Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 6


__ADS_3

Pagi harinya aku sudah bangun, menatap wajah Bara dari tempat tidurku. Bara masih tertidur pulas, wajah tampan yang terlihat begitu menggoda. Aku bangkit dari tempat tidurku, berjalan masuk kedalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi, aku menatap kembali tanda merah dileherku. Aku menutupi tanda merah itu dengan bedak dan macam-macam cream wajah agar tidak terlihat. Tapi tetap saja tidak bisa ditutupi, sebesar apapun aku berusaha menutupinya.


Bara mengusap wajahnya yang baru bangun dari tidur, tubuhnya menggeliat ringan lalu bangkit dari sofa tempatnya tidur.


"Kau sudah bangun? " senyum Bara.


Aku hanya mengangguk, lalu berjalan meninggalkan Bara. Bara menarik tanganku, hingga kami saling berhadapan. Mata indah itu begitu mempesona, hidung mancung, kulit putih, dan bibirnya yang merah membuatnya lengkap menjadi pria sempurna.


"Mau kemana?" tanya Bara.


"Aku mau keluar, menemui Ibumu untuk membantunya membuat sarapan." jawabku.


"Tidak usah."


"Kenapa?"


"Aku tidak mau kau berkeliaran sendiri di rumah ini. Ada adikku Ardi yang sedang mengincar mu, aku tidak akan membiarkan Ardi merebutmu dari sisiku." kata Bara sambil menunjukkan kekhawatirannya.


Aku terdiam sejenak mencerna kata-kata yang diucapkan Bara. Perlu diluruskan sedikit, disini Bara yang merebut ku dari Ardi. Tapi Bara mengatakan seolah-olah Ardi yang merebut ku dari sisinya.


"Apa yang sedang kau lamun kan?" tanya Bara lagi.


"Tidak ada."


"Tunggu aku sebentar, aku mau mandi dulu! Kita keluar kamar bersama-sama, jangan berani keluar kamar tanpa aku, " kata Bara sambil masuk kamar mandi.


Tak selang berapa lama, Bara keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melekat di pinggangnya. Dadanya dibiarkan terbuka begitu saja, dia berjalan kearah ku sambil mencari sesuatu. Aku sontak kaget, menutup wajahku dengan kedua tanganku.


"Apa yang sedang kau lakukan? Bukankah kau pernah melihat yang lebih parah dari ini?" tawanya.


Wajahku seketika memerah, mendengar ucapan nakal dari bibir Bara.


"Turunkan tanganmu, aku mau melihat wajahmu." kata Bara sambil memegang tanganku.


Aku membuka tanganku pelan-pelan, mencoba mengalihkan pandangan kearah lain.


"Tatap aku sayang, " Bara mengarahkan pandanganku kearah wajahnya.


Deg!


Lagi-lagi hatiku bergemuruh keras, jantungku berdebar-debar, menatap wajah tampan Bara yang telanjang dada.


Sepertinya dia suka sekali membuatku jantungan dengan semua sikap romantisnya.


"Apa mau mu?" teriakku sambil menatap kesal pada Bara.


"Tolong carikan ponselku, aku lupa menaruhnya," ucap Bara sambil terus mencari ponsel itu.

__ADS_1


"Itu, kau meletakkannya di atas sofa! Bagaimana bisa ada di tempat tidur ini, jika kau tidur di tempat lain, " ucapku sambil menunjuk ke arah sofa tempat Bara tidur. Bara tersenyum, membelai wajahku lembut.


"Apa maksudmu? Apa ini sebuah sinyal darimu? Apa kau mengizinkan aku tidur di sampingmu? " tawa nakal Bara sambil mengambil ponselnya.


"Kenapa minta izin padaku? Bukankah ini rumahmu? " kataku sambil merapikan tempat tidur.


"Tapi aku butuh izin dari istriku, aku tidak mau kau merasa tidak nyaman dengan kehadiranku disampingmu, " senyum Bara.


Aku benar-benar takjub mendengar jawaban dari bibirnya, bagaimana ada laki-laki semacam ini? Disaat laki-laki berburu nafsu diawal pernikahan, Bara justru lebih mementingkan kenyamanan ku.


"Sayang, tolong pilihkan aku baju yang cocok untuk kupakai ke kantor. " Bara kembali menatap kearah ku.


Aku mulai berjalan mendekat kearahnya, aku memilih kemeja dan jas kantor untuk Bara pakai. Bara memakai baju itu dihadapan ku, menatap hal itu benar-benar membuatku malu setengah mati. Aku memalingkan pandanganku, agar tidak melihat kearah Bara.


Tak lama Bara mencolek tanganku, membuat aku kaget.


"Aku sudah selesai, ayo kita keluar!" kata Bara.


"Baik, " ucapku sambil mengikuti langkah kaki Bara.


Kami berjalan menuju meja makan, kulihat semua orang sudah berkumpul di sana. Aku duduk di kursi sebelah Bara, mata mereka menatap ke arahku tanpa berkedip.


"Bagaimana rasanya bercinta dengan Kak Bara? " tawa Cindy sambil menatap kearah ku.


Aku hanya diam, mendengar pertanyaan adik Bara itu. Rasanya malu sekali diberikan pertanyaan oleh anak SMA mengenai hal begituan.


"Ayah sudah tidak sabar punya cucu dari Bara, Ayah ingin segera menimang cucu, " ucap Ayah sambil menatap kearah aku dan Bara.


Seketika bulu kudukku berdiri, mendengar hal konyol bertubi-tubi yang diucapkan seisi rumah.


"Bagaimana cara Kak Chika mendapatkan tanda merah dilehermu itu?" tanya si kecil Marcell membuatku semakin malu.


Oh, jadi tanda merah ini yang membuat mereka menanyakan hal konyol secara bertubi-tubi padaku. Kalau tahu akan begini, aku tidak mau keluar dari kamar. Aku benar-benar malu sekali!


Bara menatap reaksi di wajahku, dia malah tersenyum senang menikmati rona merah yang terpancar di wajahku.


"Kenapa? Apa kau malu mendengar ucapan mereka? " bisik Bara. Aku tidak menjawab, hanya diam sambil mengaduk-aduk makanan yang ada di piring.


"Biarkan saja mereka, tidak usah kau hiraukan!" tawanya.


Saat keluarga Bara melanjutkan sarapan mereka, aku menatap wanita cantik yang berjalan kearah meja makan. Dia tersenyum mendekat kearah Bara duduk. Wanita yang sangat cantik, dia membawa beberapa dokumen ditangannya.


"Selamat pagi Pak, " ucap wanita itu.


"Ya, Raina ada apa? Kenapa kau datang sepagi ini ke rumahku? " tanya Bara sambil menatap wajah gadis itu.


"Saya kemari untuk mengingatkan Bapak, bahwa hari ini kita ada rapat. " senyum wanita bernama Raina itu.


Aku mencium gelagat aneh pada wajah wanita itu, dia seperti sengaja datang untuk menemui Bara. Kalau hanya untuk mengingatkan tentu dia bisa menelpon ponsel Bara, bukan malah menemuinya di rumah ini.

__ADS_1


"Iya, aku ingat Raina! Kau bisa berangkat duluan nanti aku menyusul," ucap Bara sambil tersenyum.


"Tapi Pak, mobil saya mogok, saya boleh ikut naik mobil Bapak ke kantor?" kata Raina.


Aku menundukkan kepalaku, ada rasa kesal mendengar ucapan wanita itu. Bara langsung menatap kearah ku, seolah dia tahu perasaan yang saat ini aku rasakan. Dia mengusap tanganku lembut, sambil berbisik di telingaku.


"Apa kau mengizinkan Raina ikut bersamaku?" bisik Bara.


"Terserah. "


"Kau tidak akan cemburu?"


"Tidak."


"Benarkah? Kau tidak cemburu? Aku beri tahu, Raina saat ini sedang berusaha menggodaku.


Apa kau tidak takut jika nanti suamimu ini digoda olehnya?" bisik Bara yang diiringi tawa.


"Lalu apa yang akan kau lakukan, jika aku tidak mengizinkan Raina ikut bersamamu?" bisikku.


"Lihat saja, " bisik Bara sambil tersenyum.


Aku menatap Bara berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendekat kearah Raina.


"Kau diantar supirku ya, aku masih ada urusan penting dengan istriku." ucap Bara sambil tersenyum menatap kearah ku.


Aku membalas senyuman Bara, benar-benar tidak mengira kalau Bara melakukan hal yang bisa membuatku merasa tenang.


"Ya sudah kalau begitu, " ucap Raina dengan wajah kecewa.


Jelas terlihat, wajah wanita itu benar-benar menunjukkan adanya maksud lain datang ke rumah ini. Wanita itu berjalan bersama supir yang diminta Bara mengantarnya ke kantor. Sementara Bara kembali duduk dan menikmati sarapannya.


"Apa kau percaya? Aku tidak akan melakukan hal buruk diluar rumah. Aku akan menjaga hatiku dari para wanita yang menggangguku, hanya kau yang ku biarkan memiliki seluruh hatiku." tawa Bara sambil menatapku dengan senyum manisnya.


Aku tidak bisa menutupi rasa kagum ku pada sosok laki-laki sempurna dihadapan ku. Siapa wanita yang tidak bahagia diperlakukan istimewa seperti ku? Bara tersenyum kearah ku, lalu meminta Marcell mengambil sesuatu diluar rumah. Marcell yang masih sangat polos membawa rangkaian bunga kearah Kakaknya. Lalu Bara tersenyum pada Marcell sambil berbisik. Marcell tersenyum, lalu mendekat kearah ku sambil memberikan rangkaian bunga mawar itu.


"Untuk Kak Chika, dari suamimu yang sangat mencintaimu. Seperti itu kan bisikan mu tadi Kak Bara?" Marcell menoleh kearah Kakaknya memastikan ucapannya benar.


Bara tertawa sambil menatap kearah ku, tawa yang benar-benar membuat seorang wanita meleleh melihatnya.


"Jangan pernah bosan dengan semua rasa cintaku ini, " bisik Bara.


Aku tersenyum mendengar bisikan Bara, rasanya seperti mimpi mendapatkan cinta dari laki-laki sebaik Bara.


Tetap beri dukungan ya Kak. 🙏


Tinggalkan jejak Komen, Like atau Jempol, dan Vote juga yang banyak. Beri author dukungan sebanyak-banyaknya agar author semangat lanjutkan cerita.


Terimakasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2