknya.


"Aku sudah memaafkan mu," ucap Bara.


"Terimakasih Kak. Aku berjanji, aku tidak akan mengganggu istrimu lagi. Aku sudah merelakan Chika untukmu, Kak. Jaga dia baik-baik! Jika kau menyakitinya, kau akan berhadapan denganku," ucap Ardi diiringi tawa dibibirnya.


"Aku akan menjaga Chika dengan nyawaku. Percayalah!" ucap Bara.


"Aku percaya padamu, Kak!"


Ada air mata yang mengalir dari pipi kami. Ada haru dan tangis yang menyelimuti sepasang Kakak beradik itu. Bara, Ardi, semoga setelah ini, tidak akan ada lagi pertengkaran antara kalian.


Apa sih yang tiba-tiba membuat Ardi berubah? Tinggalkan Like dan Vote ya Kak.

__ADS_1


Terimakasih.💕💕💕


__ADS_2