Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 52


__ADS_3

Aku mengganti bajuku, aku bersiap untuk pergi menjenguk Bara ke rumah sakit. Aku takut, aku begitu khawatir dengan keadaan Bara. Tuhan, jangan biarkan hal buruk terjadi pada suamiku!


Aku turun dari taksi yang mengantar ku sampai ke rumah sakit. Aku berjalan ke meja resepsionis untuk mengetahui ruang rawat Bara.


Aku berjalan masuk mencari ruang rawat itu. Namun aku dikejutkan dengan sosok wanita yang berada disamping Bara. Wanita itu menemani Bara yang tidak sadarkan diri. Ada apa denganku? Kenapa hatiku rasanya sakit sekali.


Air mataku terjatuh membasahi pipi, melihat wanita itu begitu perduli pada Bara. Pantaskah aku marah, setelah pengkhianatan yang telah ku lakukan pada suamiku? Aku hanya bisa ikhlas, menerima semua ini. Bara sudah mendapatkan cinta dari wanita yang lebih baik dari aku.


Aku menghapus air mataku, lalu berjalan pelan keluar dari rumah sakit. Tiba-tiba Ardi menarik tanganku, matanya tajam menatap kearah ku.


"Kenapa kau pergi? Aku begitu merindukanmu," ucapnya.


"Lepaskan aku! Ini sudah menjadi keputusan ku, aku tidak akan pernah kembali padamu ataupun pada Bara. Aku akan pergi jauh dari kalian berdua, dan membesarkan anakku sendiri!" ucapku sambil meneteskan air mata.


"Tidak. Kau tidak boleh pergi! Aku akan ikut denganmu, Chika!" ucap Ardi sambil menyentuh wajahku.


Aku menepis tangan Ardi kasar, rasanya aku ingin berlari menjauh dari laki-laki ini. Tapi bagaimana caranya?


"Aku tidak mau kau menyentuhku! Aku sudah tidak mengizinkan kau menyentuhku. Kau yang buat aku harus pergi meninggalkan Bara. Sekarang kau bisa bahagia. Aku tidak akan memilih kau ataupun Kakakmu!" ucapku sambil pergi meninggalkan Ardi.


Aku masuk kedalam taksi, air mataku masih terus membasahi pipiku. Berkali-kali aku menyeka air mataku, tapi air mata itu malah semakin deras.


Tuhan...


Berikan kebahagiaan untuk suamiku. Biarkan dia melupakanku! Itu akan lebih baik untuk hidupnya. Aku harap, semua bisa segera aku lewati tanpa harus mengorbankan hati siapapun. Aku menyerah, mencintaimu Bara.


****


Waktu terus berjalan, hari ini aku mulai bekerja disalah satu perusahaan sebagai seorang sekertaris. Aku kini harus menghidupi diriku sendiri. Walaupun aku tahu, ini tidak mudah.


"Nona Chika. Selamat bergabung di perusahaan milikku," ucap sipemilik perusahaan itu, bernama Fero Mahardika.


"Terimakasih Pak!" ucapku sambil tersenyum.


"Kau boleh langsung bekerja. Tolong kau cek ulang e-mail yang masuk di laptopku." ucapnya.


"Iya Pak!" ucapku sambil mulai mengerjakan tugas yang diminta.


"Hari ini, kita ada meeting dengan perusahaan besar, Pak!"


"Ya sudah. Siapkan semuanya,Chika! Dokumen-dokumen penting, untuk kita melakukan presentasi," ucap Fero sambil tersenyum.


Aku tidak menjawab, tapi segera menyiapkan semua keperluan untuk meeting itu. Aku dan Fero bergegas menuju perusahaan besar yang tidak asing untukku. Ya Tuhan, ini perusahaan milik Kakek Bara.


Aku menundukkan kepalaku saat masuk kedalam kantor itu. Sampai tiba-tiba, aku menatap ruang meeting itu. Ada Bara bersama wanita itu. Ya... Wanita yang ada dirumah sakit waktu itu.


"Kenapa Chika? Ayo masuk!" ucap Fero mulai tidak sabar.


"Tapi Pak. Aku tidak mungkin ikut meeting!"

__ADS_1


"Kenapa? Ayo masuk!" ucap Fero penuh ancaman.


Aku berjalan pelan menuju kursi yang berada disebelah Fero. Seketika mata Bara bersinar, menatap kearah ku.


"Chika..."


Seketika semua mata tertuju padaku! Bara langsung memelukku erat, aku begitu merindukan pelukan hangat ini. Air mataku mengalir deras, kenapa takdir masih saja mempertemukan aku dengan Bara?


"Kemana saja kau, sayang? Aku mencari mu, aku sangat merindukanmu. Pulanglah bersamaku!" ucap Bara masih memelukku erat.


"Aku tidak mungkin kembali!" ucapku pelan sambil melepaskan pelukan Bara.


"Tapi kenapa?"


"Karena aku tidak pantas berada disisi mu. Aku sadar betul, wanita itu bisa memberikan cinta yang lebih tulus untukmu!" ucapku sambil menunjuk wanita bernama Naina itu.


"Naina? Apa kau pikir aku punya hubungan khusus dengannya? Sayang, kau itu istriku. Aku tidak butuh wanita lain untuk mendampingiku. Aku hanya ingin kau saja!" ucap Bara.


"Tolong... Batalkan meeting hari ini! Atur ulang dilain waktu!" ucap Bara.


Bara menarik tanganku lembut menuju mobilnya. Aku mencoba melepaskan tanganku, tapi tangan Bara menggenggam erat tanganku.


"Jangan pernah pergi lagi dariku!" ucap Bara sambil membuka pintu mobilnya untukku.


Aku masuk kedalam mobil, aku menatap Bara yang mulai melajukan mobilnya.


"Hotel..."


"Mau apa ke hotel?"


"Melakukan hal yang ku rindukan bersamamu," ucap Bara membuatku menundukkan kepalaku.


"Aku tidak pantas untukmu. Menikahlah dengan wanita lain saja!" ucapku.


Bara tidak menjawab, dia hanya fokus dengan kemudinya. Apa yang saat ini Bara pikirkan?


Aku dan Bara masuk kedalam kamar hotel. Lalu Bara menutup pintu kamar itu dan menguncinya. Matanya tajam menatap kearah ku, tiba-tiba Bara menyerang ku, menciumi bibirku tanpa kendali. Aku mencoba melepaskan diri tapi aku tidak bisa. Bara memelukku begitu erat sampai aku sulit bernafas.


Bara melepaskan bibirnya yang menyerang bibirku. Lalu duduk ditepi tempat tidur.


"Jelaskan padaku, apa alasan kau pergi dari hidupku? Apa kesalahan yang aku buat, sehingga kau tega meninggalkan aku? Kau tahu, aku masuk rumah sakit. Aku hampir mati Chika! Apa kau sudah tidak perduli dengan nyawaku?"


Aku hanya menangis, aku tidak mampu berucap. Alasan apa yang harus ku berikan padamu, Bara? Aku hanya ingin, melihat kau dan Ardi bahagia tanpa kehadiran aku.


"Aku ini milikmu Chika! Dan kau, adalah milikku. Jangan pernah coba-coba meninggalkan aku, apalagi berusaha untuk pergi dariku," ucap Bara sambil memeluk tubuhku. Bara menangis, lalu mengecup bibirku.


"Apa kau ingin melihatku hancur, Chika?" tanya Bara.


"Tidak."

__ADS_1


"Lalu kenapa kau pergi dariku?"


"Aku tidak pantas untukmu! Aku sudah mengkhianati cinta kita," ucapku.


"Apa maksudmu?"


"Ardi..." Aku mengingat semua hal yang dilakukan Ardi padaku. Aku hanya bisa menutupi wajahku dengan kedua tanganku. Rasanya aku begitu menjijikan, jika aku mengingat kesalahanku waktu itu.


"Aku tahu." ucap Bara.


Aku terkejut menatap kearah Bara, apa maksud kata-kata Bara? Apa dia tahu, perselingkuhan yang terjadi padaku dan Ardi?


"Aku kenal betul, seperti apa adikku! Dia begitu mencintaimu, sama seperti aku mencintaimu. Ardi tidak mungkin semudah itu melepaskan mu untuk jadi milikku. Aku tahu semua Chika, aku tahu!" Bara menghela nafas.


"Ardi mengancam mu, kan! Dia menyayat tangannya sendiri, untuk melukai dirinya dihadapan mu. Lalu dia memintamu untuk menerimanya walau sebagai selingkuhan mu! Aku tahu semua, Chika! Aku tahu."


"Aku pernah melihat sendiri, kau dan Ardi hampir melakukan itu dikamar kita. Tapi kau mendorong Ardi dan masuk kedalam kamar mandi untuk menghindarinya. Aku tahu semua Chika. Hatiku sakit melihatnya. Ingin rasanya aku membunuh adikku sendiri saat itu. Tapi aku tidak mungkin melakukannya. Aku tahu Chika, kau tidak ingin mengkhianati cinta kita, tapi Ardi yang terus datang menghampiri mu, dan menjadi bayang-bayang masalalumu," ucap Bara.


Aku menangis, aku memeluk tubuh Bara. Aku bahkan tidak bisa menceritakan semua itu pada Bara. Tapi Bara bahkan tahu semuanya!


"Kita pergi dari kota ini. Kita tinggalkan semua kisah masalalumu, dan kita mulai hidup baru bersama keluarga kecil kita," ucap Bara.


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, aku tidak bisa mengungkapkan betapa bahagianya aku, bisa kembali berada disisi Bara lagi.


****


Keesokan harinya, aku dan Bara pergi meninggalkan kota itu. Bara mengendarai mobilnya jauh dari kota tempat tinggal Ardi dan keluarganya. Bara bahkan meninggalkan Alesha dan Alghi bersama Ibunya. Bara benar-benar ingin memulai semuanya bersamaku, hanya berdua denganku.


Mobil Bara berhenti didepan sebuah rumah sederhana, dipinggir kampung. Dibelakang rumah itu, terlihat jelas hamparan sawah terbentang luas. Lingkungan yang masih asri, jauh dari hiruk pikuk kehidupan perkotaan.


"Kita akan tinggal disini!" bisik Bara.


"Iya."


"Rumah ini, rumah yang paling bagus di kampung ini! Maaf ya... Tidak sebagus rumah kita di kota!" ucap Bara sambil memelukku.


"Tidak apa! Aku bahagia bisa tinggal bersamamu lagi," ucapku.


"Ayo masuk!" ucapnya.


Aku dan Bara masuk kedalam rumah itu. Rumah yang sudah lengkap dengan peralatan rumah tangga. Aku mulai membersihkan rumah itu, menyapu dan merapikan semua tempat tinggal baru kami.


Bara memeluk tubuhku dari belakang, ada butiran air mata yang jatuh membasahi pipinya.


"Jangan pernah ada lagi, perpisahan diantara kita!" bisik Bara. Aku hanya mengangguk pelan, membiarkan butiran air mata membasahi pipiku.



Tetap tunggu kelanjutan cerita Chika dan Bara ya. Tetap beri dukungan Komen, Like dan Vote untuk Author. Terimakasih.💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2