
Keesokan harinya aku bangun dari tidur, mencari keberadaan suamiku. Aku keluar dari kamar mencari Bara ke setiap sudut rumah. Aku menatap Bara berada dihalaman rumah. Dia sedang berolahraga disana. Beberapa tetangga, asyik memandangi suamiku dari luar gerbang rumah.
Aku bingung, apa Bara sengaja mengumpulkan para tetangga untuk melihatnya berolahraga? Aku melihat Marisa mendekat kearah Bara, dia memberikan cangkir berisi teh hangat pada Bara. Huh... Apa-apaan wanita itu, kenapa aku kesal sekali melihatnya? Bara menerima teh hangat yang diberikan pelayan itu. Kenapa aku tidak rela? Kenapa?
Bara menatap kearah ku yang berada didepan pintu. Dia mendekat, lalu mencium dan memeluk tubuhku.
"Kau sudah bangun? Apa masih pusing?" tanyanya.
"Sedang apa? Kau tidak malu, bermesraan dengan Marisa didepan para tetangga?"
"Kau ini. Aku sedang berolahraga, tidak sedang mesra-mesraan dengan siapapun!"
"Tadi aku lihat, kau bermesraan dengannya," bisikku.
"Kau ingin aku menunjukkan, apa yang itu bermesraan?" Bara memeluk tubuhku, mendekatkan wajahku kearah wajahnya.
Aku menatap, tetangga makin banyak berkumpul didepan gerbang rumah kami. Sontak aku mendorong tubuh Bara, lalu berlari masuk kedalam rumah. Aku duduk di sofa ruang tamu. Tapi Bara masih belum puas mengerjai ku. Matanya menatap nakal ke arahku.
"Ayo, aku ingin menunjukkan padamu, seperti apa romantis itu! Sini, berikan bibirmu untuk ku cium," ucap Bara yang membuatku geli.
"Tidak, apa yang kau lakukan?" tawaku.
Tapi Bara tidak menyerah dia terus melakukan hal yang membuatku tertawa keras.
"Bara hentikan! Lepaskan!" teriakku sambil tertawa.
"Tidak akan!" Bara ikut tertawa.
"Berikan aku ciuman itu dulu!" ucapnya.
"Apa-apaan... Ini bukan kamar kita, Alesha bisa saja tiba-tiba datang dan melihat ulah mu ini."
"Ya sudah. Ayo lanjutkan dikamar kita," kata Bara sambil menarik lembut tanganku.
Pagi yang selalu ku awali dengan kemelut cinta Bara, rasanya aku mulai terbiasa dengan ini. Setelah selesai dengan keinginannya, Bara segera bersiap pergi ke kantor.
Aku selesai mandi, menatap Bara yang sudah siap dengan setelan jas kantornya. Aku tersenyum menatap kearah suamiku yang tampan. Kecupan itu kembali mendarat dibibir ku.
"Sudah, berangkat Mas! Atau, akan terjadi pertempuran sengit lagi dikamar ini," tawaku.
"Hmm... Rasanya, aku lebih ingin menghabiskan waktu berdua dikamar denganmu seharian. Apa tidak bisa, aku bolos kerja hari ini?" tanya Bara membuatku merinding.
"Tidak. Kau harus berangkat kekantor! Aku tidak mau menghabiskan waktu dikamar berdua denganmu. Aku tidak mungkin melakukan itu seharian bersamamu," ucapku.
Tapi Bara malah tertawa, dia mengecup kembali bibirku sambil mengusap lembut rambutku.
"Hati-hati sayang. Aku berangkat ke kantor dulu ya!" ucap Bara.
Aku hanya tersenyum sambil melambaikan tanganku kearah Bara yang keluar dari kamar kami. Aku membereskan semua kondisi kamar yang berantakan. Rasanya aku benar-benar dibuat tidak waras oleh cinta yang diberikan Bara padaku.
Aku terus membayangkan hal indah bersama Bara, tapi tiba-tiba aku terkejut menatap Ardi ada di kamarku.
"Ardi, mau apa kau kemari?" tanyaku kaget.
"Aku ingin menemui kekasihku." ucapnya sambil tersenyum.
Ardi menarik tanganku lembut, mendekap ku dalam pelukannya. Dia menatap tajam kearah ku, lalu mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku mendorong tubuh Ardi. Namun dengan sigap Ardi meraih tubuhku dan memeluknya lagi.
__ADS_1
"Lepaskan aku! Pergi!" teriakku.
Ardi melepaskan pelukannya ditubuh ku, lalu menatapku yang menangis karena ulahnya.
"Sudah jangan menangis! Aku tidak akan melakukan hal buruk padamu, Chika! Aku hanya merindukanmu. Aku merindukan kekasih kesayanganku ini," ucapnya sambil mengusap air mataku, lalu mencubit pipiku.
"Apa kau setakut itu padaku? Aku ini hanya ingin bertemu denganmu. Aku merindukanmu Chika!" katanya.
"Ardi, pulanglah! Jangan membuat masalah baru untukku. Aku mohon pulanglah!" ucapku.
Tapi Ardi malah tersenyum, dia duduk di tepi tempat tidur. Aku harus bagaimana?
"Jadi, ini rumah kau dan Kak Bara?" tanyanya.
Aku tidak menjawab, aku diam menatap kearah laki-laki itu. Sebenarnya, mau apa dia disini?
"Aku juga sudah menyiapkan rumah yang lebih besar dari ini untuk kita tinggal setelah kita menikah. Sayang sekali, rumah itu tidak mungkin kita tempati bersama. Karena kau memilih menikah dengan Kak Bara daripada menikah denganku," ucap Ardi.
"Kita tidak jodoh," ucapku.
"Bukan tidak jodoh. Tapi karena kau, telah jatuh cinta pada Kakakku. Kau melupakan aku, karena kau sudah memiliki perasaan cinta pada Kakakku kan?"
"Iya. Itu benar! Jadi, kau juga harus berusaha melupakan aku. Kejarlah cinta lain, lupakan aku!" ucapku.
"Aku tidak bisa. Aku mau kau yang menjadi istriku. Aku ingin bersamamu menjalani sisa hidupku. Tidak ada tempat untuk wanita lain disini," ucap Ardi sambil memegang tanganku lalu menyimpan tanganku ke dadanya.
"Aku sudah memberikan hatiku ini untukmu. Aku tidak akan pernah mau mencari penggantimu. Aku mencintaimu Chika," ucapnya.
"Kenapa, kau tidak melupakan aku saja! Berbahagialah, jalani hidupmu bersama wanita lain. Aku tidak mau terus menyakiti hatimu," ucapku sambil menangis.
Aku menyerah, berbicara dengan Ardi hanya buang-buang waktu. Aku keluar dari kamar, tapi Ardi terus mengikuti ku. Marisa yang baru keluar dari dapur melotot menatap kearah kami. Ya Tuhan, apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Ardi kembali menarik tanganku dan memeluk tubuhku, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan agar Ardi pergi dari rumah ini?
"Mbak, kau bawa laki-laki masuk kedalam kamar?" teriak pelayan itu.
Aku mencoba melepaskan pelukan Ardi yang semakin erat memelukku.
"Tolong aku, laki-laki dihadapanku ini sudah tidak waras. Dia tiba-tiba masuk kedalam kamarku. Tolong bantu aku, Marisa!" teriakku.
Pelayan itu malah asyik menatap wajah Ardi, dia bahkan sama sekali tidak membantuku.
"Memangnya ada, laki-laki tidak waras setampan dia?" gumam pelayan itu.
Ardi tersenyum lalu melepaskan pelukannya, aku buru-buru bersembunyi dibelakang tubuh Marisa.
"Sayang, kemari! Aku masih ingin bersamamu," ucap Ardi sambil menarik lembut tanganku.
"Jadi, Mbak Chika selingkuh dari Pak Bara? Hah, selingkuhannya lebih tampan dari suamimu. Bagaimana bisa? Ajari aku cara memikat laki-laki Mbak!" ucap pelayan itu malah kegirangan. Apa dia tidak tahu, aku bahkan ingin berlari sejauh mungkin untuk menghindari Ardi.
"Kemari Chika!" Ardi menarik tanganku, namun aku menolak.
Ardi malah tersenyum manis, dia melangkah mendekat kearah ku.
"Marisa, bantu aku! Usir laki-laki ini dari rumahku." kataku.
"Kenapa diusir? Sudahlah Mbak, tidak usah pura-pura. Saya janji tidak akan mengadukan hal ini pada Pak Bara." Tawa Marisa.
__ADS_1
Pelayan wanita itu sama gilanya, aku harus bagaimana? Aku tidak mau Ardi terus menggangguku. Tapi Ardi berhasil meraih tubuhku dalam dekapannya. Bukannya menolong, pelayan itu malah menonton.
"Aku mencintaimu, Chika!" bisik Ardi yang mendekatkan bibirnya ke bibirku.
Air mataku mengalir, saat Ardi mencium bibirku. Aku berusaha menolak, aku meronta tapi semua terjadi. Ardi melakukan hal gila itu didepan pelayan baru itu. Bagaimana ini? Bagaimana jika Bara sampai tahu?
Ardi masih memainkan lidahnya di bibirku, aku memukul dadanya berkali-kali namun tidak berhasil membuatnya berhenti melakukan itu padaku. Sementara Marisa malah tepuk tangan melihat Ardi mencium bibirku.
Aku mengumpulkan seluruh tenagaku, aku mendorong tubuh Ardi menjauh dariku. Bibirku sakit, mungkin karena Ardi menciumnya dengan penuh nafsu. Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku? Bagaimana cara agar Ardi mengerti, jika aku ini sudah menikah dengan Kakaknya?
Ardi tertawa menatap kearah ku, dia kembali mendekat, lalu mengusap bibirku yang basah karena ciumannya itu. Cih, andai aku bisa melakukan sesuatu padanya. Aku ingin sekali memukul wajahnya!
"Kenapa sayang? Apa bibirmu sakit? Aku benar-benar merindukan ciuman itu. Aku sangat ingin memilikimu," ucapnya.
"Sampai kapan kau akan terus melakukan hal menjijikkan ini padaku? Aku tidak ingin kembali bersamamu. Aku sudah menikah. Aku ingin memulai hidupku, tanpamu!" ucapku.
"Sayang, sudah ya. Aku tidak ingin terus membahas tentang pernikahanmu. Aku hanya akan membahas semua tentang kita." tawanya.
"Pergilah Ardi. Aku tidak ingin melihat wajahmu," ucapku.
Tapi tiba-tiba Alesha keluar dari kamar, matanya berbinar-binar menatap kedatangan Ardi.
"Kak Ardi? Kau disini? Aku merindukanmu Kak!" ucap Alesha sambil berlari mendekat kearah Ardi.
"Benarkah? Kau merindukan Kak Ardi?" kata Ardi sambil jongkok dan memeluk tubuh Alesha.
"Tentu Kak."
"Tapi sepertinya, Kak Chika tidak merindukan Kak Ardi. Dia ingin Kak Ardi cepat pulang dari rumahmu." ucap Ardi sambil menoleh kearah ku.
"Kak Chika. Jangan begitu! Kak Ardi dulu kan pacarmu! Jadi perlakukan dia istimewa. Lagi pula, Kak Bara tidak ada di rumah, jadi kau tidak perlu takut dimarahi."
Aku tidak peduli dengan ucapan adik kecilku. Aku melangkah meninggalkan mereka, tapi lagi-lagi Ardi menarik tanganku.
"Temani aku bermain dengan Alesha," ucapnya.
Aku terpaksa ikut bermain bersama mereka, karena Alesha merengek. Aku hanya duduk menatap kearah mereka. Aku lihat Ardi bermain bersama Alesha dengan senyum yang terpancar dari bibirnya.
"Ini boneka beruang ku, namanya Mona." Ucap Alesha bercerita.
"Mona? Hai Mona, kenalkan aku Kak Ardi," tawa Ardi.
"Mona tanya padaku, siapa pacarmu?" tanya Alesha sambil tertawa.
"Pacar Kak Ardi, ini..." Tiba-tiba Ardi menarik tanganku kedalam pelukannya.
"Kata beruang ku, kalian cocok sekali! Sudah, kalian menikah saja," tawa adikku.
"Kau dengar, Alesha ingin kau menikah denganku!" ucap Ardi.
Aku mendorong tubuh Ardi, lalu berlari masuk kedalam kamar. Aku tidak ingin terus berada dekat dengannya.
Alesha mengetuk pintu kamarku, dia merengek minta aku menemaninya main.
"Kak Chika, kenapa pergi? Ayo main lagi. Kak Chika... Buka pintunya!" Alesha terus merengek. Aku menutup telingaku, pura-pura tidak mendengar teriakkan Alesha.
Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi padaku, jika Bara tahu Ardi ada di rumah ini? Aku harus bagaimana?
Apa yang akan terjadi selanjutnya, tetap tunggu kelanjutan ceritanya ya. Beri dukungan Vote dan Like untuk Author.
__ADS_1
Terimakasih.💕💕