Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 53


__ADS_3

Aku berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Bara membantuku, tapi bukan membantu, malah menggangguku.


Bara memeluk tubuhku dari belakang, menciumi pipiku sambil memainkan bibirnya di pipiku.


"Aku cinta padamu, Chika!" bisiknya masih menempelkan bibirnya di pipiku.


Aku yang sedang fokus masak, mulai tak tahan menghadapi godaannya.


"Mas, jangan ganggu! Nanti masakannya jadi tidak sedap!" tawaku.


"Bukannya kau suka, jika aku mengganggumu?" tawa Bara.


"Tidak. Nakal!"


"Ayo... Tinggalkan ini!" ucap Bara sambil mematikan kompor.


"Tapi masakan ku belum matang!"


"Tapi aku merindukanmu. Itu jauh lebih penting!" ucap Bara sambil menggendong ku masuk kedalam kamar.



"Jangan Mas!" ucapku saat Bara mulai menciumi bibirku.


"Kau telah membuatku kehilangan banyak waktu untuk menunggumu! Jadi... Aku ingin, memenuhi kerinduanku padamu," bisik Bara sambil menciumi lekuk leherku.


"Mas... Tutup jendelanya! Nanti ada yang lihat," ucapku.


"Tidak. Biarkan saja!" ucap Bara masih asyik menciumi leherku.


Aku sudah tidak sanggup menahan gelora dihatiku, aku mulai pasrah dengan apa yang Bara lakukan. Sampai tiba-tiba...


"Kang, kalau mau cinta-cintaan, tutup jendelanya. Banyak anak kecil, takut lihat!" ucap seorang Bapak yang berdiri didepan jendela.


Aku dan Bara sontak tertawa menahan malu. Mungkin Bara lupa, kalau rumah ini tidak punya halaman. Jadi jendela kamar kami, berhubungan dengan jalan utama desa.


"Maaf ya, Pak!" tawa Bara sambil menutup jendela kamarnya.


"Huh... Ini gara-gara kau, Mas!" tawaku.


"Kenapa ulahku? Kau yang menggodaku!"


"Kapan? Aku tidak menggoda mu! Aku tadi sedang masak," ucapku.


"Tapi wajahmu memang menggoda!" ucap Bara sambil mencium lembut bibirku.


"Aku takut. Bagaimana jika ada yang mengintip lagi? Aku tidak mau melakukan itu disini," bisikku pelan.


"Lalu dimana? Kau mau kita melakukannya di dapur?" tawa Bara.


"Tidak. Aku..."


Bara langsung menggendong tubuhku ke atas tempat tidur. Dia mulai menghujami ku jutaan ciuman di wajahku. Bara sukses membuatku bergairah kembali. Dia melakukan keinginan dan melepaskan birahinya. Aku hanya bisa menikmati sentuhan demi sentuhan tangan Bara ditubuh ku.


"Kau milikku, jangan coba-coba pergi lagi dariku!" ucap Bara.


Aku hanya bisa mengangguk, sambil menahan jutaan rasa yang diberikan Bara di tubuhku. Kenikmatan dan rasa sakit bercampur jadi satu. Kecupan terakhir mendarat dibibir ku, mengakhiri semua birahi di dada Bara.


Bara berbaring disampingku, mengarahkan wajahku kearah wajahnya. Beberapa kali kecupan mendarat dibibir ku, diberikan Bara dengan penuh cinta.


"Aku mencintaimu, Chika!" bisiknya.


"Aku juga mencintaimu, Mas!"


"Terimakasih, kau mau kembali bersamaku!" ucap Bara.


"Harusnya aku yang berterima kasih padamu! Kau masih menerimaku setelah hal buruk yang aku lakukan padamu!" ucapku penuh penyesalan.


"St... Jangan lagi mengingat apapun tentang adikku! Aku ingin kita memikirkan masa depan kita. Bagaimana keadaan bayi dikandungan mu?" tanya Bara.


"Baru dua bulan, belum terasa gerakannya!" tawaku saat Bara mendekatkan telinganya di atas perutku.


"Kapan dia lahir?"


"Tujuh bulan lagi," tawaku.

__ADS_1


"Masih lama!"


"Bersabarlah..."


"Apa kau tidak ingin ngidam sesuatu?" tanya Bara.


"Sebenarnya ada."


"Apa?"


"Aku ingin makan mangga muda milik tetangga disamping rumah kita! Tapi kau yang harus memetiknya sendiri!" ucapku.


"Kenapa tidak bilang dari tadi?"


"Karena aku pikir, mungkin hanya ingin saja!"


"Kau tahu. Ibuku bilang, orang ngidam harus selalu dipenuhi keinginannya. Kalau tidak, anaknya bisa ngeces!" ucap Bara sambil tersenyum.


"Mau kemana?" tanyaku.


"Aku mau mengambil buah mangga yang kau minta!" ucap Bara.


"Nanti saja. Besok pagi!" tawaku sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhku.


Aku dan Bara pun terlelap dalam tidur, saling memeluk penuh cinta.


****


Keesokan harinya, aku terbangun dari tidurku. Menatap Bara yang sudah menghilang dari kamar. Kemana suamiku?


Aku mendengar suara ramai dari depan rumah. Sepertinya para warga tengah merayakan sesuatu. Hingga suara mereka sampai kedalam kamarku.


Aku berjalan keluar rumah, aku menatap warga yang rata-rata Ibu-ibu berkumpul mengelilingi pohon mangga. Pohon mangga? Ya ampun... Bara jadi pusat perhatian warga kampung ini rupanya!


Aku menatap Bara yang berada di atas pohon mangga itu. Apa Bara benar-benar ahli memanjat? Bagaimana jika dia jatuh?


"Mas, hati-hati!" teriakku.


Tiba-tiba Ibu-ibu menatap kearah ku, mereka senyum-senyum melihatku. Ada apa? Apa ada yang aneh denganku?


"Iya. Kenapa?" tanyaku.


"Tadi Pak Bara bilang, kalau istri kesayangannya tegah hamil muda. Ngidam ingin mangga tapi harus dia yang memetiknya. Pak Bara antusias sekali ya! Mbak beruntung memiliki suami seperti Pak Bara!" ucap mereka.


"Benarkah?" tawaku tersanjung.


"Berapa usia kandungan mu, Nak?" tanya seorang Ibu.


"Dua bulan." ucapku.


"Hati-hati masih rentan, tidak boleh capek-capek! Kalau butuh bantuan kami, tidak usah sungkan ya!" ucap Ibu-ibu, itu.


Aku baru pertama kali merasakan hidup seperti ini. Hidup bersama para tetangga yang begitu perduli pada kami. Apa seperti ini cara orang desa menyambut orang kota? Sepertinya aku lebih suka tinggal disini!


Bara turun dari pohon mangga, membawa tiga mangga muda ditangannya. Bara segera masuk mencuci mangga-mangga itu. Lalu memotongnya untukku. Tiba-tiba saja aku merasa mual. Aku masuk kedalam rumah menuju wastafel.


"Uwek... Uwek... Uwek..."


Bara segera menghampiri ku, dia memijat lembut belakang leherku. Lalu mengolesi belakang leherku dengan minyak angin. Rasa mual itu sedikit mereda, namun tubuhku tiba-tiba lemas.


"Mas, badanku tiba-tiba tidak enak!" ucapku.


Bara menggendong tubuhku menuju kamar, lalu membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Seorang Ibu bernama Karti masuk kedalam kamar.


"Pak Bara, beri ini untuk istrimu!"


"Apa ini Bu Karti?" tanya Bara.


"Ini racikan obat yang saya buat dari bahan alami, untuk menghilangkan mual saat hamil muda," ucap Bu Karti.


Bara segera memberikan minuman racikan itu kepadaku. Lalu memintaku agar segera beristirahat. Aku memejamkan mataku, hingga aku terlelap.


****


Sore harinya aku terbangun, kecupan yang mendarat dibibir ku benar-benar mengejutkan ku.

__ADS_1


"Mas, kau mau apa?" tanyaku.


"Makan dulu. Dari pagi kau belum makan!" ucapnya.


"Tapi aku tidak enak badan, aku tidak sanggup masak sendiri!" ucapku.


"Aku sudah masak sayang! Untukmu..." ucap Bara sambil tersenyum.


"Kau? Aku tidak percaya!" ucapku sambil beranjak bangun menuju meja makan.


Aku menatap hidangan yang tertata rapi di meja makan. Semua makanan yang menggugah selera.


"Kau yakin, ini kau yang buat, Mas?" tawaku.


"Iya aku. Dibantu para tetangga kita!" tawanya.


Aku memakan semua makanan yang ada di meja. Entah kenapa, mual yang tadi menggangguku tiba-tiba saja hilang. Aku menatap Bara yang malah asyik menatap kearah ku.


"Suapi aku!" ucapku manja.


"Apa? Kau ingin romantis-romantisan denganku?" tawa Bara.


"Aku mau makan, tapi dari tanganmu!"


"Manjanya istriku!" tawa Bara malah kegirangan.


Bara menyuapiku bak anak kecil yang belum bisa makan sendiri. Dia mengusap lembut wajahku yang terkadang makan belepotan.


"Terimakasih, karena kau selalu memberikan apapun yang aku mau," ucapku sambil tersenyum.


"Iya sayang! Keinginan mu adalah perintah untukku. Karena kebahagiaanmu adalah perioritas utamaku!" ucap Bara sambil mengecup keningku.


Setelah selesai makan, aku dan Bara mengobrol diruang tamu. Kami bercerita banyak hal, sampai kami tertawa keras.


Tiba-tiba saja Bara menatap tajam kearah sebuah kertas, " Apa itu? " tanyaku.


"Ini beberapa pekerjaan yang harus ku selesaikan malam ini!" ucap Bara.



"Apa kau ingin aku membantumu? Aku bisa mengerjakan itu!" ucapku sambil menatap sekilas kertas yang ada ditangan Bara.


"Tidak. Aku yang akan mengerjakan semua ini! Tugasmu hanya beristirahat, jaga kandungan mu, dan melayaniku jika aku menginginkannya!" tawa Bara menatap nakal ke arahku.


"Nakal!" ucapku saat Bara menyimpan berkas itu dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.


Bara mencium bibirku lembut, memainkan lidahnya dengan lincah didalam mulutku. Aku sudah tidak bisa menolak, hanya bisa menikmati dan menerima sentuhan bibir Bara. Bara melepaskan bibirnya dari bibirku. Lalu menatap tajam kearah ku.


"Bagaimana bisa, kau membuatku mencintaimu segila ini, Chika! Aku hanya mau cintamu, dan aku hanya ingin dirimu saja!" ucap Bara sambil mendekap ku dalam pelukannya.


"Aku pun merasakan hal yang sama! Aku sangat mencintaimu, aku takut kehilanganmu."


"Benarkah?"


"Heeh."


"Jangan menggodaku. Bagaimana jika nanti aku mau lagi?" tawa Bara.


"Mau apa? Mas, kau ini!" tawaku saat Bara menatap nakal ke arahku.


"Mau ku buatkan kopi?" tanyaku.


"Tidak usah sayang! Aku akan membuatnya sendiri. Beristirahatlah di kamar, setelah selesai aku akan menyusul!" ucap Bara.


"Tapi aku ingin menemanimu!" ucapku manja, memeluk erat tubuh Bara, yang mulai asyik menatap laptopnya.


"Akan terjadi pertempuran sengit lagi, jika kau terus berdekatan denganku!" tawa Bara.


"Aku tidak perduli! Aku ingin bersamamu!" ucapku.


"Apa ini keinginan anak kita? Tidak biasanya kau semanja ini padaku?" tawa Bara terlihat bahagia dengan tingkahku.


Tiba-tiba dering telepon menghentikan percakapan kami. Bara meraih ponselnya, lalu berjalan keluar rumah.


Siapa yang menelepon Bara? Kenapa harus mengangkatnya menjauh dariku? Apa ada yang Bara sembunyikan dariku? Tapi apa?

__ADS_1


Tinggalkan jejak Komen, Like dan Vote untuk mendukung Author atau penulis ya. Terimakasih.💕💕💕


__ADS_2