
Wanita itu menatapku dengan tatapan kesal, ada amarah yang tersirat diwajahnya. Dia menarik tanganku, mencengkeram erat hingga aku merintih kesakitan.
"Mau apa kau kemari?" tanyaku.
"Aku ingin membuat perhitungan denganmu!" ucap wanita itu.
"Perhitungan? Daripada kau terus berbuat hal buruk disisa umurmu, bukankah lebih baik, jika kau mempergunakannya untuk hal yang lebih bermanfaat! Tidak usah mengganggu keluargaku lagi," ucapku kesal.
"Tidak. Aku tidak akan berhenti! Sampai aku mendapatkan cinta Bara!" teriaknya.
"Kau cantik Naina. Tapi kenapa kau tidak memilih laki-laki lain yang masih sendiri di luaran sana. Kenapa harus Bara? Bara itu suamiku," ucapku.
"Tapi umurku tidak akan lama lagi. Beri aku kesempatan, Chika! Setelah aku mati, kau bisa memiliki cinta Bara seutuhnya."
"Tidak. Aku tidak pernah rela berbagi suami! Lebih baik kau pergi!" ucapku kesal.
Saat kami beradu mulut, Naina mencengkeram kembali kedua tanganku. Aku tidak mau kalah, aku menarik rambutnya yang panjang bergelombang.
Ada gumpalan rambut yang melilit di tanganku. Rambut Naina rontok! Naina menatap gumpalan rambut yang ada di tanganku. Air matanya mengalir deras, terlihat ada kesedihan terpancar dimatanya.
"Kau lihat Chika? Itu efek terapi ku selama ini. Aku sudah di vonis tidak akan selamat. Umurku tidak lama lagi!" ucap Naina.
"Aku minta maaf!"
Naina duduk dibawah lantai, mencium kakiku untuk memohon agar aku mengizinkan Naina bersama Bara. Bukankah itu gila?
"Sudah cukup! Aku tidak suka kau melakukan ini padaku! Kau lihat perutku. Didalam perutku ini, ada bayiku dan Bara. Kau meminta izin padaku untuk bersama Bara. Lalu bagaimana dengan nasibku dan nasib anak dalam kandunganku? Aku mohon, kau juga mengerti!" ucapku kesal.
Naina menangis keras, air matanya tumpah ruah membasahi pipinya. Hatiku iba, namun jika ingat niat liciknya ingin merebut suamiku, rasa iba itu hilang seketika. Yang tersisa hanya rasa benci dan kesal menatap wanita yang berada di hadapanku.
"Kau tahu sekali Chika! Dari dulu, aku sangat mencintai Bara. Tapi Bara selalu menolak ku, menjauhiku, dia hanya perduli padamu. Apa kurangnya aku? Kenapa dia begitu mencintaimu bahkan merebut cintamu dari adiknya sendiri," ucap Naina.
"Kenapa kau tidak kembali saja bersama Ardi? Agar aku bisa memiliki hati Bara seutuhnya." ucapnya lagi.
"Ternyata kau memang sudah tidak waras! Aku masih banyak pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan! Jika kau masih betah di rumah ini, biar aku yang pergi!" ucapku sambil keluar dari rumah meninggalkan Naina.
Aku masih menatap wanita itu, dia masih duduk di dalam rumahku. Apa dia benar-benar berhasil mengusirku dari rumahku sendiri? Aku terus berjalan, mencari taksi untuk pergi ke supermarket sambil menggendong Alghi.
Tiba-tiba, Susi datang dan menghampiriku. Matanya menatap tajam kearah ku.
"Mbak Chika, mau kemana?"
"Ke pasar!"
"Bawa Alghi?"
"Iya. Mau bagaimana lagi?" tawaku.
"Biar Alghi bersamaku, Mbak Chika tidak usah khawatir!"
"Benarkah?"
"Tentu Mbak! Tapi tadi saya lihat, ada wanita yang bertamu ke rumah Mbak. Siapa?"
"Wanita yang tempo hari pingsan didepan rumahku. Biarkan saja, nanti juga dia pergi sendiri," ucapku.
"Wanita yang menyukai suamimu, Mbak? Apa mesti minta bantuan warga, biar dia cepat pergi dari rumah Mbak?"
"Tidak usah. Biarkan saja! Aku juga tidak tega jika harus melakukan hal buruk padanya. Titip Alghi ya, aku mau berangkat sekarang!"
" Ya sudah, Mbak Chika hati-hati!"
Aku berjalan pelan menuju taksi yang berada agak jauh dari rumah. Sepanjang perjalanan, aku hanya memikirkan wanita itu. Apa Naina tidak berbohong tentang penyakitnya? Tapi untuk apa aku perduli? Naina ingin merebut suamiku dengan memanfaatkan penyakitnya. Apakah aku jahat?
Aku turun dari taksi, langsung masuk kedalam Mall berlantai dua itu. Mungkin bukan Mall, hanya Super Market biasa. Maklum aku tinggal di desa jadi tempat ini satu-satunya yang lebih dekat dan cukup lengkap.
Aku membeli beberapa kebutuhan Alghi seperti popok, susu formula, biskuit bayi dan banyak lagi. Aku mulai kerepotan saat membeli bahan-bahan makanan untuk memenuhi isi kulkas.
"Bagaimana cara membawanya?" gumam ku.
"Sini biar ku tolong!"
"Mas Bara. Kau disini? Sejak kapan?"
__ADS_1
"Sejak kau turun dari taksi."
"Lalu kenapa baru membantuku sekarang? Padahal kau tahu, aku sangat kerepotan," ucapku kesal. Bara tertawa membuatku semakin kesal padanya.
"Maafkan aku sayang! Entah kenapa aku suka melihat kegiatanmu dari kejauhan," ucap Bara masih tertawa.
"Huh..." aku mengendus kesal.
"Baiklah, istriku yang cantik! Aku bawa semua belanjaan ini ke bagasi mobilku dulu ya! Setelah itu, kita kencan!" ucap Bara sambil membawa belanjaan itu kedalam bagasi mobilnya.
Tak lama Bara kembali, dia langsung menggandeng tangan sambil menatap kearah wajahku.
"Kau tahu kalau aku ada disini?" tanyaku.
"Heeh. Karena tadi pagi kau terus mengoceh perihal corak merah buatan ku. Aku pikir, aku akan meminta maaf dengan cara menjemputmu disini."
"Corak merah? Hasil prakarya mu yang sangat kau banggakan!"
Bara tertawa lalu mencubit pipiku, matanya tak lepas menatap kearah ku.
"Harusnya kau bangga dengan corak merah buatan ku, bukan malah menutupinya dengan syal. Itu tanda cinta yang besar dariku, apa kau tidak paham dengan arti tanda merah yang kuberikan?"
"Huh... Memalukan!"
"Kenapa memalukan? Jika nanti malam kau membuat corak merah ditubuh ku, aku akan dengan sengaja memamerkannya pada karyawan kantorku. Biar mereka tahu!" tawa Bara.
"Tidak. Aku tidak akan melakukannya! Kau mau seisi kantor menertawakan aku? Pasti mereka akan berpikir jika istrimu itu buas, penggila s*ks, mesum."
"Hahaha... Bukankah memang seperti itu?" tawa Bara.
"Tidak. Aku hanya tergila-gila pada bibirmu saja! Kau yang mesum, suka melakukan itu padaku," bisikku pelan.
"Memangnya kenapa? Aku memang mesum, tapi hanya padamu! Aku mencintai istriku, itulah kenapa aku suka melakukan hal itu padamu," tawa Bara sambil mengecup bibirku.
"Kau apa-apaan! Ini tempat umum," teriakku.
"Aku tidak perduli. Cintaku itu buta, aku tidak memikirkan pandangan orang tentang kita!"
"Baiklah. Kau menang suamiku!" ucapku sambil memeluk pinggang Bara.
Setelah memesan makanan dari seorang pelayan, makanan yang dipesan pun tiba. Bara menyuapiku sambil tersenyum, namun saat suapan yang kedua, Bara menarik sendok nya.
"Huh... Kau bercanda ya!" ucapku kesal.
"Ikuti arah sendok ini," ucap Bara.
"Tidak."
"Sayang, ayolah!" ucap Bara sambil mengusap pipiku.
Aku terpaksa mengikuti keinginannya, aku mendekat kearah sendok yang diberikan Bara. Tapi lagi-lagi Bara menariknya, sampai tiba-tiba Bara mencium bibirku. Ternyata dia sengaja memancingku agar mendekat kearah wajahnya. Huh... Benar-benar suami hebat!
Bara menggigit lembut bibir tipis ku, dia bahkan lupa kalau kami berada ditempat umum. Setelah selesai mencium bibirku, Bara tertawa puas. Tangannya meraih tisu dimeja lalu mengusapkan tisu itu ke bibirku.
"Kau sangat menggemaskan! Aku selalu hilang kendali saat bersamamu," bisik Bara.
"Jangan melakukan itu lagi! Semua orang menatap kearah kita!"
"Lalu?"
"Aku malu."
"Biarkan saja. Tidak usah dipikirkan!" tawa Bara.
Kami masih asyik berdebat sampai seorang wanita menghampiri kami. Namanya Kayla, teman kuliah Bara waktu kuliah di Australia.
"Kau Farel ya!" ucap wanita itu.
"Kayla, apa kabar? Kau masih ingat denganku rupanya!" tawa Bara.
"Tentu saja ingat! Aku bahkan mengenal sekali, wanita yang berada di sampingmu. Bukankah ini Chika? Wanita yang membuat kau tergila-gila dulu?" tawa Kayla.
"Aku juga kenal kau Kak, wanita paling cantik saat kuliah dulu!" ucapku.
__ADS_1
"Aku cantik, tapi tidak bisa menggetarkan hati Farel. Dia menolak ku, karena mencintaimu! Aku bahkan kasihan pada Farel, saat tahu kau tidak kembali kuliah, dia terlihat sedih dan kecewa." ucap Kayla.
"Benarkah?" tanyaku.
"Kau tidak tahu? Chika, Farel melakukan banyak hal untukmu. Kau lupa? Tapi syukurlah, kini kalian bersama!" ucap Kayla sambil tersenyum.
"Tentu. Aku akan mendapatkan Chika walau harus melawan dunia!" tawa Bara.
"Sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Kayla.
"Dia bukan pacarku, dia teman hidupku!" bisik Bara.
"Apa? Jadi kalian sudah menikah?"
"Bukan hanya sudah menikah, tapi istriku saat ini sedang mengandung anak kami!" ucap Bara dengan rasa bangga.
"Sudah berapa lama? Kenapa tidak mengabari aku?"
"Tidak penting!" tawa Bara.
"Huh... Kau masih saja kejam padaku!" ucap Kayla kesal.
"Kau sekarang kerja dimana, Kak?" tanyaku.
"Aku seorang modeling. Sebenarnya, aku sedang menunggu dua sahabatku tapi mereka belum datang!"
"Mungkin sebentar lagi!" ucap Bara sambil memeluk tubuhku.
"Farel. Aku masih penasaran! Bagaimana bisa kalian menikah? Ceritakan padaku!"
"Rahasia!" tawa Bara.
"Tega sekali. Harusnya aku ikut bahagia di hari pernikahan kalian!" ucap Kayla sedih.
"Kay..." teriak dua wanita memanggil nama Kayla.
Dua wanita itu menghampiri kami, mereka menatap kearah Bara dengan rasa takjub. Sementara Bara hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap kearah ku. Sepertinya Bara lebih tertarik menatap wajahku, daripada menatap wajah wanita lain.
"Siapa mereka Kay?" tanya mereka berdua.
"Ini Farel dan ini istrinya namanya Chika!"
"Hai... Namaku Ana!"
"Dan aku Vika!"
Namun Bara tidak perduli, hanya tersenyum sebentar, lalu kembali menatap kearah ku. Bara memainkan tangannya di wajahku, matanya tak henti menatap wajahku, tak perduli dengan dua wanita yang saat ini menatap kearah kami.
"Sudah kalian berdua jangan pernah merayu Farel. Mau kalian secantik apapun, itu tidak akan membuat Farel tergoda. Dia hanya mencintai satu wanita seumur hidupnya, yaitu wanita yang sekarang menjadi istrinya." ucap Kayla.
"Kenapa?" mereka berdua bertanya serempak.
"Karena Farel sudah tergila-gila pada istrinya sejak jaman kuliah dulu. Farel cinta mati pada istrinya!" tawa Kayla.
"Sudahlah kalian berdua tidak akan paham. Farel, Chika, aku tinggal ya! Sampai jumpa!" teriak Kayla sambil menarik tangan dua sahabatnya yang masih memperhatikan Bara.
Setelah mereka pergi, aku menatap kearah Bara. Dia masih pokus menatap kearah ku.
"Apa kau akan seperti ini, jika ada wanita yang sedang menggodamu?"
"Seperti apa?" tanya Bara.
"Kau tidak tertarik pada mereka? Bukankah mereka itu cantik?" tanyaku.
"Cantik, tapi aku tidak tertarik! Aku hanya tertarik pada istriku."
"Kenapa? Bukankah kau selalu nakal padaku? Apa kau tidak pernah nakal pada wanita lain?" tanyaku.
"Tidak. Disentuh mereka saja, aku enggan! Aku hanya nakal padamu, itu karena kau istriku yang sangat aku cintai."
"Beruntungnya aku karena dicintai laki-laki sepertimu!" ucapku sambil memeluk tubuh Bara.
"Aku juga beruntung bisa bersama dengan wanita yang sangat aku cintai!" ucap Bara sambil mencium keningku.
__ADS_1
Aduh... Kok Author jadi baper sama mereka! Maafkan para jomblo yang tersakiti dengan cerita Author, segeralah mencari pasangan macam Bara ya. Jangan lupa beri dukungan, Like, Komen kalau bisa Vote juga. Dukung Author terus, karena dukungan kalian sangat berarti untuk aku. Terimakasih.💕💕