
Malam harinya kami makan bersama dimeja makan. Terlihat Alesha begitu lahap memakan masakan yang dibuat pelayan baru itu. Bara terlihat tidak suka dengan keberadaan Marisa, padahal menurutku wanita itu bekerja sangat baik. Tapi Bara tetap merasa terganggu dengan keberadaannya.
Marisa memberikan segelas susu pada Alesha. Dia juga menuangkan air putih di gelasku dan di gelas Bara. Tapi tiba-tiba, pelayan itu menjatuhkan air yang ada dimeja Bara. Baju Bara basah tersiram air dari atas meja. Pelayan itu panik lalu mengusap baju Bara yang basah dengan kedua tangannya.
Kenapa denganku? Tiba-tiba muncul perasaan tidak enak melihat pelayan itu menyentuh tubuh suamiku. Tapi, bukankah dia memang tidak sengaja menyenggol gelas itu, hingga tumpah membasahi tubuh Bara?
Berkali-kali aku melihat wanita itu mengusap lembut tubuh Bara. Rasanya hatiku panas melihatnya. Aku benar-benar cemburu.
"Maaf Pak, saya benar-benar tidak sengaja," ucap Marisa sambil mengusap tubuh Bara.
"Tidak apa. Biar nanti saya ganti baju," ucap Bara. Tapi wanita itu masih berusaha menyentuh tubuh Bara. Apa dia sengaja melakukan itu?
Aku tidak bicara, hanya menatap reaksi suamiku saat wanita itu menyentuh tubuhnya. Rasa kesal itu ku pendam dalam hati. Bara berdiri dari kursinya, lalu menarik lembut tanganku.
"Bantu aku mengganti bajuku dikamar!" ucap Bara.
Aku tidak menjawab tapi mengikuti setiap perintah Bara. Aku masuk kedalam kamar, masih menatap Bara tak percaya. Dia memintaku membantunya mengganti pakaiannya? Bukankah biasanya dia bisa melakukan itu sendiri?
"Kenapa bengong? Gantikan bajuku," ucap Bara sambil tersenyum.
"Kenapa tidak melakukannya sendiri? Bukankah biasanya juga, kau lakukan semua sendiri?" ucapku.
Bara menarik tubuhku kedalam pelukannya, matanya menatap tajam kearah ku.
"Apa kau tidak lihat, apa yang dilakukan pelayan wanita itu padaku? Dia mengusap dan menyentuh tubuhku. Tapi, kenapa kau diam saja?" tanya Bara masih memelukku erat.
"Memangnya, aku harus bagaimana?"
"Apa yang kau rasakan, saat wanita itu menyentuh tubuhku? Apa kau rela, jika ada wanita lain menyentuh tubuhku dihadapan mu?" tanya Bara sambil mencium pipiku.
"Tidak. Aku tidak rela! Hanya aku wanita yang boleh menyentuhmu. Hanya aku wanita yang harus kau cintai. Tidak boleh ada wanita lain diantara kita," ucapku.
"Pelayan baru itu sedang menggodaku dihadapan mu. Tadinya aku berharap kau akan memarahinya, karena dia berani mengusap dan menyentuh tubuhku. Tapi kau bahkan merelakannya," ucap Bara.
"Apa kau tergoda dengan wanita itu?"
"Tidak. Tapi aku ingin kau memperjuangkan aku. Jangan biarkan ada wanita lain yang bisa menyentuhku. Aku ini milikmu, apa kau rela, ada wanita yang merebut ku dari sisimu?" ucap Bara.
Aku menatap wajah Bara sambil memikirkan ucapan dari bibir Bara. Benar, harusnya aku menjaga Bara dari wanita itu. Tidak menutup kemungkinan, wanita itu ingin merebut Bara dari sisiku.
"Baiklah. Mulai sekarang, aku akan mengawasi pelayan itu. Jika kali ini dia berani menyentuh suamiku, aku akan langsung memecatnya!" ucapku.
"Benarkah?"
"Heeh."
Bara mengecup bibirku, aku membalas kecupan Bara. Bara tertawa, dia mengusap lembut bibirku dengan jari-jarinya.
"Bibir ini nakal!" ucapnya.
__ADS_1
"Bukankah kau bilang tadi, kau itu milikku? Lalu, apa masalahnya?" senyumku.
"Kau menggodaku lagi? Masih kuat untuk melayaniku?" bisik Bara sambil mencium lekuk leherku.
"Mas, apa kau tidak bosan melakukan itu bersamaku setiap hari?" bisikku sambil tertawa.
"Aku malah ketagihan. Kalau saja kau mengizinkan, mungkin aku akan melakukan ini setiap waktu," tawanya.
"Apa? Aku benar-benar takut mendengarnya," kataku tersenyum geli.
"Karena aku sangat mencintaimu. Hanya kau wanita yang aku izinkan memiliki hati, jiwa dan ragaku. Aku ingin terus bersamamu!" ucap Bara masih asyik menciumi leherku.
"Mas, jangan begini!" bisikku.
"Kenapa? Apa kau sudah tidak tahan untuk melakukannya?" tanya Bara.
Aku tidak menjawab, tapi hatiku benar-benar ingin Bara segera melakukanya. Bara masih menciumi leherku, mencium harum aroma tubuhku. Aku mulai hilang kendali, aku mengarahkan wajah Bara kearah wajahku. Aku mulai menciumi bibir Bara sambil memeluk tubuh Bara.
Ciuman itu begitu nikmat, apalagi setelah aku merasakan api cemburu yang membakar hatiku. Aksiku yang buas dibalas lembut oleh Bara. Kenapa tiba-tiba nafsuku memuncak? Apa saat wanita merasa cemburu, dia akan bernafsu seperti aku? Rasanya aku ingin memberikan pelayanan terbaikku pada Bara. Apakah hal ini terdengar konyol?
Biasanya aku hanya diam saat Bara beraksi melampiaskan nafsunya. Tapi kali ini aku ikut bermain. Aku membalas setiap aksi Bara ditubuh ku. Aku mengecup bibir Bara penuh nafsu, aku merasakan gairah bercinta yang menyelimuti hatiku.
Permainan yang semakin panas itu terus berlanjut. Tidak ada yang menyerah. Aku dan Bara, sama-sama ditutupi hasrat cinta. Rasanya aku tidak ingin segera menyudahi semua ini. Berkali-kali Bara mengecup bibirku dan menggigitnya lembut.
Aku semakin menggila, aku memeluk tubuh Bara. Aku menciumi dada Bara yang bidang. Membuat beberapa tanda merah disana.
"Aaah..." erangan terakhir dari bibir Bara menyudahi semuanya.
Bara kembali menatap kearah ku, Bara menggigit bibirnya hingga warna bibinya menjadi merah menggairahkan. Wanita mana yang tidak akan tergoda dengan bibir manis milik suamiku. Bahkan aku yang setiap hari melihatnya saja, masih terus memburunya. Aku memang sangat terobsesi dengan bibir manis Bara. Aku begitu menikmati setiap kali Bara melum*t habis bibirku. Dasar Chika!
Setelah selesai dan merasa sama-sama puas, kamipun terlelap dalam tidur. Bahkan kami lupa dengan Alesha yang masih makan dimeja makan.
****
Paginya Bara sudah siap dengan pakaian joging nya, terlihat begitu tampan dan menarik. Aku saja tidak berhenti menatap kearah Bara melihat otot-ototnya yang terlihat mengagumkan.
Bara yang menyadari aku memperhatikannya, langsung mendekat kearah ku. Berkali-kali dia mengecup bibirku.
"Sayang, kau sudah bangun?" tanyanya.
"Mau kemana?"
"Joging. Hanya keliling komplek saja!"
"Aku ikut!"
"Ikut? Kau yakin ingin ikut?"
"Iya. Aku harus waspada. Bagaimana jika nanti saat kau joging, ada wanita yang menggodamu? Aku harus terus menjagamu," ucapku yang merinding mendengar ucapanku sendiri.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Alghi? Siapa yang akan menjaganya?"
"Biar Marisa yang menjaganya! Pokoknya aku akan ikut, walau kau keberatan," kataku sambil menggambil baju joging yang ada dilemari ku.
Aku mau masuk kedalam kamar mandi, tapi Bara mencegahku. Dia menarik tubuhku mendekat kearahnya.
"Ganti bajumu disini!" ucap nakal bibir Bara.
"Apa?"
Aku terkejut dengan permintaannya. Jujur aku masih malu melakukan hal seperti ini didepan suamiku. Ya, walaupun aku tahu, tidak ada yang bisa ku tutupi dari Bara. Bahkan Bara sudah tahu seluruh bentuk tubuhku tanpa busana.
"Kenapa? Ayo, ganti bajumu disini. Aku mau lihat," ucap Bara sambil tertawa.
"Tidak mau," kataku sambil berlari kedalam kamar mandi.
Aku tertawa dalam hati, kenapa aku bisa ketakutan seperti ini? Bukankah Bara setiap malam melakukan itu bersamaku? Tapi kenapa aku masih malu?
Setelah selesai mengganti bajuku, aku dan Bara keluar kamar. Marisa menatap kearah Bara tanpa berkedip. Huh, aku sudah bisa menebak. Apa yang pelayan ini pikirkan tentang suamiku!
Aku menarik Bara kedalam pelukanku, Bara terlihat terkejut tapi wajahnya bahagia melihat aksiku. Aku tidak mau pelayan ini menyentuh tubuh suamiku lagi. Bahkan aku tidak rela, dia menatap Bara dengan tatapan mesumnya itu.
"Aku dan suamiku mau joging keliling komplek. Aku titip Alesha dan Alghi ya! Mereka masih tidur," kataku.
"Iya, Mbak!" kata Marisa masih menatap kearah wajah Bara.
Aku buru-buru menarik Bara keluar rumah. Aku bisa benar-benar terbakar cemburu jika wanita itu terus menatap suamiku.
Aku dan Bara mulai berlari mengelilingi komplek perumahan disekitar rumah kami. Tiba-tiba teriakan dua wanita menghentikan langkahku.
"Chika..." teriak Dhea dan Viva dari gerbang rumahnya.
Mau apa mereka? Aku menatap dua wanita itu. Jelas, mereka malah asyik menatap kearah wajah Bara. Aku sudah curiga, dua wanita ini memang menyukai suamiku.
"Kami boleh gabung? Kami juga berniat untuk joging," ucap Viva.
Bara mengangguk pelan. Apa? Mengangguk? Bara setuju, mereka ikut joging bersama kami? Huh... Rasanya aku ingin mengenyahkan dua wanita ini dari peredaran bumi. Aku sangat kesal, kenapa Bara setuju dengan keinginan mereka? Apa Bara tidak tahu, aku sangat cemburu.
Aku menatap dua wanita itu berlari bersama Bara di depanku. Viva disisi kanan Bara dan Dhea disisi kiri Bara. Aku yang jadi istri Bara malah kebagian lari dibelakang mereka. Sepertinya Bara memang sengaja melakukan ini. Dia pasti ingin sekali membuatku terbakar cemburu.
Aku menghentikan langkahku, memilih beristirahat di kursi taman. Bara menoleh, lalu melambaikan tangannya agar segera menyusul mereka. Tapi aku tidak perduli, aku memilih duduk sendiri di kursi taman.
Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiriku, laki-laki itu memberikan sapu tangannya untukku.
"Pakai ini, untuk mengusap keringatmu!" ucap laki-laki itu.
Siapa laki-laki yang bertemu dengan Chika? Bagaimana reaksi Bara melihatnya? Tetap nantikan episode selanjutnya ya...
Beri Vote, Like atau Jempol untuk dukung Author atau penulis ya...
__ADS_1
Terimakasih.