Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 57


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Pintu itu semakin keras diketuk oleh seseorang dibalik pintu. Sampai tiba-tiba...


BRUKK...


Laki-laki itu berhasil mendobrak pintu ruangan itu. Laki-laki itu menyeringai, tawa gila terpancar dari wajahnya. Itu Fero! Dia kembali bangun dengan luka di bagian kepalanya.


Aku dan Naina mundur beberapa langkah, dari tempat kami berdiri. Aku melihat wajah panik dari Naina saat laki-laki itu mendekat kearah kami.


Keringatku bercucuran menahan takut, begitupun Naina. Kenapa laki-laki itu bisa sadar dari pingsan secepat itu? Lalu, apa yang harus kami lakukan? Bara, tolong aku dan Naina!


"Kenapa kalian kaget? Kau pikir semudah itu kah lepas dari tanganku? Chika... Aku tidak pernah mendapatkan penolakan. Tapi kali ini, kau sudah melewati batas kesabaran ku. Dan kau, Naina! Matilah kau ditangan ku!" Teriak laki-laki itu penuh kemurkaan.


Laki-laki itu menarik Naina, lalu mendorong tubuh Naina sampai membentur tembok. Tak hanya itu, Fero kembali menarik tangan Naina dengan kasar. Memegang kedua tangan Naina kebelakang, lalu membenturkan kepala Naina ke tembok.


"Tolong aku Chika..." suara Naina tak berdaya.


Aku mendorong tubuh Fero menjauh dari Naina. Aku menatap darah segar keluar dari kepala Naina yang tadi dibenturkan Fero ke tembok beberapa kali.


"Kau terluka Naina!" ucapku saat tanganku menyentuh darah segar itu.


Tanganku gemetar, apa yang akan dilakukan Fero padaku? Aku menoleh kearah laki-laki itu. Tawanya masih menyeringai bak singa gila yang haus akan belaian.


"Chika... Keluar dari sini! Selamatkan dirimu!" teriak Naina.


"Apa? Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu bersama laki-laki itu. Dia bisa melakukan hal buruk padamu," ucapku.


"Keluar dari sini. Cari pertolongan!" ucap Naina yang terlihat semakin lemah.


Aku berdiri dan berlari keluar dari ruangan itu, tapi tanganku ditarik oleh laki-laki gila itu. Dia menarik tubuhku dalam dekapannya. Wajah tampan paripurna di wajah Fero, berubah jadi wajah penuh nafsu menatapku.


"Lepaskan aku! Lepas! Tolong... Tolong..."


Aku terus menjerit keras, meronta untuk melepaskan diri. Tangan Fero mulai menyusuri tubuhku, bahkan aku jijik dengan hal yang dia lakukan.


Saat Fero hendak mendekatkan bibirnya ke bibirku, tiba-tiba...


BRUKK...


Pukulan keras mendarat ditubuh Fero. Aku menatap kearah Bara yang berada tepat dibelakang Fero.


Fero melepaskan tubuhku, menikmati sakitnya pukulan yang diberikan Bara ditubuhnya. Wajahnya meringis, menahan rasa sakit.


Aku berlari kedalam pelukan Bara, air mataku mengalir deras. Aku benar-benar takut saat itu.


"Tenanglah sayang! Aku tidak akan membiarkan, singa lapar ini melakukan hal biadabnya padamu," ucap Bara menatap tajam kearah Fero yang tak berkutik.


"Pak Bara, ini semua hanya salah paham!" ucap laki-laki itu.


"Salah paham? Kau menyentuh istriku, itu sudah membuktikan semuanya! Kau punya niat buruk pada istriku. Aku tidak akan mengampuni, laki-laki sepertimu!" teriak Bara penuh amarah.


Bara memintaku menjauh dari tempat Bara berdiri. Bara sudah siap, mengambil ancang-ancang untuk memukul Fero habis-habisan.


BRAKK... BRUKK...

__ADS_1


Pukulan demi pukulan, melayang pada tubuh dan wajah Fero. Darah mengalir membasahi tubuh laki-laki itu. Bahkan Bara masih terus memukulnya saat dia terjatuh dilantai.


Bara menarik kerah baju Fero, mata Bara bak elang yang siap menerkam habis mangsanya. Sementara Fero mulai ketakutan, nyalinya tiba-tiba menciut, merasa akan kalah dalam pertandingan ini.


Laki-laki mana yang tidak takut melihat wajah Bara saat ini. Tangan Bara mengepal, dan kembali memukuli wajah Fero yang sudah babak belur. Mata Bara memerah, antara kesal, marah dan sedih. Pukulan masih terus diberikan Bara sebagai bonus untuk Fero, karena berani menyentuh istri kesayangannya.


"Ampun..." suara laki-laki itu lemah.


"Mas, hentikan! Dia bisa mati!" ucapku sambil menarik tangan Bara yang masih mencengkeram erat kerah baju Fero.


"Aku ingin menghabisinya Chika! Dia berani-beraninya menyentuh tubuhmu, dan ingin melakukan hal buruk padamu. Dia pantas mati!" teriak Bara geram.


"Jika dia mati, kau akan ditangkap polisi!" ucapku sambil menangis.


"Lepaskan dia, Mas!" ucapku lagi.


Bara melepaskan tangannya dari tubuh Fero, lalu bangun dan menghampiri Naina yang pingsan dengan luka di kepalanya.


"Tolong Naina, Mas!" ucapku.


Bara menggendong tubuh Naina, lalu membawanya segera ke rumah sakit. Aku dan Bara menunggu diluar ruang UGD. Aku benar-benar takut, jika terjadi apa-apa pada Naina.


"Sayang, tenanglah!" ucap Bara sambil memelukku yang ketakutan.


Tiba-tiba Dokter keluar, matanya serius menatap kearah kami. Dokter itu terdiam sejenak, lalu menghela nafasnya sebelum memulai bicara.


"Ada yang ingin saya sampaikan tentang pasien. Ini masalah serius!" ucap Dokter.


"Sampaikanlah Dok!" ucapku.


"Penyakit? Naina sakit apa?" tanyaku penasaran.


"Leukimia... Sudah stadium lanjut," ucap Dokter memberikan penjelasan.


Aku menutup mulutku, terkejut dengan ucapan yang diberikan Dokter. Naina sakit leukimia? Ya Tuhan, kasihan sekali!


"Dia harus melakukan pengobatan rutin agar bisa bertahan hidup," ucap Dokter.


"Kalau begitu, saya permisi!" ucap Dokter itu sambil melangkahkan kakinya meninggalkan kami.


Aku menatap wajah Bara, terlihat wajah Bara ikut terkejut mendengar ucapan Dokter itu.


"Apa kau tidak tahu tantang ini?" tanyaku.


"Tidak. Aku tidak tahu, kalau Naina punya penyakit mematikan seperti itu!" ucap Bara.


Aku dan Bara masuk kedalam ruangan Naina. Naina masih belum sadar. Aku mengusap wajah Naina lembut, tiba-tiba Naina membuka matanya. Ada butiran air mata yang mengalir di pipinya. Aku tersenyum menatap kearahnya, sambil mengusap air mata dipipinya.


"Apa kau sudah tahu tentang..." Aku tidak melanjutkan kata-kataku.


"Tentang penyakit leukimia ku? Kenapa? Apa kau terkejut, Chika?" ucap Naina dengan suara sember.


"Kenapa kau tidak pernah cerita padaku tentang penyakitmu?" ucap Bara.


"Untuk apa? Agar kau dan istrimu merasa iba padaku?" ucap Naina sambil menangis.

__ADS_1


"Kau bicara seolah-olah aku ini orang asing saja!" ucap Bara kesal.


"Kau itu memang orang asing! Kau bahkan tidak pernah menganggap aku ada, selama ini. Kau tidak pernah perduli dengan perasaanku. Yang kau perduli kan hanya cintamu. Untuk apa kau perduli sekarang?" ucap Naina menangis.


"Maafkan aku!" ucap Bara sambil memeluk tubuh Naina.


Aku tiba-tiba saja merasa dihempas jauh, melihat Bara memeluk wanita itu. Aku mundur beberapa langkah, lalu meninggalkan ruangan itu.


Air mataku mengalir deras, dadaku sesak dengan kenyataan ini. Apa aku harus merelakan suamiku bersama wanita lain agar Naina bahagia diakhir hidupnya. Tapi, wanita mana yang rela berbagi cinta dengan wanita lain?


Aku masih menangis diruang tunggu, aku tidak bisa berpikir, kepalaku sakit. Sampai Bara datang menghampiriku. Dia duduk disampingku. Mengusap air mata di pipiku.


"Kenapa kau tidak menemani Naina? Saat ini dia membutuhkan mu!" ucapku, walau hati sebenarnya tidak rela.


"Aku tidak akan mungkin menyakitimu!"


"Kenapa? Pada kenyataannya, aku memang sudah merasa tersakiti!"


"Maafkan aku, Chika!"


"Aku tidak marah padamu. Tapi aku tidak bisa melihat kau sedekat itu dengan seorang wanita. Walaupun aku tahu dia baik. Dia yang menyelamatkan aku dari Pak Fero. Dia juga yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan aku. Tapi, aku tidak siap berbagi cinta dengannya!" ucapku.


"Tenanglah! Aku tidak mungkin mengkhianati cintamu! Naina memang memintaku untuk menemaninya. Tapi, aku tidak mungkin melakukan itu tanpa izin dari istriku!"


"Izin? Kau sungguh-sungguh minta izin dariku? Kau minta izin, menemani Naina. Membiarkan kau menjaga Naina dan merawat Naina disini, hanya berdua? Terserah kau, aku tidak perduli!" ucapku.


"Tapi Dokter bilang, Naina tidak akan hidup lebih lama lagi. Biarkan aku membahagiakannya sebelum ajal menjemputnya."


Aku tertegun mendengar ucapan Bara. Sebenarnya aku tidak tega pada wanita itu. Tapi biar bagaimanapun, aku tidak bisa memungkiri kalau aku cemburu melihat Bara bersamanya. Hatiku sakit merelakan suamiku bersama wanita lain, walau hanya untuk menghibur Naina. Aku mungkin jahat, tapi aku manusia biasa yang tidak bisa mengikhlaskan suamiku bersama wanita lain.


Tiba-tiba Dokter datang menghampiri kami, wajahnya pucat.


"Ada kabar buruk, mengenai pasien! Keadaan pasien tiba-tiba saja memburuk. Saya bahkan takut, jika pasien tidak bisa diselamatkan!" ucap Dokter itu.


Aku dan Bara berjalan masuk kedalam ruangan Naina. Tapi langkah kakiku berhenti didepan pintu. Sementara Bara, sudah masuk kedalam ruangan itu.


"Aku akan mati Bara!" ucapnya.


"Jangan bicara begitu?"


"Izinkan aku bersamamu sebelum aku mati!" ucap Naina.


Naina menangis, menggenggam erat tangan Bara. Aku hanya bisa menyaksikan dan merelakan semua itu. Bahkan aku tidak bisa merasakan betapa dalam rasa sakit dihatiku.


"Berjanjilah. Kau akan bersamaku, sampai aku menemui ajal ku!" ucap Naina memohon.


Bara hanya diam tak bicara, dia menoleh kearah ku untuk meminta izin. Rasanya aku sakit hati melihat adegan kemesraan ini didepan mataku.


Aku melihat Naina menarik lembut tangan Bara, membawa tubuh Bara agar mendekat kedalam pelukannya.


"Izinkan aku bahagia disisa hidupku!" ucap Naina yang berbaring sambil memeluk Bara.


Komen dong Kak, Like atau Jempol juga Vote buat Author biar aku semangat.


Terimakasih.💕💕

__ADS_1


__ADS_2