
Aku terlelap dalam tidur, tapi aku tiba-tiba terbangun. Aku mimpi buruk tentang pernikahanku. Aku benar-benar takut!
Aku beranjak masuk kedalam kamar mandi, membasahi seluruh tubuhku dibawah air shower. Aku sengaja membiarkan kepalaku basah, agar pikiranku bisa jernih. Kenapa aku harus dilema seperti ini?
Hampir satu jam aku diam dibawah derasnya air shower. Aku merasa lebih tenang sekali. Sampai tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkanku. Aku buru-buru membuka pintu, takut Bara menunggu lama diluar pintu kamar mandi. Tapi, aku kembali dikejutkan dengan kehadiran laki-laki dibalik pintu.
"Ardi..."
Aku menutup kembali pintu kamar mandi itu, karena aku hanya menggunakan handuk yang melilit ditubuh ku. Tapi dengan sekuat tenaga menutup pintu, aku tetap tidak bisa menandingi kekuatan otot Ardi. Ardi berhasil meraih tanganku, dan menarik ku kedalam pelukannya.
"Ardi... Jangan! Aku tidak mau kau melakukan ini padaku."
"Kenapa? Aku punya hak yang sama atas dirimu!" ucapnya sambil mencium bibirku.
Aku terkejut, aku buru-buru mendorong tubuh Ardi menjauh dari tubuhku.
"Keluar... Aku tidak mau Bara melihatmu disini bersamaku!"
"Kenapa? Kau takut Kak Bara melihat kita disini? Tenang saja! Dia sedang keluar, membeli vitamin untukmu!" ucap Ardi sambil kembali mencium bibirku.
Aku benar-benar tidak waras! Suamiku begitu baik padaku, tapi aku malah mengkhianatinya. Bara begitu perduli padaku, tapi aku malah melakukan hal menjijikkan ini bersama adiknya. Wanita macam apa aku ini?
Ardi mulai tidak terkendali, ciumannya semakin menggila. Tangannya menarik ujung handukku. Aku mencoba mempertahankan handuk itu, tapi Ardi menarik handuknya dan melempar handuk itu ke sembarang arah. Ardi sukses membuatku polos tanpa pakaian.
Mata Ardi menyala menatapku, lalu menarik tanganku dan kembali mencium bibirku. Aku seperti wanita gila yang menerima semua sentuhan Ardi ditubuh ku.
Ardi mulai mencari celah untuk menjebol pertahanan ku, tapi aku mendorong tubuh Ardi lalu masuk kedalam kamar mandi. Aku tidak segila itu! Aku tidak bisa menerima Ardi dalam melakukan hubungan di atas ranjang. Aku tidak mau!
Air mataku mengalir, suara ketukan pintu berkali-kali terdengar dari luar pintu. Aku menggigit jari telunjukku, aku benar-benar tidak ingin melakukan hal itu bersama Ardi.
"Chika, maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk melakukan hal buruk padamu. Aku hanya ingin kau tahu, aku begitu sangat mencintaimu," teriak Ardi.
"Keluarlah! Aku ingin sendiri!" ucapku, sambil menghapus air mata yang jatuh di pipiku.
"Maafkan aku, Chika! Aku keluar!" teriak Ardi.
Aku membuka pintu kamar mandi, laki-laki itu benar-benar sudah pergi. Rasanya aku sangat lega, saat dia menghilang dari sisiku. Aku takut, aku sangat takut jika Bara melihatku bersama Ardi.
Aku segera memakai pakaianku, aku duduk ditepi tempat tidur. Kenapa aku harus menghadapi situasi serumit ini? Aku bahkan tidak berani keluar dari kamar.
Tak lama Bara masuk kedalam kamar, menatap kearah ku dengan senyum diwajahnya.
"Sayang, kau sudah bangun? Aku tadi ke apotek untuk membeli vitamin dan obat penguat kandungan. Minum ya!" ucap Bara sambil menyodorkan obat itu di bibirku.
__ADS_1
Aku memasukkan obat itu kedalam mulutku, lalu Bara yang memberikan air dari tangannya kearah mulutku. Bara begitu perduli, dengan semua perhatiannya padaku. Aku semakin merasa bersalah pada suamiku, karena telah mengkhianati pernikahan suci ini.
"Kenapa? Apa yang kau pikirkan?"
"Aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya merindukan Alghi," ucapku.
"Alghi ada dikamar Alesha bersama Ibu, dia sudah tidur. Besok pagi saja ya! Tidak enak, takut membangunkan Ibu," ucap Bara.
Aku mengangguk sambil tersenyum, lalu kembali berbaring ditempat tidur. Tiba-tiba Bara mendekat, lalu berbaring disampingku. Bara menarik tubuhku agar menatap kearahnya. Aku sontak terkejut, ada rasa bersalah yang besar, yang tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata.
"Aku mau cium, boleh?" bisik Bara.
Entah kenapa aku menangis, aku merasa tidak pantas berada disisi Bara. Aku menyesal, kenapa aku bisa setega itu pada laki-laki yang begitu aku cinta. Bibirku ini, telah kuberikan pada laki-laki lain. Aku bahkan merasa jijik pada diriku sendiri.
"Kenapa menangis? Aku tidak memaksa, jika kau tidak mengizinkannya," ucap Bara sambil tersenyum.
Aku tidak bicara, hanya pelukan yang kuberikan ditubuh suamiku. Aku tidak berani menatap wajahnya, aku merasa malu sekali karena mendustai suami sebaik Bara. Tapi aku harus apa? Apa aku harus pergi dari hidup Bara dan Ardi? Aku benar-benar tidak bisa memilih, kedua laki-laki yang kini berada dalam hidupku.
Bara mengusap tubuhku lembut, mencium keningku dengan penuh rasa cinta.
"Jika ada yang mengganggumu, katakan padaku! Jangan diam begini, aku benar-benar tidak mengerti!" ucap Bara.
"Maafkan aku..."
Aku tidak menjawab, aku kembali diam. Hanya ada air mata kesedihan di mataku. Bagaimana caranya aku menceritakan semua pada Bara? Aku tidak ingin menjalani cinta terlarang bersama Ardi.
Aku bangun dari tidur, menuju kamar mandi. Aku kembali menangis, aku tidak sanggup membendung kesedihanku. Aku harus apa? Aku bahkan takut sekali disentuh Bara. Aku merasa tidak pantas berada disisi Bara. Apa aku harus pergi meninggalkan Bara? Bukankah ini lebih baik, daripada aku harus mengkhianati cintanya!
Bara mengetuk pintu kamar mandi, tapi aku tidak menyahut.
"Sayang, kau sedang apa? Buka pintunya!" teriak Bara.
Aku membuka pintu itu pelan, menundukkan wajahku, takut menatap wajah Bara. Ada rasa bersalah, setiap kali aku melihat wajahnya.
"Ada apa sayang? Sejak tadi kau terlihat aneh? Apa yang sedang kau sembunyikan dariku?" tanya Bara.
"Tidak ada," ucapku pelan.
Bara mendekatkan wajahnya kearah wajahku, aku terus menghindar, tapi Bara berhasil mencium bibirku.
Aku hanya bisa memejamkan mataku, aku tidak sanggup menatap wajah Bara, apalagi setelah pengkhianatan yang ku buat pada Bara. Rasanya aku ingin menghindar dari suamiku sendiri. Aku takut, aku takut Bara membenciku!
__ADS_1
Bara memainkan bibirnya di bibirku, namun aku tak membalas. Rasa bibir Bara tiba-tiba menjadi hambar, mengingat hal menjijikkan yang aku lakukan bersama Ardi. Kenapa denganku? Aku bisa gila kalau terus begini!
Bara melepaskan ciuman di bibirku, menatap tajam kearah ku.
"Ada apa Chika? Apa yang terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba kau seperti ini? Apa ini ada hubungannya dengan Ardi?" tanya Bara dengan wajah kesal.
"Aku... Aku..."
"Kenapa? Ada apa? Ceritakan padaku!" Bara mulai gemas menatapku.
"Aku... Aku..."
Tok... Tok... Tok...
Tiba-tiba pintu kamar kami ada yang mengetuk. Bara membukakan pintu, menatap Ibunya yang sedang menggendong Alghi.
"Bara, Alghi terus menangis! Sepertinya dia rindu pada Chika!" ucap Ibu sambil memberikan Alghi pada Bara.
"Iya Bu. Sepertinya Alghi tahu, kalau Ibunya memang begitu merindukannya! Chika dari tadi memintaku untuk menemui Alghi. Dia bahkan sampai menangis dikamar!" tawa Bara menoleh kearah ku.
"Ya sudah. Ibu kembali kedalam kamar ya!" ucap Ibu sambil meninggalkan kamar kami.
Bara mendekat kearah ku, menggendong Alghi yang masih menangis. Aku mengambil alih Alghi dari tangan Bara. Seperti sebuah keajaiban, Alghi berhenti menangis. Alghi memegang bajuku erat. Apa Alghi datang untuk menyelamatkan aku dari pertanyaan Bara tadi?
Aku mengecup pipi Alghi, memeluknya penuh kasih. Ya Tuhan... Bagaimana nasib anakku, jika Bara tahu aku mengkhianati cintanya? Apa anakku nanti akan lahir tanpa kehadiran seorang Ayah? Apa anakku tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Ayah kandungnya?
Aku kembali menangis, membayangkan hal buruk yang suatu saat pasti akan terjadi kepadaku. Dimana saat itu aku akan hancur, menjadi sebuah kepingan debu.
"Sayang, jangan terus bersedih seperti ini! Tidak baik untuk calon anak kita yang ada diperut mu. Ceritakan padaku, apa yang membuatmu sesedih ini?" tanya Bara.
"Aku takut kau meninggalkanku suatu saat nanti!" ucapku, yang disambut senyum oleh Bara.
"Aku akan bersamamu, aku akan membesarkan anak kita bersama-sama. Kita akan membuat keluarga bahagia. Aku, kau dan anak-anak kita!" tawa Bara.
Ya Tuhan...
Ingin rasanya aku menjerit! Kenapa aku harus mendengar kata-kata indah dari bibir Bara. Apa yang akan Bara lakukan, jika dia tahu, aku membagi cintanya dengan adiknya sendiri. Apa semua ucapan dari bibir Bara akan berubah? Apa Bara akan mencari wanita lain untuk menggantikan posisiku dihatinya?
Main-main sih kamu Chika! Kamu mumet kan jadinya? Jangan biarkan Ardi merusak hubungan kalian dong! Kamu itu lagi hamil, kamu mau dia lahir tanpa Ayah.
Tinggalkan jejak Komen, Like dan Vote ya!
Terimakasih.💕💕
__ADS_1