
Pagi harinya aku terbangun dari tidur, menatap Bara yang masih terlelap dalam tidurnya. Aku memainkan jari-jariku begitu nakal. Menyusuri setiap bagian wajah Bara.
Sesekali Bara menggeliat, merasa terganggu dengan sentuhan itu. Namun, aku terus mengganggunya sampai akhirnya Bara membuka matanya.
Bara menatap kearah ku dengan tatapan kesal. Namun sebelum dia marah, aku langsung mengecup bibir Bara. Bara tersenyum, sambil mencubit pipiku.
"Nakal!" bisiknya.
Aku hanya tertawa, lalu masuk kedalam kamar mandi. Aku telah puas, mengganggu suamiku yang sedang tidur. Kenapa denganku? Rasanya, aku ingin sekali mengganggu Bara.
Setelah selesai mandi, aku mengganti pakaianku. Aku keluar dari kamar mandi, lalu menatap Bara yang masih berbaring di atas tempat tidur. Bara menatap tajam kearah ku, enggan beranjak dari tempat tidurnya.
"Bangun, Mas! Ini sudah siang," ucapku.
Tapi Bara masih diam dengan sorot mata tajam menatap kearah ku. Apa yang sedang dia pikirkan? Apa dia marah, karena aku mengganggunya?
Aku tidak perduli, aku langsung berjalan menuju gagang pintu.
"Mau kemana?" tanya Bara masih dengan posisinya.
"Buat sarapan!" ucapku.
"Temani aku tidur lagi. Aku masih ingin memeluk tubuhmu," ucap Bara.
"Tidak. Aku ingin libur bercinta denganmu hari ini," tawaku.
"Kenapa tidak mau? Apa kau bosan denganku?" tanya Bara sambil beranjak dari tempat tidur. Dia mendekat ke arahku, lalu melingkarkan tangannya ke leherku.
"Lepas! Jangan ganggu aku hari ini," ucapku sambil berjalan keluar dari kamar.
Bara terlihat bingung dengan sikapku. Harusnya kau tahu betul, kenapa aku marah padamu!
Aku mulai membuat sarapan, walaupun dengan wajah agak kesal. Masa Bara tidak tahu, ini hari apa? Hari spesial untuk seorang wanita. Hari dimana wanita ingin diperlakukan istimewa oleh suaminya.
Aku masih cemberut sampai tiba-tiba Ardi datang, memberikan coklat valentine untukku.
"Selamat hari kasih sayang Kakak ipar," ucap Ardi sambil memberikan coklat.
Aku menatap wajah Ardi, lalu menerima coklat yang dia berikan untukku. Ini adalah tahun pertama aku merayakan valentine bersama Bara, tapi Bara bahkan lupa dengan hari kasih sayang ini.
"Maaf ya, aku sudah terbiasa memberikan ini padamu, Chika! Aku tidak bermaksud lancang, aku hanya rindu. Biasanya setiap tahun, kita merayakan hari valentine bersama. Tapi tahun ini berbeda. Aku merayakan valentine bersama Kakak iparku, bukan lagi dengan Chika kekasihku," ucap Ardi sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Aku tersenyum, lalu menatap wajah Ardi yang terlihat begitu sedih. Banyak hal yang pernah kami lalui bersama, bahkan semua begitu indah. Sayang, takdir hanya menjadikan Ardi sebagai perantara, untuk aku bertemu dengan Bara.
Aku masih ingat, setiap tahun kami selalu merayakan hari valentine bersama. Menghabiskan waktu berdua, jalan-jalan bersama, bahkan sampai dinner romantis bersama. Aku sedih, karena sampai detik ini, Ardi belum bertemu dengan jodohnya. Ada jutaan rasa bersalah berkecamuk dihatiku.
"Terimakasih, untuk coklatnya," ucapku sambil tersenyum.
Aku kembali menyiapkan sarapan, Ardi ikut membantuku menghidangkan makanan itu dimeja makan. Ardi masih menatapku dengan penuh kesedihan, lalu duduk kembali di kursi meja makan.
"Apa kau akan merayakan valentine bersama Kak Bara? Kalau aku ingat hari valentine, rasanya aku ingat semua tentang kita. Kita selalu menghabiskan waktu bersama, jalan-jalan bersama, bahkan dinner bersama. Bukankah dulu kita bahagia?" ucap Ardi sambil membayangkan momen itu.
"Jangan mulai lagi, adik ipar!" tawaku, agar Ardi tidak semakin mengingat kenangan bersamaku.
Ardi tersenyum getir, masih terlihat melamun menatap kearah ku.
"Ajak pacarmu kemari! Nanti kita buat acara disini, bersama aku dan Kakakmu. Bagaimana?" ucapku lagi.
Ardi hanya diam, matanya berkaca-kaca menatapku. Ternyata sesulit itu, Ardi melupakan kenangan aku bersamanya. Ditambah, yang aku nikahi adalah Kakak dari mantan pacarku ini. Pasti sangat menyakitkan!
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku undang Marsya," tiba-tiba bibirku mengucapkan kata-kata itu.
"Semangat sekali! Kau sekarang suka sekali memaksaku ya!" ucap Ardi sambil mengambil roti dan segelas susu.
"Biar saja! Marsya cantik, dia baik, setidaknya setelah kau menjadi kekasihnya, kau bisa membuat kenangan baru bersamanya," ucapku.
"Huh... Mulai lagi!" ucap Ardi sambil cemberut ala-ala anak bocah.
Bara keluar dari kamar, sudah rapi dan terlihat begitu tampan. Bara duduk menatap kearah ku yang masih pura-pura marah. Masa dia lupa, untuk memberi kado spesial dihari kasih sayang ini.
Bara kembali kedalam kamar dengan senyum yang terpancar diwajahnya. Lalu dia datang membawa sebuah rangkaian bunga ditangannya.
"Selamat hari valentine, sayang!" ucap Bara sambil memeluk dan mengecup bibirku.
Aku tersenyum senang, aku pikir Bara benar-benar melupakan hari ini. Hari valentine pertama untukku sebagai istri Bara.
"Terimakasih," ucapku senang.
"Hanya itu?"
"Memang mau apa?" tanyaku.
"Berikan aku hadiah," ucap Bara.
"Hadiah apa?"
"Cium aku," bisik nakal dari bibir Bara.
"Apa?"
"Kenapa? Cium aku cepat!" ucap Bara semakin tidak sabar.
"Tidak. Aku mau lihat, kau mencium ku," tawa Bara.
"Muach..."
Satu kecupan mendarat di pipi Bara, ada rona merah yang muncul di wajahku. Kenapa aku jadi malu begini.
"Ehem... Ada aku Kak! Nanti lakukan dikamar saja," ucap Ardi sambil memakan roti ditangannya.
Aku bahkan lupa dengan Ardi yang sedang sarapan dihadapan kami. Aku dan Bara benar-benar mabuk cinta, serasa dunia milik kami berdua. Rona merah di wajahku pun semakin terlihat.
"Hari ini aku mau mengajakmu jalan-jalan berdua! Aku sudah meminta Ibu untuk menjaga Alesha dan Alghi. Jadi kita bisa menghabiskan malam bersama berduaan saja!" ucap Bara.
"Mau kemana?"
"Jalan-jalan. Memang mau apa lagi?" tawa Bara.
"Tapi, aku dan Ardi ingin membuat acara disini. Aku ingin mengundang Marsya sebagai pasangan Ardi," ucapku sambil menoleh kearah Ardi.
"Kakak ipar, jangan mulai!" teriak Ardi.
"Jangan memaksa Ardi, biarkan dia mencari Marsya saat dia benar-benar merindukannya," ucap Bara diiringi tawa.
"Kak Bara sama saja ternyata! Aku mau pergi saja," ucap Ardi sambil berdiri dari duduknya.
"Sarapan mu?" ucapku.
"Aku sudah kenyang," ucap Ardi berjalan keluar rumah sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Ayo kita kencan! Bersiaplah," ucap Bara.
Aku masuk kedalam kamar untuk mengganti bajuku, tapi tiba-tiba Bara menarik tanganku dan memelukku erat.
"Aku minta jatahku. Pagi ini, kau belum memberikannya," bisik Bara pelan.
Aku hanya bisa pasrah saat Bara menjatuhkan tubuhku di atas tempat tidur. Serasa seperti pengantin baru yang hampir setiap hari melakukan ini. Tapi aku tidak pernah menolak, aku tahu betul tugasku melayani keinginan suamiku.
Bara mencium bibirku lembut, matanya terpejam, seolah menikmati ciuman itu. Aku tak kuasa menahan hasrat dibenak kami masing-masing. Apa kami berdua tidak bosan melakukan ini setiap hari?
Aku mengusap keringat Bara yang membasahi wajahnya. Sepertinya dia mengeluarkan semua kekuatannya untuk menyerang ku kali ini.
"Sakit... Pelan-pelan," bisikku.
"Iya, sayang!" ucap Bara sambil mengecup bibirku.
Dia memperlambat permainannya, yang awalnya begitu beringas, menjadi lebih lembut. Kenapa kami jadi menghabiskan waktu dikamar berdua? Bukankah dia tadi mengajakku kencan diluar?
Kecupan manis mendarat dibibir ku cukup lama, Bara melepaskan semua hasrat birahinya padaku.
Bara berbaring disampingku, dia menatap wajahku yang kesal dengan ulahnya. Dia tahu betul alasanku marah.
"Aku mau jalan-jalan keluar, bukan menghabiskan waktu dikamar berdua denganmu. Aku tidak mau kau habisi aku disini," ucapku kesal.
"Maaf," tawa Bara sambil mengusap lembut rambutku.
"Mandi sana! Atau mau mandi berdua denganku?" tanyanya yang membuatku brigidik mendengarnya.
"Aku bisa sendiri, aku tidak mau ada ronde selanjutnya setelah ini," ucapku sambil tertawa.
Aku berjalan menuju kamar mandi, aku membasahi seluruh tubuhku. Setelah selesai aku keluar dari kamar mandi. Aku mengambil baju yang ada didalam lemari, lalu kembali masuk kedalam kamar mandi.
"Kenapa pakai bajunya didalam? Kita sudah menikah, hampir tiga bulan. Apa kau masih malu memakai baju dihadapanku?" tanya Bara sambil mendekat kearah ku.
"Jangan macam-macam, Mas!" ucapku, saat Bara menarik handuk yang melilit ditubuh ku.
Bara menatap tubuhku yang sudah polos tanpa pakaian, lalu dia mulai mendadani ku seperti seorang pelayan. Memakaikan pakaianku, lalu menarik ku agar duduk dimeja rias.
Aku tertawa, saat Bara mulai mengolesi wajahku dengan cream wajah, lalu mulai memberi bedak di wajahku. Dia mengolesi lipstik di bibirku, dengan sangat hati-hati. Aku hanya diam memperhatikan Bara yang asyik bermain dengan wajahku.
Bara mengambil maskara, lalu menatap kearah ku.
"Yang ini untuk apa?" tanyanya.
"Itu untuk bulu mataku. Kalau tidak bisa, tidak usah!" ucapku.
"Tidak. Hari ini hari spesial untukmu! Aku ingin membuat istriku cantik dengan tanganku sendiri," ucapnya diiringi tawa.
Aku malah takut mendengarnya, apa yang akan terjadi dengan wajahku?
"Tenanglah. Percayalah padaku, hasilnya akan menakjubkan!" tawa Bara.
"Semoga," bisikku pelan.
Bara masih berusaha keras, mendadani wajahku sebisanya. Aku berkali-kali menggeleng tak percaya dengan tingkah suami kesayanganku ini. Aku menatap wajah Bara yang bercucuran keringat. Pasti tidak mudah untuk Bara merias wajahku.
"Selesai!" ucapnya dengan wajah sumringah.
Gimana ya, hasil riasan suami kesayangan Chika? Kalau benaran bagus, entar buka salon kecantikan ya Bara.ðŸ¤
Like dan Vote ya, beri dukungan untuk Bara dan Chika. Terimakasih.💕💕
__ADS_1