
Aku tersenyum menatap kearah Bara, entah kenapa aku ingin sekali menghiburnya. Sudah cukup semua hal buruk yang terjadi pada kami, hanya karena masa lalu aku dan Ardi.
"Mas, ayo masuk!" ucapku sambil menarik tangan Bara lembut.
"Kau tahu, bersama denganmu adalah hal yang paling indah untukku. Aku sudah tidak sabar menjadi seorang Ayah. Jangan pernah tinggalkan aku, Chika!" ucap Bara sambil mencium keningku.
Tiba-tiba Marcell menghampiri kami, dia fokus menatap kearah kami. Sontak membuat aku mendorong tubuh Bara karena terkejut.
"Kalian sedang apa?" tawa Marcell.
Aku dan Bara saling menatap sambil tertawa, sementara Marcell masih diam terpaku menatap kearah kami.
"Kau masih kecil, jangan coba-coba ingin tahu!" tawa Bara.
"Aku sudah dewasa Kak Bara, bahkan disekolah aku sudah punya pacar," ucap Marcell penuh keseriusan.
"Berapa pacarmu?" tanya Bara.
"Satu..."
"Belum cukup! Kau harus punya sepuluh pacar, jika kau sudah dewasa!" ucap Bara menahan tawa.
Aku hanya menggelengkan kepalaku, menatap kearah Bara dan Marcell. Marcell menatap kearah ku, lalu bertanya dengan perasaan ingin tahu.
"Apa benar yang dikatakan Kak Bara, Kak Chika? Aku harus punya sepuluh pacar baru bisa jadi dewasa?"
"Kak Chika baru dengar!" tawaku.
"Berarti Kak Bara bohong!" tawa Marcell.
"Tidak. Kak Chika yang bohong! Kak Bara, mana pernah bohong!" ucap Bara meyakinkan.
"Jangan mengajari Marcell yang tidak-tidak! Cukup kau saja yang nakal dan membuatku sakit kepala!" tawaku sambil berjalan meninggalkan mereka.
"Kak Bara, apa Kak Chika marah padamu?" tanya Marcell.
"Tidak. Dia hanya sedang cari perhatian! Dia ingin berdua saja bersama Kak Bara," tawa Bara menatap kearah ku.
"Kalian benar-benar punya sifat yang sama! Huh... Kembar!" tawaku sambil menatap kearah mereka.
"Kita memang kembar Kak Chika!" tawa Marcell.
"Kita dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang sama!" ucap Bara sambil tertawa.
"Huh... Kau bahkan begitu bahagia, disamakan dengan anak berusia 8 tahun. Apa aku sudah menikahi seorang anak berusia 8 tahun?" tawaku membuat Bara membuka mulutnya.
Bara melepaskan tangannya yang merangkul Marcell, lalu berjalan mendekat kearah ku berdiri. Matanya menatap tajam ke wajahku. Bukannya takut, justru aku malah ingin tertawa keras.
"Apa yang lucu? Kau benar-benar berpikir jika aku laki-laki berusia 8 tahun? Apa laki-laki berusia 8 tahun bisa melakukan ini!"
Bara memegang wajahku dengan kedua tangannya, lalu mencium bibirku tanpa tahu malu. Marcell yang berada tepat dibelakang Bara tertawa, terlihat antusias menatap kearah kami. Aku mendorong tubuh Bara, menatap kearah Bara dengan wajah kesal.
"Kenapa? Kenapa kau mendorongku?" tanya Bara.
"Marcell melihat kau mencium ku! Apa kau ingin mengajarkan adik mu hal seperti itu? Marcell masih kecil, kau mau merusak mata polosnya?" ucapku sambil memukul bahu Bara.
"Biarkan saja, biar dia belajar!" tawa Bara sambil menoleh kearah Marcell.
"Belajar apa? Belajar mesum seperti mu?" bisikku kesal.
"Apa seperti itu, cara mendapatkan sepuluh pacar?" tawa Marcell.
"Tidak. Jangan pernah mencontoh perbuatan Kak Bara! Marcell, lebih baik masuk kedalam kamar mu!" ucapku.
Marcell mengikuti perintah ku, dia berjalan masuk kedalam kamarnya. Sementara Bara menarik tubuhku kedalam pelukannya.
"Kenapa kau mengusir adikku? Biarkan dia belajar dari hubungan percintaan kita!" tawa Bara.
"Kau benar-benar tidak waras!"
"Tapi kau mencintai pria tidak waras ini, kan!" tawa Bara sambil mengecup bibirku.
Aku hanya tersenyum, menatap kearah Bara yang asyik memainkan jari-jarinya di wajahku.
"Ayo masuk kamar! Penuhi janjimu untuk membuat tanda merah di tubuhku!" tawa Bara sambil menarik tanganku masuk kedalam kamar.
Bara menutup pintu kamar kami, lalu membuka jas dan kemejanya dihadapanku. Bara menuntunku naik keatas tempat tidur, lalu Bara merebahkan tubuhnya ditempat tidur. Aku duduk ditepi tempat tidur, masih menatap tubuh Bara yang telanjang dada.
"Ayo..." ucap Bara tidak sabar.
"Mau apa?"
"Buatkan aku tanda merah. Disini, disini dan disini!" tawa Bara.
__ADS_1
"Pilih disatu tempat saja! Aku tidak mau menggigit seluruh tubuhmu!"
"Kenapa? Aku ingin kau membuat tanda merah itu di seluruh tubuhku," ucap Bara sambil menarik tubuhku naik keatas tempat tidur.
"Tidak mau. Aku tidak bisa!" ucapku.
"Biar aku ajari sini!" ucap Bara sambil bangun dan menarik tubuhku menyandar kedalam pelukannya.
Bara mulai menciumi bibirku, menggigit lembut bibirku dengan sentuhan cinta yang membuat aku tak berkutik. Bibir Bara mulai meluncurkan aksinya menyusuri leherku. Gigitan corak merah itu terasa begitu sakit, namun aku tidak ingin menghentikannya. Beberapa kali Bara menggigit lembut leherku, padahal tanda di leherku baru saja menghilang. Tapi hari ini, Bara membuat corak merah itu kembali lagi.
"Sudah!" ucapku sambil mendorong tubuh Bara.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau, kau membuat banyak corak merah dileher ku lagi!" bisikku.
"Kenapa? Apa kau malu menjadi istriku?" tanya Bara.
"Bukan begitu! Apa anggapan orang, jika melihat leherku selalu bercorak merah?" ucapku.
"Biarkan saja! Kau kan punya suami, kenapa harus malu mendengarkan cibiran orang?" tawa Bara.
"Huh... Terserah kau saja, aku pasrah!" ucapku.
Bara tertawa lalu kembali merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Tangan Bara menarik tanganku agar segera melakukan keinginannya. Benar-benar tidak bisa dihindari lagi kemauannya!
Aku mendekatkan bibirku kearah leher Bara, aku mencium wangi parfum yang selalu digunakan Bara.
"Ayo gigit!" bisik Bara ditelinga ku.
"Sabar dulu. Kau tidak tahu, ini pengalaman pertama untukku. Aku tidak pernah melakukan hal seperti ini!" bisikku.
Bara tersenyum lalu mendorong lembut kepalaku, mengarahkan kearah lehernya. Huh... Benar-benar tidak sabaran!
Aku mengigit lembut leher Bara, sementara Bara sendiri sudah tidak bersuara. Pasti dia begitu menikmati hal ini, sehingga dia diam seribu bahasa.
Aku membuat tiga corak merah, dileher Bara dua dan didada Bara satu. Lalu aku duduk diposisi dudukku semula. Bara terlihat tidak puas dengan hasil karyaku.
"Buat lebih banyak!" ucapnya.
"Tidak mau. Aku lelah! Apa kau akan menyiksa istrimu yang sedang hamil ini?"
Bara kembali tertawa, lalu duduk menghadap kearah ku. Bara mencium keningku lalu memelukku erat.
"Aku mengampuni mu kali ini, karena kau sedang mengandung anakku! Tapi lain hari, kau harus membuat corak merah di seluruh tubuhku," ucap Bara.
"Karya yang membanggakan!" tawa Bara sambil menatap kearah ku.
"Itu karya memalukan!" ucapku.
"Lihat saja, besok akan ku pamerkan corak merah hasil buatan mu pada tetangga dan karyawan kantorku!" ucap Bara.
"Terserah kau suamiku! Aku sudah pasrah menghadapi mau mu!" ucapku.
"Aku jadi makin cinta pada istriku kalau begini!" ucap Bara sambil mendekat kearah ku.
Bara meraih tubuhku, lalu mulai kembali menciumi bibirku tak terkendali. Aku hanya memejamkan mataku, berusaha untuk menikmati apa yang dilakukan Bara padaku.
Bara melepaskan bajuku, lalu melemparnya ke sembarang arah. Kini tangannya mulai menyusuri setiap bagian tubuhku. Ada jutaan rasa yang aku rasakan, saat Bara mulai menjebol pertahanan ku.
Bara masih menciumi bibirku tak terkendali, sementara aksinya masih terus berlanjut. Gerakan tarik ulur dan beberapa gerakan tambahan yang dibuat Bara, membuatku makin mengerang keras.
"Ahhhhhhh......"
"Pelan kan suaramu! Apa kau ingin semua tetangga masuk kedalam kamar kita?" bisik Bara.
"Pelan-pelan, lakukan berlahan dan lembut!" bisikku.
Bara tertawa sambil mengusap keringat yang bercucuran di wajahku. Lalu mulai kembali melanjutkan hasrat cintanya padaku. Bibirnya kembali menggigit lembut bibirku. Mata Bara terpejam seolah menikmati setiap hal yang dia lakukan padaku.
Sampai erangan kenikmatan itu berakhir saat Bara mencapai klimaksnya. Bara masih berada diatas tubuhku, lalu kembali mencium bibirku.
"Sudah. Bibirku sakit!" bisikku.
"Apa hanya bibir yang sakit?" tawa nakal Bara.
"Itunya juga sakit! Ini ulah mu! Aku sepertinya sudah tidak sanggup berdiri," ucapku.
"Biar saja! Jika kau tidak sanggup berdiri, aku jadi lebih mudah melakukannya!" tawa Bara.
"Huh... Tidak pernah puas kah kau dengan tubuhku ini?"
"Tidak."
"Apa arti kata tidak?"
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah puas melakukan hal ini bersamamu! Kalau kau sanggup, aku mampu melakukannya lima sampai enam kali sehari," tawa Bara.
"Entah seperti apa nasibku, jika itu benar-benar terjadi!" ucapku cemas.
"Hahaha..." Bara tertawa puas.
"Mungkin aku tidak bisa berdiri lagi!" bisikku.
"Tidak apa! Aku akan menggendong mu, jika perlu aku yang akan memandikanmu!" bisiknya sambil memainkan tangannya di wajahku.
"Baru membayangkannya saja, aku sudah tidak sanggup!" ucapku sambil menggigit bibirku.
"Bersiaplah dari sekarang!" tawa Bara.
"Tidak!"
"Kau harus siap," tawa Bara sambil masuk kedalam kamar mandi.
Tak lama Bara keluar dari dalam kamar mandi, rambutnya basah membuatku menelan ludah. Apalagi saat menatap bibir merah eksotisnya, membuat aliran darahku berhenti seketika.
Bara mendekat kearah ku, tangannya melingkar di leherku sambil menggigit ujung bibirnya. Benar-benar makhluk Tuhan yang paling sempurna. Dan aku, adalah pemilik laki-laki sempurna dihadapanku ini.
"Kenapa melamun? Apa kau terpesona dengan keindahan wajahku?" tawa Bara.
Aku hanya diam, asyik menatap wajah nan indah dihadapan ku. Bara mengarahkan bibirnya mendekat kearah bibirku.
"Mau apa?" ucapku terkejut.
"Cium!"
"Tidak. Bibirku perih! Hampir setiap jam kau mencium bibirku! Tidak mau!"
"Apa kau tidak bernafsu, menatap bibirku ini?" tanya Bara sambil mengarahkan tanganku agar menyentuh bibirnya.
"Kau benar-benar tahu kelemahan ku ya!" ucapku sambil memainkan tanganku dibibir manis milik Bara.
"Bibir ini milikmu. Cium saja, tidak apa-apa!" tawa Bara.
"Hah... Aku ingin, tapi bibirku masih sakit karena ciuman maut mu yang bertubi-tubi padaku!"
"Jangan sampai menyesal, karena sebentar lagi aku ada rapat di kantor!" tawa Bara.
"Rapat apa? Ini sudah jam dua siang!"
"Aku ada meeting dengan perusahaan besar mungkin hanya satu atau dua jam!" ucap Bara.
"Aku ditinggal disini?" tanyaku, tidak rela ditinggal Bara.
"Iya. Kau dirumah saja bersama Ibu dan yang lain! Aku tidak mau, kejadian Fero terulang lagi. Pria pasti akan bernafsu jika menatap wajah cantik istriku, jadi kau tidak usah ikut!" ucap Bara.
"Aku ingin ikut!"
"Tidak, sayang! Cium saja aku sepuas hatimu, sebelum aku benar-benar berangkat meeting!" tawa Bara.
Aku menjingkitkan kakiku, lalu memegang wajah Bara. Aku mencium bibir Bara, tanpa gerakan lain kecuali sentuhan bibir dengan bibir. Tak lama aku melepaskan ciuman itu.
"Ciuman apa itu? Tidak enak!" tawa Bara.
"Ciuman darurat! Ini karena bibirku masih perih karena ulah mu!" ucapku.
Bara tertawa sambil memakai jas kantornya, dia menatap kearah cermin sambil merapikan rambutnya yang basah. Aku mengambil handuk kecil, lalu meminta Bara untuk duduk di kursi meja rias. Aku mengeringkan rambut Bara sambil menatap wajah Bara dari cermin.
"Kenapa kau tampan sekali!" gumam ku.
Bara tertawa, pasti ucapanku terdengar sampai ke telinganya. Tapi memang harus kuakui, suamiku memang sangat tampan!
"Aku akan pergi sekarang! Apa tidak ada yang ingin kau lakukan lagi padaku?" tanya Bara.
"Tidak. Bukankah kau sudah mendapatkan semuanya?" ucapku kesal
"Mungkin ada yang ingin kau beli? Biar nanti akan aku belikan!" ucap Bara.
"Aku ingin minum air kelapa muda, tolong belikan!" ucapku.
"Tidak ada yang lain?"
"Kau cepat pulang, dan sampailah di rumah dengan selamat. Itu saja!" ucapku sambil memeluk tubuh Bara.
"Ah, kau benar-benar membuatku berat meninggalkan rumah ini!"
"Hahaha... Sudah pergi sana! Cepat pulang untukku!" tawaku sambil mengantarkan Bara sampai luar rumah.
Aku menatap Bara berlalu bersama mobil yang dikendarainya. Aku masuk kedalam rumah, menatap kamarku yang berantakan. Tiba-tiba ponselku berbunyi, ada panggilan video masuk. Aku menatap layar ponsel, lalu berbicara dengan si penelpon.
__ADS_1
Bisa tebak siapa yang telepon Chika? Kalau bisa tebak, aku Up lagi hari ini! Mudah-mudahan gak bisa jawab, lagian emang ada yang nunggu ceritaku yang belum sempurna ini. Tetap tunggu kelanjutan cerita Chika dan Bara ya! Dukung aku ketik Like, Komen, dan beri Vote, terimakasih untuk para pembaca yang selalu menunggu karyaku. Semoga diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki. I Love You, reader and Author-Author kece.💕