
Ardi dan Bara masih tertawa, sampai tiba-tiba suara ketukan pintu membuat mereka berhenti tertawa. Aku berdiri dari duduk, lalu berjalan keluar untuk membuka pintu. Aku terkejut saat menatap wanita itu berdiri menatap kearah ku.
"Chika... Apa kabar?" senyum manis Marsya.
"Marsya, kau datang kemari? Ada apa?" tanyaku heran, karena ini masih pukul 7 pagi.
"Aku ingin bertemu dengan Ardi," ucapnya.
"Ardi sedang sarapan. Ayo masuk!" ucapku sambil mempersilahkan Marsya masuk kedalam rumah.
Aku meminta Marsya menunggu diruang tamu, lalu aku masuk untuk membujuk Ardi menemui Marsya.
Aku mencolek tangan Ardi, membuat Ardi menatap kearah ku. Matanya berbinar menatap tajam kearah ku.
"Ada apa Kakak ipar!" tanya Ardi, membuat Bara seketika menatap kearah kami.
"Pacarmu datang," bisikku.
"Pacar yang mana?" tanya Ardi bingung.
"Huh... Sebanyak itu kah pacarmu adik ipar! Temui dia dulu, nanti aku mengintip," tawaku.
"Dasar Kakak ipar kesayanganku! Jika tidak ada Kak Bara, habislah kau ku cium," bisik Ardi sambil menoleh kearah Kakaknya yang sedang sarapan.
"Kalian sedang bisik-bisik apa? Kenapa tidak bicara normal saja, kenapa harus bisik-bisik?" tanya Bara.
Aku dan Ardi saling pandang, lalu kami berdua tertawa. Bisikan Ardi yang konyol di telingaku, bisa membuat Bara ngamuk jika mendengarnya. Ardi... Dia bahkan bisa tertawa keras, padahal aku baru saja tahu isi hatinya yang terluka, karena perbuatanku. Tapi sekarang, dia tertawa keras menutupi semua lukanya itu.
Ardi berjalan menuju ruang tamu, aku mengikuti dari belakang. Ardi menatap Marsya duduk di sofa, lalu bergegas dia membalikkan badannya untuk menghindari Marsya.
Aku menarik tangan Ardi, menatap tajam kearahnya. Ada guratan amarah dan kekecewaan saat melihat Marsya ingin menemuinya.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Chika, lepaskan aku! Aku sudah bilang, aku tidak ingin bertemu dengannya!" teriak Ardi membuat Marsya ikut bangun dan mendekat kearah kami.
"Apa yang membuat kau sebenci itu pada Marsya? Apa? Katakan!" ucapku.
Masya ikut penasaran dengan pertanyaan yang keluar dari bibirku. Dia terlihat menunggu jawaban dari bibir Ardi.
"Wanita pembohong! Munafik! Mengejar cintaku mati-matian, hanya untuk menang taruhan. Menjijikan!" ucap Ardi menoleh kearah Marsya lalu membuang pandangannya.
Aku menutup mulutku mendengar jawaban dari bibir Ardi. Marsya? Tidak mungkin dia melakukan hal seburuk itu!
"Tidak. Itu tidak benar!" teriak Marsya sambil menangis.
"Apa yang tidak benar? Aku mendengarnya sendiri, saat kau bicara dengan Ana sahabatmu! Kau dan Faris taruhan untuk mempermainkan perasaanku, Faris memberikan uang dalam jumlah besar padamu, lalu kau menerimanya dengan senang hati. Apa kau lupa?" ucap Ardi terlihat begitu kesal menatap Marsya.
__ADS_1
"Aku... Aku..." Marsya tak bisa menjawab, dia terlihat gelagapan.
"Yang paling menyakitkan! Saat aku mendengar dari bibir manis mu yang berbisa. Kalau kau hanya bermain-main dengan hatiku, kau bilang laki-laki sepertiku bisa dengan mudah kau dapatkan! Kau bahkan bicara pada teman-temanmu, bahwa kehadiranku itu begitu mengganggumu. Kau pikir kau itu siapa? Wanita paling cantik yang bisa mempermainkan hatiku. Sudahlah Kakak ipar, aku malas meladeni wanita ini!" teriak Ardi sambil berjalan keluar rumah.
Aku menatap Marsya diam, air matanya mengalir deras. Beberapa kali ku lihat dia menyeka air matanya. Ada kesedihan terpancar dari wajahnya.
"Kenapa kau jahat sekali, Marsya! Aku benar-benar kecewa padamu. Hanya demi uang, kau rela mengorbankan hati dan perasaan Ardi," ucapku.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Ini semua..." Marsya menangis memelukku.
"Tolong, dengarkan penjelasan aku!" ucapnya.
Aku melepaskan pelukan Marsya, lalu menuntun wanita itu duduk di sofa ruang tamu.
"Ceritakan, apa maksudmu melakukan itu pada Ardi?" tanyaku.
"Ini berawal dari seorang laki-laki bernama Faris, dia memintaku untuk mendekati Ardi. Awalnya aku begitu tertarik mengenal Ardi, karena uang yang ditawarkan Faris sangat besar padaku. Tapi setelah mengenal Ardi, aku mulai mencintainya. Hatinya begitu hangat, membuatku jatuh cinta padanya," ucap Marsya.
"Waktu itu Ana sahabatku bertanya, tentang perasaanku pada Ardi. Dia mengatakan kalau dia begitu mencintai Ardi. Aku hanya bisa menelan getir, saat sahabatku memintaku menyampaikan salam cintanya untuk Ardi, tentu saja aku tidak pernah menyampaikan hal itu pada Ardi." Marsya menarik nafas.
"Aku sudah jatuh cinta pada Ardi, kami sudah begitu dekat. Sampai waktu itu, Faris memberikan uang padaku, dia bilang aku sudah menang karena bisa menaklukkan hati Ardi, disaat yang sama Ana datang mendekati aku dan Faris. Ana bertanya tentang perasaanku pada Ardi, air matanya mengalir karena dia mendengar kalau aku punya perasaan pada Ardi. Karena ingin menjaga perasaan Ana, aku bohong. Aku bilang dengan suara lantang, kalau aku tidak pernah mencintai Ardi. Selama ini, aku hanya ingin uang yang dijanjikan pada Faris padaku. Aku tidak mungkin mencintai Ardi, berada bersamanya, membuatku merasa sesak." Marsya menangis keras.
"Jahat!" ucapku pelan.
"Aku tidak tahu kalau Ardi mendengar semua pembicaraan kami. Waktu itu aku hanya ingin, menjaga hati sahabatku. Aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Aku sangat mencintai Ardi!" teriak Marsya.
"Aku minta maaf,Chika!" tangisnya.
"Kenapa kau menerima tawaran laki-laki bernama Faris itu? Jelaskan, siapa laki-laki itu?"
"Faris, musuh Ardi waktu di SMA dulu! Mereka pernah bertengkar hebat karena seorang wanita yang mengejar cinta Ardi. Dia ingin aku membalas dendam pada Ardi. Dia menyuruhku untuk membuat Ardi jatuh cinta lalu meninggalkannya!"
"Lalu foto-foto Ardi yang kau curi?"
"Ana yang membayar mahal untuk foto-foto Ardi. Ana sahabatku. Aku dari dulu mengira, Ardi marah padaku karena aku mencuri foto-fotonya. Tapi aku tidak tahu, kalau dia mendengar semuanya! Aku benar-benar wanita menjijikkan!" teriak Marsya.
"Sudahlah. Tenyata aku mengerti sekarang! Tujuanmu mendekati Ardi itu karena uang taruhan kan! Semua yang kau lakukan hanya demi uang. Pantas saja, Ardi begitu membencimu! Lebih baik kau pulang, aku tidak ingin ikut campur dalam masalah kalian. Kau yang membuat semuanya menjadi rumit!" ucapku sambil pergi meninggalkan Marsya.
"Chika... Tunggu!!" Marsya menjerit keras.
Aku tidak perduli, aku berjalan masuk kedalam kamar. Bara yang melihatku tahu betul, kalau aku sangat kesal saat itu. Dia mengetuk pintu kamar beberapa kali, tapi tidak ada jawaban dariku. Bara lalu berjalan keluar dari rumah untuk berangkat kekantor.
Aku benar-benar tidak percaya, Marsya bisa melakukan hal serendah itu. Mencuri foto bahkan menjadikan Ardi sebagai barang taruhan untuk mendapatkan uang. Pantas saja, Ardi tidak mau memaafkan Masya. Aku saja sakit hati sekali mendengar penuturan Marsya.
Aku keluar dari kamar, lalu berjalan keluar rumah, aku menemukan sebuah foto yang jatuh diruang tamu. Aku menatap foto itu, foto Marsya bersama Ardi. Ternyata, mereka memang pernah sedekat itu. Jadi sebelum bersamaku, Ardi pernah menaruh hati pada wanita ini.
Aku membalik foto itu, tertulis sebuah kata yang ditulis Marsya untuk Ardi.
__ADS_1
Maafkan aku, Ardi! Seandainya waktu kembali, aku tidak akan melakukan hal buruk padamu. Aku tidak akan mau kehilanganmu. Aku mencintaimu...
Aku menyimpan foto itu di laci meja, lalu duduk di sofa. Kini semua terjawab, apa yang selama ini begitu membuatku penasaran.
Mana ada orang yang mau dijadikan bahan taruhan? Dipermainkan cintanya, oleh orang yang begitu dicintai. Pasti sangat sakit!
Kenapa? Ardi mendapatkan banyak hal yang mengecewakan dalam hidupnya? Dia selalu mendapatkan hal buruk dalam perjalanan cintanya. Tiba-tiba ponselku berbunyi, Ardi memintaku untuk menemuinya ditaman. Tapi mau apa?
Aku berjalan keluar rumah, naik taksi menuju taman yang dimaksud Ardi. Taman yang pernah menjadi tempat terindah untukku dan Ardi. Taman kenangan saat aku bersamanya dulu.
Aku berjalan pelan mendekati sebuah jembatan, aku menatap Ardi ada disana. Aku melihat air mata kesedihan terpancar dari wajahnya.
"Kenapa? Apa yang membuat kau mengajakku kemari?" tanyaku.
"Kau ingat tempat ini?" tanya Ardi sambil tersenyum.
"Tempat kita menghabiskan waktu saat bolos kuliah," ucapku sambil tertawa.
"Benar!" tawa Ardi.
Tiba-tiba Ardi merangkul tubuhku, menghadapkan wajahnya kearah wajahku.
"Aku merindukan masa-masa itu!" bisiknya.
Tiba-tiba Ardi mencium bibirku, entah kenapa aku tidak bisa menolak. Hatiku berkecamuk, rasanya aku dilema dengan keadaan ini.
Ardi menggigit lembut bibirku, lalu menyelusuri rongga mulutku. Sentuhan bibir Ardi yang begitu lembut. Ardi mulai memeluk tubuhku erat, mendekatkan tubuhku kedalam pelukannya, bibir kami masih beradu, sepertinya aku benar-benar sudah terbawa perasaan.
Ardi mulai nakal menyelusuri bagian tubuhku tak terkendali, sontak membuat aku mendorong tubuhnya kuat. Aku berjalan meninggalkan Ardi, tapi Ardi kembali menarik tanganku.
"Aku tahu, kau juga masih mencintaiku kan? Tapi kenapa kita harus saling menjauh seperti ini? Aku tersiksa jauh darimu, aku tidak ingin kehilanganmu!" ucap Ardi masih menggenggam tanganku.
"Aku sudah menikah, sebentar lagi aku dan Bara akan punya anak. Mau sampai kapan kita seperti ini? Kau dan aku harus bisa mengerti, kita tidak ditakdirkan bersama!" ucapku.
"Bagaimana jika aku membawamu lari dari Kak Bara, lalu kita menikah. Kita pergi jauh dari kota ini. Kita mulai semua dari awal, aku dan kau saja!" ucap Ardi.
"Tidak. Aku tidak akan meninggalkan Bara, Ardi! Aku mencintainya," teriakku.
"Lalu aku? Apa artinya kehadiranku dihati mu?" tanya Ardi.
"Kau adik ipar ku, kenapa kau masih bertanya?"
"Aku ingin lebih dari itu! Jika aku tidak bisa jadi suamimu, jadikan aku selingkuhan mu!" teriak Ardi, membuat sepasang mataku melotot menatap kearahnya.
Nah, loh! Itu kenapa jadi rumit amat. Bakal kaya gimana jawaban Chika nanggapin adik iparnya? Beri dukungan Komen positif, Like dan Vote untuk mendukung Author ya.
Terimakasih.💕💕
__ADS_1