Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 71


__ADS_3

Bara menghentikan mobilnya,dia keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untukku. Matanya menatap tajam kearah ku, sambil tersenyum penuh misteri.


Aku keluar dari dalam mobil, menatap pemandangan pantai yang begitu menakjubkan. Aku tersenyum menatap keindahan pantai yang ada dihadapan ku.


Bara memelukku dari belakang, sambil menciumi pipiku.


"Apa kau suka tempatnya?" bisik Bara.



"Aku sangat suka! Tempatnya indah sekali!" ucapku sambil menoleh kearah wajah Bara yang berada di bahuku.


"Syukurlah, jika kau suka tempatnya! Karena jika tidak suka, maka kita akan menghabiskan waktu lagi didalam kamar," tawa Bara.


"Hah... Tidak! Aku masih ingin berjalan dan berdiri. Aku tidak mau menghabiskan waktu didalam kamar bersamamu!"


"Kenapa? Apa kau tidak suka, berada disampingku?"


"Bukan itu. Aku takut berada dikamar berdua bersamamu. Itu baru benar," tawaku.


Bara hanya tersenyum, lalu merentangkan kedua tanganku dan tangannya, membentang menghadap laut. Mataku terpejam, merasakan hembusan angin yang bertiup kencang. Bara mencium leherku, menciumi wangi parfum di tubuhku.


"Aku benar-benar candu dengan tubuhmu!" bisik Bara membuatku membuka kedua mataku yang terpejam.


Aku melepaskan pelukannya, menatap tajam kearah Bara yang justru malah tersenyum senang, menatap reaksiku.


"Aku mencintaimu," ucap Bara.


"Aku juga mencintaimu!"


Bara menarik tanganku lembut, menuju tepi pantai yang berbatu. Aku menatap kearah Bara yang berjalan di atas bebatuan. Aku tidak berani mengikutinya, aku tidak mau sampai terpeleset jatuh dan membahayakan kandunganku.


Aku menatap wajah Bara dari jauh, wajah tampan berhati malaikat. Sungguh beruntungnya aku, memiliki hati dan cintanya. Bara bermain-main dengan ombak, menyusuri bibir pantai yang dipenuhi bebatuan.



Pesona terpancar jelas di wajah Bara, wanita mana yang tidak akan tergoda dengan laki-laki setampan Bara. Bahkan aku yang hampir setiap hari saja tidak pernah bosan menatap wajah tampannya.


Bara menatap kearah ku, senyumnya terpancar jelas diwajahnya. Aku merasa jadi wanita paling beruntung yang bisa dicintai oleh Bara.


"Sayang!" Bara berteriak keras.


Beberapa wanita yang antusias menatap Bara, segera menoleh kearah ku. Bara mendekat kearah ku, lalu memeluk tubuhku.


"Sayang, kau butuh sesuatu?" tanya Bara.


"Tidak."


"Kenapa? Inginlah sesuatu, biar nanti aku belikan untukmu!" ucap Bara agak memaksa.


"Belikan aku minuman hangat!" ucapku sambil tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, kau tunggu disini ya!" ucap Bara sambil tersenyum.


Bara berjalan menuju sebuah Kafe dipinggir pantai, lalu memesan beberapa cemilan dan teh manis hangat. Tak lama Bara kembali mendekat kearah ku. Senyumnya terpancar indah terukir di wajahnya.



"Sayang, kau sedang melihat apa?" tanya Bara.


"Aku hanya sedang menatap ombak di pantai itu. Indah ya!" ucapku penuh rasa takjub.


"Heeh. Seindah kisah cinta kita," tawa Bara.


"Kau beli apa?"


"Ayo ikut aku, kita cari tempat untuk duduk!" ucap Bara sambil berjalan menuju sebuah kursi pantai.


Aku meminum teh manis hangat yang dibeli Bara, lalu aku kembali teringat tentang kejadian yang dialami Marsya. Tentang Ardi yang tidak pernah perduli dengan Marsya. Tetang perlakuan buruk Ardi pada istrinya. Bukankah pernikahan itu mencari kebahagiaan, bukan justru penderitaan. Tapi yang dialami Marsya benar-benar sungguh malang.


"Kenapa? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Bara.


"Aku tiba-tiba ingat pada Marsya!"


"Kalau merindukannya, telepon saja dia!" ucap Bara sambil tersenyum.


"Sudah. Aku sudah berbicara dengan Marsya ditelepon!"


"Lalu?"


"Kau pasti tahu, apa yang ingin aku bicarakan denganmu!" ucapku.


"Iya."


"Aku sudah mencoba berbicara dengannya, namun Ardi tidak mau dengar. Aku tidak tahu, kenapa dengan adikku itu? Apa yang membuatnya berubah menjadi laki-laki kasar dan sejahat itu. Apa rasa cintanya padamu, membuat adikku jadi sakit jiwa!" ucap Bara kesal.


"Aku tidak tahu. Tapi, tidak bisakah kita menjemput Marsya kesana?" tanyaku.


"Tidak. Ardi tidak mengizinkan kau, aku atau siapapun menemuinya disana!"


"Lalu bagaimana dengan nasib Marsya? Marsya tertekan menikah dengan Ardi. Aku benar-benar tidak tega melihat kondisinya!" ucapku sambil menangis memeluk tubuh Bara.


"Ini adalah urusan rumah tangga mereka! Kita tidak bisa ikut campur seenaknya!" ucap Bara sambil membalas pelukanku.


"Tapi aku tidak tega melihat Marsya menderita gara-gara aku," ucapku.


"Ardi tidak mungkin melukai Marsya, percayalah!"


"Ardi melukainya! Marsya sendiri yang bilang padaku, kalau Ardi memukulnya gara-gara dia tidak sengaja menjatuhkan bingkai fotoku!"


"Apa? Bingkai fotomu? Apa itu artinya Ardi masih nyimpan rasa cinta dihatinya untukmu?" ucap Bara terkejut.


"Jemput Marsya, Mas! Aku mohon!"

__ADS_1


"Tidak bisa, Chika! Ardi sudah memperingatkan aku untuk tidak mencampuri kehidupan rumah tangganya. Jadi lebih baik, kita fokus pada kandunganmu saja!" ucap Bara.


"Tapi bagaimana dengan nasib Marsya disana?"


"Kau tenang saja! Aku punya kenalan diluar negeri tempat Marsya dan Ardi tinggal. Aku akan memintanya untuk melihat kondisi Marsya!" ucap Bara sambil memeluk tubuhku.


Aku menatap wajah Bara, sementara Bara asyik memainkan rambutku yang tertiup angin. Mata Bara terus menatap kearah wajahku. Terlihat jelas cintanya begitu besar untukku.


"Jangan pernah tinggalkan aku! Aku mencintaimu!" ucap Bara.


"Aku tidak mungkin meninggalkan mu! Kau Ayah dari anak yang aku kandung," tawaku.


"Berjanjilah, kita akan selalu bersama."


"Kita akan selamanya bersama!" ucapku sambil mencubit lembut pipi Bara.


"I love you..."


"Iya suamiku, aku juga mencintaimu!"


Aku dan Bara menghabiskan waktu berdua sepanjang hari. Terlihat Bara begitu memanjakan aku didalam pelukannya.


"Sayang, kapan kau akan melahirkan?" tanya Bara.


"Ini baru masuk bulan ketiga kehamilanku. Mungkin enam bulan lagi, bayi kita akan lahir!" ucapku sambil menyandarkan tubuhku pada tubuh Bara.


"Kau sudah cek ke dokter? Bagaimana keadaan anakku didalam perutmu?"


"Belum! Harusnya besok, tapi sepertinya aku akan pergi sendiri ke dokter," ucapku.


"Kenapa? Kau bisa meminta Ibu mengantarkan mu ke rumah sakit!"


"Tidak. Saat ini Ibu sedang sedih! Biarkan dia sendiri dulu, aku bisa berangkat ke rumah sakit sendiri!"


"Apa? Aku tidak izinkan kau pergi sendiri! Biar aku yang akan mengantarmu besok!" ucap Bara.


"Kenapa? Aku sudah biasa sendiri, kau bisa bekerja di kantor dengan tenang! Tidak usah khawatir karena aku bisa jaga diri," ucapku sambil tersenyum.


"Tidak boleh. Bagaimana jika nanti ada laki-laki yang menggodamu, bahkan menculik mu. Aku tidak akan pernah memberikan kesempatan pada kejahatan!" ucap Bara.


"Jadi kau hanya perduli pada keadaanku?"


"Aku juga ingin, melihat kondisi bayi kita. Kau dan bayi kita adalah hal nomor satu didalam hidupku!" ucap Bara sambil mengecup keningku.


Aku menatap kearah laut yang begitu cantik dengan pancaran sunset yang menghiasi langit. Aku dan Bara menatap indahnya pemandangan sunset yang terlihat sangat indah.


Lalu Bara tersenyum menatap kearah ku, matanya yang indah itu begitu menghanyutkan ku. Bara mendekatkan bibirnya kearah bibirku. Ciuman manis itu terus berlanjut ditempat dan suasana romantis yang tidak mungkin terlupakan.



Kilau cahaya sunset menjadi saksi bisu kisah cintaku bersama Bara. Aku dan Bara terhanyut dalam suasana yang begitu romantis. Beberapa kali Bara mencium bibirku lembut. Aku hanya bisa menerima setiap hal yang dilakukan Bara padaku.

__ADS_1


Ada hal yang tidak bisa kita hindari, seperti jodoh, dan maut. Seperti halnya kisah aku dan Bara, berawal dari paksaan menjadi cinta yang sesungguhnya. Kita tidak akan pernah tahu, dengan siapa kita akan ditakdirkan untuk bersama. Namun, sebisa mungkin kita harus menerima keputusan sang Kholiq.


Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komen dan Vote untuk dukung cerita ini. Terimakasih.💕


__ADS_2