
Pagi harinya, setelah malam yang indah itu. Aku dan Bara masih tertidur pulas. Padahal, matahari sudah terbit menerangi bumi.
Aku dan Bara malas bangun, kami memilih melanjutkan tidur. Aku masih dipeluk erat oleh Bara, dan aku menikmatinya. Pelukan hangat, yang selalu membuatku nyaman. Rasanya, aku sangat bahagia, saat berada disisi Bara.
Tiba-tiba ketukan pintu membangunkan ku, aku melepaskan pelukan Bara yang memeluk tubuhku. Lalu berjalan membuka pintu.
"Chika..." teriak Ibu Bara.
"Ibu, Alesha... Kalian datang! Aku rindu sekali!" ucapku sambil memeluk Ibu Bara.
"Alesha dan Alghi kangen, dia ingin bertemu!" ucap Ibu.
"Benarkah? Mana Alghi?"
"Tidur didalam mobil. Mungkin masih ngantuk!" ucap Ibu.
"Kak Chika... Peluk aku!" ucap si kecil Alesha.
Aku tersenyum sambil memeluk tubuh adik kesayanganku. Ada butiran air mata yang jatuh di pipiku.
Saat berpelukan dengan Alesha, suara Bara mengejutkan kami. Sontak membuatku menoleh kearah Bara.
"Kak Bara tidak dipeluk? Apa tidak rindu pada Kak Bara?" tawa Bara.
"Peluk aku juga Chika!" ucap Bara merengek.
"Tidak. Ini Kakakku! Kau sudah tinggal bersamanya selama ini. Biarkan aku melepas rinduku pada Kak Chika dulu!" ucap Alesha sambil tersenyum.
"Tapi Kak Bara ingin dipeluk! Kak Bara belum dapat pelukan pagi dari Kakakmu!" ucap Bara tertawa.
"Mas, biarkan aku bersama Alesha sebentar," ucapku sambil tersenyum.
"Baiklah. Kak Bara mengalah! Tapi jangan lama-lama ya! Kak Bara tidak bisa menjauh lama-lama dari Kak Chika," ucap Bara sambil berjalan masuk kedalam kamar.
"Bagaimana kabarmu?" tanyaku.
"Aku baik!"
"Sekolahmu?"
"Baik juga Kak! Aku setiap hari diantar dan dijemput oleh Kak Ardi," ucapnya.
"Oh, ya? Alesha sudah bisa membaca?"
"Sudah. Kak Ardi yang ajarkan! Dia bilang, aku harus pandai. Agar bisa buat Kak Chika bangga!" ucap Alesha.
Aku tersenyum kelu, mendengar ucapan dari bibir adikku tentangnya. Aku bahkan, tidak ingin menyebut namanya. Aku tidak ingin mengingatnya lagi.
Sudah cukup semua yang terjadi padaku dan Bara karena ulahnya. Aku hanya mengusap rambut adikku. Mencium pipi adikku yang sudah cukup lama tidak bertemu. Aku rindu!
"Kak Chika mau buat sarapan ya!" ucapku.
"Tidak usah, Nak! Tadi Ibu beli pizza dijalan. Ini!" ucap Ibu sambil memberikan dua kotak pizza ke tanganku.
Aku mengambil kotak pizza itu, lalu menatanya di piring. Aku tersenyum menatap kearah Ibu dan Alesha.
"Aku ingin bertemu Alghi. Aku ambil Alghi ya!" ucapku sambil berjalan keluar rumah menuju mobil. Supir Ibu bernama Dewo, menatapku sambil tersenyum.
"Mbak Chika makin cantik saja! Tidak heran, jika Pak Bara dan Pak Ardi memperebutkan cintanya, Mbak!" ucap Dewo.
__ADS_1
"Aku mau menemui Alghi!" ucapku tanpa menghiraukan ucapan supir itu.
Aku menggendong Alghi, lalu membawanya masuk kedalam rumah.
"Mbak Chika." Dewo memanggilku lagi.
"Ada apa Pak?"
"Apa Mbak Chika sudah tidak mencintai Pak Ardi?" tanyanya, agak membuatku kesal.
"Aku ini sudah menikah dengan Bara. Apa itu tidak bisa menjawab semua pertanyaan mu?" ucapku mencoba menahan kesal.
"Tapi saya pernah lihat, Mbak Chika berciuman dengan Pak Ardi. Saya yakin, Pak Bara tidak tahu soal ini!"
Semakin lama, aku semakin geram dengan pertanyaan supir ini. Lancang sekali. Ingin rasanya aku memukul wajahnya. Kenapa dia harus melihat hal menjijikkan itu!
Aku masuk kedalam rumah, tidak perduli dengan ucapan supir itu. Aku berjalan mendekati Ibu dan Alesha.
"Kenapa, Nak?" tanya Ibu melihat kepanikan di wajahku.
Aku tidak menjawab, hanya tersenyum menatap kearah Ibu.
"Alghi masih tidur?" tanya Ibu lagi.
"Iya. Aku mau bawa Alghi ke kamar ya!" ucapku.
Ibu hanya tersenyum sambil mengangguk. Aku berjalan pelan menuju kamar. Bara langsung memeluk tubuhku, padahal aku sedang menggendong Alghi.
"Lama sekali! Aku ingin dipeluk," bisik Bara.
"Apa yang kau lakukan? Nanti Alghi bangun!" ucapku menatap tajam kearah Bara.
"Heeh. Lucu ya!"
"Rebahkan ditempat tidur!" pinta Bara.
Aku merebahkan Alghi ditempat tidur, mengusap lembut wajah bayi kecil yang masih terlelap dalam tidur.
Tiba-tiba Bara menarik tanganku, aku sontak berdiri menghadap kearah wajah Bara.
"Alghi tidur. Kau mau membangunkannya?" ucap Bara.
"Lalu?"
"Aku ingin bermanja-manja dengan istriku!" ucap Bara.
"Ini sudah siang! Nanti malam saja!" tawar ku.
"Tidak. Aku tidak mau menunggu!" ucap Bara sambil mendekatkan wajahnya kearah wajahku. Berawal dari kecupan yang akhirnya berubah menjadi ciuman manis.
Aku hanya menutup mataku, menerima semua permainan Bara. Pelukan Bara semakin erat sampai tiba-tiba...
"Owe... Owe..." Alghi bangun dan menangis.
Bara masih memeluk tubuhku erat, mataku menatap tajam kearah Bara.
"Kenapa?" tanya Bara.
"Lepaskan! Alghi nangis!" ucapku.
"Tidak mau!"
__ADS_1
"Kau ini kenapa, Mas? Alghi nangis, masa aku harus membiarkannya?" tanyaku.
"Tadi Alesha, sekarang Alghi, lalu waktu untukku kapan? Aku juga ingin dimanja olehmu!" ucap Bara sambil tertawa.
"Huh... Kau cemburu dengan anakmu sendiri? Benar-benar!" ucapku sambil mendorong lembut tubuh Bara.
Aku menggendong tubuh Alghi, tapi dia masih menangis.
"Cup... Cup... Cup... Anak Ibu, jangan menangis lagi! Ibu ada disini, sayang!" ucapku sambil menimang Alghi.
Bara masih memelukku dari belakang, menciumi pipiku tanpa henti.
"Mas, kau sedang apa?"
"Mencium pipimu, kenapa?"
"Alghi melihat. Kau mau mengajarkan dia, cara menggoda wanita," tawaku sambil menatap kearah Bara.
"Biarkan dia belajar, menjadi seperti aku! Mencintai satu wanita seumur hidupku!" ucap Bara.
Aku menggeleng tidak percaya, tawa merekah menghiasi wajahku. Alghi masih menangis didalam pelukanku.
"Kau tidak pintar membuatnya senang! Sini, biar aku!" ucap Bara sambil menggendong Alghi.
"Sayang, kenapa Alghi menangis? Apa yang kau inginkan? Alghi mau mainan? Nanti Ayah belikan! Sekarang berhenti menangis ya!" ucap Bara.
"Dia masih kecil, tidak ingin mainan!"
"Lalu, kalau Alghi tidak ingin mainan, Alghi mau apa? Apa? Alghi, mau Ayah mencium Ibumu?" tawa Bara dengan sejuta kebohongan diwajahnya.
Bara mendekat kearah ku, lalu mencium pipiku.
"Apa-apaan?" ucapku sambil mengusap pipiku.
Tiba-tiba si kecil Alghi tertawa, dia tidak menangis lagi. Huh... Apa dia mengerti apa yang kami lakukan?
"Lihat sayang! Alghi sudah tidak menangis! Ternyata keinginan Alghi, sama seperti keinginan Ayahnya!" tawa Bara.
"Huh... Itu mau mu!" ucapku kesal.
"Cium aku lagi.Biar Alghi tertawa senang!"
"Kau yang senang, Mas! Tidak. Aku mau keluar!" ucapku sambil berjalan keluar kamar.
Bara memang bisa membuatku malu setengah mati. Dia bahkan ingin sekali dicium olehku, didepan Alghi. Bayi mungil itu bahkan bahagia melihat momen seperti itu. Ya ampun!
Aku masuk ke dapur, lalu membersihkan piring-piring kotor dan mencucinya. Tiba-tiba Bara kembali, lalu kembali menggangguku.
"Kau lagi? Mana Alghi?" tanyaku.
"Alghi bersama Ibuku!"
"Mau apa?"
"Aku minta jatah harian ku!" bisik Bara.
Aku melotot mendengar ucapan dari bibir Bara. Sampai bibir Bara mencium kembali bibirku. Sudahlah aku pasrah, dia bebas melakukan apapun padaku. Biarlah pagi ini kami bercinta di dapur. Karena Ibu dan Alesha berada didalam kamar kami untuk menjaga Alghi.
Aku dan Bara seperti pasangan yang lupa diri jika sudah bercinta. Bahkan kami melupakan semuanya, saat kami bersama. Maaf Ibu mertua, Bara yang membuatmu harus mengurus Alghi dikamar kami. Sementara kami...
Tugas istri Chika, tidak boleh ditolak ya! Tetap tunggu kelanjutan ceritanya ya. Tinggalkan jejak Komen, Like, dan Vote untuk dukung karya Author. Terimakasih.💕💕
__ADS_1