Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 64


__ADS_3

Pagi pun datang, matahari menerobos celah ventilasi jendela kamar kami. Aku membuka mataku, menatap sekeliling tempat tidur. Menatap Bara yang sudah rapi dengan pakaian kantornya sambil menggendong Alghi.


"Sayang, sepertinya kau lelah sekali ya?" tawa Bara.


"Benar-benar lelah," ucapku sambil mendekat kearah Bara. Aku mencium Alghi yang masih digendong Bara. Tiba-tiba, Bara menarik tanganku.


"Ciuman untukku, mana? Untukku spesial, aku ingin dicium dalam waktu yang lama," tawa Bara sambil mendekatkan bibirnya kearah bibirku. Aku melotot menatap bibir Bara yang sudah hampir menyentuh bibirku.


"Owe... Owe..." Alghi menangis dalam gendongan Bara. Sontak membuat aku dan Bara terkejut.


"Kenapa sayang? Kau ganggu Ayah yang sedang menggoda Ibumu. Apa kau merasa cemburu? Lihatlah, kau berhasil menggagalkan jatah Ayah!" ucap Bara sambil tertawa.


"Jatah apa?" ucapku sambil merebut Alghi dan menggendongnya.


"Jatah ciuman penyemangat pagi!" ucap Bara sambil tersenyum menatap kearah ku. Tangan nakal Bara menelusuri bibirku. Jari-jarinya bergerak bebas, memainkan bibir ku lembut.


"Hehe... Hehe..." si kecil Alghi tertawa.


"Lihat, Alghi tertawa! Berarti dia mengizinkan aku melakukannya!" ucap Bara yang langsung menggigit bibirku lembut, tanpa ancang-ancang.


Aku terkejut, tapi tidak menolak. Aku menutup mata Alghi, agar tidak menatap kearah Ibu dan Ayahnya yang sedang mabuk cinta.


Bara menyedot bibirku penuh nafsu, lalu menggigit lembut bibir bawahku. Dia terus melakukannya berulang-ulang, sampai Alghi kembali menangis dan menghentikan aksi Bara di bibirku.


Aku dan Bara tertawa, kami benar-benar orang tua yang bodoh. Masih saja melanjutkan hasrat kami, padahal si kecil Alghi sudah menangis sangat keras.


"Cup... Cup... Cup... Jangan menangis sayang! Ibu ajak keluar rumah ya, kita jalan-jalan!" ucapku sambil keluar dari kamar.


Bara mengikuti ku dari belakang, tersenyum menatap kearah ku tanpa bicara apa-apa. Aku terus berjalan menuju kumpulan Ibu-ibu.


"Kau mau apa mengikuti ku? Pergi kerja, sana!" tawaku.


"Tidak. Aku masih ingin bersamamu!" ucap Bara.


"Mbak Chika dengan Pak Bara, pagi-pagi sudah bikin iri nih!" ucap Bu Karsih.


"Saya juga jadi kebelet pengen nikah!" tawa Susi.


Bara dan aku hanya tersenyum menatap kearah mereka. Bu Karsih mendekat kearah ku, lalu menggendong Alghi dalam pelukannya.


"Urus suamimu dulu, Nak! Nanti biar Ibu yang jaga anakmu. Siapa namanya?" tanya Bu Karsih.


"Alghi, Bu!" ucapku sambil tersenyum.


Bara yang mendengar ucapan dari Bu Karsih langsung menarik ku kedalam rumah. Tepatnya kedalam kamar kami.


"Mau apa?" tanyaku.


"Melakukan hal yang aku mau," bisik Bara.


"Apa yang kau mau?"


Bara tidak menjawab, namun dia membuka jas dan kemeja yang dia pakai, lalu menarik lembut tubuhku kedalam pelukannya.


Bara mencium bibirku, menyelusuri rongga mulutku penuh gejolak cinta yang menggebu. Aku benar-benar sesak nafas, mengimbangi permainan Bara. Bara terus menciumi bibirku, yang terus menjalar menyusuri tubuhku.


Berkali-kali Bara mengigit lembut bagian tubuhku yang menjadi favoritnya. Aku hanya bisa memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan Bara.


Setelah puas menggerayangi tubuhku, kini dia mulai melakukan pertarungan sengitnya. Bara menerobos pertahanan ku, rasanya sakit. Bahkan yang semalam saja, masih terasa perih. Namun apalah daya seorang wanita, karena ini adalah tugas seorang istri. Melayani suami, sesuai dengan kebutuhan dan keinginan suaminya.


Bara masih menarik ulur permainannya, sensasi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Perih, sakit, tapi tidak mau menyudahi.


Berkali-kali aku meringis kesakitan, berkali-kali pula Bara mencium bibirku penuh nafsu. Rasanya bukan hanya bawahku saja yang perih karena ulah Bara. Tapi juga bibirku ikut perih karena mendapatkan ciuman maha dahsyat dari Bara.


Baik aku mau pun Bara sama-sama tidak ingin menyudahi permainan kami. Sama-sama kuat, sama-sama bertahan dalam gelora asmara.


Aku sudah tidak perduli dengan rasa sakit di sekujur tubuhku, yang aku tunggu hanyalah akhir dari permainan Bara. Aku ingin memberikan servis terbaikku untuk suamiku. Agar Bara puas dan tidak jajan cinta pada wanita lain.


Usai sudah pertempuran sengit antara aku dan Bara. Bara berbaring lemas disampingku. Menatap sekujur tubuhku yang dipenuhi tanda merah yang dia buat. Tanpa malu, Bara menghitung hasil tanda merah di tubuhku.


"Satu, dua, tiga, empat, lima,enam, tujuh,delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas..." Bara menghentikan hitungannya.

__ADS_1


"Sepertinya kurang tujuh tanda merah lagi, agar genap menjadi dua puluh," tawa Bara.


Aku memukul dadanya, mataku menatap tajam kearah Bara. Namun senyum nakal, yang justru dibalas Bara padaku.


"Tujuh tanda merah lagi! Sini, biar ku tuntaskan!" tawa Bara.


"Tidak. Tubuhku sudah penuh dengan tanda merah yang kau buat! Apa kau tidak waras? Kau mau menambah tujuh lagi?" ucapku kesal.


Bara berdiri dan duduk ditepi tempat tidur, lalu wajahnya kembali mendekati bagian dadaku. Tiga tanda merah, berhasil dibuat Bara di tubuhku. Aku memukul tubuh Bara dengan guling yang ada disampingku.


"Kenapa marah? Apa kau tidak suka?" tawa Bara.


"Tidak."


"Kau tidak suka, tapi aku sangat menyukainya," bisik Bara ditelinga ku.


"Sudah! Berangkat ke kantor, Mas! Ini sudah jam setengah sepuluh, mau sampai kapan kau begini?" ucapku kesal.


"Sampai tanda itu genap dua puluh," tawanya.


"Huh... Benar-benar buat aku prustasi!" gerutu ku.


Aku menarik tubuh Bara, lalu mendekatkan wajahnya kearah tubuhku. Aku benar-benar ingin segera menuntaskan semua keinginan suamiku.


Bara tertawa puas, bahkan dia tidak tahu, sesakit apa tubuhku saat ini. Dia benar-benar berhasil membuat dua puluh tanda merah di tubuhku. Begitu banyak, sampai aku tidak ingin keluar kamar.


Bara melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, lalu memakai pakaian kantornya lagi. Matanya tertuju pada tubuhku yang hanya ditutupi selimut, mau apa lagi dia?


Bara mendekat kearah ku, bibirnya kembali mencium bibirku, padahal bibirku sudah perih akibat ciuman Bara yang begitu buas tadi.


"Aku berangkat ke kantor ya!" ucap Bara.


"Tunggu. Bawa Alghi kemari! Aku tidak mau keluar menemui tetangga, dengan leher penuh tanda merah seperti ini," ucapku.


Bara tertawa manis, dia berjalan keluar dari kamar. Tak lama, Bara kembali menggendong Alghi dalam dekapannya. Alghi di rebahkan disampingku. Terlihat begitu aktif dan enerjik.


"Sudah siang! Cepat berangkat!" ucapku sambil tersenyum.


"Jaga dirimu, sayang!" bisik Bara sambil mengecup keningku.


"Kau juga hati-hati, jangan ngebut!" ucapku.


Bara mengangguk sambil tersenyum, lalu melangkah keluar dari kamar. Aku menggendong Alghi, menidurkannya didalam keranjang bayinya. Aku memberi susu botol ditangan Alghi, terlihat dia sudah lihai memegang botolnya sendiri.


Aku berjalan masuk kedalam kamar mandi, membersihkan tubuhku. Setelah selesai, aku memakai bajuku dan berjalan mendekati Alghi yang sudah tertidur pulas.


"Ya ampun... Ternyata Alghi masih ngantuk!" ucapku.


Aku mengambil botol susu yang dipegang Alghi, lalu mencucinya hingga bersih. Tak lama, aku pun berbaring kembali di tempat tidur. Aku terlelap dalam balutan mimpi.


****


Suara ketukan pintu membangunkan aku. Aku berjalan keluar dari kamar menuju pintu lalu membukanya. Aku menatap Ardi dan Marsya datang bertamu.


"Kalian?" ucapku terkejut.


Marsya langsung memelukku, wajahnya terlihat begitu bahagia.


"Aku dan Ardi berkunjung kemari, untuk menemui mu!" ucap Marsya.


"Kakak ipar, apa kau tidak ingin mempersilahkan kami masuk?" ucap Ardi.


"Maaf, silahkan masuk," ucapku.


Marsya menggandeng tangan Ardi masuk kedalam rumah, mereka duduk di sofa ruang tamu.


"Kalian mau minum apa? Biar aku buatkan," ucapku.


"Tidak usah. Jika kami ingin minum, kami akan mengambilnya sendiri," tawa Marsya masih menggenggam erat tangan Ardi.


Aku hanya tersenyum, menatap kebahagiaan mereka. Semoga ini adalah awal tumbuhnya cinta dari hati keduanya.

__ADS_1


"Sayang, bibirmu kenapa?" tanya Ardi pada Marsya.


"Kenapa dengan bibirku?" tanya Marsya.


Tiba-tiba Ardi mencium bibir Marsya dihadapanku. Sontak membuatku terkejut, namun untuk apa aku terkejut, bukankah mereka sudah menjadi pasangan suami istri? Wajar saja,mereka melakukan yang lebih dari sekedar ciuman.


"Bibirmu menggoda," bisik Ardi ditelinga Marsya.


"Cium lagi," tawa Marsya.


Aku merasa tidak enak hati, menjadi penonton adegan mesra mereka. Bukankah ini agak kelewatan? Kenapa mereka melakukan ini, dihadapanku?


Aku berdiri dan berjalan menuju kamar, tapi tiba-tiba suara Ardi menghentikan langkahku.


"Kakak ipar, mau kemana? Kami mengunjungimu, tapi kau malah pergi meninggalkan kami," ucap Ardi tanpa menoleh kearah ku.


"Aku takut Alghi terbangun, tunggu sebentar ya!" ucapku, berlalu meninggalkan mereka.


Aku masuk kedalam kamar, menatap Alghi yang terbangun di keranjang bayinya.


"Anak Ibu sudah bangun!" ucapku sambil tersenyum menatap Alghi.


Tiba-tiba pintu kamar dikunci oleh Ardi, sontak membuatku terkejut.


"Mau apa kau?" tanyaku.


"Kau benar-benar rela, memberikan cintaku untuk Marsya?" ucap Ardi.


"Tentu. Bukankah kalian sudah menikah? Aku bahagia untuk kebahagiaan kalian," ucapku.


"Tapi, aku tidak bahagia! Aku sama sekali tidak bahagia!"


"Semua butuh proses, buka hatimu untuk Marsya. Dia wanita baik, kau akan jatuh hati padanya."


"Kau benar-benar menyiksa diriku dengan pernikahan ini. Aku tidak bisa berpura-pura mencintainya. Aku hanya mencintaimu!"


"Jangan terus membuat aku terkena masalah. Berhentilah, menjadi Ardi yang jahat. Aku ini sekarang sudah menjadi istri Kakakmu. Hormati statusku itu, jangan membuat Bara semakin membencimu!" ucapku.


"Iya. Aku paham. Aku mengerti, dan aku juga berusaha keras untuk menerima Marsya di hidupku, walaupun itu sangat sulit!"


"Percayalah, tidak akan ada hal yang sia-sia!" ucapku sambil tersenyum.


"Aku juga ingin berpamitan denganmu dan Kak Bara. Aku memutuskan untuk pergi dari kota ini. Aku akan mengurus beberapa proyek diluar negeri. Jaga dirimu dan calon keponakanku dengan baik. Semoga setelah aku jauh darimu, aku bisa melupakan semua tentangmu!" ucap Ardi lalu membuka pintu kamarku.


"Jaga Marsya juga. Jangan pernah menyakiti hatinya!" ucapku sambil tersenyum.


Aku dan Ardi kembali ke ruang tamu, tiba-tiba saja wajah Ardi berubah sedih. Ada perasaan tidak ingin meninggalkan aku, tapi dia juga ingin melanjutkan hidupnya bersama Marsya.



"Kenapa bersedih?" tanya Marsya.


"Tidak." ucap Ardi.


"Kau butuh sesuatu?" Marsya masih bertanya.


"Aku berat, meninggalkan Chika disini! Kakakku itu tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Apalagi, Naina sampai detik ini belum mati. Bagaimana dengan nasib Chika nantinya, jika Naina kembali mengganggu Kak Bara," ucap Ardi kesal.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri, kau tidak usah khawatir!" ucapku sambil tersenyum.


"Entahlah, semoga Kak Bara tidak lagi membuatmu menangis. Aku sungguh tidak bisa terima, melihat kau terluka," ucap Ardi.


Ardi dan Marsya berpamitan pulang, Marsya berbisik pelan ditelinga ku, saat Ardi berjalan menuju mobilnya.


"Ardi bilang, dia akan memberikan malam pertamanya itu padaku, disaat dia sudah mencintai aku. Tapi aku bingung, bagaimana cara agar Ardi bisa cinta padaku?" bisik Marsya.


"Dengan kesabaran dan perhatian yang tulus, kau akan mendapatkan cintanya," ucapku sambil tersenyum.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan rumahku. Hatiku merasa tenang, setidaknya setelah Ardi pergi jauh dariku, dia bisa melupakan masa lalu tentang kami. Semoga Ardi segera menerima kehadiran Marsya di hidupnya dan bahagia dengan wanita yang mencintainya.


Beri dukungan ya Kak 🙏 bantu Like, dan Vote nya, untuk dukung cerita ini. Vote dan dukungan kalian sangat berarti untuk Author. Terimakasih.💕💕

__ADS_1


__ADS_2