
Hari pemakaman Naina pun tiba, semua berkumpul untuk mendoakan Naina. Sejujurnya aku sangat terkejut dengan kepergian Naina yang begitu menyedihkan. Rasanya aku tak sanggup membendung rasa bersalahku. Tuhan... Berikan tempat terbaik untuk Naina.
Bara merangkul ku, menyandarkan kepalaku di bahunya. Air mataku terus mengalir, tak mampu untuk ku bendung. Beberapa karyawan kantor pun turut hadir, menyaksikan pemakaman Naina.
Suasana penuh haru, menyelimuti penguburan jenazah Naina. Beberapa orang berbisik-bisik, mempertanyakan apa penyebab kematiannya. Karena selama ini, Naina menutupi rapat-rapat tentang penyakitnya.
Seorang wanita menghampiri aku dan Bara, dia membawa sebuah dokumen ditangannya. Bara mengenal sosok wanita dihadapannya, dia pun berbicara dengan wanita itu.
"Tiara, ada apa?" tanya Bara pada sekertaris nya.
"Saya ingin berbicara penting dengan Bapak, ini mengenai uang kantor yang digelapkan. Saya sudah tahu siapa yang menggelapkan uang perusahaan!" ucapnya dengan nada bergetar menahan rasa takut.
"Baiklah. Bicaralah sekarang!" ucap Bara.
"Tidak disini Pak!" ucap Tiara lalu berjalan keluar dari pemakaman.
Aku dan Bara mengikuti langkah kaki Tiara, dia berhenti di depan mobil Bara. Dia menyerahkan dokumen ke tangan Bara, wajahnya terlihat pucat. Ada apa sebenarnya?
"Apa ini?" tanya Bara.
"Ini dokumen asli mengenai keuangan perusahaan, berbanding terbalik dengan yang diberikan Naina pada Bapak tempo hari. Sepertinya, Naina yang menggelapkan uang perusahaan selama ini," ucap Tiara.
"Ya... Aku tahu! Biarkan saja, aku sudah tidak ingin membicarakan hal ini. Tapi aku harap, semua ini tidak pernah terulang lagi. Aku percaya padamu, Tiara!" ucap Bara.
"Terimakasih, karena Bapak masih mempercayakan saya untuk mengurus keuangan perusahaan. Kalau begitu saya permisi!" ucap Tiara, lalu pergi meninggalkan kami.
Aku hanya diam, menjadi pendengar yang baik saja kali ini. Aku masih trauma dengan apa yang terjadi pada Naina. Aku sangat terpukul dengan semua ini.
Bara menuntunku masuk kedalam mobil, lalu pergi meninggalkan pemakaman Naina. Dari kaca spion mobil Bara, aku menatap seseorang memakai pakaian hitam-hitam menatap kepergian kami. Siapa laki-laki itu?
Aku masih terus memperhatikan laki-laki itu sampai menghilang dari pandanganku. Ada aura tidak enak dari tatapan matanya. Amarah bercampur kesedihan. Sebenarnya siapa laki-laki tadi?
Aku memberanikan diri bertanya pada Bara. Aku tidak ingin hatiku terus merasa gelisah dengan laki-laki itu.
"Mas, aku mau bertanya!"
"Apa?" ucap Bara sambil tersenyum.
"Ini mengenai Naina. Apa Naina punya adik atau kakak kandung?"
"Kenapa menanyakan hal itu? Setahuku tidak ada! Dia anak tunggal, Ayah dan Ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Kenapa tiba-tiba tertarik pada cerita tentang Naina?" Bara masih tersenyum.
"Aku hanya memastikan saja! Laki-laki tadi bukan Adik atau Kakak, Naina!"
"Laki-laki mana? Aku tidak lihat laki-laki yang kau maksud!"
"Ada. Tadi dia menatap kesal kearah kita!"
"Mungkin kau salah lihat!" ucap Bara sambil mengusap lembut pipiku.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, aku menatap Ibu datang ke rumah kami bersama Marcell, dan Alesha. Ibu juga menggendong Alghi, yang tadi ku titipkan pada Susi. Ibu tersenyum lalu mendekat kearah kami.
"Nak, kalian sudah pulang? Bagaimana pemakamannya? Apa berjalan lancar?" tanya Ibu.
"Iya Bu. Semua berjalan lancar!" ucap Bara sambil tersenyum.
"Adik-adik Kak Chika datang ya! Wah... Kak Chika akan buat kue untuk kalian. Apa kalian suka kue?" tanyaku sambil memeluk Alesha dan Marcell.
"Suka ..." Marcell dan Alesha berteriak serempak.
Ibu dan Bara hanya tertawa menyaksikan percakapan kami. Aku mengajak Alesha dan Marcell masuk ke dalam dapur. Kami bersama-sama membuat kue bolu coklat.
Tak butuh waktu lama, bolu pun siap dihidangkan. Tentu Marcell dan Alesha sudah tidak sabar menikmati kue buatan ku.
Aku memotong kue bolu itu, lalu menyiapkan kue itu di atas meja makan. Alesha dan Marcell sudah siap rebutan kue. Bara dan Ibu ikut duduk di kursi meja makan.
"Ternyata selain pintar masak, kau juga pintar membuat kue ya!" tawa Ibu.
"Istriku... Dia selalu hebat dalam hal apapun!" tawa Bara.
"Kak Chika... Kue nya enak!" teriak Marcell.
"Benarkah? Habiskan! Nanti akan Kak Chika buatkan lagi," ucapanku sambil tersenyum.
"Kak Chika, Kakakku yang paling hebat!" teriak Alesha.
"Dan kalian, adik-adik Kakak yang paling pintar!" tawaku.
Saat aku akan keluar dari kamar, tidak sengaja aku mendengar percakapan Bara dan Ibunya. Mereka terlihat begitu serius membicarakan sesuatu. Aku memasang telingaku, aku ingin tahu, apa yang sedang mereka bicarakan.
"Bara... Ibu ingin bicara! Ini mengenai adikmu Ardi," ucap Ibu.
"Ada apa Bu? Bukankah sekarang dua sudah bahagia bersama Marsya?"
"Kau salah! Dia tidak pernah bahagia dengan pernikahan itu. Ibu sendiri yang mendengar percakapan Ayah Arman dengan Ardi sewaktu mereka berbicara melalui panggilan video."
"Apa yang Ardi katakan?"
"Dia bilang, dia melakukan ini untuk Chika! Bahkan sampai detik ini, Ardi tidak pernah menyentuh Marsya sedikit pun. Ardi hanya menghabiskan waktu untuk mabuk-mabukan. Ibu jadi kasihan pada nasib Marsya saat ini. Apa Ibu harus susul mereka keluar negeri?"
"Tenanglah Ibu! Semua akan baik-baik saja! Ardi butuh waktu untuk bisa menerima kehadiran Marsya di hidupnya. Begitupun saat pertama kali, Ibu menjodohkan Chika denganku. Pada akhirnya, Chika bisa menerima kehadiranku di hidupnya," ucap Bara sambil tersenyum.
"Tapi... Apa Marsya sanggup menghadapi kegilaan Ardi? Marsya itu bukan Chika, yang bisa mengendalikan hati Ardi. Ibu takut, Ardi nekat dan melakukan hal buruk pada Marsya."
"Biar nanti Bara yang akan menghubungi Ardi dan bicara dengannya! Ibu tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja!" ucap Bara sambil tersenyum lalu menuntun Ibunya kedalam kamar sebelah.
Aku hanya diam mendengar semua percakapan mereka tentang Ardi. Kasihan sekali, Marsya! Aku pikir setelah jauh dariku, Ardi bisa segera melupakan aku, tapi ternyata tidak.
Aku menatap Bara berjalan keluar rumah, aku mengikuti langkah kaki Bara dari belakang. Bara melakukan panggilan video dengan Ardi, aku bahkan bisa melihat wajah Ardi dari ponsel milik Bara.
__ADS_1
"Ada apa Kak?" tanya Ardi seolah malas menerima telepon dari Kakaknya.
"Apa yang terjadi?"
"Apa? Tidak terjadi apa-apa!" ucapnya ketus.
"Bagaimana keadaan Marsya?" tanya Bara mencoba tersenyum pada adiknya.
"Dia baik! Kenapa? Apa Kakak ingin berbicara dengannya?"
"Tidak usah. Aku ingin berbicara denganmu saja!"
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
"Ini masalah Marsya. Apakah selama ini kau mengabaikan keberadaannya? Apa kau tidak pernah mencintai dia? Lalu kenapa kau berani menikah dengannya jika tidak ada rasa cinta di hatimu untuknya?" ucap Bara kesal.
"Karena aku mencintai Chika! Dia yang menginginkan pernikahan ini. Dia ingin aku melanjutkan hidupku."
"Lalu? Apa kau bisa melanjutkan hidupmu?".
"Tidak Kak... Tidak! Aku sudah mencoba membuka hatiku untuk Marsya, tapi aku belum bisa menerima kehadirannya di hatiku."
"Kau sudah dewasa, bersikaplah seperti laki-laki yang sudah dewasa. Kau sudah menikahi Marsya, berarti kau harus bertanggung jawab dengan hidup Marsya. Jangan sakiti hatinya!"
"Sudahlah, kau berbicara seolah kau itu manusia baik. Apa kau lupa, yang menjadi istrimu saat ini adalah pacarku. Kau merebut pacarku dan menikahinya. Kau adalah satu-satunya orang yang bersalah dengan semua kehancuran hidupku!" Ardi berteriak lalu mematikan ponselnya.
Aku menatap wajah Bara yang terlihat cemas, pasti dia mengkhawatirkan keadaan Marsya saat ini. Ya Tuhan... Semoga Marsya baik-baik saja!
"Mas, ada apa?" ucapku.
Bara hanya tersenyum, lalu memeluk tubuhku erat. Bara mencium keningku, ada air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Kenapa?" tanyaku sambil mengusap air mata di pipinya.
"Maafkan aku! Aku laki-laki egois, yang menikahi mu dengan cara licik. Aku merebut mu dari adikku sendiri, aku minta maaf Chika!" ucap Bara sambil mencium tanganku.
Aku merasa bersalah, semua pertengkaran yang terjadi pada Ardi dan Bara selama ini, adalah karena diriku. Harusnya, aku yang minta maaf padamu, suamiku!
"Aku begitu mencintaimu, itulah sebabnya aku tidak ingin melepaskan cintamu. Aku jahat, aku egois, tapi aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya!" ucap Bara.
Aku mengarahkan wajah Bara agar menatap kearah ku, mata kami kini saling beradu. Aku bisa lihat, penyesalan di wajah Bara.
Aku memeluk tubuh Bara, aku tidak ingin berpisah dengan suamiku. Aku memang pernah mencintai Ardi, tapi itu sudah lama berlalu. Aku tidak ingin menghentikan langkahku yang saat ini telah berada bersama Bara.
Aku ingin menggapai mimpi-mimpi bersama Bara dan anak-anak kami kelak. Aku tidak butuh hal lain, aku hanya butuh Bara saja untuk menemaniku seumur hidupku.
Like, dan Vote juga ya Kak...
__ADS_1
Terimakasih.😍😘