Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 51


__ADS_3

Keesokan harinya, aku bangun. Menatap wajah Bara yang masih terlelap dalam tidur. Setelah aku memikirkan semuanya, sepertinya meninggalkan rumah ini adalah jalan terbaik untukku. Aku tidak ingin menyakiti hati Bara. Aku mencintainya, sangat mencintainya!


Aku beranjak dari tempat tidur, lalu mengganti bajuku. Aku mengendap-endap keluar dari rumah itu. Apa jalanku ini sudah benar?


Air mataku mengalir deras, aku bahkan harus merelakan cintaku untuk menghindari pengkhianatan ini. Rasanya sesak dadaku, aku harus rela kehilangan Bara disaat aku tengah hamil begini.


Aku berjalan tak tentu arah, aku tidak tahu kemana kakiku akan melangkah. Sudah, sudah cukup! Takdir terlalu sering mempermainkan hatiku. Setiap aku merasa bahagia, tiba-tiba saja aku dihempaskan.


Aku berusaha menjauh dari bayang-bayang masa laluku. Tapi bayang-bayang itu terus mengikuti ku, kemanapun aku pergi bersama Bara. Bukankah lebih baik begini, aku pergi dari hidup mereka.


Kepalaku sakit, rasanya aku tidak sanggup lagi berjalan. Aku sudah cukup jauh dari rumah itu. Mungkin lebih baik aku beristirahat!


Aku duduk di kursi jalanan. Aku tidak tahu, kemana langkah kakiku akan menepi. Aku bahkan tidak punya tempat untuk tinggal, rasanya takdir belum puas membuatku hancur saat ini!


Aku mencoba menelpon Ibuku, tapi apa Bara tidak akan mencari ku kesana? Aku lebih baik menelpon Marsya. Aku harap Marsya bisa datang membantuku.



Aku mulai berbicara dengan Marsya ditelepon, aku berusaha tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Halo Chika. Ada apa?" tanya Marsya dari seberang telepon.


"Apa kau bisa menemui ku didekat halte bus? Aku tunggu ya!" ucapku sambil mematikan sambungan teleponnya.


Tak butuh waktu lama, Marsya datang menghampiriku. Aku langsung memeluk tubuh Marsya, aku hanya bisa berharap semoga dia bisa membantuku.


"Ada apa Chika?" tanyanya sambil melepaskan pelukanku.


"Aku boleh, menginap di rumahmu? Aku benar-benar butuh bantuan mu," ucapku memohon.


"Ada apa? Apa yang terjadi dengan hubunganmu dengan Bara?" tanya Marsya terlihat cemas.


"Aku akan menjelaskannya nanti! Tapi, aku boleh ikut tinggal di rumahmu?"


"Iya Chika! Tapi, aku tinggal dikontrakkan kecil. Apa kau mau?" tanyanya.


Aku mengangguk, lalu berjalan mengikuti langkah kaki Marsya menuju tempat tinggalnya. Sampai didepan rumah itu, Marsya langsung mempersilahkan aku untuk masuk.


Aku menceritakan semua hal yang terjadi padaku, Marsya meneteskan air mata mendengar kisah yang aku ceritakan padanya.


"Jadi... Kau dan Ardi itu sepasang kekasih? Kau berpacaran dengan Ardi selama tiga tahun? Lalu Ardi harus merelakan kau menikah dengan Bara? Ini benar-benar menyedihkan untuk Ardi, Chika! Kenapa dari awal, kau tidak menolak pernikahan ini?" Marsya menatapku kesal.


"Aku tidak punya pilihan!"


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Ibu tiriku mengancam ku, akan memisahkan aku dengan adikku Alesha!"


"Kasihan sekali nasibmu!" ucap Marsya sambil memeluk tubuhku.


"Aku salah, tidak? Jika saat ini, aku memilih pergi dari hidup mereka?" tanyaku.


"Tidak salah, tapi juga bukan solusi yang baik! Apa kau tidak memikirkan tentang Bara yang tiba-tiba harus kehilangan cintamu? Dia akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Ardi. Berarti, lengkaplah sudah luka yang kau tebar dihati mereka!"


"Lalu aku harus apa? Aku bahkan merasa jijik pada diriku sendiri. Aku tidak berani bertemu Bara. Aku tahu, kesalahanku begitu besar padanya!"


"Tenanglah! Kau istirahat saja disini! Aku akan kembali nanti," ucap Marsya.


Aku hanya mengangguk sambil berbaring ditempat tidur. Mataku sudah sembab karena sudah terlalu banyak menangis. Aku tidak boleh egois. Aku harus memikirkan anak yang ada didalam kandunganku juga!


Aku menutup mataku dan tertidur lelap.


****


Sore harinya, Marsya membangunkan aku. Dia menatap tajam kearah ku.


" Chika... Aku baru saja bertemu dengan Bara! Kau tahu, dia terlihat begitu sedih. Dia sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Aku baru kali ini melihat dia menangis dihadapanku. Pulanglah Chika!" ucap Marsya.


"Tidak. Aku tidak mau! Aku takut. Aku selalu merasa bersalah setiap kali aku menatap wajah Bara. Aku tidak bisa lagi berada disisinya. Ini akan lebih baik untuk semua!"


"Lalu, bagaimana jika Bara prustasi? Apa kau tidak kasihan padanya? Apa kau akan membuat dua Kakak beradik itu, patah hati karena cintamu!"


Aku sebenarnya tidak ingin kehilangan cinta Bara. Tapi, berada didekat Bara, membuatku semakin dekat dengan Ardi. Aku bisa gila, jika harus terus menghadapi adik Bara. Aku tidak bisa, ada disisinya lagi.


Biarkan aku menjalani hidupku sendiri. Aku akan membesarkan anak ini, tanpa kehadiran Bara. Ini memang berat. Tapi aku harus melaluinya. Aku harus kuat, demi anakku.


Aku masih terus berjalan, tiba-tiba aku bertemu dengan Bara. Dari kejauhan Bara berlari mengejar ku. Aku tidak boleh bertemu dengannya. Aku harus lari darinya!



"Chika... Chika... Chika..." teriak Bara.


Aku mencari tempat sembunyi, aku menatap wajah Bara dari kejauhan. Air mataku mengalir deras.


Aku rindu padamu suamiku! Andai saja cerita cinta kita, tidak serumit ini. Mungkin aku masih disisi mu, menjaga anak kita bersama-sama, sampai waktu kelahirannya. Tapi aku takut. Aku takut pulang! Aku tidak mau, ada Ardi diantara kita.



Bara masih mencari ku, berkeliling tempat itu. Aku ingin memeluknya, tapi aku sudah tidak pantas menjadi istri Bara. Aku merasa sudah menjadi wanita hina!


Bara duduk disebuah kursi yang tak jauh dari tempat ku bersembunyi. Aku bahkan bisa mendengar suara yang terucap dari bibirnya.

__ADS_1


"Chika... Kau pergi kemana? Kau menghilang dariku, kau meninggalkanku! Apa yang aku lakukan, hingga membuat kau pergi meninggalkan aku? Apa?" Bara menangis. Aku ikut menangis mendengar kata-kata dari bibir Bara. Aku tidak ingin pergi darimu, tapi keadaan ini yang memaksakan aku untuk pergi!


"Kenapa aku harus kehilangan cintaku!!!! Tuhan... Aku baru saja merasakan, apa itu bahagia. Tapi sekarang, aku sendiri lagi! Aku kehilangan dia untuk kedua kalinya... Hiks... Hiks.. Chika, kenapa kau harus pergi dariku! Kenapa tidak kau bunuh saja aku! Aku tidak sanggup kehilangan cintamu!" Bara terus berteriak. Sampai seorang wanita mendekat kearah Bara.


Wanita cantik, yang tidak pernah aku kenal. Siapa dia? Dia menggenggam tangan Bara, terlihat wanita itu begitu tulus. Ada jutaan cinta yang terlihat jelas dimatanya. Apa wanita itu mencintai Bara?


Aku hanya bisa menyaksikan dan merelakan Bara bersama wanita itu. Terlihat wanita itu kini menyandarkan kepalanya di dada Bara.


"Aku sudah bilang padamu! Apa yang kau harapkan dari wanita itu? Apa? Cintanya?" wanita itu menghela nafas.


"Dia itu kekasih Ardi. Wajar jika dia meninggalkanmu! Tapi tenanglah. Aku akan tetap disini bersamamu. Aku akan menunggu, sampai kau siap menerima kehadiranku di hidupmu," ucap wanita itu lagi.


Bara mendorong lembut tubuh wanita itu. Ada guratan kekesalan di wajah Bara saat wanita itu berbicara.


"Pergilah Naina! Aku tidak ingin kau ada disini. Aku sedang bersedih. Tapi kau malah membuatku semakin sedih. Aku tidak akan meninggalkan istriku. Apalagi menggantikannya dengan dirimu!" ucap Bara tanpa menatap wajah wanita itu.


"Tapi Bara, aku mencintaimu! Aku menunggumu, sejak lama. Tapi kau tetap saja, menutup hatimu untukku!"


"Karena aku hanya mencintai satu wanita didalam hidupku. Aku hanya akan menikahinya saja dan hanya akan mencintainya saja! Aku tidak pernah memintamu menungguku, tidak pernah! Aku sudah menikah dengan cintaku, kenapa kau masih menginginkan cintaku?"


"Karena aku mencintaimu! Aku yakin, Chika itu tidak sungguh-sungguh mencintaimu. Buktinya dia pergi meninggalkanmu sekarang kan!" ucap wanita itu kesal.


"Aku yakin dia punya alasan! Dia itu juga mencintaiku, aku tahu itu. Aku percaya, Chika akan kembali padaku. Dia hanya butuh waktu, Chika akan kembali bersamaku lagi!" ucap Bara sambil meneteskan air mata.


"Jika Chika tidak kembali, lalu kau akan tetap menunggunya dan menangisinya?"


"Chika itu adalah wanita yang sangat aku cintai. Jika dia benar-benar tidak kembali, lebih baik aku sendiri untuk selamanya!" ucap Bara sambil berjalan meninggalkan wanita itu.


Aku tersentuh dengan kata-kata yang diucapkan Bara. Aku begitu beruntung, mendapatkan cinta yang tulus dari Bara. Tapi... Kenapa ada Ardi, diantara cinta kami? Kenapa aku harus mengalami kisah cinta serumit ini?


****


Satu Minggu berlalu, aku masih tinggal bersama Marsya. Aku tidak bisa berhenti memikirkan suamiku. Aku masih mengingat dengan jelas, kata-kata yang diucapkan Bara pada wanita itu. Aku bahagia, walaupun aku tidak mungkin kembali bersamanya.


Tiba-tiba Marsya masuk kedalam rumah, wajah terlihat begitu panik menatap kearah ku.


"Chika... Kau harus pulang!"


"Kenapa?"


"Bara sakit! Alesha bilang, Bara sudah dua hari menginap di rumah sakit! Temui dia, aku mohon!" ucap Marsya.


"Bara sakit? Tapi aku tidak mungkin...."


"Temui dia Chika! Kau mau benar-benar kehilangan Bara? Kau benar-benar ingin kehilangan cintamu? Alesha bilang, Bara terus mencari mu. Dia tidak pernah berhenti mencari mu, bahkan dia melupakan kesehatannya sendiri. Apa kau tidak sedih, melihat orang yang kau cintai hancur? Temui dia Chika, aku mohon!" ucap Marsya memelas.

__ADS_1


Apa yang akan dilakukan Chika? Apa dia mau menyetujui permintaan Marsya untuk menemui Bara yang sedang sakit di rumah sakit? Tinggalkan jejak Komen, Like, dan Vote ya. Terimakasih.💕💕💕


__ADS_2