Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 37


__ADS_3

Desakan Alesha dari balik pintu membuatku jengah. Aku mengambil ponselku, lalu mencoba menghubungi Bara.


"Halo..." ucap Bara.


"Mas, Ardi datang ke rumah ini. Aku takut sekali!" kataku dengan suara pelan.


"Apa yang dilakukan Ardi padamu? Aku akan segera pulang, tunggu aku ya!" kata Bara dengan panik, lalu mematikan sambungan telepon.


Aku berusaha untuk tenang, namun hatiku benar-benar takut. Apa yang akan dilakukan Ardi padaku kali ini? Ya Tuhan, aku harus apa?


Beberapa menit kemudian, mobil Bara terparkir sempurna didepan rumah. Aku menatap kearah Bara dari jendela kamar. Melihat Bara pulang, rasanya hatiku begitu tenang. Bara melambaikan tangannya, memintaku agar segera turun dari kamar.


Aku keluar dari kamar, lalu berjalan menuju pintu utama. Ardi masih ada disana, tersenyum menatap kehadiran Bara.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Bara pada Ardi.


"Bertemu kekasihku? Mau apa lagi?" tawanya.


Bara terlihat marah, namun berusaha untuk tetap tenang menghadapi sikap adiknya. Aku berlari kearah Bara, namun Ardi menarik tanganku. Bara menepis tangan Ardi yang menggenggam tanganku.


"Jangan pernah melampaui batas! Aku bisa sangat murka padamu, walau kau adikku sekalipun. Pergi sana! Sebelum kesabaran ku habis," ucap Bara.


Ardi tertawa terkekeh, menatap Bara seolah meledek. Ardi menepuk pundak Bara beberapa kali.


"Tenanglah Kak. Kenapa harus emosi? Aku ini adikmu. Apa masalahnya jika aku berkunjung untuk menemui Kakak ipar ku?" tawanya.


Bara diam, menatap geram pada adiknya. Ardi semakin puas menatap reaksi Bara.


"Pergi! Aku bilang pergi!" Bara berteriak keras.


Tak lama Ardi melangkahkan kaki keluar dari rumah. Wajahnya terlihat kesal menatap kearah Bara.


Aku memeluk tubuh Bara, air mataku mengalir deras. Rasanya aku ingin terus bersama Bara, aku takut Ardi melakukan hal buruk lagi padaku.


"Sudah, Ardi sudah pergi! Tenanglah," ucap Bara sambil memelukku.


"Aku takut," bisikku.


"Tidak ada yang perlu kau cemaskan! Aku ada disini bersamamu."


Bara menuntunku pelan menuju pintu kamar, Alesha diajak main oleh pelayan itu. Pelayan macam apa? Dia begitu bahagia melihatku diperlakukan menjijikkan oleh Ardi. Sekarang, setelah Bara pulang, dia cari muka mengajak Alesha bermain. Tunggu saja, aku akan meminta Bara memecat mu!


Bara membawakan air putih untukku, aku memang merasa haus, setelah kejadian buruk tadi. Untung saja Bara segera datang, rasanya aku lebih tenang sekarang!


"Wajahmu sangat pucat, apa kau sakit?" tanya Bara.


"Entahlah, badanku tidak enak!"

__ADS_1


"Kau tahu, tadi aku baca di internet, gejala yang kau alami itu adalah tanda-tanda kehamilan."


"Hamil?" Aku melotot tak percaya. Mana mungkin?


"Aku belikan testpeck tadi dijalan. Siapa tahu saja filing ku benar!" senyumnya antusias.


Tapi aku malah lemas mendengarnya, bahkan sebelum melakukan tes itu, aku sudah tahu jawabannya. Bara, kita itu tidak mungkin punya anak. Bagaimana cara aku menjelaskan pada Bara?


Aku melakukan tes yang diminta Bara, lalu memberikan testpeck itu pada Bara.


"Aku sudah bilang, aku hanya masuk angin," ucapku tanpa melihat hasilnya.


Bara tersenyum senang, memelukku dengan ekspresi bahagia. Kenapa dia? Apa yang membuat dia begitu bahagia?


"Kita akan segera punya anak sayang!" teriak Bara sambil memeluk tubuhku.


Aku tak percaya dengan apa yang ku dengar, Bara bilang aku hamil? Tidak mungkin? Pemeriksaan medis Bara waktu itu, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Bara tidak mungkin memiliki keturunan. Tapi, selama ini aku hanya melakukan itu bersama Bara.


Tuhan, apa ini anugerah dariMu? Rasanya aku bahagia sekali. Setelah sekian lama, aku menginginkan kehamilan ini, akhirnya aku hamil juga anak Bara. Aku benar-benar bersyukur sekali.


"Aku mau periksa langsung kerumah sakit," ucapku. Bara tersenyum sambil mengangguk.


Aku dan Bara masuk kedalam mobil, lalu kami pergi menuju rumah sakit. Aku menatap dokter wanita yang sedang memeriksa keadaanku. Kebetulan, Bara sedang pergi untuk mengurus administrasi. Aku memberanikan diri untuk bertanya langsung pada dokter itu.


"Dok, apa aku benar-benar hamil?"


"Iya. Usia kandungannya, baru dua Minggu," ucap dokter itu lembut.


"Kenapa tidak mungkin?" tanya dokter itu.


"Aku pernah lihat hasil pemeriksaan medis, yang menyatakan bahwa suamiku itu tidak bisa memiliki keturunan. Tapi, kenapa aku bisa hamil?" ucapku.


"Pemeriksaan medis itu, kadang juga bisa salah. Karena Dokter atau alat-alat yang kami gunakan, tidak bisa mengalahkan takdir Tuhan. Atau jika anda mau, saya bisa memeriksa ulang suami anda."


Aku mengangguk, lalu meminta Bara untuk diperiksa oleh seorang Dokter laki-laki. Bara setuju melakukan periksaan, tanpa tahu apa tujuan pemeriksaan itu.


Setelah selesai dengan semua tes, akhirnya kami pulang kembali ke rumah. Aku langsung beristirahat dikamar, Bara menemaniku hingga aku terlelap.


****


Pagi pun datang, aku masih diam di atas tempat tidur. Mataku menatap kesegala arah, mencari keberadaan suamiku.


Bara keluar dari kamar mandi, sudah siap untuk pergi ke kantor. Dia tersenyum sambil mendekat kearah ku.


"Kita di undang makan malam bersama, oleh Ibu dan Ayah malam ini di rumah mereka. Jadi, bersiaplah malam ini," ucap Bara sambil tersenyum.


"Apa mereka sudah tahu tentang kehamilanku ini?"

__ADS_1


"Belum. Aku ingin memberikan mereka kejutan besar mengenai kehamilan mu," kata Bara sambil tersenyum.


Aku tersenyum menatap kearah Bara, terlihat Bara begitu bahagia dengan berita kehamilanku ini. Beberapa kali Bara mengusap perutku penuh kasih. Tak terbayang jika saat anak ini lahir, tentu dia akan diperlakukan istimewa oleh keluarga Bara.


"Sayang, aku berangkat ya! Beristirahatlah, jika kau butuh sesuatu, hubungi aku," ucap Bara sebelum pergi meninggalkan rumah.


Aku berdiri dari tempat tidur, lalu membuka jendela kamarku untuk menatap pemandangan pagi. Aku melihat mobil Bara melaju meninggalkan rumah ini. Kini aku kembali asyik menatap pemandangan sekitar rumahku. Ada banyak aktivitas disana. Ada yang sedang mengobrol di teras rumah, bahkan banyak yang lari pagi mengitari komplek.


Aku masih menatap aktivitas mereka, hingga tiba-tiba mataku tertuju pada halaman rumahku. Aku melihat Ardi berbicara serius dengan pelayan baru itu. Apa hubungan mereka? Atau jangan-jangan, pelayan itu adalah orang suruhan Ardi? Tapi untuk apa?


Pantas saja sejak pelayan itu tinggal disini, aku merasa, sering dipertemukan dengan Ardi. Dari mulai pertemuan saat makan malam bersama Bara dan Alesha, pertemuan saat aku lari pagi bersama Bara, bahkan saat Bara baru pergi ke kantor, tiba-tiba Ardi datang ke kamarku. Ternyata pelayan rumah itu, wanita yang dibayar Ardi untuk memata-matai kami.


Aku kenapa tidak menyadari hal ini dari awal. Kenapa aku tidak merasa curiga dengan wanita itu. Aku harus memberitahukan hal ini pada Bara. Biar aku mengambil beberapa foto mereka sebagai bukti, untuk ku tunjukkan pada Bara.


Aku mengirimkan foto-foto yang ku ambil ke ponsel Bara. Aku juga memberitahukan padanya, kalau Marisa adalah mata-mata suruhan Ardi. Tiba-tiba Bara menelpon, dia terdengar begitu cemas setelah melihat kiriman foto yang ku kirimkan ke ponselnya.


"Halo..."


"Halo, sayang... Aku sudah membaca dan melihat foto-foto itu. Aku sudah menduga ada hal aneh pada wanita yang menjadi pelayan di rumah kita. Ternyata, wanita itu benar-benar suruhan adikku, untuk memata-matai keluarga kita," ucap Bara.


"Aku takut," ucapku cemas.


"Sayang, tutup pintu kamar dan kunci rapat-rapat ya! Aku akan segera pulang, setelah meeting di kantorku selesai," ucap Bara.


"Ya sudah. Cepat pulang ya Mas, aku takut!" bisikku.


"Iya sayang," ucap Bara, memutuskan sambungan teleponnya.


Aku mengunci pintu kamarku rapat-rapat, lalu kembali berbaring ditempat tidur. Aku takut, Ardi masuk lagi kedalam kamarku. Bagaimana ini?


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, tak ada suara siapa-siapa, hanya suara ketukan pintu saja. Aku benar-benar takut. Bagaimana jika itu benar-benar Ardi? Bukankah tadi Ardi ada dihalaman rumah ini? Lalu aku harus apa?


"Tenanglah Chika, tidak akan terjadi apa-apa padamu, asal kau tidak membuka pintu kamar itu," gumam ku.


Aku mencoba menutup mataku, agar rasa takut itu sedikit berkurang. Tapi, lagi-lagi suara ketukan itu makin keras. Aku sangat yakin, kalau itu Ardi. Bagaimana ini? Bara masih dikantornya untuk menghadiri meeting penting. Tenanglah Chika!


Karena tidak ada jawaban dariku, ketukan pintu itupun berhenti dengan sendirinya. Mungkin Ardi sudah pergi. Aku mendengar suara dari arah jendela kamarku. Aku mendekat, menatap Ardi menaiki tangga menuju arah jendela kamarku. Aku langsung menutup pintu jendela itu, lalu menguncinya.


Ada apa dengan Ardi? Apa dia benar-benar sudah tidak waras? Lalu apa yang harus aku lakukan?


Tok... Tok...Tok...


Suara ketukan dari arah jendela kamarku, membuat aku semakin panik.


"Sayang, buka jendela kamarmu," teriak Ardi.


Aku duduk ditepi tempat tidur, melipat kedua kakiku. Tidak ada suara yang aku ucapkan, hanya ada suara nafas ketakutan. Aku benar-benar takut, tapi berusaha untuk tenang. Semoga, tidak terjadi hal buruk padaku hari ini!

__ADS_1


Terimakasih banyak sudah membaca karyaku. Maaf jika masih banyak kekurangan. Bantu Author ya Kak, tinggalkan jejak Like atau Jempol juga Vote.


Salam santun Author.💕💕


__ADS_2