Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 44


__ADS_3

Aku dan Marsya masuk kedalam rumah. Setelah selesai makan siang, Alesha langsung belajar bersama Marsya. Aku hanya melihat Marsya dengan cekatan mengajari Alesha berhitung.


"Jika Alesha sudah selesai, dan jawabannya benar semua, Kak Marsya akan memberikan hadiah," ucapnya.


"Hadiah apa?" Alesha semangat.


"Coklat."


"Ah, aku mau!"


"Usahakan Alesha menjawab semua pertanyaan dengan benar ya," ucap Marsya.


Aku membawakan jus jeruk dan kue untuk Marsya. Lalu duduk disamping Alesha.


"Bagaimana? Apa sulit?" tanyaku pada adikku.


"Tidak. Aku bisa Kak Chika! Ternyata menghitung itu mudah," ucap Alesha dengan bangga.


"Wah, hebat! Kalau Alesha mendapat juara kelas, Kak Chika akan memberikan hadiah istimewa untuk adik kecil Kakak ini," tawaku.


"Benarkah?"


"Iya. Sekarang, selesaikan semua soal yang diberikan Kak Marsya itu. Kak Chika mau masak dulu. Tadi Kak Bara bilang, akan pulang jam 3 sore ini. Selamat belajar sayang, semangat!" ucapku sambil masuk ke dapur.


Saat aku sedang memasak tiba-tiba, Ardi masuk kedalam dapur dengan wajah kesal menatap kearah ku.


"Kakak ipar, kenapa kau bawa dia kemari? Aku sudah bilang, aku tidak mau dengan dia! Cari wanita lain saja," ucap Ardi kesal.


"Apa masalahnya? Marsya cantik, dia juga baik," ucapku.


"Tapi aku tidak suka dengannya, Kak! Kalau kau terus memaksaku bersama wanita itu, aku akan mencium mu didepan Kak Bara. Biar aku dan Kak Bara kembali bertengkar," ucapnya sambil meminum air dari dalam kulkas.


"Sebenci itu kah kau dengannya?"


"Dia mempermainkan perasaanku. Mengkhianati kepercayaan ku. Aku tidak ingin wanita seperti dia."


"Kenapa? Apa kau pernah menyukainya? Lalu kau merasa dikhianati oleh Marsya, karena wanita itu malah menjual cintamu pada orang lain? Maaf, yang dijual Marsya bukan cinta, hanya fotomu!" tawaku.


"Kau benar-benar bercanda dengan hal yang tidak aku suka?" ucapnya semakin kesal.


"Ardi, maafkan dia seperti aku memaafkan mu! Kau bahkan pernah melakukan kesalahan yang lebih besar padaku. Kau pernah menyetubuhiku, kau membuatku terus bertengkar dengan Bara, tapi aku memaafkan mu. Masa untuk memaafkan kesalahan Marsya kau tidak bisa melakukan hal yang sama denganku!" teriakku kesal.


Ardi menggigit ujung bibirnya, sambil memikirkan ucapanku. Dia menatap kearah ku, lalu membuang pandangannya.


"Apa kau benar-benar ingin aku segera mencintai orang lain? Apa kau sangat ingin, aku segera mencari penggantimu? Apa aku ini begitu mengganggumu?" ucap Ardi dengan tatapan tajam kearah ku.


"Kenapa berpikir begitu? Aku tidak bermaksud, untuk..."


"Tolong hargai usahaku! Belajar melupakanmu saja, itu sudah sangat menyiksaku. Aku ingin satu hal saja! Jangan hadirkan dia dalam hidupku," ucap Ardi geram.

__ADS_1


"Maaf..." Aku tertunduk sedih, air mataku mengalir mendengar ucapan Ardi.


Ardi menarik ujung daguku agar menatap kearah wajahnya.


"Melupakanmu itu sangat sulit. Tapi aku ingin memperbaiki hubungan antara aku dengan Kak Bara. Tolong, mengertilah!" ucap Ardi sambil memelukku.


"Marsya itu pernah melakukan hal yang sangat aku benci. Aku tidak ingin bertemu dengan dia. Jangan kau paksa hatiku untuk menerima kehadirannya," ucap Ardi masih memelukku.


Aku melepaskan pelukan Ardi, menepuk bahu Ardi agar dia bisa tenang. Mungkin aku terlalu antusias mencari pengganti untuk Ardi. Sampai aku melupakan pesan Bara, jika aku tidak boleh memaksa Ardi menerima kehadiran Marsya.


"Aku tidak akan memaksamu. Maaf...," ucapku.


Ardi tersenyum, lalu duduk di kursi meja makan. Aku menatap kesedihan yang mendalam diwajahnya. Apa ada hal lain, yang membuat Ardi membenci Marsya? Tapi apa?


Aku lanjut masak, walau pikiranku tak tentu arah. Banyak hal yang tidak ku ketahui tentang Ardi. Padahal aku berpacaran cukup lama dengannya dulu. Tapi aku sangat yakin, Marsya pasti melakukan hal lain yang membuat Ardi begitu membencinya.


Aku selesai dengan semua masakan ku, lalu menghidangkan masakan itu dimeja makan. Ardi masih terlihat murung di sana. Aku tidak berani mendekat, takut dia marah lagi padaku.


Tak lama Bara pulang, dia langsung masuk kamar untuk mandi dan mengganti bajunya. Setelah selesai mandi, Bara duduk dimeja makan, menatap adiknya terlihat begitu kesal.


"Kenapa kau cemberut? Apa ada hubungannya dengan Marsya?" tanya Bara.


"Tidak." Ardi masih diam mematung.


Aku buru-buru menarik tangan Bara menjauh dari meja makan. Bara cukup terkejut, namun mengikuti langkah kakiku.


"Ada apa?" bisik Bara.



"Aku kan sudah bilang padamu, jangan memaksa Ardi. Jika dia bilang tidak mau, berarti dia memang tidak ingin bertemu Marsya. Kita tidak usah ikut campur terlalu jauh dengan masalah pribadi mereka," ucap Bara.


Aku mengangguk pelan, harusnya aku tidak menghadirkan Marsya, jika tahu sebenci itu Ardi padanya.


Aku mendekat kearah meja makan diiringi Bara dibelakang ku. Aku menatap raut wajah Ardi yang terlihat marah. Aku duduk disamping Ardi, lalu menjulurkan tanganku kearah Ardi.


"Maaf... Harusnya dari awal, aku tidak pernah mempertemukan kau dengan Marsya. Aku benar-benar minta maaf," ucapku.


Ardi tersenyum sambil menepis tanganku lembut.


"Aku tidak marah padamu, Kakak ipar! Aku hanya tidak ingin bertemu dengan wanita itu. Jika kau ingin sekali melihatku punya pacar, nanti malam aku bawa kekasihku kemari," ucap Ardi sambil tersenyum sinis.


Sontak aku dan Bara menatap tajam kearah Ardi. Ardi tertawa keras melihat ekspresi wajah aku dan Bara saat itu.


"Haha... Kenapa? Apa kalian tidak percaya? Aku sudah punya kekasih. Biar nanti malam aku kenalkan!" ucap Ardi sambil menyendok nasi ke piringnya.


Aku dan Bara pun mulai makan, sampai tiba-tiba Marsya dan Alesha mendekat kearah kami. Ardi buru-buru membuang pandangan kearah lain, dia benar-benar tidak ingin melihat Marsya. Apa karena Marsya pernah mencuri fotonya, Ardi sampai sebenci itu pada Marsya? Tidak masuk akal!


"Chika, Alesha sudah selesai belajarnya. Aku pamit ya!" ucap Marsya sambil menoleh kearah Ardi yang buang muka.

__ADS_1


"Iya. Terimakasih ya, Marsya!" ucapku.


"Kau tidak mau makan dulu bersama kami?" tanya Bara sambil tertawa.


"Tidak, terimakasih! Aku cukup tahu diri, kehadiranku mengganggu seseorang disini," ucap Marsya sambil tersenyum.


"Bukan hanya mengganggu, tapi membuatku tidak berselera makan! Sudah, pulang sana!" teriak Ardi tanpa menatap kearah Marsya.


Ada air mata yang jatuh di pipi Masya, dengan cepat dia mengusap air mata itu dengan kedua tangannya.


"Maafkan aku!" ucap Marsya pelan, lalu pergi meninggalkan rumah kami.


Aku menatap kepergian Marsya, dengan penuh haru. Tapi Ardi, menoleh pun enggan. Dia memilih melanjutkan makannya, tanpa perduli dengan Marsya. Aku jadi ingin memukul Ardi saat ini! Huh...


****


Malam harinya, aku dan Bara sedang nonton televisi diruang tengah. Tiba-tiba, aku dikejutkan dengan kehadiran Ardi bersama seorang wanita. Aku dan Bara buru-buru menghampiri mereka, menatap tajam kearah wanita itu. Siapa dia?


Ardi merangkul mesra wanita itu sambil tersenyum manis. Dia memamerkan kemesraannya dengan wanita itu dihadapan aku dan Bara.



"Kakak ipar, ini kekasihku!" ucap Ardi tanpa senyum diwajahnya.


"Cantik," ucapku sambil tersenyum.


"Sekarang kalian percaya, kalau aku sudah punya pacar?" ucap Ardi.


"Iya, aku percaya," sahut Bara.


"Jadi mulai sekarang, tidak usah membawa wanita itu ke rumah ini. Aku tidak ingin bertemu dengannya," ucap Ardi.


"Kalau tidak suka, tidak usah dilihat," tawaku.


"Kakak ipar, wanita itu musuhku! Kau benar-benar ingin aku melihatnya setiap hari?" teriak Ardi.


"Yang memintamu melihatnya siapa? Dia hanya datang untuk mengajari Alesha, lalu pulang. Lagipula, saat dia kemari besok, itu masih jam kantor, kau tidak ada di rumah. Jadi, tidak ada masalah kan!" ucapku.


"Terserah kau saja Kakak ipar!" ucap Ardi sambil pergi bersama kekasihnya.


"Kau percaya, wanita itu kekasih Ardi?" bisik Bara.


"Kenapa?"


"Aku rasa, wanita itu hanya disewa Ardi, untuk menghindari Marsya," ucap Bara.


"Maksudmu, Ardi membayar wanita itu untuk membohongi kita?" ucapku kaget.


"Iya. Aku tahu betul bagaimana sikap adikku. Sudahlah, aku tidak mau terus membicarakan Ardi. Aku ingin memanjakan mu malam ini. Ayo kita ke kamar," ucap Bara sambil menggendong tubuhku menuju kamar.

__ADS_1


Gak usah ditanya dan dijelaskan, mau apa mereka berdua kedalam kamar ya!🤭 Bagaimana kelanjutan cerita mereka? Mampukah Marsya membuat Ardi memaafkannya? Tetap tunggu kelanjutan ceritanya ya. Tekan Like atau Jempol juga tekan Vote untuk bantu dukung Author.


Terimakasih.💕💕


__ADS_2