Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 56


__ADS_3

Setelah puas dengan aksi nakalnya padaku, Bara memperbaiki bajuku yang acak-acakan karena ulahnya. Dia juga merapikan rambutku sambil tersenyum puas.


"Jika sudah seperti ini. Aku baru semangat kekantor!" tawa Bara.


"Huh... Candu mu pada tubuhku, benar-benar sudah kelewatan!" ucapku kesal.


"Jangan pasang wajah seperti itu. Nanti aku bisa buat pertempuran baru loh!" ucap Bara masih tertawa.


Aku tidak perduli dengan godaan suamiku yang sudah jadi sarapan pagi untukku. Walaupun ada senyum yang ku sembunyikan dibalik kekesalanku.


Aku membalikkan tubuhku, lalu kembali mencuci piring. Bara masih berada disampingku, tangannya melingkar di pinggangku. Dia masih asyik menggangguku, menciumi pipiku dan menyerang bibirku.


Aku menatap penuh ancaman pada Bara, tapi Bara malah tertawa.


"Sampai kapan, kau akan terus menggangguku? Ini sudah jam 9 pagi, harusnya kau sudah ada dikantor kan!" ucapku kesal, walau menahan tawa.


"Ikut aku kekantor! Aku tidak ingin jauh darimu!" ucap Bara.


"Aku banyak tugas rumah, Mas! Lagipula, kenapa kau jadi manja?" ucapku.


"Aku tidak rela, jika kau seharian bersama Ibu, Alesha dan Alghi. Aku dilupakan! Padahal kau tahu, isi kepalaku hanya penuh dengan bayanganmu!" ucap Bara.


Aku harus tertawa bahagia, atau malah menangis dengan sikap Bara ini? Dia tidak rela, aku bersama Ibunya sendiri? Memangnya kami mau apa,sampai dia cemburu begitu! Suamiku, ada apa denganmu?


"Ikut aku kekantor!" ucap Bara tanpa nego, menarik tanganku masuk kedalam kamar.


Ibu dan Alesha sedang bermain bersama Alghi. Mereka tersenyum menatap kehadiran aku dan Bara.


"Ibu. Bisa Ibu menginap disini semalam saja!" ucap Bara.


"Kenapa?"


"Aku mau minta tolong jaga Alghi. Karena hari ini, aku ingin ajak Chika ke kantor baruku di kota ini!" ucap Bara.


"Tentu saja. Ibu akan senang jika bisa membantu!" tawa Ibu.


Kenapa mereka kompak sekali? Huh, entah apa yang diucapkan Bara hingga Ibu mau jadi baby sitter untuk menjaga Alghi.


"Aku dirumah saja! Aku ingin bermain bersama Alesha dan Alghi. Aku tidak mau ikut!" ucapku.


"Chika, ikut Bara! Mungkin Bara butuh teman ngobrol dikantor," tawa Ibu.


Ya... Aku mengalah! Aku masuk kedalam kamar mandi, lalu mulai membasahi tubuhku dengan air yang mengalir dari shower. Aku memberikan sabun di setiap lekuk tubuhku. Setelah selesai, aku segera menyambar handuk yang tergantung di pintu. Setelah tubuhku telah kering dari air, aku mulai memakai baju yang kuambil dari lemari pakaian.


Balutan dress cantik berwarna maroon menjadi pilihanku. Aku segera keluar dari kamar mandi dan duduk dimeja rias. Aku merias wajahku dengan make up yang tidak berlebihan, namun terlihat cantik. Aku menata rambutku agak bergelombang. Sudah cukup cantik, untuk diajak Bara kekantor barunya.


Aku keluar dari kamar, rupanya Bara sudah siap dengan pakaian kantornya, menungguku didepan mobilnya. Mungkin dia mandi dikamar mandi lain.


Aku mendekat kearah Bara yang sedang asik memainkan ponselnya sambil menyandarkan tubuhnya disisi kanan pintu mobil. Bara menatapku takjub, matanya tak berhenti menatapku.


"Ada apa? Apa ada yang aneh? Apa aku terlihat kampungan?" tanyaku saat Bara masih tertegun menatapku.


"Kau cantik, sangat cantik!"


"Benarkah?" Aku senyum-senyum sendiri mendengar ucapan dari bibir Bara.


__ADS_1


Aku merasa tersanjung dengan pujian yang dilontarkan Bara padaku. Bara menggenggam tanganku erat, matanya masih asyik menatapku, bahkan enggan walau hanya sekedar berkedip.


"Kalau kau secantik ini, rasanya aku tidak rela mengajakmu kekantor!" tawa Bara.


"Ya sudah. Tidak usah berangkat! Aku mau menemani Ibu saja di rumah," ucapku.


Tiba-tiba Bara menarik tanganku, membawa tubuhku kedalam pelukannya.


"Mau kemana?"


"Kedalam rumah."


"Kau ikut aku! Aku juga tidak rela kehilangan banyak waktu tanpa kehadiran mu," ucap Bara.


Aku masuk kedalam mobil itu, walau aku masih berpikir keras, kenapa tiba-tiba Bara jadi manja begini padaku!


Bara mulai melajukan mobilnya, matanya masih sekali-kali menatap kearah ku. Ada semu merah yang tampak di wajah Bara. Membuatku menahan tawa melihatnya.


"Kenapa? Apa ada yang lucu?" tanya Bara sambil meninggikan sebelah alisnya.


"Tidak," ucapku sambil menutup mulutku dengan kedua tangan.


"Jangan menggodaku. Tidak usah kekantor, lebih baik kita ke hotel saja!" tawa Bara.


"Mau apa?" Aku kaget.


"Mau apa lagi? Memangnya kau tidak tahu, apa yang selalu ku inginkan?" ucap Bara.


"Apa?"


"Cintamu!" ucap Bara sambil tersenyum menggoda.


Bara tertawa keras melihatku marah-marah dan menatap kesal padanya.


"Jangan cemberut. Nanti aku gemas, ingin mencium mu!" bisik Bara.


Aku menoleh kearah Bara yang masih asyik mengemudi sambil sesekali menoleh kearah ku.


Mobil Bara berhenti didepan kantornya, berada cukup jauh dari rumah kami. Kantor baru, lingkungan baru dan suasana baru. Bara menggandeng tanganku, memasuki kantor itu dengan senyum manisnya.


"Jangan senyum semanis itu, Mas! Kau mau menggoda semua karyawan mu?" ucapku saat Bara tersenyum pada karyawan wanita yang berkumpul untuk menyambut kedatangannya.


Aku terkejut menatap laki-laki yang bersalaman dengan Bara, itu adalah Fero Mahardika, bos ku waktu aku bekerja dikantornya. Dia tersenyum kearah ku, matanya menatap takjub kearah ku.


Melihat Fero yang terlihat bernafsu memburuku, aku mundur kebelakang tubuh Bara. Kenapa tiba-tiba aku takut pada laki-laki itu. Tatapan nakalnya, terus menelusuri seluruh tubuhku dari atas sampai kebawah. Aku jadi merinding melihatnya!


"Pak Bara apa kabar?" tanya Fero.


"Baik. Kau datang untuk presentasi ya? Ayo, ikut ke ruanganku!" ucap Bara sambil menggandeng tanganku.


Aku duduk disamping Bara, melihat semua presentasi yang diberikan Fero agar bisa bergabung dengan perusahaan Bara. Dia terus berusaha meyakinkan Bara, jika perusahaan Bara akan mendapatkan keuntungan besar, jika bergabung dengan perusahaan miliknya. Aku merasa haus, aku beranjak dari dudukku.


"Mau kemana?" tanya Bara.


"Aku haus. Mau ke pantry sebentar!" ucapku sambil keluar dari ruangan Bara.


Aku menatap lorong kantor, sambil berjalan pelan mencari pantry. Aku terus berjalan, sampai akhirnya aku bertemu pantry yang ku cari.

__ADS_1


Aku mengambil gelas berisi air, lalu segera meminumnya. Aku terkejut, tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh tanganku. Sontak aku menoleh kearah orang yang menyentuh tanganku.


"Pak Fero... Ada apa?" tanyaku sambil melepaskan tangan laki-laki itu.


"Sedang apa?" tanyanya.


"Aku mau ke ruangan suamiku. Aku takut dia mencari ku!"


"Kenapa buru-buru? Temani aku dulu disini!" ucap laki-laki itu sambil menarik tanganku kedalam kamar mandi.


"Lepaskan aku! Lepas!" teriakku sambil meronta mencoba melepaskan diri.


"Kenapa berteriak? Aku akan memberimu surga dunia Chika!" ucap laki-laki yang kini ada dikamar mandi bersamaku.


"Kau gila! Tolong... Tolong..." Aku berteriak keras, air mataku jatuh membasahi pipi.


"Kenapa menangis? Tidak usah takut, Chika! Aku akan melakukannya pelan-pelan, ini tidak akan menyakitimu!" ucap laki-laki itu menyeringai.


"Tolong... Tolong..."


Aku masih terus berteriak, namun Fero membungkam mulutku dengan tangannya. Air mataku tumpah ruah, kenapa aku harus selalu mengalami hal buruk seperti ini?


"Tuan... Aku mohon padamu! Jangan lakukan itu, aku sedang hamil. Aku mohon, Tuan!" ucapku memohon.


Namun laki-laki itu tidak perduli dengan tangisanku. Nafsunya padaku sudah naik di ubun-ubun. Gejolak dan hasrat gila sudah menutupi hati nurani. Laki-laki itu menarik bajuku hingga sobek.


"Tolong Pak! Aku mohon... Jangan lakukan ini padaku!" ucapku masih menangis.


"Cengeng. Aku hanya ingin menikmati tubuhmu, setelah itu kau akan aku lepaskan!" ucapnya.


Laki-laki itu mengusap wajahku penuh luapan nafsu. Birahinya memuncak, sampai titik tertinggi. Aku hanya bisa menangis.


"Jangan... Jangan..."


Sampai tiba-tiba,...


Brukkk


Pukulan keras mengenai kepala laki-laki biadab itu. Aku terkejut, seorang wanita datang menolongku. Dia menarik tanganku keluar dari kamar mandi itu.


Aku menatap wajah wanita itu. Itu Naina, wanita yang mencintai suamiku. Naina memberikan jaketnya untuk aku pakai, karena bajuku sudah sobek akibat ulah laki-laki mesum itu.


"Ikut aku!" ucap wanita itu.


Aku hanya mengikuti langkah kakinya, masuk kedalam sebuah ruangan. Naina mengambil segelas air putih, lalu memberikannya padaku.


"Minumlah!" ucap wanita itu.


"Terimakasih," ucapku sambil menghapus air mata yang tersisa di pipiku.


"Laki-laki semacam Fero, memang sudah biasa melakukan hal gila seperti itu. Dia sering menyetubuhi bahkan menghamili karyawannya, lalu memecatnya jika dia sudah bosan. Itulah yang membuatku meminta Bara menolak kerja sama dengan perusahaan Fero. Dia laki-laki gila, yang memiliki nafsu dan keserakahan yang besar." ucap Naina.


Aku tersenyum, ternyata wanita ini baik sekali. Aku pikir dia akan menyakitiku karena aku merebut cinta Bara. Bukankah wanita ini pernah bilang, kalau dia masih menunggu Bara?


Tok... Tok... Tok...


Tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkan kami. Aku menggigit bibirku menahan rasa takut. Aku menarik tangan Naina agar tidak membukakan pintu itu. Aku takut, bagaimana jika laki-laki gila itu kembali!

__ADS_1


Tegang ya! Siapa tuh yang ketuk pintu? Psikopat ternyata beneran banyak di novel ini. Hati-hati Chika! Authornya sadis, kamu gak dikasih senang, haha...


Tinggalkan jejak ya, Komen, Like, dan Vote untuk dukung Author. Terimakasih.💕💕


__ADS_2