
Mohon sedia tisu, part ini mengandung banyak bawang yang bikin keluar air mata.
Pagi harinya Bara bangun, menciumi pipiku dan mengusap lembut wajahku. Bara membuatku yang masih mengantuk, terpaksa harus membuka mata.
"Kejutan..." ucap Bara sambil memeluk tubuhku yang baru beranjak bangun dari tidur.
Aku menutup mulutku, rasa kagum tak percaya pada hal yang diberikan Bara padaku. Sebuah kejutan manis yang membuat aku semakin mencintainya.
Kelopak bunga yang ditabur membentuk hati, menghiasi lantai kamar kami. Aku tak berhenti takjub menatap kearah kejutan itu. Ada air mata haru yang jatuh membasahi pipiku.
"Terimakasih, Mas!" ucapku sambil memeluk tubuh Bara.
"Apa kau suka?"
"Sangat..."
"Beri aku hadiah, karena aku sudah memberikan kejutan indah untukmu," bisik Bara.
"Hadiah apa?"
"Aku mau bercinta denganmu," bisik Bara.
Aku tersenyum menatap kearah Bara, tawa nakal terpancar di wajah Bara. Bara memeluk tubuhku, mulai menghujami bibirku dengan kecupan. Semakin lama semakin mengganas, tangan Bara mulai beraksi, melucuti setiap pakaian yang melekat di tubuhku.
Aku memejamkan mataku, aku berusaha menikmati permainan Bara yang sudah masuk tahap panas. Birahi cintanya bergejolak, memenuhi hasrat cinta yang sejak kemarin terpendam.
Setelah selesai, Bara masuk kedalam kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor. Tak lama Bara keluar dari kamar mandi, sekarang giliran aku yang masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai, aku memakai bajuku, lalu keluar dari kamar. Aku menatap Bara yang sedang asyik sarapan sendiri.
"Mas, Ibu sudah pulang?" tanyaku.
"Iya. Dia bawa Alesha dan Alghi juga. Dia bilang, tidak mau jauh dari mereka," ucap Bara.
"Aku sendirian di rumah," ucapku sedih.
"Tidak apa-apa. Aku akan cepat pulang untukmu!" ucap Bara sambil mengecup keningku.
"Hati-hati ya, Mas!"
"Kau juga," ucap Bara sambil berjalan meninggalkan rumah.
Aku duduk di kursi meja makan sambil memakan sarapanku. Aku jenuh, masa seharian aku di rumah sendirian. Setelah sarapan, aku membereskan meja makan dan mencuci piring kotor.
Aku menyapu dan mengepel lantai, setelah selesai semua pekerjaan rumah, aku memutuskan untuk duduk di ruang tamu. Aku menatap sebuah gitar, yang tiba-tiba saja mengingatkan aku dengan Ardi. Kenapa?
Aku mendekati gitar itu, penuh debu karena tidak pernah digunakan. Gitar itu sudah ada dari awal kami menempati rumah ini. Tapi entah kenapa, hari ini aku begitu ingin mendengar suara petikan gitar dan lantunan lagu.
Tiba-tiba pintu rumahku terbuka, aku menatap Ardi yang berdiri sambil memegang gagang pintu.
"Ardi? Kau ada disini?" tanyaku kaget.
__ADS_1
"Tidak tahu. Tiba-tiba saja, aku merindukanmu!" ucap Ardi jujur.
Ardi menatap tanganku yang sedang membersihkan gitar usang itu. Lalu meraih gitar ditangan ku sambil menuntunku duduk di kursi sofa.
"Kau ingat, dulu aku suka sekali memainkan gitar dan bernyanyi untukmu! Apa kau merindukannya?" tawa Ardi sambil tersenyum.
Aku hanya diam, aku tidak mampu berbicara. Namun, aku masih mengingat dengan jelas masa-masa indah bersama Ardi.
"Tapi kali ini, aku tidak menyanyi lagu romantis untukmu. Aku akan menuangkan isi hatiku dalam sebuah lagu yang akan ku nyanyikan!" ucap Ardi sambil tersenyum dan mulai memainkan gitarnya.
Alunan petikan gitar yang indah, membuatku tersenyum. Mata Ardi tak berhenti menatap penuh cinta kearah ku. Lalu Ardi mulai menyanyikan lagunya.
Berakhirlah sudah cerita kita.
Setelah sekian lama bersama.
Kau hadirkan dia dalam cerita.
Yang hanya menyisakan luka.
Ku coba menahan perih yang kurasa
Walau ini menyakitkan.
Jika menyakiti aku, bisa membuatmu bahagia.
Ikhlas ku mencintaimu, ikhlas ku kehilanganmu.
Semoga engkau bahagia dengan pilihanmu itu.
Kau bersama dia, aku bersama doa.
Tak terasa air mataku mengalir deras, mendengar lagu yang dinyanyikan Ardi untukku. Kenapa? Aku merasa begitu jahat pada Ardi. Dia rela tersakiti, hanya untuk membuatku bahagia. Kapan takdir akan mengirimkan wanita yang bisa membahagiakan Ardi? Rasanya, aku bertanggung jawab atas segala yang terjadi padanya.
Ardi menghentikan permainan gitarnya, lalu menyimpan gitar itu di atas meja. Ardi mengusap air mata yang jatuh di pipiku.
"Kenapa? Apa lagu tadi menyakiti hatimu?" tanya Ardi.
Aku hanya diam, air mataku mengalir semakin deras. Mataku menatap laki-laki dihadapanku. Laki-laki yang lebih dari tiga tahun menjadi kekasihku.
Kenapa aku harus terus bertemu dengannya, jika memang aku tidak ditakdirkan bersamanya. Rasanya aku terluka, dan mungkin Ardi pun terluka dengan semua permainan takdir di hidup kami. Andai aku bisa semudah itu melupakannya. Andai aku punya kekuatan besar untuk melawan takdir. Aku tidak pernah menginginkan perpisahan diantara aku dan Ardi.
Mungkin aku bodoh, aku masih menyimpan kenangan bersama Ardi, laki-laki yang kini telah menjadi adik ipar ku. Tapi melupakan kenangan itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pada kenyataannya, aku selalu merasakan sakit, saat berada dekat dengannya. Ada kesedihan mendalam dihatiku, yang tidak ada seorang pun yang tahu seperti apa rasanya.
Kok, Authornya ikut nangis! Hiks... Hiks...
Mungkin karena disini, karakter Ardi itu ada dua sifat. Punya ambisi cinta yang besar untuk Chika, tapi Ardi itu sebenarnya punya hati penyayang dan setia. Jika dia laki-laki playboy besar kemungkinan, Ardi sudah menikah dengan wanita lain. Tapi ini, dia malah nunggu Chika. Dia akan melepaskan Chika, saat Ardi menganggap Bara bisa membahagiakan Chika. Pada kenyataannya, Ardi belum percaya sepenuhnya dengan cinta Bara pada Chika. Lanjut ke Chika dan Ardi!
"Apa yang membuat kau menangis?" tanya Ardi.
__ADS_1
"Kau..."
"Aku? Kenapa dengan aku?"
"Masa lalu kita," bisikku pelan.
"Apa kau masih ingat tentang masa lalu kita? Aku bahkan tidak pernah melupakan sedikit pun tentang masa lalu itu. Saat kita masih bersama dan saling menyayangi. Aku sangat suka menyanyikan lagu romantis untukmu. Dan hanya kau, yang mendapatkan perlakuan istimewa dariku." Ardi tersenyum kelu.
"Pada kenyataannya, takdir memisahkan kita!" ucapku sambil menangis.
"Iya. Dan aku begitu hancur, saat tahu Ibu dan Ayahku berniat menjodohkan mu dengan Kak Bara. Rasanya aku ingin mengakhiri hidupku saja saat itu."
"Maaf..."
"Kau tidak salah! Aku tahu, awalnya ini juga begitu sulit untukmu. Aku bahkan masih ingat, saat kau memelukku di pesta pernikahanmu dengan Kak Bara. Saat itu, aku masih melihat cinta yang besar untukku di matamu." Ardi mengusap air matanya.
"Sampai pada akhirnya, cinta itu benar-benar sirna di matamu. Dan aku, benar-benar tidak punya lagi kesempatan untuk bisa bersamamu. Mimpi kita, harapan kita, kini tidak akan pernah mungkin terjadi. Aku hanya berharap kau bisa bahagia menjalani cinta bersama Kakakku. Biarlah sakit dan luka dihatiku, asal kau bahagia aku akan bahagia untukmu," ucap Ardi sambil tersenyum.
Aku terus mengusap air mataku, namun air mataku tidak berhenti mengalir. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan, sebesar apa rasa sakit yang aku berikan di hati Ardi. Aku jahat, aku memang jahat!
"Bahagia lah untukku, Ardi! Aku tidak ingin, selamanya kau menunggu cintaku. Aku tidak ingin, kau menghabiskan waktumu hanya untuk menungguku. Aku ingin melihat kau menikah, aku ingin melihat kau bahagia juga!" ucapku sambil mengusap lembut wajah Ardi.
Air mata Ardi jatuh membasahi pipinya, ada air mata kesedihan yang tumpah ruah terlihat jelas diwajahnya.
Ardi menggenggam tanganku yang mengusap wajahnya. Dia mencium tanganku penuh kesedihan dan air mata.
"Apapun keinginanmu, adalah perintah yang akan ku lakukan. Aku akan berusaha semampuku, untuk mengabulkan permintaanmu agar bisa melihatmu bahagia." Ardi masih mencium tanganku sambil menangis penuh haru. Aku juga tidak bisa menahan kesedihanku, melihat kesedihan di wajah Ardi.
"Aku akan menikah dengan gadis manapun yang kau pilihkan untukku. Karena aku percaya, kau bisa memilihkan wanita yang terbaik untukku," ucap Ardi sambil memeluk tubuhku.
Aku hanya menangis mendengar kata-kata Ardi. Apa dia akan menikah hanya untuk memenuhi permintaanku? Tapi pernikahan apa, yang tidak didasari oleh cinta?
"Apa kau mau menikah dengan Marsya?" tanyaku pelan.
Ardi mengangguk pelan, air matanya masih terus membasahi pipinya.
"Jika itu bisa buat kau bahagia, aku pasti akan melakukannya untukmu."
"Kenapa?"
"Karena sejak aku kehilanganmu, aku sudah tidak punya hati dan perasaan cinta untuk wanita lain. Hidupku sudah lama hancur. Aku hanya berdiri dan berjalan tanpa ada tujuan hidup. Keinginanku saat ini hanya satu, yaitu membahagiakanmu. Aku hanya akan menjagamu, walau aku tidak mungkin memilikimu." Ardi mengusap lembut wajahku lalu mencium keningku.
"Aku akan segera mempersiapkan rencana pernikahan aku dan Marsya, segera!" ucap Ardi.
Entah kenapa aku merasa tidak rela mendengarnya. Padahal, bukankah ini permintaanku? Tapi kenapa hatiku sakit? Aku tidak rela, kenapa aku benar-benar tidak rela?
Chika meminta Ardi menikah dengan Marsya, tapi ternyata setengah hati Chika tidak merelakannya. Huh... Rumit! Namun harus tetap dihadapi, semangat Chika, kau punya Bara yang sangat mencintaimu.
Tinggalkan jejak Komen, Like, atau Jempol juga Vote untuk dukung Author.
Terimakasih.💕💕
__ADS_1